Anak Terlantar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 August 2020

Hangatnya mentari menemani kota Bogor pagi itu. Terlihat masyarakat yang sudah mulai sibuk dengan urusan mereka, entah itu pekerjaan, sekolah atau hanya sekedar menyibukkan diri. Jalanan mulai dipenuhi dengan warna biru, angkutan kota. Itu tandanya, telah dimulai rutinitas maysarakat yang begitu padat. Semua orang terlihat sibuk, terkecuali seorang anak yang tampaknya tertidur di emperan rumah toko. Kontras sekali. Diantara orang yang lalu lalang, mataku tertuju padanya. Seorang anak yang kumuh dan dekil dengan baju usang dan rambut berantakan. Dia seakan tidak peduli apa yang dihadapinya hari itu, terus tidur dan menunggu orang dermawan yang mau memberi makanan. Aku mendekatinya dan membangunkannya.

“Dik, kenapa kamu tidur disini? Dimana orangtuamu?”
“Hoooaammm”, dia menguap sambil menatapku nanar. “I-iya kak, aku tidak punya rumah, saudara atau pun kerabat. Orangtuaku telah lama meninggal”.
“Siapa namamu? Apa sudah makan?”, tanyaku.
“Aku sudah lupa kapan terakhir kali orang memanggil namaku, kak. Deni. Itu namaku. Jika ditanya soal makan, sepotong roti yang diberikan paman kemarin sore mungkin sudah cukup buatku”.
“Ya tuhan, tunggu sebentar. Kakak akan membelikanmu makanan”.

Aku segera menuju warung makan terdekat dan membelikannya sarapan. Nasi, telur, tempe, dan sayur. Itu mungkin sudah cukup untuk membuat wajahnya kembali segar. Aku segera kembali ke emperan rumah toko itu.

“Deni…, lihat apa yang kakak bawa”, sembari kuberikan sarapan yang baru saja kubeli di warung makan.
“Wah, terimakasih banyak kak”, dia memperlihatkan senyum manisnya.

Lima belas menit kuhabiskan untuk bercakap-cakap dengannya. Aku jadi tahu banyak hal tentang hidupnya. Dia pernah memiliki keluarga dan hidup harmonis, juga pernah menempuh jenjang pendidikan dasar di sebuah SD Negeri. Hanya rumah kontrakan kecil memang, tapi karena mereka bersama, itu sudah cukup untuk membuat surga kecil di dalam rumah tersebut. Tapi sejak orangtuanya meninggal, tidak ada lagi yang membiayai hidupnya. Rumahnya juga telah diambil kembali oleh pemilik kontrakan. Dia juga tidak memiliki saudara atau pun kerabat. Kini, dia harus berjuang seorang diri untuk dapat hidup.

“Terima kasih, kak”. Wajah Deni kelihatan segar setelah makan.
“Kakak mau kuliah dulu ya”.
“Iya, kak. Nama kakak siapa?”,tanyanya.
“Ayu, panggil saja kak ayu”.
“Oke kak”, dia tersenyum manis.

Aku perlahan meninggalkannya karena harus mengikuti kuliah jam tujuh. Sepuluh menit lagi. Aku berpikir sejenak. Apa tidak ada orang yang peduli ya dengan Dia. Kenapa orang-orang selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedang orang lain butuh bantuan mereka. Apa kepedulian mereka kurang?
Deni itu sudah tidak punya keluarga lagi. Apa salahnya jika ada orang yang merawatnya atau paling tidak membawanya ke panti asuhan.

Setelah mengikuti rangkaian perkuliahan, sorenya aku kembali ke emperan rumah toko tersebut. Deni sudah tidak ada. Tokonya sudah buka, mungkin Deni diusir oleh pemilik toko karena dianggap mengganggu. Egois sekali.

Aku berjalan di sekitar tempat itu sambil mencari Deni. Pencarianku tidak berlangsung lama. Benar dugaanku, Deni tidak mungkin pergi terlalu jauh dari situ. Aku melihatnya sedang duduk di depan sebuah minimarket. Aku menghampirinya.

“Sore.., Deni”
“Sore juga, kak”
“Kamu mau ikut ke panti asuhan?”,tanyaku.
“Apa itu kak?”
“Itu adalah tempat anak-anak yatim piatu dirawat. Kalau Deni mau, Deni bisa dapat teman baru”.
“Wah, Deni mau kak”.

Sore itu, Deni langsung aku bawa ke panti asuhan yang dulu pernah aku kunjungi. Tempatnya tidak terlalu jauh memang. Hanya sekitar lima belas menit kalau menggunakan angkot. Tapi, itu kalau jalan raya sedang tidak macet.

Setelah sampai, Aku langsung menghubungi Ibu Wirda, pemilik panti asuhan itu. Ibu Wirda sangat ramah, dia menyuguhi kami teh dan beberapa toples kue kering yang dibuatnya bersama anak-anak panti. Dia suka memasak. Anak-anak panti senang sekali bila diajak memasak oleh Ibu Wirda, ya, walaupun hanya bermain-main dengan tepung. Jumlah anak panti yang diasuh Ibu Wirda adalah tiga puluh orang. Beliau sudah menganggap mereka seperti anak kandung. Merawat, mendidik, menjaga, dan memberi makanan enak dari masakan Ibu Wirda.

Ibu Wirda menyetujui untuk merawat Deni. Dia segera memanggil seluruh anak panti untuk menyambut teman baru mereka. Deni disambut dengan baik. Seluruh anak panti sangat ramah, persis seperti Ibu Wirda. Mereka sangat senang memiliki teman baru. Deni juga senang punya teman, Ia tidak harus tidur di emperan toko lagi karena sudah ada yang merawatnya. Dia tersenyum lebar. Kulihat Deni sedang berkenalan dengan teman barunya.

Setelah kurang lebih empat puluh menit, Aku berpamitan kepada Ibu Wirda untuk meninggalkan panti asuhan. Deni yang tadinya sedang asik dengan temannya tiba-tiba menghampiriku. Dia menatap gusar seolah tidak ingin aku pergi.

“Kakak akan kembali kesini lagi kan?”, tanyanya.
“Tentu saja, kakak akan mengunjungimu lagi lain hari. Tenang saja, kamu kan sudah punya teman baru. Mereka semua baik kok, tidak perlu takut”.
Deni tersenyum lebar. Dia mengantarku hingga ke depan panti. Kemudian, Aku memberikannya sebuah gantungan kunci dengan boneka doraemon kecil. Dia melambaikan tangannya kearahku beberapa lama kemudian kembali ke panti.

Aku rasa aku telah melakukan hal baik hari ini. Semoga semakin banyak orang yang peduli dengan anak-anak terlantar di luar sana. Mereka harusnya mendapatkan kebahagiaan sebagaimana anak-anak lainnya.

Cerpen Karangan: Maulana Malik Yusuf
Blog / Facebook: pandoraworldsite.wordpress.com / facebook.com/maulana.m.yusuf.9

Cerpen Anak Terlantar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Hanya Ingin Kembali

Oleh:
Pagi hari itu, seperti biasa, aku berangkat menuju SMA. Bukan untuk mengikuti pelajaran, karena memang sudah selesai UNAS, si penentu kelulusan pada waktu itu. Sekolah 3 tahun dan hanya

Melihat Dari Sisi Yang Lain

Oleh:
Memandangmu hampa, tiada kutemukan ujung. Melihatmu bagaikan merana nasib yang tiada bertukar. Engkau mencerminkan pada keasaan langit. Menambah sari patinya memantul meriuhkan batin. Memandangmu terasa sunyi, menghidupkan keberadaan yang

Para Penghuni Atap

Oleh:
Sesuatu yang indah pasti akan terjadi. Begitulah pikiran dari seorang wanita dewasa berumur hampir 23 tahun yang berjalan diantara panasnya surya dan ombang-ambing manusia di kota itu. Raut wajahnya

Sebuah Hati Untuk Logika

Oleh:
Ketika sepasang mata bertemu dengan sepasang mata lainnya dari kepala yang berbeda jenis kelamin akankah selalu lahir sebuah perasaan; cinta setelahnya. Apakah bila kita teringat kepada seseorang setelah pertemuan

Paruh Baya Yang Berjasa

Oleh:
Sinar mentari pagi mulai terpancar dari balik awan putih yang terus bergerak menjauhi sang surya mengikuti alunan angin. Juga terdengar seruan dan kicauan burung-burung yang terbang menyusuri langit biru.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *