Apakah Si Miskin Berhak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 January 2016

Namaku Ahmad, aku seorang Yatim piatu. Orangtuaku meninggal dunia karena kecelakaan, dan sekarang aku hanya hidup sebatang kara di tempat yang mungkin tak asing lagi bagi kalian. Yaa.. aku hidup di bawah kolong jembatan. Ini adalah kisah hidupku yang penuh perjuangan. Pagi itu aku bangun tepat jam 05.00 dan seperti biasa aku tak pernah bangun terlambat. Dengan keadaanku yang serba kekurangan seperti ini tidak menjadikan alasan bagiku untuk melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim.

Aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran dengan salat lima waktu. Dan aku selalu menjadikan waktu sebagai motivasiku. Pukul 06.00 aku selalu siap untuk berkeliling menyusuri dinginnya lorong dan jalan raya untuk menjajakkan keripik singkong yang aku buat sendiri. Setiap pagi aku tak pernah absen untuk mengunjungi rumah, toko atau tempat yang biasanya dengan setia membeli keripik singkong buatanku.

Bahkan hingga siang berkeliling menjajakkan keripik, aku tidak peduli dengan teriknya matahari yang menusuk ubun-ubun. Aku tidak pernah menyerah. Aku terus berjalan hanya demi mendapatkan sesuap nasi saja. Entah kenapa ketika aku dipertemukan dengan kesulitan hidup, aku tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum manis, seolah-olah tidak ada beban pada diriku ini. Aku hanya tidak ingin orang lain mengetahui sisi kelamku. Biarlah mereka mengetahui sisi baikku saja.

Suatu hari seperti biasanya, aku menyusuri jalan raya dan lorong-lorong dengan penuh harapan dan semangat yang menggebu-gebu. Dan tibalah aku pada tempat yang mungkin tak asing lagi bagi kalian, dan mungkin tempat itu juga hampir kalian kunjungi setiap harinya. Ya.. itu adalah sebuah Sekolah, tepatnya SMA BUDI LUHUR. Salah satu sekolah elit dan bermutu di kotaku. Aku selalu berdiri di depan pagar sekolah untuk menunggu jam istirahat mereka. Waktu terus berjalan, dan alhamdulillah keripikku terjual habis.

Tanpa disadari hampir setiap hari aku selalu mengunjungi sekolah itu. Dan entah kenapa ketika aku melihat anak-anak sebaya denganku yang dapat dengan mudahnya menikmati pendidikan tanpa beban. Aku selalu iri dengan mereka. Bukankah aku dan mereka adalah sama-sama anak negeri ini? Memiliki keinginan, potensi dan Hak yang sama? Akan tetapi kenapa hanya mereka saja yang mendapatkannya. Apakah Si anak Yatim Piatu yang miskin ini tidak berhak mendapatkannya? Bukankah aku juga anak bangsa yang memiliki hak yang sama seperti mereka?

Dan ketika aku berdiri di depan pagar sekolah, melihat mereka dengan seragam putih abu-abunya. Aku menatap mereka dengan penuh mimpi dan berdoa dalam hati. “Ya Allah… Apakah hanya mereka si kaya saja yang memiliki hak memperoleh pendidikan, dan apakah aku si miskin tidak memiliki hak seperti mereka, bukankah aku juga anak bangsa. Bisakah aku seperti mereka ya Allah?” Ya itulah doaku dalam hati.

Cerpen Karangan: Maya Hermawati Heryadi
Facebook: Maya Hermawati Heryadi
Nama: Maya Hermawati Heryadi
Sekolah: SMA NEGERI 10 KABUPATEN TEBO

Cerpen Apakah Si Miskin Berhak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Karenamu, Ayah

Oleh:
Aku tak pernah membayangkan akan bisa kuliah di perguruan tinggi. Hal itu mengingat akan pekerjaan orangtuaku sebagai tukang kayu. Pekerjaan tukang kayu sekarang sudah tidak menjanjikan, karena kayu-kayu untuk

Bercanda Kok Gitu Sich

Oleh:
Ku saat ini takut… Mencari makna Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada Kau datang dan pergi, oh begitu saja Semua ku trima apa adanya… ( Letto ) Siang itu matahari

Hari Terakhir

Oleh:
Setelah perpisahan dari Jogja, kita semua pulang ke Jakarta. Di perjalanan, dalam bis… “Wah asyik ya! Aku mau lagi nih” Kata Kirin “Iya, apalagi bareng-bareng kayak gini” Seru Lili

Venice, Hari Untuk Selamanya

Oleh:
Semilir angin sore berhembus membawa kesejukan serta kedamaian. Dengan langkah perlahan, seorang laki-laki tengah berjalan menyusuri jalan setapak melewati deretan makam-makam yang dingin. Di pemakaman kecil inilah tempat semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *