Anggrek Bulan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 September 2015

Aku terus memandangi bunga berwarna putih yang digantung di pagar kayu toko bunga Mang Ahmad. Anggrek bulan. Bunga yang sangat disukai oleh Ibu. Dulu, sewaktu ia masih hidup. Otakku telah menerawang jauh ke masa lalu. Saat masa kelam itu terjadi.

Ibu duduk di teras rumah sambil memandangi rumah Bu Surti yang penuh dengan tanaman hias. Bu Surti memang hobi sekali menanam bunga hias seperti itu.
“Bunganya Bu Surti bagus ya, Ra,” kata Ibu sambil terus menatap rumah bercat hijau itu. Aku yang tengah serius mengupas bawang tersenyum sambil menatap Ibu.
“Anggreknya itu loh, bikin Ibu pengen,” lanjut Ibu. Aku menoleh ke arah kumpulan bunga anggrek yang tergantung di pohon mangga depan rumah Bu Surti.
“Yang mana, Bu?” tanyaku pada Ibu. Ibu menunjuk bunga anggrek berwarna putih dengan warna ungu di tengahnya. Aku mengangguk.
“Iya, bagus.”
“Tapi anggrek bulan harganya mahal, ya?” tanya Ibu padaku. Matanya berbinar-binar sambil terus memandang anggrek itu.
“Yah, besok aku tanya ke Mang Ahmad dulu,” jawabku.

Ibuku, adalah wanita terkuat yang pernah ada. Ayahku telah meninggal sebulan yang lalu karena sakit jantung. Dan Ibu, yang sebagian besar hidupnya telah digerogoti oleh kanker otak yang menyerangnya hanya bisa pasrah. Dokter mendiagnosa bahwa hidup Ibu tinggal seminggu lagi. Memang sudah parah penyakit Ibu. Namun ia bersikeras untuk tidak dirawat di rumah sakit.
“Kalau memang sudah waktunya, ya sudah. Jangan dihalang-halangi,” katanya. Sementara aku yang merupakan anak pertama di keluargaku, bersekolah sambil bekerja. Pekerjaan apa saja yang halal.

“Itu tuh! Piringnya yang kotor nambah lagi! Ayo cepet cuci!” teriak Mbok Imah, pemilik warung tempatku bekerja. Selain cerewet, dia juga pelit. Aku sering mendapatkan bonus hujan lokal setiap ia memarahiku karena lengah. Warungnya hari ini sangat ramai. Aku yang bertugas mencuci piring-piring serta gelas-gelas kotor kewalahan. Apalagi ini ku tangani sendiri, karena karyawan yang sedari tadi menganggur hanya memandangiku dengan kasihan. Namun akhirnya jam kerja di warung Mbok Imah selesai juga.

Aku ke luar dengan tangan yang hampir mati rasa. Robi, pacarku, sudah menungguku di parkiran warung Mbok Imah lengkap dengan Ninja hitam miliknya. Ia tersenyum jahil melihatku berjalan lemas ke arahnya.
“Cape ya, Ra?” tanyanya. Aku mengerucutkan bibirku.
“Cape lah, Rob. Kamu lihat sendiri kan tadi aku kewalahan,” jawabku sedikit kesal. Ia mencubit pipiku gemas.
“Iih, lucu banget sih. Udah yuk, pulang!” ajaknya. Aku naik ke motornya dan kami bergegas menuju ke rumahku. Robi, adalah anak orang mampu di sekolahku. Diriku yang miskin dan hina ini sangat beruntung karena dicintai oleh lelaki setampan dan sebaik Robi.

Hari sudah menjelang senja. Saat itu, kami melewati toko Mang Ahmad. Melihat ada bunga kesukaan Ibu, aku meminta Robi untuk berhenti.
“Bentar deh, Rob.” Aku turun dari motor dan berjalan menuju Mang Ahmad yang tengah menyiram bunga.
“Eeeh, neng Rara tik cantik tak yeee. Mau beli apa neng?” tanya Mang Ahmad.
“Anggrek Bulan berapa harganya, Mang?”
“Ooh.. itu. Seratus dua puluh lah, Neng,” jawabnya.
“Wah, gak bisa lebih murah ya?” tanyaku menawar. Mang Ahmad tampak berpikir sebentar.
“Yah, kalau buat neng, saya kasih seratus sajalah,” katanya kemudian.

“Lima puluh ya, Mang?” tawarku lagi.
“Ndak bisa neng cantik,” jawabnya. Robi yang melihat tawar menawar antara aku dan Mang Ahmad, melangkah menghampiri kami.
“Pake uangku aja, Ra,” kata Robi. Aku menoleh.
“Gak usahlah Rob, ngrepotin kamu nanti.”
“Gak, gak apa-apa kok,” jawab Robi seraya mengeluarkan selembaran uang seratus ribuan. Mang Ahmad mengambil anggrek itu dan memberikannya kepadaku.
“Makasih ya, Mang. Mari!” pamitku.
“Oke, oke, Neng!” jawab Mang Ahmad sambil mengacungkan jempolnya.

Sampai di rumah, aku bermaksud untuk meminta Robi minum terlebih dahulu karena ia terlihat lelah. Namun ia mencegahku. Ia memintaku untuk selalu tersenyum apapun yang terjadi. Aku yang kebingungan menanyakan apa yang terjadi.
“Aku dijodohin sama Mamaku, Ra,” kata Robi. Mataku terbelalak. Aura kesendirian mulai menjalar ke dalam tubuhku.
“Aku… sayang sama kamu, tapi aku gak bisa apa-apa. Aku gak bisa ngelawan Mamaku,” katanya lagi. Tanganku yang memegang bunga anggrek mulai bergetar.
“Kita… harus putus,” lanjut Robi. Air mata ke luar begitu saja tanpa melapor. Aku berusaha menahannya agar tidak ke luar lebih banyak lagi. Aku menyerahkan bunga anggrek yang dibelikan Robi tadi kepada Robi. Robi tampak kebingungan. Ia tahu aku sangat kecewa.
“Semoga bahagia,” kataku sambil masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan Robi yang memanggilku.

Rumahku terlihat lengang. Setelah kejadian tadi, suasana seperti inilah yang aku butuhkan. Aku melihat Ibu tertidur di sofa usang depan televisi. Mukanya pucat, mungkin ia kedinginan. Aku menyelimutinya dengan selimut yang ku ambil dari lemari. Sementara aku masuk ke dalam dan belajar. Dua jam kemudian, aku ke luar dari kamar untuk sikat gigi. Namun, ku lihat televisi masih menyala. Aku mengambil remote dan mematikannya. Lalu bermaksud membangunkan Ibu. Aku menggoyangkan badan Ibu sambil memanggil-manggil namanya. Namun Ibu tidak segera bangun. Aku mengulanginya lagi. Tetapi sama saja, Ibu tetap bergeming. Aku mengecek napas dan denyut jantungnya. Saat itulah ku dapati, Ibu telah tiada.

Robi memelukku yang menangis tanpa henti. Pemakaman Ibuku merupakan suasana terkelam saat itu. Disambut dengan hujan deras dan petir yang menyambar. Lengkap sudah. Ku rasa alam memang mengerti perasaanku. Sampai di rumah, Robi dan Mamanya menawarkanku untuk tinggal di rumah mereka. Aku menggeleng. Sebentar lagi Robi akan menikah, tinggal di rumah Robi akan membuatku semakin sakit dan mungkin aku bisa gila. Robi menggenggam tanganku erat.
“Jangan takut, Ra. Aku janji akan nemenin kamu.”

Lamunanku tersadar oleh suara lelaki berumur 50-an yang memanggil namaku dengan sebutan yang tidak asing.
“Mau beli bunga, Neng?” tanyanya dengan ramah. Aku menghapus air mataku, kemudian mengangguk.
“Saya tahu yang mana, yang itu kan?” tebak Mang Ahmad sambil menunjuk anggrek bulan yang tergantung di pagar kayu tadi. Aku mengangguk lagi. Ia mengambil bunga itu lalu memberikannya padaku.
“Delapan puluh aja, Neng,” katanya.
“Jadi murah, Mang?” tanyaku sambil tersenyum menggoda.
“Iya, jaman udah beda, Neng. Neng ini juga udah sukses kan? Pake baju bagus, naik mobil mewah, suaminya ganteng pula!” katanya seraya melirik Robi di dalam mobil yang tengah parkir. Robi memberikan salam dengan klakson mobil sambil tersenyum.
“Mang Ahmad bisa aja. Katanya Mbak Emy kena kanker ya?” tanyaku.
“Iya, Neng. Saya mau ngobatin ke rumah sakit belum ada duit,” jawabnya dengan sedikit sedih.

“Ke rumah sakit saya aja, Mang. Di jalan Jawa. Nanti biar saya yang tanganin,” tawarku pada Mang Ahmad.
“Bener, Neng?” tanyanya dengan bahagia. Aku mengangguk.
“Aduuh, makasih Neng… semoga Tuhan membalas kebaikan Neng!” kata Mang Ahmad.
“Amin. Ya udah, saya pamit ya, Mang,” kataku sambil berjalan memasuki mobil. Mang Ahmad mengacungkan jempolnya.
“Oke, oke, Neng!” jawabnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Nawang Nugrahaning G.
Facebook: Nawang Nugrahaning

Cerpen Anggrek Bulan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Sombong Edo (Part 2)

Oleh:
Edo kemudian memarkir mobil mewahnya itu di depan pagar rumah. Dia kemudian membunyikan bel rumah tersebut. keluarlah seorang wanita dengan rambut dikuncir dan memakai daster, “Siapa ya pak?”, “Saya

Malaikat Tak Bersayap

Oleh:
Terdengar suara guntur mengejutkan penduduk bumi. Sore itu langit digantungi awan hitam yang bergumpalan. Tampak awan itu tak sanggup menahan beban yang ia rasakan. Gerimis pun terjun ke bumi

Aku Pergi

Oleh:
Malam yang sejuk mengiringi kesepianku. Angin malam turut membelai lembut rambutku. Menemaniku yang tengah sendiri menatap indahnya bumi. Sebagai teman paling setia dikesendirianku dalam ketidakadilan ini. “Oh Tuhan, kapan

Senja di Hari Sabtu

Oleh:
Hari masih gelap saat ia tiba di Gowa. Ia melirik arlojinya, jam menunjukkan pukul empat lebih dua. Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar. Tempat ini benar-benar sunyi. Tak ada penerangan

Tunggu Aku

Oleh:
Inilah cuplikan kisah masa laluku. Barangkali aku dan adikku, Firza, akan menjadi orang kali pertama yang pernah diusir ayah sendiri di kota ini. Dulu, kami hidup dalam kehangatan keluarga.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *