Angan Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 April 2018

Aku menatap lamat-lamat kerumunan pemuda yang semakin riuh itu dari ujung jembatan. Aku yakin, saat ini besit keraguan dicampur dengan ketakutan di wajahku amat nampak. Sudah lama setelah bel pulang sekolah dibunyikan, mana ada lagi teman yang akan melewati jembatan sepanjang 200 meter itu? Mau tidak mau aku harus melewati jembatan itu seorang diri agar segera kembali ke rumah. Aku tidak memiliki alternatif lain. Semoga saja tidak terjadi apa-apapun padaku.

Dengan ragu kulangkahkan kakiku menelusuri jembatan tua khusus pejalan kaki ini. Aku semakin mendekati kerumunan-kerumunan itu. Mereka masih dengan seragam sekolahnya masing-masing. Rupanya mereka adalah perpaduan antara anak-anak yang berperilaku menyimpang di hampir semua SMP maupun SMA di kota ini. Semakin diperhatikan, gerak-gerik mereka nampak aneh. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Lantas, aku tercekat. Beberapa orang dari mereka terlihat sedang ngelem dan sempoyongan tak jelas. Beberapa orang lagi terlihat sedang meminum sesuatu dari botol minuman jajanan. Dari tampangnya, aku yakin hal yang mereka lakukan adalah hal yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. Nampaknya obat komix pun dapat menjadi alat ngefly bagi mereka. Dan sebagian besar dari mereka sedang merokok. Aku bergidik ngeri. Kupererat cengkeraman pada tali tasku. Dengan sedikit kaget pula, aku melihat beberapa anak laki-laki dari sekolahku sedang bergabung dengan mereka. Aku sangat risih karena seseorang dari mereka mencoba menggodaku. Kualihkan pandangan dari kerumunan itu dan segera menjauh dari mereka.

Semakin jauh aku berjalan, aku semakin melongo. Bagaimana tidak, terlihat beberapa orang gadis SMA sedang duduk bersantai, merokok. Rambut mereka pirang warna-warni serta baju yang tidak dimasukan ke dalam rok. Rok mereka pun sangat ketat. Aku segera memperhatikan jam tangan kecil hijau muda yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Belum jam untuk anak-anak SMA pulang sekolah. Kira-kira masih satu jam lagi. Tentu saja. Mereka bolos. Aku masih maklum dengan anak-anak lelaki yang kulewati tadi. Tapi dengan kenyataan di depanku saat ini, aku makin tercengang. Mereka tertawa bebas bak tak berdosa. Aku tak habis pikir, jajan yang diberikan orangtua mereka hanya dibakar sia-sia. Jerih lelah mereka dibayar dengan asap. Kesenangan sesaat, pikirku. Mereka akan meyadarinya suatu saat nanti, yang mereka lakukan detik ini hanya menyia-nyiakan waktu. Disaat mereka seharusnya sedang duduk manis di depan meja belajar di sekolah, sambil mencatat dan mendengar penjelasan dari guru. Percayalah muda-mudi ini akan menerima akibatnya.

Belum lagi, diujung jembatan nampak sepasang kekasih yang jelas masih dengan seragam kebesaran putih abu-abu, sedang pamer kemesraan. Tidak peduli dengan sekitar.
Di mana dewan aparat keamanan? Tidakkah diadakan patroli di tempat ini? Jelas-jelas semuanya mengganggu kenyamanan para pejalan kaki. Namun setidaknya, aku lega setelah berhasil melewati jembatan ini tanpa kekurangan satu apapun.

Aku menutup mulutku yang menganga lebar dengan kedua tangan. Aku nyaris tidak mempercayai hal ini. Anak itu. Baru dua hari yang lalu aku melihatnya sedang bergabung dengan kerumunan anak-anak di jembatan tua. Saat ini, kakiku langsung terasa lemas seketika, begitu melihatnya dikerumuni oleh murid-murid dan juga guru-guru, sedang terkapar tidak berdaya di toilet sekolah. Bahkan, ada busa yang keluar dari mulutnya.

Tak lama kemudian, sirene ambulans membubarkan kerumunan. Jenazahnya diangkut lalu dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk diotopsi dan dimandikan. Beberapa jam kemudian, kepala sekolah menginformasikan bahwa hasil otopsi mengatakan bahwa anak itu overdosis narkoba.

Begitu malangnya nasib muda-mudi bangsa ini. Tidak ada lagi yang bisa mneghambat perkembangan zaman. Serta semakin membuncahnya gejolak-gejolak duniawi yang khas dengan dinamikanya. Menghantarkan anak bangsa ke tungku perapian kehancuran. Semuanya kini berpadu menjadi satu, yaitu, suramnya masa depan akibat pengkhianatan telak dari generasi muda.

Cerpen Karangan: Rezatari
Facebook: Rechuellah Tacoh

Cerpen Angan Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahlawan Wanita Sejatiku

Oleh:
Betapa hatiku takkan pilu Telah gugur pahlawanku Betapa hatiku takkan sedih Hamba ditinggal sendiri Siapakah kini plipur lara Nan setia dan perwira Siapakah kini pahlawan hati Pembela bangsa sejati

Perasaan Yang Sama

Oleh:
Awan pekat di langit diprediksikan akan turun hujan. Tapi tidak mengurangi semangat para siswa untuk berangkat ke sekolah. Termasuk Vitto, sohibku dari SMP. Yah, walaupun aku ngakuin dia sebagai

Bintang Cemerlang

Oleh:
Ketika sang surya beranjak terbit dari ufuk timur. Lampu-lampu jalan padam, tergantikan oleh lembutnya sinar mentari pagi. Setitik embun bergantian menetes pada rumput-rumput kering. Ibu kotaku Jakarta nampak tersenyum

Pangeran SMA

Oleh:
Suatu hari di sebuah sekolah ternama di Jakarta, ada seorang anak yang bernama Nera Aulia. Dia adalah sosok yang lincah, periang, lumayan cantik, namun agak lama lodingnya dalam berfikir

Apa yang Spesial Dalam Hidup Ini?

Oleh:
Suatu saat, pelajaran Bahasa Indonesia di kelasku cukup berbeda dengan biasannya. Biasannya, pelajaran Bahasa Indonesia membosankan bagiku karena begitu banyak teori-teori yang begitu rumit dan seperti dongeng sebelum tidur.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *