Anak Koruptor

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Tetesan air hujan bagai sebuah piano yang mengeluarkan melodi indah. Suara yang hampir setiap harinya menemani gadis yang tengah menunggu bus di halte-bila musim hujan tiba. Gadis itu dilihat banyak orang seperti seorang terpidana. Bagai duduk di ruangan yang penuh api, wajah gadis itu terlihat merah terbakar api. Sejatinya seorang terpidana yang dihakimi seluruh dunia, benar kenyataannya Gadis itu adalah anak seorang terpidana. Bila Gadis itu punya Sayap, ia akan mengepakkan sayapnya lalu pergi jauh dari halte itu.

“Koruptor!” Salah seorang pemuda membuka Suara membuat Gadis itu mengangkat kepala. Bagai sebuah bom meledak dalam dirinya membuat tubuh Gadis itu panas seketika. Kesabaran yang ia jaga dengan hati-hati, Bagai api Yang terus ia padamkan setiap saat. “Astagfirullah” ucap Gadis itu, lalu kembali menundukkan kepala. Cap negatif akan melekat lebih erat pada dirinya Bila ia bertindak yang tidak-tidak. Ia coba merubah suasana panas, dengan pura-pura menikmatinya.

Semilir angin membuat rasa gerah diri Dan gerah hati terasa agak turun. bagai Bunga layu Yang mekar kembali ketika Gadis itu melihat istana reyot yang jauh dari kata indah. Tapi bukan istana reyot itu yang sebenarnya ia lihat, tak Ada pemandangan Yang membuatnya menyunggingkan senyuman. Hanya saja pikirannya menuju sebuah potretan wajah Yang sudah sejak lama ia rindukan dari jauh-jauh hari.

Bahagia dan sedih bercampur aduk Bagai kopi Dan gula. Gadis itu mencoba menikmati kopi yang tak lagi terasa sangat pahit. Ingatan 5 bulan yang lalu tetap saja melintas lambat tak hilang-seperti becak yang dikayuh oleh kakek-kakek di kota yogyakarta. Pelukan seorang ibu Dan anak gadisnya Bagai selimut yang menghangatkan hati keduanya yang dingin. Ketika itu butiran mutiara bening bercucuran dari mata karamel keduanya yang terlihat sama.

Seperti melodi air hujan yang setiap hari gadis itu dengar, tanpa suara nyanyian apapun. Tak ada Suara, hanya pelukan yang membuat pikiran keduanya singgah ke masa lalu. Masa lalu yang menyulitkan keduanya hidup, bahkan menyulitkan bernafas karena dada yang seperti terhimpit bongkahan Batu. Keduanya lalu duduk di sebuah kursi yang terlihat rapuh karena usia. Keduanya mengobrol, menyelam dasar pada pembicaraan di laut lepas.

Keduanya mulai menyelam ke dasar secara tak disadari. “Tak masalah bu, gema sudah terbiasa” tersungging senyuman di bibir tipis gadis itu. Wajah cantiknya semakin terlihat cantik ketika sebuah senyuman terlukis rapi. Nyatanya, gadis itu menelan ludah kasar sebelum menjawab hal tadi.

Istana reyot itu luasnya hanya kurang lebih 1/10 luas rumah gadis itu 5 Bulan yang lalu. Nyamuk berbunyi begitu terdengar nyaring oleh gadis itu. Sesekali ia menggerakkan tangannya untuk mengusir binatang kecil yang biasanya membuat manusia bentol-bentol. Sungai tercemar di sebelah istana reyot itu mungkin yang membuat nyamuk itu betah meneriaki gadis itu. Membangunkannya ketika sudah beranjak pergi ke alam mimpi. Kalau saja nyamuk itu tak bersuara, mungkin mimpi gadis itu telah jauh berjalan. Mimpi yang agaknya lebih indah dari hidupnya yang menyedihkan. Tetap tak ada yang harus dikeluhkan pikirnya.

Main-main dengan buku tebal yang dari sampulnya saja membosankan. Gadis itu bukannya tak ingin dibodohi oleh smartphone, namun karena ia tak punya benda itu. Rupanya dunia berputar, yang tadinya memberi jadi diberi. Meninggalkan gemerlapnya kekayaan yang berlimpah. Tidak, gadis itu tak meninggalkannya hanya saja Allah mengambilnya begitu cepat. Kesalahan, entahlah gadis itu pun tak tahu apa itu kesalahan atau sebuah peringatan. Bagai sepeda yang ada remnya, gadis itu pun bisa menahan emosinya ketika dikatakan sebagai anak seorang koruptor. Namun rem sepeda pun bisa blong, begitupun kesabaran gadis itu.

Ibu dan gadis itu tak banyak berbicara selama dua hari kebersamaan mereka. Hanya pembicaraan ringan yang tak membuat keduanya terjun bebas ke dalam kenangan dan masa lalu mereka. Walau tidak dengan pembicaraan pun keduanya tetap saja tak sengaja terpeleset lalu terjun bebas ke dasar. Menjadi ibu dan gadis yang tahan banting, dilempari kata yang pada kenyataanya banyak menyayat hati.

Kata hati keduanya nyambung, bagai 2 TV dengan kabel yang berhubungan. Menyiarkan pikiran yang hampir sama kalau “ternyata ada untungnya tak punya sebuah tv”. 2 insan yang punya golongan darah yang sama itu hanya duduk di kursi reyot, sibuk memilah dan memilih kacang yang Bagus. Kacang itu pendiam, tak seperti TV yang kadang-kadang membicarakan soal laki-laki yang dicap seorang “koruptor”. Lalu ibu gadis itu mulai memiliki niat untuk bertanya pada putrinya. “Bagaimana hubunganmu dengan ciccio?” Tanya ibu gadis itu dengan hati-hati. Butuh menelan ludah khusus, tak terlalu kasar karena takut mengeluarkan suara yang akan terdengar oleh ibunya. Jam dinding berdetak, beberapa detik menunggu gadis itu membuka suara. Sebuah lakban Maya menempel erat di mulut gadis itu membuatnya membisu. “Kami putus bu” jawab gadis itu setelah ibunya menunggu lama untuk sekedar mendengar jawaban singkat saja.

Tamparan keras, ibu gadis itu merasa ditampar oleh tangan seorang petinju. Hatinya merasa rapuh mendengar jawaban singkat yang menyayat hati. Membuat mata ibu gadis itu berkaca-kaca. Pemuda yang pernah ia pikir sebagai salah satu tumpuan untuk anaknya bertahan, patah karena sebuah alasan. “Apa karena kau adalah anak koruptor?” Tanya ibu gadis itu dengan suaranya yang bergetar, namun menekankan pada pengucapkan kata “anak koruptor”. Gadis itu tak sengaja memperlambat waktu untuk menjawab, hanya saja dia bingung juga sulit berkata karena dadanya yang sesak. Gadis itu tersenyum tipis, senyum yang begitu sulitnya ia goreskan. “Mungkin” jawab Gadis itu, suaranya tak bergetar. Ia pandai memindahkan gemetar itu pada kaki yang ia letakkan di lantai.

Burung kembali bersuara di pagi yang cerah. “Semoga saja cerahnya pagi ini, seperti cerahnya masa depanku” ucap gadis itu pelan. Tangannya sibuk membereskan baju di dalam tas yang mirip koper kecil yang terlihat lusuh. Ia ingin melambatkan waktu agar tak cepat melangkah ke luar istana reyotnnya.

Sama seperti sebelumnya, berpelukan dengan keadaan yang sama. Menangis, karena gadis itu akan pergi lagi ke kota Yogyakarta. Lambaian tangan ibu gadis ibu sebagai suatu pinta agar gadis itu cepat pulang dan kembali. “Kau adalah gema, ibu doakan semoga semua orang mengingatmu sebagai gema bukan sebagai anak koruptor” hati ibu itu berbicara ketika ia menutup pintu. Pintu yang berbunyi “krekettt” mengamininya.

Kembali gadis itu duduk di kursi sebuah halte, halte yang sama dan tempat yang sama. Kembali ditatap sebagai seorang terpidana. Terbiasa, gadis itu sudah terbiasa diteriaki semua orang kalau dia adalah Anak koruptor.

Cerpen Karangan: Renita Melviany

Cerpen Anak Koruptor merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Zizi

Oleh:
Setiap malam aku selalu di rumah seorang diri, tak ada satu pun orang di rumah kecuali bibi yang selalu memenuhi apa yang aku butuhkan di rumah. Orangtuaku yang selalu

Halusinasi

Oleh:
Sebagian besar orang bilang aku adalah anak yang aneh, Aku duduk di tempat paling belakang karena dipindahin sama wali kelasku. Dulunya duduk agak ke depan atau bisa dibilang tengah-tengah,

Indonesia Dalam Bus

Oleh:
Seorang penjual Koran naik dari pintu depan, dari pintu samping naik pula seorang pedagang asongan saling sikut dengan pengamen jalanan, tak ada yang peduli. Semua wajah terlihat awas, dalam

Persahabatan yang Kokoh

Oleh:
Siang ini aku nongkrong dengan sahabat–sahabatku. Kami terdiri dari 5 orang yaitu aku (Ikhwan), Kayla, Fandi, Dimas, dan Riani. Kami sudah bersahabat sejak 4 tahun kira kira dari SMA.

Ajal

Oleh:
“Apa? Loe gak bohong kan, Sya?” ujar gua. “gak Kar… gua gak bohong!” jawab Syara. “Loe yang sabar ya, Sya. Loe jangan percaya omongan dokter, dokter itu bukan Tuhan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *