Anugerah Dari Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 November 2017

Hujan. Siapa sih yang gak tau salah satu siklus alam ini? Dari dulu hingga sekarang hujan akan selalu ada. Tentang akibat dari hujan, pastilah banjir di mana-mana. Genangan air yang terkadang membuat kotor. Yang membuat kebanyakan orang tak menyukai hujan.

Oh ya, perkenal kan namaku Panji Nugraha, biasa dipanggil Panji. Usiaku 15 tahun dan yah aku baru saja lulus dari pendidikan smp ku. Dan sekarang aku sedang menempuh pendidikan baru di jenjang sma. Aku tinggal di Kota Bogor, kota yang dijuluki dengan Kota Hujan dan Kota Seribu Angkot. Di sini, aku tinggal dengan kakakku di kontrakan yang bisa dibilang sederhana. Hanya ada satu kamar dan itu juga terhubung langsung dengan kamar mandi, tak ada ruang tamu atau ruang makan. Tapi aku tidak pernah mengeluh dengan hal itu. Malah aku sering mensyukuri rahmat dari-Nya.

Kata almarhum kedua orangtuaku, segala yang kita miliki itu harus disyukuri. Sekecil apapun itu. Bahkan hujan sekalipun. Berkaitan dengan hujan, aku sangat suka dengan hujan. Iramanya buat hatiku tenang. Aromanya juga sejuk dihirup. Dan yang kutau, hujan itu anugerah yang terindah dari Tuhan untuk semua hamba-Nya.

Dulu, almarhum ayahku sering sekali mengajakku untuk bermain-main saat hujan. Sampai baju kami basah pun kami tak berhenti untuk main. Kalau Ibu mengomel, barulah kami hentikan permainan kami. “Ayah ini, kalau Panji kena demam bagaimana? Sudah tau sedang hujan, malah diajak main!” Ucap Ibu dengan nada mengomel. Ayah hanya tertawa melihat Ibu marah. “Ibu, Panji harus kita ajarkan untuk mensyukuri nikmat terindah. Biar bagaimanapun juga hujan itu anugerah,” aku yang melihat mereka hanya tersenyum. Begitulah kedua orangtuaku, tak pernah melarangku untuk bermain hujan tapi mereka tak ingin melihatku sakit juga.

Ibu pernah bilang padaku, sejahat apapun hujan dengan kita, kita tak harus membencinya. Meskipun hujan mengambil orang yang kita sayangi.
Hal itu terus kulakukan hingga sekarang. Aku tak pernah membenci hujan. Aku menyayangi hujan selayaknya dia anggota keluargaku. Aku kehilangan kedua oangtuaku ketika hujan. Tapi itu tak lantas membuatku membenci hujan. Malah aku semakin menyayanginya. Ketika hujan datang, aku merasa almarhum orangtuaku juga datang. Saat aku melihat orang lain bersedih saat hujan atau karena hujan, aku mencoba menenangi mereka. Memberi mereka semangat dan meyakinkan bahwa hujan itu anugerah yang terindah. Dan hasilnya sebagian dari mereka termotivasi, selebihnya entahlah.

Aku punya banyak cerita bersama hujan. Baik dengan diriku, kakakku, atau teman-temanku. Satu cerita yang paling mengesankan untukku adalah saat aku bermain hujan-hujanan dengan kakakku, Marsel. Saat itu tiga tahun lalu tepatnya hari Minggu, hari yang seharusnya aku dan kakakku beristrahat karena esoknya harus pergi sekolah dan bekerja. Hujan mengguyur Kota Bogor dengan derasnya saat sore hari. Aku yang sedang mengerjakan tugas sekolah, tertarik untuk bermain. Kemudian aku mengajak kakakku untuk bergabung.

“Kak, main hujan-hujanan yuk!” Ajak ku.
“Hujannya deres banget, dek. Nanti yang ada kamu sakit lho,” tolak kakak ku
“Yah, kak… Sebentar doang. Lima belas menit aja”
“Kalo kamu sakit gimana, repot tau…”
“Emang kakak kapan terakhir kali main hujan-hujanan?”
“Emm… Sekitar tujuh tahun lalu sih,”
“Tuh kan, kakak aja udah lama gak main hujan. Ayo kita main sekarang!” Paksaku sambil menarik tangan Kak Marsel. Dan kami pun sudah di luar rumah.
“Duh, dek basah tau!”
“Namanya juga main air Kak! Yah basah lah,” ucapku sambil tertawa.

Aku berputar-putar sambil menadahkan tanganku. Kakakku hanya diam melihatku. Aku tau dia sebenarnya juga mau main hujan, tapi pasti dia berfikir sudah tak cukup usianya jika bermain hujan. Kukerjai saja Kak Marsel.
“Kak, liat deh ada apaan tuh di sana,” ucapku
“Apaan dek?” Tanya kakak ku
“Itu di belakang kakak,” balasku.
Kak Marsel menoleh ke belakang dan brukkk. Aku mendorong Kak Marsel ke genangan air dan dia terjatuh. Aku tertawa puas melihat kakak ku.
“Wah, iseng kamu ternyata yah, kakak balas lho!” “Balas aja kalo bisa, wleee,” balasku sambil berlari menjauhi Kak Marsel. Dan kakak mengejarku. Terjadilah aksi kejar-kejaran saat hujan.

Keesokan harinya, aku tidak berangkat sekolah dan kakakku tidak pergi bekerja. Alasannya karena kami demam sebab hujan kemarin. Yang paling parah adalah kakakku. Dia demam sampai satu minggu lebih. Kasihan juga sih melihatnya, dia sakit gara-gara aku memaksanya untuk bermain. Tapi itu gak masalah, karena katanya sakit karena hujan itu sudah biasa.

Mengingat kejadian menyenangkan itu, aku semakin yakin hujan memanglah hadir untuk menemani kita. Baik saat sedih maupun senang. Dan saat hujan juga lah do’a yang kita panjatkan mudah dikabulkan. Hujan tak pernah bermaksud untuk menyakiti kita. Kita yang terkadang selalu salah paham dengan kehadirannya. Hujan menentramkan hati dan pikiran dari penatnya hidup. Meskipun ketika hujan datang, kita suka teringat oleh kenangan-kenangan indah. Kenangan yang pernah terukir tatkala hujan turun. Dengan keluarga, sahabat, teman, ataupun kekasih. Semua itu akan terukir jelas bukan?
Di sini, aku akan terus berusaha meyakinkan diriku dan semua orang betapa indahnya anugerah Tuhan satu ini. Kehadirannya patut lah disyukuri dan dinikmati. Setiap tetes air yang jatuh akan memberikan anugerah. Kenikmatan tersendiri.

Ini ceritaku bersama hujan. Apa kalian juga punya cerita bersama hujan?

Cerpen Karangan: Santi Susilowati
Facebook: Santi Susilowati
Nama: Santi Susilowati
Nama Panggilan: Santi
Umur: 15 Tahun
Sekolah di SMKN 9 Jakarta kelas 10 jurusan Akuntansi.
Cerpen pertama yang di publish. Semoga suka sama cerpen ku ini 🙂

Cerpen Anugerah Dari Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Cerita Tentang Wawan

Oleh:
Siang yang terik. Panas matahari membakar kulitku yang coklat. Debu-debu jalanan menghiasi kaca helmku. Kantuk menjalar di otakku, memaksaku untuk cepat-cepat pulang ke rumah dan dapat beristrahat sepuas mungkin.

17 Lembar

Oleh:
Mega merah mulai menampakkan warnanya. Semua orang mulai berlindung ke gubuknya untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Panji, seorang pujangga berkepala batu ini.

Tanah Airku

Oleh:
“Pemenang Lomba Kebersihan, Kerapihan dan Kehiajauan Desa pada tahun ini kembali diraih oleh desa “IMPIAN” ungkap seorang lelaki setengah baya di atas podium. Serentak gemuruh tepukan tangan membahana di

Harapan Seorang Ibu

Oleh:
Duduk manis di beranda rumah, kegiatan yang selalu dilakukan saat libur sekolah, menikmati udara pagi yang sejuk di rumah reot peninggalan almarhum ayahku. Aku remaja miskin 16 tahun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *