Angin Keberuntungan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 9 April 2018

Aku berlari dengan sangat tergesa-gesa berharap bisa lolos dari kejaran pria tambun yang sedari tadi mengejarku tanpa henti. Beberapa kali kudengar ia meneriakiku agar aku menghentikan langkahku, tapi aku tak mempedulikannya. Tapi beberapa saat kemudian, suara teriakan itu semakin lama tak terdengar lagi, aku berhenti dan menoleh untuk memastikan apakah orang itu masih mengejarku atau tidak. Hatiku sangat lega, orang itu tak terlihat lagi batang hidungnya. Aku benar-benar bersyukur atas keberuntungan hari ini.

Tapi masalah tidak berhenti begitu saja, aku harus melanjutkan lariku karena aku sudah telat 10 menit untuk sampai ketempat kerjaku, aku tidak mau pak budi marah-marah lagi karena kurangnya sikap disiplinku. Jam 7.15 wib aku sampai di toilet umum ditaman kota, benar .. itu adalah tempat kerjaku untuk hari ini. Maklumlah untuk pemuda sepertiku yang bahkan tak tamat smp, mendapatkan pekerjaan seperti itu sudah membuatku sangat bersyukur. Aku segera mengambil peralatan bersih-bersih dari ruangan paling pojok, ruangan itu adalah tempat penyimpanan alat-alat kebersihan yang sudah disediakan oleh bapak walikota. Aku mulai membersihkan ruangan toilet dengan penuh semangat, sempat beberapa kali aku disapa, ditegur bahkan dicemooh oleh orang-orang yang datang tapi aku tak menggubrisnya. Aku hanya berpikir bahwa, aku tak mengenal mereka dan mereka tak mengenalku jadi aku tak perlu repot-repot menelan omongan mereka.

1 jam kemudian pak budi datang beliau adalah kepala pengurus toilet umum ini. Beliau memanggilku dengan nada kasar tanpa menyebut namaku. “hei kau, kemari!” panggilnya. Aku segera mendekat kepadanya. “maaf sebelumnya nak, pak agung sudah sehat sekarang dan besok beliau sudah bisa bekerja lagi di sini, jadi mulai hari ini tugasmu sudah selesai, walaupun kamu sering membuatku naik darah tapi saya senang, kamu bersedia menggantikan tugas pak agung walaupun hanya untuk sementara dan ini upahmu untuk hari ini” kata pak budi mencoba menjelaskan alasannya. Aku agak kecewa dengan keputusan pak budi, tapi aku harus menerima keputusannya dengan lapang dada. Aku menghela nafas beberapa kali supaya perasaanku agak lebih tenang.

Jam menunjukan pukul 08.00 wib aku segera beberes dan meninggalkan toilet umum tersebut, aku kembali berlari berharap tidak telat untuk pekerjaan berikutnya yang telah menunggu di depan mata. Sesampainya disana, aku langsung dibentak bentak oleh pemilik kedai kopi. Yah, kedai kopi adalah tempat kerjaku yang berikutnya. “kamu telat lagi An ziyan, upahmu akan dipotong 30 ribu karena kamu sudah telat 2 hari, hari ini dan kemarin” ketus pemilik kedai. “maafkan aku” balasku pelan dengan raut wajahku yang sedikit kecewa, tapi aku segera menghela nafas beberapa kali agar pikiranku tenang dan tidak dikuasai oleh rasa marah. Aku segera pergi ke dapur kedai untuk segera mencuci piring kotor yang mengkin sudah dari tadi menungguku, setelah itu aku harus mengepel lantai, mengelap meja dan kursi yang berdebu, dan yang paling terakhir adalah mengelap kaca jendala.

2 jam lamanya aku menyelesaikan semua pekerjaanku, aku segera menghubungi pemilik kedai untuk meminta upah, memang pekerjaanku ini sedikit berbeda dari orang orang kebanyakan, aku adalah pekerja panggilan yang banyarannya dibayar langsung setelah pekerjaanku selesai. “Ini upahmu, besok kamu jangan telat lagi atau saya akan memotong lebih banyak gajimu lagi” ucap pemilik kedai dengan wajah sinis sambil memberikan 2 lembar uang 50 ribuan kepadaku. Aku segera membungkukan badan dan mengucapkan terimakasih lalu berpamitan pergi.

Setelah keluar dari kedai aku berlari lagi untuk mencari seseorang yang mungkin masih ada yang memerlukan tenagaku dan memberiku uang sebagi upahnya. Aku sangat berharap hari ini lebih beruntung dari pada hari kemarin karena aku benar-benar butuh begitu banyak uang. Dan ternyata benar hari ini masih ada keberuntungan untukku. Tepat pukul 21.00 wib aku mendapatkan pekerjaan lagi dari taksi online. Memang, walaupun aku tak tamat smp tapi aku masih punya keahlian menyetir karena dulu pamanku pernah mengajariku menyetir. Tugasku kali ini menjemput pak anton yang ada di hotel karlita dan mengantarkannya ke rumah. Aku segera bergegas menjemput pak anton, sesampainya di sana kulihat seseorang yang setengah mabuk di sangga oleh orang di samping.

“pak anton?” tanyaku
“ya ini aku.”
“terimakasih sudah mengantarku ke depan” sambungnya kepada orang yang menyangganya tadi.

Aku membukakan pintu mobil untuk pak anton. Setelah semuanya siap, aku segera tancap gas meninggalkan hotel karlita tersebut. Di perjalanan pak anton mengatakan hal-hal yang tak dapat kumengerti beberapa kali kugelengkan kepala gara-gara tak bisa menjawab pertanyaannya. Sejam kemudian akhirnya kami sampai di tujuan, aku keluar mobil dan membukakan pintu untuk pak anton. Pak anton segera keluar dan melangkahkan kakinya dengan agak sedikit sempoyongan. Aku memanggil nama pak anton dengan pelan, mencoba menghentikannya karena ia belum bayar ongkosnya. Pak anton menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku. “ongkosnya?” ucapku yang sedari tadi mematung di samping mobil. “oh..” pak anton merogoh sakunya dan mengambil dompetnya lalu beliau mengambil beberapa lembar uang kertas. Beliau melemparnya ke udara, sontak aku bingung dan segera memunguti uang yang telah jatuh di lantai. Aku menghitungnya dengan teliti. Aku merasa ada yang kurang dan hendak memanggil pak anton lagi tapi sayang, pak anton sudah masuk ke rumahnya. Sepertinya keberuntungan untuk malam ini tidak full, karena aku harus mengganti ongkos penumpang yang kurang. Untuk yang ketiga kalinya aku harus menghela nafas untuk menenangkan amarahku.

Hari ini aku benar-benar lelah. Tepat pukul 22.30 aku kembali kerumah, kulihat ibuku sedang duduk di teras sendirian, mungkin beliau sedang menungguku sedari tadi. Aku menghampiri ibuku dan mengucapkan salam kemudian mencium tangannya. “Hari ini kamu pulang sangat larut malam, apa ada masalah yang terjadi?” tanya beliau memulai pembicaraan. Aku hanya diam tak menjawab pertanyaan ibuku. “masuklah dan beristirahatlah, hari ini kamu pasti sangat kelelahan semoga besok kamu lebih beruntung lagi” sambung ibuku dengan nada penuh kasih sayang. Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, tapi entah kenapa langkahku terasa berat, rasanya aku ingin berhenti dan mengatakan sesuatu kepada ibuku. “Maaf ibu” dua kata itu tiba-tiba terucap begitu saja dari mulutku. “Maaf untuk apa?” sahut ibuku yang bingung mendengar ucapanku itu. aku berdiri dan berbalik menghadap ibuku, aku menatap wajah ibuku yang sudah tak muda lagi. “Maafkan aku, sampai saat ini aku belum bisa mengumpulkan banyak uang untuk biaya operasi ginjal ayah padahal jangka waktu pembayaran tinggal 3 hari lagi. Aku sangat takut, bagaimana kalau kita tak mampu membayarnya, bisa-bisa ayah tak jadi dioperasi dan mungkin nyawa ayah tidak tertolong” ucapku dengan sedih. Ibuku segera mendekatiku dan memelukku. “jangan khawatir nak, Tuhan pasti akan menolong keluarga kita. Mungkin bukan sekarang tapi bisa jadi besok sang holik memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Bersabarlah, keberuntungan pasti akan datang untuk keluarga kita selama kita yakin, walaupun kita tidak tahu dari arah mana keberuntungan itu akan datang tapi kalau kita yakin dan percaya, pasti akan datang” balas ibu sambil membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Hatiku mulai tentram kembali mendengar nasihat dari sang ibu. Aku benar-benar beruntung mempunyai ibu sepertinya.

Keesokan harinya, aku kembali melakukan aktivitasku mencari seseorang yang memerlukan tenagaku, sedangkan ibuku sibuk bekerja sebagai buruh cuci di rumah. Aku berharap hari ini aku bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi. Aku mencoba meyakini apa yang dikatakan oleh ibuku semalam. Aku mulai berlari kesana kemari, mendatangi toko-toko, cafe dan juga tempat taxi online, berharap ada pekerjaan yang bisa kulakukan di sana sehingga aku bisa mendapatkan upah untuk menambah biaya operasi ayah. Tapi entah hari apa ini, segala usahaku gagal semua, seakan mereka tak butuh lagi tenagaku padahal hari sudah semakin siang. Cuaca sangat panas, aku memutuskan untuk pulang sebentar sekedar menengok ibuku di rumah. Sesampainya di rumah, kulihat pintu rumahku terbuka, aku juga mendengar seorang pria sedang mengobrol dengan ibuku dari luar. Aku bergegas masuk dan mengucapkan salam, tapi betapa tergejutnya saya, ketika melihat wajah pria yang sedang mengobrol dengan ibuku.

“bukankah anda pria yang kemarin mengejarku di jalan?” tanyaku. Pria itu menoleh dan tersenyum kepadaku. Aku benar-benar bingung kenapa orang itu bisa sampai ke rumahku dan mengobrol dengan ibuku.tiba-tiba ibuku menarik lenganku dan menyuruhku duduk di sampingnya.
“beliau adalah pak zaenal. Beliau ini ingin sekali bertemu dan berterimakasih kepadamu” kata ibu memperkenalkan pria itu kepadaku
“berterimakasih untuk apa bu?” tanyaku bingung. Sedangkan pria yang bernama zaenal itu hanya meringis kepadaku
“beberapa hari yang lalu, katanya kamu sudah menolong putrinya yang jadi korban tabrak lari. Kamu mengantarkan putrinya sampai ke rumah sakit dan menitipkan KTPmu untuk dijadikan jaminan sementara agar putrinya bisa dirawat, apakah itu benar?” kata ibuku. Aku mengangguk pelan.
“jadi pak zaenal ini ingin mengucapkan terimakasih kepadamu secara langsung dan juga mengembalikan KTPmu ini” sambung ibuku
“tapi kenapa kemarin beliau mengejarku dan meneriakiku?” tanyaku agak kesal. Pak zaenal malah tertawa.
“nak an ziyan, saya benar-benar sangat berterimaksih kepadamu dan juga orangtuamu yang sudah mendidikmu dengan baik. Dan untuk masalah yang kemarin saya benar-benar meminta maaf, saya berniat memanggilmu dan ingin mengajak ngobrol denganmu tapi kamunya malah lari sangat kencang ditambah mungkin karena usiaku yang sudah memasuki kepala empat jadi tak sanggup lagi mengejarmu, alhasil saya kehilangan jejakmu” kata pak zaenal mencoba menjelaskan dengan sopan dan ramah
“oh ya. Tadi ibumu tak sengaja menceritakan tentangmu dan juga ayahmu, saya benar-benar meminta maaf karena telah membuat ibumu bercerita banyak tentang keluargamu. Tapi saya senang, beliau mau berbagi kehidupannya kepada saya. Tadi saya sempat memberikan hadiah sebagai tanda terimakasih kepada ibumu tapi beliau menolaknya karena beliau merasa keberatan dengan hadiahnya walaupun saya sudah memohon untuk menerimnya tapi beliau tetap bersikukuh untuk menolaknya” sambung pak zaenal dengan raut wajah kecewa sambil memasukan cek bertuliskan 10 juta ke dalam saku jasnya.
“saya benar-benar ingin membalas budi kepada kalian. Kata ibumu tadi, kamu bisa menyetir kebetulan saya sedang membutuhkan sopir untuk mengantarkan putra sulungku pergi ke sekolah, kalau nak an ziyan tak keberatan, maukah nak an ziyan menerima tawaran saya ini sebagai ganti balas budi?” ajak pak zaenal. Aku dan ibuku hanya terdiam mendengarkan ucapan pak zaenal.
“dan demi kesehatan dan keselamatan kepala kelurga yang telah menolong putri saya ini. saya mohon terimalah cek ini, saya benar-benar tulus memberikannya tanpa bermaksud untuk menyinggung perasaan ibu dan juga nak an ziyan” kata pak zenal sambil kembali mengeluarkan ceknya, sepertinya beliau ragu untuk menarik kembali apa yang sudah diniatkannya dari awal
“maaf sebelumnya pak zaenal bukan maksud saya untuk membuat anda tersinggung. Tapi lebih baik begini saja, kami terima cek tersebut tapi sebagai pinjaman bukan sebagai hadiah karena menurut kami hadiah yang bapak berikan sangat berlebihan dan kami tidak bisa menerimanya begitu saja dengan cuam-cuma, sebagai gantinya saya bersedia bekerja dengan pak zaenal dan pak zaenal berhak memotong gaji saya setiap bulannya untuk mengganti biaya operasi ayah, mungkin ini adalah jalan terbaik untuk masalah balas budi ini, lagi pula pak zaenal sudah memberiku pekerjaan tetap dan itu sudah membuat kami sekeluarga merasa sangat senang dan benar-benar berterimakasih kepada bapak” jawabku yang tiba-tiba ingin berbicara. Pak zaenal mengangguk dan tersenyum kepadaku tanda beliau setuju degan keputusanku sedangkan ibu hanya menghela napas dengan lega.

Akhirnya kami pun menerima cek itu dengan maksud meminjamnya untuk biaya operasi ayah kami. Kami sangat senang karena pertolongan Tuhan datang di waktu yang tepat. Dan aku mulai percaya dengan perkataan ibuku tadi malam, bahwa keberuntungan itu akan selalu ada asalkan kita menyakininya dan akan datang disaat yang tepat. Seperti angin yang berhembus disaat musim kemarau, angin keberuntungan itu datang kepada keluarga kami dengan membawa suka cita.

Tamat

Cerpen Karangan: Ahmad Johandi
Facebook: /johand.tara (Ahmad Johandi)

Cerpen Angin Keberuntungan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan

Oleh:
Namaku Dena. Setiap hari minggu aku selalu bangun pagi. Walaupun aku masih duduk di bangku SD mamaku sudah mengajarkanku untuk bangun lebih awal dan membantu bersih-bersih rumah. Setelah semua

Diary Elza

Oleh:
Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari

Karangan Alyena

Oleh:
Alyena orang yang cantik dan pintar namun dia pendiam dia bingung setiap ia bersekolah tak ada yang menyapanya. Pada saat pelajaran nona herd, nona herd menyuruh semua murud muridnya

Renungan

Oleh:
Di sudut ruangan ini aku duduk sendiri. Merasakan keterasingan, merasakan kesepian, merasakan kehampaan. Entah dimulai kapan aku tak tahu pasti. Yang ku tahu bila rasa itu datang, sakitnya menusuk

Kisah Pak Hery

Oleh:
Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menandakan kalau pagi sudah datang, seperti biasa Pak Hery bersiap untuk berangkat bekerja. beliau adalah seorang pekerja keras, beliau bekerja dengan gigih hanya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *