Anak Laki-laki Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 July 2012

Bu, kutamsilkan sosok itu layaknya dunia. Dunia yang sama sekali tak ingin kau hadiahkan padaku namun mesti ada sebagai suatu akibat. Meski pernah kucoba bercermin diri—melihat adakah bayangku di permukaannya—semakin kuteguhi, bukanlah itu dunia yang kucari. Bukan bernama dunia jika kakiku tak sanggup menjejakinya.

Kulit bantal lusuh itu kuyup lagi. Serupa malam-malam sebelumnya, dari ceruk kesedihan yang samalah air mata itu kembali mengairi permukaannya.
Dengan mata bengkak, anak laki-laki kurus tigabelas tahun itu bangkit dari tempat tidurnya yang dipenuhi kutu busuk. Tempat tidur itu hanya berupa kasur kapuk tua, penuh lubang, dan tak beralas, tergelar masai di atas dipan kayu yang agak doyong. Tentu bukanlah tempat tidur menyedihkan itu yang dipilukannya di bilangan malam, hingga tutul-tutul bengkak dan gatal bekas gigitan kutu busuk di lengan dan di tungkai kaki tak dirasainya lagi. Yang niscaya, ada luka teramat dalam telah mencabari hatinya hingga dia telah begitu abai pada dirinya sendiri.
Duduk di tepi dipan seraya merenungi kelam, anak laki-laki itu sekali lagi menghela nafas. Namun, tak cukup-cukup juga lapang dadanya. Tetap tak mau pergi sesaknya.
Anak laki-laki itu bangkit berdiri, melangkah mengitari dipan kayunya, lalu menuju pintu kamar yang bersebelahan dengan dipannya. Itulah satu-satu kamar yang dimiliki rumah ini. Hanya berbatas triplek seadanya. Berhenti sejenak di ambangnya, sekali lagi dihelanya nafas. Akankah jadi lebih baik?
Anak laki-laki itu menyeberangkan pandangan ke satu lagi dipan kayu di dalam kamar. Di atasnya, terbujur merana di balik selimut lapuk seorang perempuan paruh baya berwajah cekung. Meski begitu rapat memejam mata, mulut ternganga menadah—seolah begitu dahaga menampung sisa hidupnya yang kian pendek—tetap saja raut itu tak mampu menyembunyikan kepayahan sakit; tetap saja tidur itu jauh dari pulas yang menentramkan. Dada anak laki-laki itu pun kembali disambar perih. Kapan ibu bisa sehat lagi?
Anak laki-laki itu kembali ke dipannya. Duduk termangu, matanya menatap menembus dinding kayu lapuk di depannya. Tak di badan lagi pikirannya.
Matanya kemudian menangkap gerak jam. Setengah tiga! Diliriknya pula pintu depan yang diam tak bergeming, masih tersilang palang kayu. Lama ditatapnya daun pintu, seolah menunggu seseorang yang tak diharapkan pulang. Tapi betapa terkejutnya dia saat berikutnya, kesenyapan yang mulanya hanya ditingkahi desah payah nafas ibunya, kini dipecahkan gedor kurang ajar tak tahu rasa-rasa.
”Salim!” teriak seorang laki-laki dengan suara serak-pecah dari balik pintu. ”Bukakan pintu!”
Tergapai-gapai anak laki-laki yang dipanggil Salim itu beranjak dari dipannya. Setengah berlari mendekati pintu, dia merenggut palang kayu dengan tangan gemetar. Pintu pun berderit terbuka.
Sebuah wajah kusut berpagar jambang liar muncul dari kegelapan di balik pintu. Sepasang mata melotot merah mendelik padanya.
”Sudah sembuh ibumu?” tanya laki-laki itu kasar, tanpa rasa iba.
Salim hening. Baginya tak perlu ada jawab. Tanpa harus bertanya, ayahnya bisa saja melongok sebentar ke kamar dan membaca ibunya; tidur dengan nafas meregang, mulut menengadah, dan mata terpejam rawan. Tidakkah kondisi itu cukup menampar ayahnya dengan rasa iba? Masih jugakah mulutnya mengungkap tanya?
Selepas memasang kembali palang kayu, Salim kembali ke dipannya, menarik selimutnya lagi, tak peduli. Gemetar masih menyisa di tubuhnya, namun bukan lagi karena rasa takut, melainkan kesal yang terbungkam.
”Kulihat kau semakin kurang ajar saja akhir-akhir ini,” sengat ayahnya tiba-tiba, yang dari tadi memperhatikan diam anaknya sebagai bentuk pemberontakan. ”Apa kau merasa sudah besar menyamaiku, ha!? Merasa cukup tangguh mengadu otot denganku, begitu? Mengapa kau tak jawab pertanyaanku?”
”I-ibu belum sembuh, Ayah,” sahut Salim tergesa dengan suara bergetar. Ketakutan merayapinya dan kesal itu pun tak jadi kekal.
Ketika momen ini tiba, ingin rasanya Salim berlari ke belakang punggung ibunya. Cuma itulah tempat aman menyembunyikan diri dari amarah ayahnya yang siap menghambur kapan saja. Tapi kini, ke balik apa dia akan berlari? Sakit yang merajam telah menenggelamkan ibunya ke dalam tidur yang sungguh bisu dan tuli. Ibunya tak akan mendengar meski nanti Salim terisak di bawah pukulan-pukulan ayahnya; ibunya tak akan sanggup melontarkan kata pembelaan sekalipun matanya nyalang; ibunya tak akan kuat menjejak tanah meski nanti Salim patah-berdarah.
”Seharian tadi ibu hanya makan sedikit, Ayah.” Tak punya pilihan lain, Salim mesti mencoba nyali, sejauh mana dia sanggup memberanikan diri. ”Itu sisa beras yang kemaren. Sekarang beras sudah habis. Aku tidak menanak lagi.”
Senyap menjeda sejenak. Fakta yang terurai dari mulut Salim agaknya menampar harga diri ayahnya sebagai pencari nafkah keluarga yang abai pada tanggung jawab. Salim berharap demikian. Namun ternyata bukan insaf yang menyapa. Ayahnya malah balik menyerangnya.
Plak!!!
”Ampun, Ayah,” pinta Salim lirih, terisak.
Tamparan kuat sembarangan mendarat di bagian belakang kepalanya. Maka semakin ciutlah Salim dilahap ketakutan. Bahunya jerih menahan guncangan. Tubuhnya meringkuk di balik selimut tipisnya.
”Apa aku mengajarimu menjadi bodoh, ha?” cerca ayahnya tak berbelas. ”Berapa kali kubilang, pinjam dulu beras ke rumah sebelah! Dasar lembek! Anak laki-laki macam apa kau?”
Anak laki-laki lembek! Ya. Itulah dia kini. Semakin jauh usianya beranjak, semakin disadarinya pula tak sedikit pun tabiat ayahnya menjamahi lakunya. Tak pula setitik keberanian menempeli dadanya. Yang ada hanya dirinya kini telah dilamun malu—rasa yang niscaya tak pernah menyinggahi dada ayahnya. Hutang beras seminggu lalu belum terbayar, patutkah dia meminjam lagi?
”Besok pagi, kau pinjam beras agak seliter!” perintah ayahnya kasar. ”Kalau tidak, kau dan ibumu tak akan makan! Biar sama mampus saja sekalian!”
Salim tersentak. Dengung menyakitkan menusuk-nusuk telinganya, juga dadanya. Ayah? Harus demikiankah berkata-kata?
Tentu pada ujungnya, Salim mesti mahfum dengan siraman pedas mulut ayahnya. Bukankah telah lebih banyak yang dia terima daripada nasi yang memenuhi perutnya? Sejenak bersemayam di ngiang benaknya, yakin dia kata-kata itu akan hilang dari gaungnya. Tak akan lama! Tapi mungkinkah dia silap? Hatinya adalah tanah yang meresap segala. Gaung itu bisa muncul kapan saja.
Malam pun beranjak subuh. Kokok ayam sayup-sayup bersahutan. Tapi Salim tak tak berpejam lagi. Kamar di sebelahnya yang hanya berbatas triplek seadanya telah dibisingkan gemuruh dengkur ayahnya yang pulas kekenyangan, di samping ibunya yang terpejam rawan dalam lapar!
Ayahnya setiap malam makan di luar. Maklum, sopir angkot giliran. Upah yang tak seberapa—karena harus disetor sebagian pada pemilik angkot—kerap tak pernah sampai ke rumah. Meski tersisa hanya beberapa lembar, selalu dipastikan raib di meja judi, atau sebagai pelunas utang rokok. Tak pernah ingat anak dan istri, apa sudah makan atau belum. Soal perut, perihal dapur yang berasap, ibunyalah yang menalang. Tapi kini ibunya terbaring tanpa daya, kepada siapa lagi dia harus menghempas harap? Kesedihannya, mengapa kini menjelma rutuk-kesal?

* * *

Bu, semakin kuatlah kupatri dunia itu memang bukan untukku. Bukan bernama dunia jika tak sehelai pun daun sanggup dihijaukannya. Bukan pula bernama dunia jika tak ada sungai yang mengairinya. Meski dunia itu juga duniamu, haruskah kubentangkan pula bakti di permukaannya?

Pagi-pagi sekali, meski berat hati meninggalkan ibunya yang kepayahan dalam lelap, berlapar-lapar di puncak sakitnya, Salim telah lenyap pergi. Namun sebelumnya, dia sudah membuatkan segelas teh dan diletakkan di samping kepala ibunya, kalau-kalau terjaga nanti ibunya bisa langsung meminumnya. Hanya itu yang bisa diberikannya pagi ini.
Kini hendak dibuangnya sosok ayah yang seharusnya menekuni keluarga itu. Baginya, separo orangtuanya telah punah. Dan beban itu telah jatuh ke pundaknya. Dia yakin mampu mengimbangi kepincangan itu.
Salim tidak ke rumah sebelah, tidak pula meminjam beras. Dia akan ke pasar, mencari pekerjaan dan uang. Dia tak ingin jadi anak laki-laki lembek seperti yang rutin ditanamkan ayahnya.
Kini dhuha telah tinggi. Pasar tak lagi seramai pagi. Namun, pekerjaan belum juga tertangkap di matanya. Hatinya jadi semakin didesak pulang. Terbayang pula ibunya yang terengah-engah sakit di pembaringan. Tapi tentu dia tak hendak pulang, sebelum mengais selembar uang!
Seorang perempuan paruh baya tertangkap di sudut matanya, sedang kepayahan mengangkut beban belanjanya: sekarung beras dan tiga bungkus plastik penuh sayur yang menggelembung-berat. Salim gegas berlari, menghampiri.
“Aku bantu bawa, Bu!”
Tampak kaget, tatapan ibu itu sejenak menimbang. Sekarung beras yang tatih diseretnya cukup berat baginya, apalagi untuk ukuran seorang anak laki-laki tanggung yang belum baliq dan kurus. Belum lagi tiga kantung besar belanja yang dijinjingnya.
Ibu itu menggeleng halus, mengulas senyum. “Tidak usah, Nak. Banyak becak di luar.”
“Aku sanggup bawa, Bu,” pinta Salim memaksa. “Aku butuh uang. Ibuku sakit di rumah.”
Terpana bercampur haru, Ibu itu kemudian menarik dompet dari ketiaknya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan. “Beri aku pekerjaan, Bu!” kata Salim tegas. Dan tatapan ibu itu semakin kagum.
Maka dibawanyalah semua beban itu, paling tidak ke tempat mangkal tukang becak yang berkumpul di depan gerbang pasar. Ibu itu tak tega melihat Salim kepayahan melebihi kemampuannya.
Bukan main geloranya Salim setelah uang itu tergenggam di tangannya. Tak dirasainya lagi tubuhnya telah kuyup oleh keringat. Tak dihiraukannya lagi tubuh yang telah dilahap penat. Dia pun berlari pulang, tak sabar mempersembahkan buah baktinya pada ibunya.
Zhuhur telah tegak di atas kepala. Namun pondok kayunya sama hening dengan saat dia meninggalkannya pagi tadi. Pintu kayu itu belum juga terbuka. Tak biasanya.
Salim, tentu saja, tak mengharapkan ayahnya melakukan itu semua. Sejak kapan laki-laki tak bertanggung jawab itu peduli rumah ini. Kiamat dunia kalau ayahnya membereskan rumah menggantikan ibunya. Yakin dia, ayahnya sudah pergi lagi menarik angkot tanpa menjenguk ibunya lebih dulu, atau paling tidak bertanya, apa keluh sakitnya. Tidak! Ayahnya tak pernah peduli. Dari dulu ayahnya tak pernah menabur kasih pada keluarganya sendiri.
Dadanya pun segera dihantam syak wasangka. Apa gerangan yang melanda?
Pintu menjeblak terbuka. Setengah berlari menuju kamar ibunya, Salim mendapati ibunya masih terbaring dalam lelap. Tapi ini sungguh tak biasa. Meski sakit, paling tidak ibunya masih bisa bangkit. Masih kuat jalan walau hanya satu-dua langkah. Masih bisa membuka jendela, membuka pintu, atau lainnya. Tapi, mengapa kini…
Tidak! Ibunya tak apa-apa. Hanya sakit biasa, akan sembuh tak lama lagi. Tapi, tetap saja Salim tak kuasa membungkam bisik dadanya.
Maka didekatinya dipan kayu itu. Dipuaskanlah matanya menyapu sekujur tubuh ibunya. Tapi waktu mengungkapkan juga pada akhirnya. Ya, telah terkatup rapat mata itu. Telah beku pula wajah kisut itu. Dan dada itu sudah tak naik-turun lagi. Meski ingin sekali menyanggah matanya, tapi tetap saja hatinya menggariskan: apalagi ini kalau bukan raut kematian?
Salim terpuruk ke samping dipan ibunya, terisak terguncang dalam hening. Lembar-lembar keringat yang diperolehnya tadi pagi terserak sia sia di lantai. Ingin digalinya banyak-banyak kesalahan, tapi adakah lagi yang patut disesalkan? Apapun tak akan mengembalikan waktu.

* * *

Bu, ingin juga kuakhiri kisah ini, sebagaimana telah kau tutup pintumu pada dunia. Ingin pula kujejaki jalanmu yang kini telah lapang dan tenang. Tapi sabda-sabda yang arif itu belum sepenuhnya meninggalkanku. Kutahu Bu, tak hendak kau restui jika dalam diam kuturuti juga jalanmu itu. Aku masih begitu kuncup, aku sadari itu, masih begitu jauh dari akhir perjalanan. Tapi dunia itu, haruskah kutempuh juga?

Sejak kematian ibunya itu Salim tak lagi berharap hari-hari setelah itu akan lebih baik. Hidup seatap dengan ayahnya sama saja meretas jalan neraka. Tentu bukan bakti yang patut dipersembahkan pada lelaki itu tak berhati itu.
”Berhenti saja kau sekolah!” tuntut ayahnya pada suatu malam setelah hari berkabung itu. “Aku tak akan membiayaimu. Belum tentu membalas guna kalau kau besar nanti!”
Ayahnya berbicara enteng seolah meributkan pertandingan bola dengan teman-teman sopirnya, sambil memasukkan sesuap besar nasi penuh kuah gulai dan berlumur sambal pekat ke mulutnya. Nasi itu dibelinya dari warung di luar dengan sisa uang menarik angkotnya siang tadi. Dan ayahnya tak sekalipun bertanya apakah Salim sudah makan atau belum.
Salim tak berkata. Diam baginya adalah komunikasi layak untuk ayahnya. Dan dia senang sekali ayahnya berhenti bicara sementara dia terus menyibukkan diri di dapur sewaktu ayahnya bersamanya di rumah; menyuci baju kotor, menyuci pecah-belah, merebus air, menyapu lantai dan segala macam—menunaikan semua pekerjaan yang menjadikan ibunya tua di rumah ini!
Sekolah? Telah habis minatnya pada buku-buku, pada guru-guru, bahkan pada semua teman. Dunia baginya adalah rumah ini. Selain itu telah tertutup baginya. Kelam pula baginya hari esok. Tak terjamah rasa-rasanya.
Sebagai penyambung hari, dia bisa membanting tulang di pasar, menjadi kuli angkat. Cukuplah baginya mendapatkan uang barang seliter beras sehari. Dia tak butuh apa pun lagi, bahkan juga ayahnya.
Namun, suatu malam ayahnya pulang dengan menggandeng seorang wanita berpakaian minim dan bercelak-bergincu tebal. Sebatang rokok menyelip di sudut mulut wanita itu. Bau menyengat dari parfum murahan menguar ke seluruh sudut rumah.
Setengah mabuk, ayahnya mengekor manja di belakang pantat wanita menor itu menuju satu-satunya kamar yang ada. Dia berjalan tersungkur-sungkur menghina diri, panas dibakar birahi.
Mereka melewati Salim begitu saja meski dia sudah berdiri tegak menghadang, memandang tajam ketika mereka menghambur masuk tanpa salam. Seperti tabiatnya yang tak bermalu, ayahnya bersama wanita itu masuk ke dalam kamar tak peduli. Pintu kamar itu pun tertutup. Saat berikutnya, bunyi kecipak mulut, desah-desah yang kian riuh, lenguh-lenguh panjang berulang, serta derak dipan yang seakan mau runtuh, menusuk telinga Salim bagai ribuan jarum.
Pintu kamar itu tak dikunci, hanya dirapatkan saja. Dari celahnya, Salim bisa melihat bayangan bergerak-berayun itu kian lesat, lalu sejenak berhenti, lalu berayun-berderak lagi. Sungguh, panas telah mendidihkan dadanya dan betapa muak dia dengan pemandangan itu.
Dipan itu milik ibunya. Meski reot, dipan itu dulunya suci. Tempat ibunya melepas diri dari dunia ini. Tapi apa yang disaksikan mata kepalanya kini? Dipan itu malah dikotori oleh kekurangajaran ayahnya dengan wanita asusila itu; dicemari oleh ayahnya sendiri yang tak bermalu; dinistai oleh laku dosa nan keji! Oh, akan tenangkah arwah ibunya di alam baka?
Salim limbung. Tubuhnya mendingin gemetar. Kelam mulai merambahi matanya. Sempoyongan dia berjalan ke dipannya yang terletak tepat di samping kamar yang hanya berbatas triplek seadanya itu. Gaduh-riuh dari kamar sebelah itu sudah tak lagi menjangkau telinganya. Bukannya pertunjukkan sudah usai tapi dirinyalah yang telah mati rasa. Kemudian dia meringkuk di atasnya dengan tatapan yang tak lagi bisa dibaca. Dipeluknya kedua lututnya erat-erat, seraya menggigit bibir dengan gemetar…

* * *

Bu, meski akhirnya kusadari tempatku di ranah takdir ini sungguh jauh dari tawa, tak lagi terbersit sesal di dada ini. Tak pernah lagi kucuatkan benci pada dunia. Tidak lagi, Bu. Sungguh! Sekalipun kau pernah menyesal telah menghadirkan wajah dunia tak berpelipur padaku, semua telah kuakhiri, walau akhirnya kutempuh dengan caraku sendiri. Tentu Bu, lahir dari rahimmu, adalah suatu kesyukuran yang patut. Itu pula yang menerangi langkahku menjejaki jalanmu. Jika pengabdianku berakhir surga di tapak kakimu, akankah tanganku yang kotor ini disucikan kembali?

Esoknya sebuah jeritan histeris membelah pagi. Anak gadis rumah sebelah yang disuruh ibunya meminta utang beras ke rumah Salim, berlari menangis pulang kembali. Setelah menceritakan apa yang terjadi, orang-orang kampung mulai berdatangan, mengerubungi rumah Salim. Ada yang berlari, berjalan tergesa, digelayuti banyak tanya. Mata mereka terbelalak kaget tak menyangka. Semua pun terus bertanya.
Apa gerangan yang telah berlaku?
Mengapa bisa?
Mungkinkah?
Sementara itu di rumah Salim, tepat di kamar yang berdinding triplek seadanya, dua tubuh koyak-moyak bersimbah darah di atas dipan yang kusut masai; seorang laki-laki berjambang-liar dan wanita dengan celak dan gincu yang luntur mati terkengkang mengenaskan. Dua-duanya kaku dalam ketelanjangan, hina-tercela.
Sedangkan Salim sendiri terpuruk kaku di sudut kamar. Sebilah pisau dapur tertancap kokoh di dada sebelah kirinya. Darah separo kering mengalir ke lantai dan membentuk kubangan kental. Meski semua mata pengunjung menyaksikan akhir kisah ini dengan kemarahan, barangkali hanya sedikit dari mereka yang bisa melihat dan memaknai, bahwa di sudut mata Salim, telah membekas air mata.

Profil Penulis:
Nama Penulis: seprianus
Di samping hobinya dalam menulis cerpen dan novel (yang belum pernah selesai), saat ini penulis sedang melanjutkan studinya Program Pasca Sarjana Jurusan Matematika ITB. Penulis berpendapat bahwa perlu ada logika dan sistematika matematis dalam penulisan cerita. Ini membuat cerita memiliki alur yang efektif dan tepat. Tapi mungkin saja ini pendapat yang belum benar. Impian penulis untuk membuat sebuah novel fantasi anak-anak agaknya sampai sekarang masih belum terwujud.

Cerpen Anak Laki-laki Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenapa Mamah dan Papah Pisah?

Oleh:
Saat itu aku masih berusia 6 tahun dan belum mengerti arti sebuah perpisahan atau perceraian. Bahakan ketika di saat aku duduk di sebuah kursi bersama nenek ku menyaksikan sidang

Ayahku (Bukan) Seorang Robot

Oleh:
Malam semakin larut namun suara deru mesin masih terdengar memecah kesunyian malam, aku berjalan menuju ke sebuah ruangan tempat ayahku bekerja menghidupi keluarganya padahal jam di dinding sudah menunjukkan

Salam Sayang yang Tertinggal

Oleh:
Bandung sangat terkenal dengan paris van java-nya, dengan suasana yang menyejukkan hati dan pikiran, tak jarang orang-orang sering berdatangan hanya untuk sekedar berlibur atau berbelanja, maklum kota kembang ini

Kado Istimewa

Oleh:
Suara tepuk tangan meriah bergemuruh memenuhi gedung mewah, saat kakakku –kak Meisha- selesai menyanyikan sebuah lagu, suaranya yang begitu indah, dan menggetarkan hati. Lagu yang dibawakannya adalah lagu kesukaan

Peri Roselsa

Oleh:
Pagi ini hujan deras sekali, untung saja aku sedang liburan seminggu. Aku nyaman sekali tinggal di rumah ini, aku sedih ketika dengar kabar dari ibu “Bel, ayo bantu ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *