Anton

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 20 January 2018

Sesekali pria tua itu melihat cincin yang dipegangnya, dengan senyum penuh harapan yang menyiratkan kerinduan. sesekali dia menatap ke awan putih lalu kembali tersenyum dan menunduk seolah bermain dengan dunianya sendiri. “Keadaannya sudah stabil Pak Anton, jangan khawatir,” anton menengok, terlihat guratan emosi di wajahnya, Ini adalah keempat kalinya dia tertangkap tangan oleh Wijaya sedang memandangi pria tua itu.

“Jangan katakan keadaannya padaku biar saja dia mampus!” ucap pria itu dengan nada tinggi. Anton pun beranjak pergi dari lapangan rumput itu sambil merapikan jasnya. “Oke pak direktur teruslah berbohong.” ucap Wijaya sambil memandangi pria itu, ia termenung, wijaya memandangi pria yang sudah pergi jauh itu sambil merapikan kemejanya.

Kakinya menjadi kaku sebisa mungkin dia berusaha menggerakannya, Tangannya menjadi bergetar sangat kencang, ia mengingat kembali masa lalunya, dimana ibunya dengan kejam mengusirnya lantaran begitu benci terhadap ayahnya. Ia teringat bagaimana dengan kasar ibunya yang sedang bersama pacar barunya mengusirnya keluar rumah saat dia sedang tidur, padahal usianya baru 6 tahun.

Ia terus menunggu di luar pagar rumah yang sangat mewah dan sangat luas itu disirami dinginnya air hujan tanpa tahu apapun, tidak ada reaksi sedikitpun dari dalam rumah. air hujan yang begitu deras membasahi tubuhnya yang hanya memakai piyama, udara dingin menyergapnya, ia memutuskan untuk pergi setelah menyadari ia tidak diinginkan lagi. Ia berjalan penuh keputus asaan, menuju ke sebuah wilayah yang gelap gulita, harapan muncul saat dia melihat sebuah rumah yang terang benderang, ia langsung berlari ke sana. semua perasaan takutnya hilang seketika, mendadak sebuah suara membuatnya tersenyum.

“Bukankah itu anakmu, Joe?” ia mengerutkan dahi.
“Kau mencari ayahmu ya? Ya ampun kamu basah kuyup, kamu pasti kedinginan!” Pria itu menggandeng tangan Anton dan membawanya masuk.

“Joeeeee… ini anakmuu..” jOe terkejut mendapati Anton yang mencium tangannya.
“Ayah..” Ucap Anton, yang langsung memeluknya.
“Kenapa sih kau ke sini? Ikut!” Anton lalu mengikuti Joe dengan bingung.

“Ayah, kapan pulang?” Suara berisik pun terdengar saat mereka melewati kerumunan orang di dalam rumah.
“Yah, aku kedinginan..” Ucap Anton sambil gemetaran, namun suaranya tertelan oleh suara berisik.

“Joe itu berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri dan sekarang dia sudah bercerai dengan istrinya,” Ujar salah seorang dari mereka, Anton hanya bisa mendengar.

“Yah aku ngantuk,” ucapnya sambil tersandung.
“Jalan terus!!” Kata Ayahnya ketus.

“Sana enyah!” Joe melempar Anton ke dalam mobilnya.
“Ayah aku kedinginan dan mengantuk, karena tadi ibu..” Ucap Anton terpotong.
“Diam!” bentak Joe. Dia begitu ingin melempar bocah yang juga diduga hasil perselingkuhan istrinya itu ke luar jendela mobil. Anton memang tidak jelas anak siapa sebenarnya, karena baik ayah dan ibunya begitu senang berganti pasangan di luar hubungan resmi mereka.

Dini hari telah tiba, mobil Fortuner TRD putih itu menepi di sebuah gang yang sepi, suasanya begitu mencekam.
Setelah memarkir mobilnya, Joe keluar, lalu membuka pintu dan mengangkat paksa Anton. “Kamu! Enyah!”, ucap pria itu. Anton menjadi lemas tak berdaya melawan cengkeraman ayahnya yang begitu keras, udara dingin menusuk tubuhnya membuat tangannya menjadi kaku. “Sakit yah.” Joe menenteng anak itu ke tempat pembuangan sampah. “Tunggu di sini!! Dan jangan ke mana-mana!!” ucap Joe sambil menurunkan Anton dengan kasar, namun ketika Joe akan melangkah, Anton memegang erat kakinya.

“Yah, aku mohon bawalah aku,” sambil beruraian air mata. “Yah aku mohon,” Joe terdiam, dia menarik nafas sangat dalam. “Lepaskan aku!” Ujar Joe dengan membentak tanpa takut membangunkan penduduk sekitar.
“Aku mau ikut ayah..” semakin Joe menendang kakinya, semakin kuat cengkaraman Anton. “Le.. pas..kan.. aku!!” bentak Joe sambil menendang dengan keras Anton.

“Anak sinting!” Ucap Joe yang mendekati anton yang tergeletak tidak berdaya. “Kalau kau mengikutiku lagi, kau akan kubunuh!” anton tertunduk lesu. “Begitu yang seharusnya kamu lakukan!” ucap Joe, ia melangkah pergi dengan sangat cepat, Anton memandang dengan tidak berdaya melihat ayahnya yang semakin jauh dan menghilang, badannya tidak bisa digerakan, ia mencoba menahan rasa sakit, namun rasa sakit itu semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya pingsan.

Anton terbangun saat seorang pria mengangkat dan melemparnya. “Aduh!!” Ia kembali mengerang kesakitan, langit telah biru, dan hari sudah siang, tubuhnya penuh dengan memar dan luka, ia mengerang dan terus mengerang, tak ada seorang pun di situ yang peduli. Ia menangis, seorang pria yang berpakaian sangat kotor tersebut mendatanginya dan mengatakan “Enyah kamu!! Membuat rusak pemandangan saja!!” ia tak dapat berkata apapun rasa sakitnya menguasai tubuhnya, membuatnya tergeletak tak berdaya.

“Kamu sadis! Dia itu masih anak kecil!” seorang wanita berpakaian rapi mendatangi pria tersebut.
“Kalau kamu ingin diperlakukan manusiawi kamu harus memperlakukan orang lain dengan cara yang sama!” ucap wanita itu, ia lalu mendekati bocah itu, Halimah menundukan badannya. “Halo nak,” Dipeluknya tubuh mungil itu, Wajah Anton memerah.

“Astaga, kamu penuh luka dan memar.” ucap Halimah sambil menggendong bocah itu.
“sakittt..” rintih anton.
“Aku akan membawamu ke dokter!” ujarnya, wajah Anton kembali memerah, dengan segera ia membawa bocah itu ke rumah sakit.

“Tolong ada kondisi darurat di sini.” seorang dokter muda menghampiri mereka.
“Ya ampun, kenapa bisa seperti ini?” dengan segera dokter kowalsky membawa Anton ke ruangannya kemudian mengobati luka bocah tersebut.
“Dia anak yang tadi kutemukan di tempat pembuangan sampah, sepupu,” ucap Halimah.
“Apa aku akan selamat?” ucap anton dengan sangat lemah, secara mendadak tubuhnya menjadi tergolek lemas, dan kedua matanya tertutup, dia tidak sadarkan diri, dokter kowalsky sangat tenang “Dia hanya syok saja tidak lebih, lukanya juga sudah kuobati.”

“Ya, aku sedang mengurus proses mergernya, kemungkinan semua beres bulan ini,” ucap Anton sambil menerima kopi yang dibuatkan Joko untuknya. “Kamu pulang jam berapa?” ucap suara di seberang sana dengan khawatir. “Gak terlalu malam kok jangan kuatir bu, aku nanti makan malam sama ibu kok, dah bu.” ucap Anton sambil memakai jas berwarna hitam buatan Italianya, ia keluar dari ruangan mewahnya, namun dia dihadang di tengah jalan.

“Anton,” ucap pria tua itu, anton segera berjalan menjauhinya, tetapi pria tua itu mengejar anton.
“Anton anakku, ini ayah, nak.” kata pria tua itu sambil menarik tangannya.
“Maaf pak anda ini siapa ya?” Ia mencoba melepaskan tarikan tangan, namun tarikan tangan pria tua itu begitu kuat, anton berusaha menggerakan badannya agar lepas dari tarikan pria tua itu, tetapi dia tidak tega, mendadak seorang petugas keamanan melepaskan tarikan tangan, lalu membawa pria tua itu.

“Anton kau tidak apa?” ucap seorang wanita yang baru saja datang, Anton terduduk.
“apa sih itu?” Ketika Hamidah bertanya Anton kemudian jatuh ke posisi telentang.
“Anton sayang!” ucap Wanda dengan panik, yang kemudian didatangi dua orang petugas keamanan, langsung membopong anton ke ruang kesehatan.
“Bagaimanapun dia itu..” bisik Anton sambil memejamkan matanya.

“Anton sayangku, bagaimana sekarang? sudah merasa lebih baik..” Anton hanya memandang hamidah dengan pandangan hampa, Hamidah tahu Anton kembali teringat akan masa lalunya.

“Anton Sayang aku sangat sayang padamu.” Anton memeluk wanita manis itu, dia kemudian menggenggam erat tangannya, seolah dia ingin bersandar pada wanita itu atas semua masa lalu yang kembali menghampirinya, ia sadar ia harus kuat di depan hamidah.
Anton lalu mengecup kening wanita manis itu, beberapa saat kemudian Anton merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ada di ruang kesehatan, Hamidah menemani Anton di sampingnya.

Sesaat dia melihat Smartphone milik Anton, sudah ada 11 kali panggilan tak terjawab dari Halimah, ia melihat perhatian yang sangat besar dari ibu suaminya itu, secara mendadak Halimah mengirim WA. “Aku menelepon anton kenapa tidak dijawab sejak tadi?” Hamidah segera membalas “anton sedang sangat kelelahan saat ini bu, dia saat ini sedang tidur, jangan khawatir bu, nanti kami pulang sebelum makan malam kok.” Ia menggenggam tangan Anton, sambil tersenyum manis.

“Aku tahu masa lalumu sayang, dan aku akan terus membantumu menghadapinya sekuat mungkin, kamu adalah pria yang kuat anton Suherman.” Hamidah menyenderkan kepalanya ke tangan kiri Anton.

“Bu! Aku pulang!” seru anton sambil membuka jasnya, Halimah yang sedang meminum tehnya seketika menoleh, pria itu mendekat, mengecup keningnya.
“Bu! Ada berita bagus!” Halimah memasang wajah penasaran.
“Sukses!” ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah dokumen yang langsung dia lihat.
“Mergernya bukan hanya sukses, tetapi juga meningkatkan nilai saham kita!” ujar Anton, Halimah tersenyum.

“Kamu puas?” Ucap Halimah bercanda.
“Bukan hanya puas bu tapii sangattt puassss,” Halimah tertawa melihat kepuasan anaknya itu, dalam pandangannya Anton adalah orang yang paling penting untuknya, ia kemudian menggengam tangan Anton dengan erat.
“Putraku memang yang terbaik,” ujar Halimah, anton tersenyum dan kemudian mengecup pipi wanita itu.

“Ibu tidak perlu khawatir lagi atasku, aku sudah dewasa,” Halimah mengeplak kepala putranya itu. “Justru aku khawatir padamu, khawatir jika kau tidak bahagia,”
“Jangan khawatir bu, aku sudah bahagia,” ucap anton.
“Kalau kamu bahagia ibu mau menikah lagi,”
“Ibuuuu..”

“Bu, ada telepon,” mendadak seorang pelayan memanggil Halimah.
“Ibu terima telepon dulu ya, siapa tahu dari calon ayahmu,” wajah Anton memerah.
“ibuuu”

“Jadi kamu gak bahagia nih?”
“Bahagia donk,”
“Kalau begitu izinkan ibu menikah lagi ya?” Sambil tertawa wanita itu kemudian pergi.

Anton memandangi Halimah dari kejauhan, Halimah melihat itu kemudian tersenyum ia sangat sadar bahwa pria yang dipungutnya dari jalan olehnya dua puluh tujuh tahun yang lalu itu kini sudah sangat dewasa, “Kau sudah sangat dewasa tidak seperti dulu lagi,” bisik Halimah. Malam hari itu disinari bulan purnama yang diiringi oleh lagu “Wrap Your trouble in dream” dari Bing Crosby, Halimah memang seorang pecinta musik.

“Loh mana jagoan satu itu?” tanya Dokter Kowalsky yang baru saja datang.
“Sudah tidur di kamar bersama istrinya, mereka berdua sudah bekerja keras seharian ini,” Ucap Halimah sambil tersenyum.
“Dia sudah punya istri ya? Aku tidak menyangka dia bocah yang dulu.” Ucap dokter kowalsky.
Halimah memejamkan matanya, menikmati suara emas yang sangat indah dari Bing Crosby, yang diiringi sinar rembulan, menambah syahdu suasana malam di rumah yang sangat luas itu.

“Inget gak pas dia pengen tau tentang kedokteran? Dia terus ngikutin kamu sampai ke ruang praktekmu.. Terus nongkrong di sana sepanjang hari,” Dokter Kowalsky tertawa sambil menuju ke kursi yang ada di sebelah Halimah lalu duduk, seorang pelayan lalu membawakan mereka berdua dua cangkir kopi, sambil menengguk kopi, mereka berdua tersenyum, mereka masing-masing membanyangkan betapa lucunya Anton ketika kecil dulu.
“Eh dia malah ga jadi dokter.” Ucap Dokter Kowalsky yang diiringi tawa dari Halimah.

Anton kembali berdiri di tengah lapangan rumput itu sambil tolak pinggang, dia memandang pria tua itu dengan tatapan bingung, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit, ia tak tahu harus berbuat apa, di sisi lain dia diperkirakan bukanlah ayahnya, bahkan memperlakukannya seperti sampah yang harus dibuang, tapi di sisi lainnya, dia mungkin saja merupakan ayah kandungnya, dan dia tidak tega mentelantarkan ayah kandungnya sendiri, anton masih ingat kata-kata dari Halimah. “Dia menemuiku delapan tahun yang lalu, saat kau masih kuliah S2, ia mencarimu seumur hidupnya, dan menemukanmu telah menjadi anakku, ia juga mengungkapkan penyesalan atas apa yang dia perbuat padamu,” mata anton menerawang jauh teringat bagaimana Halimah menceritakan pria itu selalu menanyakan perkembangan dirinya. Bahkan dia pernah mengatakan ingin memberi hadiah kelulusan gelar master Anton dengan sebuah sedan mewah, yang tentu saja ditolak oleh Anton.

“Dia menyesali perbuatannya.” Anton tetap bersikukuh “Aku tidak bisa memaafkannya atas perbuatannya padaku malam itu..” halimah lalu tersenyum. “Dia itu gig*lo dan ibumu pel*cur Anton.” ucap Halimah, anton terdiam sesaat dan meneteskan air matanya, dia menangis sangat keras.
“Gaya hidupnya yang hedon membuatnya jadi seperti itu, dan dia menyesalinya, maaf kau harus mengetahuinya seperti ini, tetapi kau sekarang sudah dewasa, kau harus tahu,” anton terdiam dari tangisnya kemudian termenung, menyadari bahwa ayah dan ibunya sama sekali bukan orang baik.

Anton memandangi pria tua itu dari kejauhan sambil terus menarik napas, perasaannya tak menentu, Anton kemudian menghubungi Wijaya dengan smartphoneya. “Halo wijaya, kita harus bertemu, sekarang..” anton berjalan menjauhi pria tua yang menatapnya dengan pandangan kosong. “Dia dibawa ke panti jompo milik yayasan kami oleh seorang pria misterius, dan tampaknya dia mengidap dementia, padahal usia belum terlalu tua.” Jelas Wijaya, anton terus berpikir dengan keras tentang identitas sang pria misterius.

“Tampaknya ingatannya hanya ingatan tentangmu, karena itu dia sering kabur, seperti tempo hari,” ucap Wijaya sambil merapikan rambutnya.
“Tampaknya ini berkaitan dengan gaya hidupnya yang dulu..” lelaki itu menghentikan ucapannya saat anton mulai terlihat marah.
“Jangan membuatku bersimpati padanya.” ucap anton sambil menggebrak meja, ia kemudian berjalan menjauh dari wijaya, Wijaya menepuk bahu pria itu. “Maafkan aku kawan..” Anton lalu melepaskan tepukan itu dari bahunya, dan mendorong tubuh Wijaya ke belakang, lalu pergi.

Angin siang yang kencang terus menerpa tubuh pria tua itu, pria tua yang terus memandangi Anton yang sedang naik ke mobilnya dari kejauhan, “Kau sudah sangat dewasa Anton” kata pria tua itu dengan suara serak, ia kemudian menangis menyesali apa yang telah dilakukannya dulu, ia kemudian teringat tentang rencananya yang dia susun bersama Juna.

“Jangan lakukan ini Joe.. kau mungkin memang telah berbuat keji padanya dulu. Namun kau juga tidak harus bunuh diri..” Juna kemudian berhenti.
“Aku ingin membayar semuanya Jun, sebelum penyakit ini menggerogotiku hingga habis.” ia terlihat sangat menderita menahan rasa sakit yang ditimbulkan virus HIV yang telah mejalar di hampir seluruh tubuhnya. Juna menitikan air mata dan memandang dengan iba sahabatnya itu.

“Sembuhkanlah dirimu Joe..” Joe tertawa.
“Aku tidak layak menerima pengobatan itu Jun..” Joe melonjorkan kakinya, kemudian mengambil obat di sebelahnya dan meminumnya.
“aku hanya ingin satu hal.” ucap Joe, Juna menatap dengan rasa penasaran yang sangat besar akan keputusan yang akan diambil oleh pria tua itu.

Lelaki itu memainkan game di smartphonenya, tetapi pikirannya tidak fokus, ia merasa bersalah kepada Anton, akan tetapi ini adalah hal terbaik yang menurutnya harus dia lakukan, Wijaya kemudian memegang kepalanya dengan kedua tangannya, ia sangat tertekan “Ya ampun!” ia mengacak-acak rambutnya, mencoba mencari jalan tengahnya, pasalnya dulu Joe memohon dengan sangat padanya. “Kumohon pak wijaya, kau ketua yayasan yang memiliki sebuah panti jompo, dan juga salah satu temannya, aku sangat ingin meminta maaf padanya.” ujar Joe sambil seluruh tubuhnya gemetaran akibat penyakitnya. “Oke, baiklah.” ucap Wijaya sambil memejamkan matanya.

Ia kemudian merintih kesakitan, rasa sakit itu telah menusuk sampai ke tulangnya, menyebabkan tubuhnya menjadi kejang, ia terjatuh, namun berusaha bangkit dan meraih obatnya “Aku.. Aku.. sudah tak tahan..” ia secara mendadak tidak peduli lagi obatnya dan berjalan mencari Wijaya, baginya lebih penting memberi tahu Wijaya tentang apa yang akan dikatakannya pada Anton ketimbang obatnya.

“Astaga tuan!” ucap Wijaya yang melihat Joe berjalan dengan sisa tenaganya yang kepayahan berusaha menuju ke arahnya.
“sam.. pa..i..kan.. pa..da.. An..ton.. A..ku… sa..ng..at.. me..nya..ya.. ngi..nya..” katanya dengan sangat kepayahan, dia lalu memejamkan matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga.

Anton tidak menangis tetapi tidak juga bahagia, dia hanya memandang batu nisan itu dengan tatapan kosong, jas dengan jaket mahal yang dipakainya tersibak oleh derasnya angin dingin yang mengalir, Wijaya segera menghampiri pria itu sambil memejamkan mata dan wajah penyesalan.
“Maaf aku harus menyembunyikan hal ini darimu, pria misterius itu tidak ada, dia datang padaku karena tahu aku temanmu, dia memohon padaku,” Anton tak menjawab apapun.

“Bahkan saat penyakit itu telah menggeroti seluruh tubuhnya dia masih mengatakan bahwa dia menyayangimu.” Wijaya kemudian meneteskan air mata, sembari memandang pria yang terdiam di sampingnya. “Dia bilang tidak pernah sama sekali bahagia sekalipun tidak pernah.. dia selalu menjalani kehidupan yang keras.. hal yang telah dia lakukan padamu itu kesalahan terbesar dalam hidupnya,” sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Anton pergi begitu saja, Wijaya lalu mengejarnya. Tanpa diduga Anton kemudian tersenyum. “Mungkin dia ayahku atau mungkin juga bukan, aku tak tahu dan tak akan pernah tahu, tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu dia menyayangiku.” Wijaya memandang dengan pandangan haru sambil tertawa bahagia, sementara Anton berjalan menjauhinya, diiringi bunga kamboja yang berguguran karena tertiup derasnya angin.

“Anton anakku tersayang, aku mungkin tidak pantas mengaku sebagai ayahmu, terutama sejak apa yang telah kulakukan padamu, aku membuangmu seperti sampah begitu saja, namun harus kau tahu, Anton, bahwa aku merasakan hal yang sangat menyakitkan setelah aku membuangmu, aku merasakan penyesalan yang sangat dalam yang menggerogoti diriku dari dalam.”

“Tetapi aku juga tidak bisa kembali lagi dan mengambilmu begitu saja, karena kehidupanku bukanlah kehidupan yang baik untukmu, kau tidak bisa tumbuh di lingkungan seperti ini.”

“Kabar yang menyatakan aku selingkuh dengan sekretarisku itu adalah kabar bohong, faktanya aku dan ibumu tidak pernah menikah sama sekali, kami hanya pasangan tuna susila yang saling berbagi uang haram kami, dan setelah pembagian uangnya tidak cocok kami lalu berpisah begitu saja, tetapi disertai rasa kebencian satu sama lain, karena kami menomor satukan uang,”

“lalu kamu menghilang begitu saja, dan aku mencarimu ke manapun setelah aku bertobat, dan akhirnya aku telah menemukanmu bahagia bersama seorang pengusaha besar, Bu Halimah memang orang yang pantas memeliharamu, aku sangat bahagia melihat hal tersebut, namun semua terlambat, karena penyakit itu telah melemahkanku sedikit demi sedikit, akibat perbuatanku sendiri di masa lalu,”

“Aku sangat ingin sekali, sangat ingin sekali sedkali saja aku mengatakan langsung padamu bahwa aku menyayangimu,”

Anton tidak bisa menahan lagi kesedihannya, dia memejamkan matanya dan termenung, kemudian menutup layar laptop peninggalan Joe tersebut. hari semakin sore, angin sepoi sepoi mengalir ke kamarnya, gordennya bergerak perlahan karena tiupan angin itu, diiringi dengan sinar mentari senja yang mengalir masuk melalui jendelanya yang terbuka lebar, menyinari lemari kamarnya dan membentuk sebuah gelombang cahaya berkilauan. Mendadak smartphonenya berbunyi, ia kemudian melihat pesan WA yang dikirim wijaya padanya.

“Aku sudah menyalurkan semua bantuan tuan Joe Hasibuan yang disumbangkannya kepada yayasan untuk sekolah gratis anak jalanan, panti asuhan dan juga tempat penampungan orang terlantar.” anton menarik napas lega, baginya Joe telah membuktikan secara tulus dan total semua niat baiknya.

Tamat

Cerpen Karangan: Ananda Syahendar
Facebook: Ananda Syahendar Perdana
Saya hanyalah seorang tokoh internasional, bisa anda cek di en.wikipedia.org/wiki/Ananda_Syahendar_Perdana .. bukan omong kosong loh.

Cerpen Anton merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Menangis, Bunda

Oleh:
Sungguh malang seorang anak yang berusia 5 tahun harus menerima kenyataan, tubuhnya yang mungil harus merasakan sakit. Kanker otak yang menyerang dengan kondisi antibody yang kurang menjadikannya lemah dan

Karam Di Laut Tenang

Oleh:
Keluarga kecil bahagia, mungkin itulah yang terlihat dari pasangan Arman dan Amanda mereka tinggal di rumah mewah bersama anak perempuannya bernama Fika yang baru berusia sepuluh tahun. Kehangatan keluarga

Badai Pasti Berlalu

Oleh:
‘KRIIING!’ Bel alarm berbunyi tepat pukul setengah enam pagi. Dengan malas, Kintan berusaha meraih jam bekernya, tetapi jam tersebut malah jatuh. Alhasil bunyi alarm mati dengan sendirinya. Sudah 10

Catatan Terakhir Gista

Oleh:
Di malam yang sesunyi itu, ketika bulan tak malu untuk menampakkan bentuk indahnya yang putih bening bersinar terang. Tepat pukul 00.00 malam itu aku dilahirkan. Ayah dan Bunda menangis

Duri Duri Tumpul

Oleh:
Bulan sabit muncul dan langit tidak terlalu bercahaya. Berjalan tergopoh, berpakaian lusuh dan ada goresan benda tajam melukai badannya, sehingga terlihat jelas darah mengalir dan membasahi lengan baju kirinya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *