Anak Jalanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Tahu apa itu istilah anak jalanan…?
Ya, kebanyakan pasti tahu. Apalagi para muda-mudi yang setiap harinya nonton RCTI tiap malam sebelum isyak.
Anak Jalanan adalah sebuah drama elektronik —sinetron— yang menjadi fenomena belakangan ini. Serial yang mengangkat kisah hidup Boy, Reva, dan CS-CS-nya membom minat dari jutaan pemirsa di depan layar TV. Jika sinetron ini sudah tayang, kakak perempuan sepupuku pasti akan menyembunyikan remote TV agar bisa mengkudeta ruang keluarga untuk dirinya sendiri. Sungguh sebuah acara TV yang sangat luar biasa. Saking kerennya sinetron tersebut, kakak perempuan dari sepupuku itu sampai-sampai lupa mandi tiap sore, karena tidak mau kelewatan aksi Boy si protagonis tampan tersebut.
Ya, acara TV itu hebat…. Hanya saja, belum sehebat kenyataan yang berlaku. Anak Jalanan yang ditayangkan di TV itu hanyalah sebuah penampilan fiktif dari naskah yang ditulis oleh penciptanya. Beda dengan kenyataan di dunia nyata, sebenarnya semua tokoh dalam Anak Jalanan tidaklah seburuk karakter di cerita mereka.

Anak Jalanan yang asli, ada di jalanan. Di jalan raya-jalan raya sepanjang Batam. Dari ujung Punggur mencecah ke puncak Sekupang. Ramai kebut-kebutan di sesaknya Batu Aji, berdansa dalam kalutnya Batu Ampar, dan menanjak-menurun di liuknya jalur Bengkong. Anak Jalanan yang sebenarnya jarang mengendarai Ninja atau ZR seperti milik Boy dan CS-CS-nya. Mereka menunggagi kuda kurus Jawa Tengah. Kumpulan kuda-kuda cub model lama: Jupiter Z, Supra X, Supra Fit, Grand, Legenda, Vega R, Fost One, Fiz R, Mio, Beat dan Vespa.
Kendaraan mereka lebih ringan, ramping, seperti tengkorak. Jarang ada anak-anak jalanan Batam yang mengendarai motor cub akan melengkapkan body motor mereka. Mereka lebih memilih untuk memereteli kendaraan mereka —mencabut hampir semua kapnya— agar lebih ringan dan mudah untuk diangkat, standing.

Anak Jalanan di Batam tidak pernah Sholat. Ya, karena mereka anak jalanan, makannya mereka tidak Sholat. Soalnya yang diperintahkan untuk Sholat itu hanya kaum manusia dan jin saja. Jalanan beserta anak-anaknya tidak dimention dalam perintah Sholat.

“Kau tak Sholat?”
“Aku anak rempit. Mana ada rempit sembahyang, Bro.”
Begitulah pengakuan salah satu teman satu kampusku, anak semester 3 jurusan Teknik Industri. Kebetulan, dia anak jalanan. Nama Bapaknhya S. Parman. Panjangnya Suparman. Sepupu dekat sama Superman, dalam khayalan belaka. Hanya bercanda.

Nama temanku itu Riskan. Asal, asli Batam. Seorang veteran dalam curi-mencuri motor dan menikung cewek. Salah satu keahlian khususnya yang tidak dimiliki siapa pun selainnya adalah menghilang dalam sekejap setelah menampar pantat wanita dalam keramaian. Seorang penjahat sejati —yang sebenarnya masih terlalu amatir.

“Kau bangga jadi anak rempit?” kataku, balik menanyainya lagi.
“Banggalah. Kita orang-orang bebas hukum. Gak ada satu orang pun yang bisa ngalahin kita kalo udah di jalan. Polisi aja semput ngejar aku,” lanjutnya dengan nada sombong, yang terdengar bodoh.
“Kau pernah dikejar polisi memangnya?” lanjutku.
Dengan sebuah senyum licik, Riskan menjawab, “Aku yang minta dikejar malahan. Kusumpahin polisi yang lagi di posnya.”
“Kenapa?”
“Mau ngetes mesin baru… Kalo nggak ketangkap pas dikejar, berarti mesin motorku udah pas disettingnya. Kalo ketangkap, berarti masih harus disesuain lagi.”
“Terus, ketangkap?”
“Enggak dong. Mana ada polisi yang bisa ngejar Vega aku. Ninja 250 RR pun gagap kalo aku udah macu.”
Hebat bukan, anak jalanan Batam. Mereka tidak perlu naik Ninja untuk kebut-kebutan di jalan raya. Hanya dengan motor Yamaha keluaran 2007, dan ekstremnya adrenalin terpacu akan terasa.
Saking terasanya, mereka sampai-sampai lupa, kalau tanah yang mereka pijak ini milik siapa. ‘Kebal hukum’ katanya? Tidakkah itu fantastis…

Boy, si anak pengusaha besar, saja tidak mampu bicara begitu, tapi Riskan, siswa biasa dengan keluarga biasa yang belum tentu bisa membiayai hidup mereka sampai 10 tahun ke depan secara stabil malah dengan mudahnya bicara seperti itu. Ya, anak jalanan di Batam memang hebat. Atau… Akan lebih pas jika kusebut, anak jalanan di dunia nyata itu yang hebat. Sangat hebat menyombongkan diri.
Jika melihat ada anak-anak rempit, atau dalam bahasa Indonesianya ‘geng motor’ maka kalian akan perlu penyumbat telinga yang tebal. Gerombolan itu ialah manusia-manusia bebas yang tidak hidup seperti manusia. Makanan mereka adalah oli, minumannya bensin, tempat mandinya bengkel, dan kasurnya aspal. Pernah membayangkan makhluk seperti apa itu? Ya, itulah anak jalanan. Orang-orang yang terjebak dalam dunia gelagapan.
Kebanyakan dari mereka adalah remaja usia sekolah. Bukan hanya SMA, bahkan sampai ke SD. Jaringan kehidupan bermotor seperti ini sudah dimulai ketika mereka kecil. Terpampang jelas di jalan depan sekolah mereka ada pengendara yang standing kemudian muncullah keinginan untuk melakukan hal yang sama. Anak-anak tersebut —yang bukan anak jalanan— akan mulai mencoba-coba untuk melakulan hal yang sama, kemudian mencari tutornya. Lewat situ, bergabunglah mereka dengan kelompok tak tentu arah.
Mereka mulai nakal dan meninggalkan sekolah. Teman SMA-ku bahkan pernah sampai tidak masuk satu semester penuh gara-gara nongkrong sama anak jalanan —gengnya. Di sana dia merasa bebas. Tidak ada aturan orangtua, tidak ada jadwal masuk atau jadwal pulang, tidak ada pergantian mata pelajaran, tidak ada urusan PR, latihan, ulangan ataupun ujian. Bebas, tanpa kompromi apa pun.
Rok*k tersedia, begitu juga dengan mir*s dan barang-barang terlarang lainnya. Jika tidak ada uang untuk belanja jajanan panas mereka, mereka akan mencopet atau mencuri, atau bahkan merampok. Terkadang mereka malingin motor di parkiran pasar, atau membegal saat tengah malam di daerah Tamiang.
Beberapa jadi pembunuh. Beberapa tidak membunuh, tapi mencuri harta orang lain. Beberapa tidak melakukannya—cecunguk— tapi bersabahat dengan kemaksiatan rekan-rekannya: membelikan barang haram, menyajikannya, dan menikmatinya.

S*ks bukanlah sebuah hal jarang. Malahan sudah menjadi rutinitas. Seperti tidur dan bangun. Yang mereka gauli bukanlah istri mereka, tentunya. Tapi anak-anak tersesat lainnya yang terguling oleh rayuan uang dan kenikmatan birahi. Sebuah kehidupan tak stabil yang begitu ganas dan gelap. Namun, tak ada satu pun yang ketakutan akan perbuatan mereka itu. Seakan-akan tidak ada kesalahan terhadapnya.

Begitulah anak jalanan. Anak-anak manusia yang tidak menganggap hukum itu ada. Tentu saja, bukan hanya di Batam, tapi di seluruh dunia. Boy dan CS-CS-nya bukanlah sosok anak jalanan yang seperti ini bukan…? Pernahkah kalian berpikir, kenapa tidak ada adegan semacam: minum arak, merok*k g*nja, bersetubuh, atau hal-hal menjijikkan lainnya —kecuali berantam atau saling dengki?
Benar. Karena tuntutan penyiaran. Selain itu, mereka tentu tidak ingin melakukannya, bukan. Karena adegan semacam itu akan merusak tubuh mereka. Begitu juga kesalahan terhadap agama dan hukum NKRI ini. Sebuah cerita di TV, ingin seburuk apa pun itu, tak akan pernah berpengaruh apa-apa jika kita hanya menanggapinya sebagai cerita fiksi belaka. Jangan seperti penderita chuunibyou yang menganggap sihir dan raja kegelapan itu wujud.
Yang di televisi itu hanyalah sebuah kisah fiktif. Alur seni khusus yang tercipta dari kreatifitas pembuat filem. Tidak nyata.
Namun, apa yang ada di kota kita, aslinya adalah fakutual yang sebenarnya. Hal mengerikan tenang anak jalanan adalah tumor bagi masyarakat, dan kanker bagi negara. Jika terus dibiarkan, maka akan menjadi kuburan bagi sebuah bangsa. Kalau hal itu terjadi, maka akhirnya, seluruh masa depan umat manusia Indonesia ini akan jadi 0%. Soalnya semua anak-anak mudanya —mungkin tidak semua, hanya mayoritas saja— akan merusak diri mereka dengan terjerumus dalam dunia anak jalanan

Sementara itu, tidak satu pun dari pengurus negara —pemerintah— tidak ambil kisah soal problematika sporadis ini.
Pada akhirnya, tidak ada yang akan berubah. Jalanan akan tetap berbahaya. Begitu juga dengan masa-masa inilah para remaja. Beginilah status kehidupan kontemporer masyarakat Indonesia.

Cerpen Karangan: Faz Bar
Profile I’m just an ordinary guy, with no talent or awesomeness. I like to write, especially a light novel. My dream is to write a light novel that then being adapted into an anime series (I’m serious about this). I like anime and J-Pop music, and all about Japan. My favourite protagonist is Hikigaya Hachiman, whether the heroine is Yukinoshita Yukino from Oregairu. I’m still an amature. But, I sure can be one of like those great writer whom had made history with their works. I want to be one like that. A famous writer (once again, I’m serious about this).

Cerpen Anak Jalanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Meja Istriku

Oleh:
“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Rida

Rindu Orangtua

Oleh:
Sebut saja namanya vicky. Seorang bocah kecil yang sangat senang memainkan pena di atas kertas buram. Meskipun tulisannya terbata-bata namun dia tetap menulis dan terus menulis. Dia tak tahu

Negeri Para Robot

Oleh:
“…mereka tak punyai hati nurani sebab mereka semua robot” Sudah kurang-lebih 8 jam lamanya kami berada di atas awan. Di dalam sebuah pesawat komersil milik perusahaan penerbangan negeri kami.

Eyang Uti

Oleh:
Aku masih mengingatnya ketika beliau mulai menyisiri rambut-rambut keriting tebalku. Beliau dengan lembutnya menyuruhku duduk di depan meja rias. Aku menurut, sambil memperhatikan setiap langkah jari lentikknya. Beliau menurunkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *