Amanat Sang Pejuang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat, Cerpen Nasionalisme
Lolos moderasi pada: 13 April 2018

Langit siang menampakan wajahnya yang biru cerah. awan putih nan indah bergerak gerak seiring derai angin di atas sana berhembus kencang. kutatap sekelilingku, manusia manusia yang sibuk berlalu lalang dengan semua urusanya. beginilah potret perkotaan. ramai dan bising. tapi dibalik semua itu ada yang menarik perhatianku. aku menoleh ke atas dari bawah jalan, terlihat seorang Kakek tua yang berdiri di dalam jembatan penyeberangan. firasatku berkata ia bukan orang biasa. Entah hanya firasatku saja atau apa, tapi yang jelas aku ingin menghampirinya.

Hatiku tergerak untuk melangkahkan kaki ke jembatan penyeberangan untuk melihat si Kakek lebih dekat. aku menaiki tangga demi anak tangga dan aku kini menatap sang Kakek dari jarak yang cukup dekat. terlihat sang Kakek lusuh yang berbadan kurus dengan tatapan yang penuh kepayahan dan penderitaan. terlihat juga ia memegang gelas plastik yang berisi sepertinya sebutir uang logam, entah berapa nominalnya aku tak tau karena jarak pandang mataku terlalu sempit untuk melihat berapakah nilai logam kecil itu.

Banyak manusia berlalu lalang di depan sang Kakek nampak tak peduli. dari orang tua, remaja, pria, wanita, semua lewat tanpa menoleh atau memperhatikan sang Kakek. aku membuka ranselku, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. lumayan, sekotak bekal makan siang yang belum kumakan. aku berjalan dan kini aku benar benar menghampiri si Kakek.

“Kek? ini saya punya makanan untuk Kakek,” Ucapku lalu aku memberikan kotak makananku kepada sang Kakek. Kakek tersebut nampak bingung, lalu dengan tangan gemetar sang Kakek meraih kotak makanku. “Terimakasih nak,” Ucapnya dengan suara parau tapi aku masih bisa mendengarnya. Kakek tersebut kemudian duduk dengan beralaskan kardus bekas lalu membuka kotak makanku. tanpa ragu ia langsung memakan makanan yang kuberikan itu. aku jongkok di hadapan sang Kakek yang tengah lahapnya. kuambil uang pecahan Rp. 20.000 lalu kumasukan kedalam gelas plastik yang ternyata berisikan Rp. 500. gelas itu diletakan di samping sang Kakek.

Tak lama makanan tersebut sudah habis, kuambil sebotol air mineral di ranselku dan kembali aku berikan kepada sang Kakek. ia nampak tersenyum dibalik rambut putih yang hinggap di sekeliling bibir keriputnya. “Terimakasih anak baik,” Lanjutnya. aku menatap langit dari celah jembatan penyeberangan lalu kembali berucap pada sang Kakek, “Kek, saya sungguh peduli dengan Kakek. alasanya, firasat saya mengatakan Kakek bukanlah orang biasa” Kakek tersebut menghela nafasnya. “Benarkah firasatmu begitu nak? dari mana datangnya firasat itu?” Balas sang Kakek. “Saya berada di bawah jalan sana dan saya memperhatikan Kakek tadi begitu terpana melihat bendera itu,” Tunjuku ke bendera Merah Putih yang berada di bawah pemukiman.

Sang Kakek berdiri lalu kembali melihat bendera yang tadi ia perhatikan, aku juga berdiri tepat di samping sang Kakek. “Itu adalah bendera negara kita nak, negara yang susah payah kami merdekakan dan sekarang ia bisa berkibar tanpa ada yang mengganggu, bagaimana Kakek tidak takjub melihatnya,” Ucap Kakek kembali. kini aku yang takjub mendengar jawaban sang Kakek. “Apakah tebakan saya benar Kek? Kakek adalah salah satu dari orang orang terdahulu kami yang membuat bendera itu berkibar tanpa gangguan?” Tanyaku. sang Kakek tersenyum, kedua matanya masih fokus menatap bendera yang tertiup angin sehingga berkibar dengan gagah disiang hari ini. “Kakek tak pernah berfikir begitu. dulu saat Kakek seusiamu memang sudah jadi kewajiban Kakek membuat itu terjadi, sehingga anak cucu kami semua bisa menikmati negeri ini,” Ucapan sang Kakek begitu mengena sehingga aku merasa seperti ditampar sebagai generasi muda di era sekarang. “Jadi benar Kek, Kakek adalah mantan pejuang kemerdekaan?” Kakek tersebut mengangguk, “Mungkin saat ini bisa dibilang begitu nak” Aku semakin terpukul. “Kek? mengapa sekarang Kakek hidup seperti ini? tak layak kan bila seseorang yang pernah merebut bangsa diacuhkan juga oleh bangsa, itu tidak adil!” Senyum sang Kakek semakin lebar, nampaknya banyak yang ingin ia sampaikan padaku. “Tak apalah nak, Kakek sudah tua untuk bersenang senang sekarang, bisa makan setiap harinya sudah cukup untuk Kakek yang penting orang tak ada yang terganggu”

Aku menatap sang Kakek, betapa hebat ia dengan jawaban itu, aku ingin mengobrol lebih banyak dengan pria hebat ini. “Kek, bisa ceritakan pada saya ketika negeri ini masih dijajah?”. Bola mata sang Kakek mengarah ke atas seakan ia sedang mencoba mengingat ingat. “Dulu begitu kejamnya Belanda dan Jepang menguras negeri ini, bukan hanya sumber daya alamnya saja yang tersakiti, tapi kita orang indonesia hampir semuanya tak bisa berbuat apa apa,” Tutur sang Kakek kemudian ia menaikan celana lusuhnya yang berbalut debu jalanan, ia nampak menunjukan sesuatu. “Ini adalah bekas tembakan di kaki Kakek, luka ini Kakek dapat setelah menyergap markas musuh, kita kalah saat itu dan Kakek yang tertembak akhirnya ditangkap lalu dijebloskan sebagai tahanan. di dalam penjara sungguh menderitanya kadaan Kakek, Kakek dipukul dengan ujung senapan, diintimidiasi dan yang paling Kakek ingat, komandan Belanda menyuruh Kakek meminum air seninya. walaupun begitu, leher dan kepala Kakek tetap tegak, tidak pernah tertunduk, rasa takut Kakek dikalahkan oleh kekuatan untuk memerdekakan negara ini, sebab dengan perasaan itulah merdeka bukan hanya sebuah mimpi” Air mataku menetes, Kakek tersebut melihatnya namun cepat cepat kubasuh dengan jemariku. “Kek, taukah Kakek betapa hebatnya orang seperti itu? orang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi” Kakek tersebut tersenyum padaku, “Tadi mengapa kamu menangis nak?” Aku membalas senyum sang Kakek, “Saya sungguh terhanyut mendengarnya, saya tak habis fikir orang seperti Kakek harus hidup seperti ini,” “Kakek senang kamu peduli, tapi Kakek sudah sangat tua, Kakek tak apa dimasa senja seperti ini, Kakek senang hidup di jalan karena di jalanlah tempat banyak orang orang, melihat senyuman orang orang di jalan merupakan kebanggaan tersendiri untuk Kakek, karena dulu tersenyum hanya bisa dilakukan oleh penjajah dan nyatanya sekarang negeri ini bisa tersenyum” Pernyataan sang Kakek dari pengalamanya yang tak bisa berbohong. “Kek, tapi saya mohon pada Kakek, bolehkah saya meminta Kakek untuk meminta sesuatu kepada saya, anggaplah ini adalah hadiah dari cucu Kakek yang sudah merdeka” sang Kakek masih menatap bendera, beberapa saat kemudian barulah ia kembali bicara. “Baiklah nak, sampaikan ini kepada orang orang seusiamu yang kamu kenal, jangan lupa pada sejarah negara ini, jangan biarkan budaya negatif barat masuk dan diikuti, tumbuhkan rasa cinta pada negeri dan yang paling penting, kamu harus mengakui bahwa kamu orang Indonesia, karena negeri ini pantas mendapat pengakuan dari orang orang mulia seperti kita, orang yang mencintai perbedaan, orang yang ramah tamah, tak suka tercerai berai, memiliki tenggang rasa dan adil pada semuanya,” Permintaan sang Kakek yang membuatku takjub berulang kali, ia tak mementingkan dirinya karena permintaanya masih menyangkut negara ini. “Baiklah Kek, akan saya sampaikan kepada kawan, kerabat, siapapun yang saya kenal, kalau saya telah bertemu dengan pria hebat nan gagah yang sikapnya tak serapuh raganya,”

Kakek tersebut terdiam ketika mendengar kumandang adzan dzuhur lalu merapihkan kotak makanku, kardus dan gelas plastiknya. ia lalu berucap, “Terimakasih atas makan dan uangnya nak, tapi yang terpenting terimakasih atas rasa pedulimu terhadap bangsa, Kakek yakin orang orang sepertimu akan lebih merasakan nikmatnya merdeka karena tau akan sejarah, Kakek permisi, sudah masuk waktu sholat” Kakek tersebut berjalan meninggalkanku yang masih takjub denganya, hal terakhir yang kulihat sebelum sang Kakek menghilang adalah punggungnya yang rapuh, bukan karena tua dan rentan melainkan karena ia memanggul kenangan sejarah yang begitu banyak.

Bagaimana juga pertemuan dan dialog singkatku dengan sang Kakek merubah cara pandang dan gaya hidupku. aku harus menjadi orang orang pintar di tengah negara yang sudah merdeka ini. tapi faktanya lebih banyak orang bodoh saat merdeka ketimbang saat masih dijajah, apakah mungkin karena terlena kenikmatan? atau karena buta akan sejarah? menyedihkanya kita.

Dimulai dari orang dewasa yang kuat, mereka saling sikut, saling tindas, saling fitnah demi memperebutkan kursi emas yang nanti akan didudukan oleh dirinya sendiri dan keluarganya saja, bukan yang lain. lalu orang dewasa tapi rakyat biasa yang berdebat demi memenangkan orang dewasa yang kuat tadi. tapi nyatanya sudah dimenangkan lalu tak ada dampaknya bagi yang memenangkan, kemudian remajanya yang gencar meniru budaya luar negatif, buta sejarah dan selalu melakukan hal hal bodoh, bahkan yang lebih parahnya lagi tak sedikit yang tak hafal pancasila. Entahlah, walau sang Kakek terabaikan oleh negeri ini, oh maaf, maksudnya terabaikan oleh orang orang di negeri ini, yang pasti permintaan sang Kakek tadi harus terwujud, kita tak boleh melupakan sejarah, harus tetap bhineka tunggalika dan ramah tamah, tetap indonesia, lupakan budaya barat yang merusak citra dan moral bangsa, aku bersumpah akan bicara pada orang orang yang kukenal betapa hebatnya orang terdahulu kita dan betapa payah dan hancurnya kita, generasi penerus bangsa. mungkin Kakek tadi hanya satu di antara sekian banyak pejuang yang terabaikan dimasa senjanya, bukan mustahil karena kau tau kan betapa luasnya negeri ini. orang orang seperti itu sudah tua dan tak bisa segagah dulu, tak bisa aku bayangkan jika kita generasi muda memiliki sifat seperti pejuang pejuang itu, pasti kita akan melambungkan nama Indonesia lebih tinggi lagi dimata dunia. mendengunkan ke setiap telinga telinga bangsa lain, Bagaikan sang garuda yang terus terbang diangkasa raya demi sebuah cita, citra dan cinta, Indonesia.

SELESAI.

Cerpen Karangan: Aditya Isman
Facebook: Aditya Isman

Cerpen Amanat Sang Pejuang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Seperti Dulu

Oleh:
Namaku Erik. Dulu waktu masih kecil aku dan teman-temanku selalu bermain bersama. Kami bermain dengan alam tak sama dengan anak-anak sekarang yang sibuk dengan ‘gadget’ dan mudah terjerumus ke

Sao Luis Cafe

Oleh:
“1971? “1972? “Tidak. Aku yakin 1971? “1972. Tahun yang sama dengan kelahiran Doroteia” “Doroteia lahir November 1971 dan kau tahu itu” “Tidak sampai aku mengadopsinya dari panti asuhan” “Cih.

Akan Indah Setiap Waktunya

Oleh:
Namaku Yusni Novalin Simbolon. Sekarang aku seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas Gadjah Mada semester 6. Mungkin tidak sedikit orang yang mendengar dan mengatakan aku seorang yang hebat bisa

Mencintai Budaya Sendiri

Oleh:
Hallo semuanya, perkenalkan namaku Putri Angelia, kalian bisa memanggilku Lia. Aku adalah seorang penari tradisional yang berasal dari kota Malang. Jika ada panggilan untuk mengikuti lomba menari tradisional, kepala

Premonition Heart

Oleh:
Tik…tik..tik.. setiap detik terdengar, suasana malam sangat hening. aku melihat jam dinding, jarum jam menunjukkan angka 8, yah sekarang jam 8 malam. Di rumah begitu sepi, tidak seperti biasanya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *