Anagram

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Stasia meletakkan cangkir kopinya sedikit kasar. Seandainya kafe sepi, mungkin dentingan keramik itu akan membuat pengunjung yang ada menoleh padanya.

Perempuan di hadapannya baru saja memutuskan Juan, lelaki yang didefinisikan Stasia sebagai Gary Stu dalam dunia nyata. Tampan, baik, kaya, pintar, sebut saja semua kriteria laki-laki idaman, maka kau akan menemukannya pada Juan. Ia tetap kehilangan kata-kata walaupun harusnya kabar ini tak mengejutkan, mengingat Juan bukan Gary Stu pertama yang Dona campakkan.

“Dia menyebalkan,” ucap Dona acuh sambil menyesap tehnya.

Stasia menghela napas berat. Kadang ia bertanya-tanya mengapa ia masih berteman dengan perempuan yang rasanya pantas dilabeli jalang ini. “Karena ia menyuruhmu untuk berhenti mencuri jam istirahat kantor?”

Dona tersenyum, menampakkan lesung pipinya. Kulit sawo matangnya mulus tak bercela, wajahnya mungil dengan hidung mancung dan mata bulat lengkap dengan lipatan serta bibir yang penuh. Kalau Stasia penyuka sesama jenis, Dona adalah target pertamanya.

“Kau memang sangat mengenalku.”

Stasia membuka mulut, kemudian mengatupkannya lagi tanpa mengatakan apa-apa. Ia yakin Dona tahu bahwa yang Juan katakan adalah demi kebaikannya sendiri. Sama seperti Juan-Juan sebelumnya yang juga dicampakkan karena mereka berusaha mengingatkan Dona.

Ia tak habis pikir, mengapa para Juan itu tak ada habisnya muncul di hidup Dona. Mereka sudah mendengar tentang sejarah Dona yang buruk, tapi tetap saja dikejar. Rasanya kalimat ‘cinta itu buta’ tidak cukup untuk menggambarkan kebutaan para Juan yang dimabuk cinta itu.

“Sebenarnya kau mencari pacar yang seperti apa?” tanya Stasia setengah mengejek. “Juan yang baik kau tinggalkan, Portu yang brengsek juga kau putuskan.”

Dona nampak tersinggung, namun ia berusaha menutupinya. “Tentu saja yang bisa memimpin hubungan dengan baik. Dan juga memenuhi semua kebutuhanku.”

Stasia tersenyum tipis. Semua yang dimaksud Dona adalah secara literal. Mulai dari materi hingga kebutuhan di atas ranjang. Sampai hujan uang pun tidak akan Dona temukan pria itu. Yang Dona cari bukan sekadar Gary Stu, tapi Gary Stu bodoh yang akan memanjakan Dona tak peduli walaupun hal itu berakibat buruk bagi gadisnya.

Mendengarkan cerita Dona hanya membuatnya frustasi, tapi tetap saja ia sediakan waktu dan telinga bagi temannya yang satu ini. Stasia juga tak tahu mengapa. Mungkin karena Dona temannya sejak SD, atau paras Dona yang memikat, atau ia berharap ada keajaiban dan Dona akan mengabarkan berita baik.

“Minggu ini mau ikut pergi? Ada Heru dan Naro juga,” bujuk Dona sekaligus mengalihkan topik.

Stasia mendengus, dua lelaki bajingan dengan kelakuan tak keruan juntrungannya. Anehnya Dona masih saja senang pergi dengan lelaki semacam itu di saat ada Juan-Juan sempurna yang berserakkan mengejarnya.

“Tidak, terima kasih.”
Dona sedikit merengut. “Kalau begitu habis ini kita shopping di mall seberang.”
Stasia melirik jam tangannya. “Kau sadar kita harus balik ke kantor sepuluh menit lagi?”
“Ayolah, hari ini Pak Meinsa lagi keluar kota. Terlambat sedikit tak akan dimarahi.”
Stasia menghela napas pelan dan berbisik, “ini sebabnya Juan menasihatimu.”
“Kau bilang apa?” tanya Dona pura-pura tak mendengar.
“Bukan apa-apa.” Stasia melengos dan menghabiskan kopinya hingga tandas.
“Jadi kau mau ikut shopping, kan?” tanya Dona lagi, kali ini sambil menampakkan senyum lebarnya.
Tanpa menunggu jawaban Stasia, perempuan itu menarik temannya keluar kafe yang terletak di lantai dasar gedung kantornya dan menyeberangi jalan. Stasia bisa menolak, tapi ia pasrah saja diseret Dona.

Adipati bersila dan menyenderkan punggung pada pinggir ranjang. Sang pemilik kamar merebahkan diri di atas sofa yang terletak di seberang ranjang.

Adipati berdecih, “apa kubilang, perempuan sepertinya tak pantas untukmu.”
Juan memejamkan mata, membayangkan wajah Dona yang tertawa lepas. “Dia bukan perempuan seperti yang kau kira,” ujarnya tenang.

Pemuda itu tak membalas lagi, kecewa karena gagal memperingatkan temannya. Semua lelaki pasti pernah mendengar tentang Dona. Perempuan dengan fisik sempurna yang berlawanan dengan kepribadiannya.
Ia tak mengerti apa yang membuat Juan menyia-nyiakan waktu dan tenaganya hanya untuk Dona. Banyak perempuan yang jauh lebih baik di luar sana yang mengejar Juan, tapi semua ia tolak hanya demi Dona. Seandainya ia Juan, sudah pasti ia akan memilih Kamira atau mungkin Ganisa yang sudah terjamin baiknya.

“Aku tak akan bertanya lagi kenapa kau memilihnya. Jelaskan saja padaku kenapa kau begitu mencintainya?”
“Karena aku mengenalnya dan kau tidak. Seandainya kau mengenalnya, kau juga pasti akan mencintainya, Di.”
Adipati menatap nanar wajah Juan yang terlihat terlalu tenang untuk orang yang baru saja dicampakkan. Temannya ini benar-benar sudah gila. “Aku tak sudi buang waktu untuk perempuan seperti itu.”
Juan tertawa pelan. “Itu sebabnya kau tak akan mengerti. Kalau kau mau meluangkan waktu sedikit saja, kau akan tahu dia sebenarnya perempuan baik-baik. Kau tak ingat dulu dia suka membagi bekalnya padamu saat kita masih sekolah?”
“Itu sudah lama sekali. Manusia berubah, Juan.” Pemuda berambut panjang itu mengingat kembali masa-masa ia memakai seragam dengan celana pendek merah.

Pandangan Juan menerawang ke langit-langit kamarnya. Waktu sudah mengubah cinta pertamanya begitu rupa, tapi ia tidak akan pernah lupa seperti apa Dona yang sebenarnya. Ia yakin Dona hanya sedang tersesat, ia percaya suatu saat perempuan itu akan kembali menjadi Dona yang dulu.

“Aku tahu, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan tunjukkan pada dunia Dona yang sebenarnya.”
Adipati terkekeh, “sesukamu sajalah. Tapi jangan suruh aku membantumu lagi.”
“Kau tidak percaya padaku?” Tersirat nada kecewa sekaligus menantang di dalamnya.
“Aku seorang realis, bukan pejuang cinta sepertimu.”

Juan hanya tersenyum menantang. Biarpun seluruh dunia menganggapnya gila, ia tak akan mengubah pendiriannya. Ia akan membuktikan bahwa cintanya bukan perempuan sembarangan. Hanya ada satu perempuan sepertinya di seluruh dunia ini. Hanya ada satu Dona Sieni.

Cerpen Karangan: Liesl

Cerpen Anagram merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gara-Gara Hantu

Oleh:
Pagi ini Maya bersekolah seperti biasa. Dengan berjalan kaki, ia pun berangkat. Embusan angin yang menerpa lembut kulitnya sama sekali tidak membuatnya segar. Akan tetapi, ia tahan rasa kantuk

Bintang Baru Di Tahun Baru

Oleh:
“Kalau aku jadi langit, kamu jadi apa?” “Aku mau jadi astronot biar bisa samperin kamu ke langit.” “Loh, kok astronot sih? Kamu harus jadi bintang.” “Memangnya kenapa?” “Karena aku

Dinda – makam dan kenangan

Oleh:
tanah merah basah… kuresapi rinai hujan yg perlahan mulai meluap dari daratan bumi.. sementara Aku masih bertahan di tempatku berpijak sejak sejam yang lalu.. Nenek Aida, “Kepada-Nyalah kita semua

Sedikit Waktu

Oleh:
Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta adalah anugerah. Mereka membangga-banggakan cinta sebagai sesuatu yang agung. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa mereka demi cinta. Orang juga berpendapat bahwa cinta tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Anagram”

  1. Randa says:

    kepenulisan yg cukup rapi, penjiwaan karakter yang bagus. Tapi, alurnya masih intro.
    wakakak.
    aku harap ada lanjutannya.

  2. Dinbel says:

    Kerens cerita nya, tapi alur nya tolong di perhatikan lagi ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *