Arah Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 26 February 2016

Hari ini hujan kembali turun. Ya memang sudah musimnya. Mari kita bermain ke tegalan milik seorang teman di gunung sana. Aku membayangkan ketika datang ke sana, Anan dengan sepatu boots karet yang berubah warna menjadi cokelat datang ke perapian tempat aku menenggak kopi hitam. Hatinya tenang, Anan gembira. Hujan dan aku datang. Dua tamu berbeda rupa dengan arti sama, rejeki datang. Percaya atau tidak, yang jelas Anan percaya. Tanpa kompromi dengan manusia yang tinggal di sana, dingin menjelajahi setiap lubang pori-pori kulit. Ia bukan musuh, sebab tidak bisa manusia menikam dingin.

Paling kuat manusia yang tumbuh sebilah pisau di tubuhnya menikam manusia dengan target menganga di sela-sela pangkal paha manusia lain. Bentuk kompromi paling dasar manusia ya seperti itu. Mencoba membuat koloni-koloni tetapi lupa jumlah yang terlampau banyak bisa menyebabkan pertikaian. Dataran tinggi bukan rumah konglomerat dimana mendapatkan kebutuhan tidak bisa hanya berucap lalu duduk manis menunggu datang. Mereka yang ingin macam-macam benda harus turun ke bawah, atau menunggu tukang kredit datang ke atas. Seperti Anan, ia begitu senang ketika aku datang. Itu berarti ia bisa mengenal benda-benda baru. Dan hujan, adalah air yang turun membawa harapan untuk bisa memiliki benda-benda tersebut.

Koloni di dataran tinggi itu semakin besar. Karena sebab tertentu, Anan tidak mengeluh tanahnya semakin sempit. Tujuh tahun yang lalu turis datang ke sini untuk mendaki gunung, Anan dimintai tolong oleh tetangganya ikut dengan turis itu. 11 tahun yang lalu Anan bertemu dengan aku di pasar sembari memikul kentang, bawang, dan kubis. Sarung diikatkan pada leher hingga menutupi pakaian yang ia kenakan, layaknya super hero Amerika. 2 hari yang lalu, Anan memikul 2 tas ransel besar berisi bahan makanan dan peralatan camping turis dalam negeri sembari masuk hutan. Sekembalinya dari hutan tadi pagi, Anan memikul kayu setengah kering untuk berkompromi dengan dingin saat esok atau lusa atau bisa jadi entah kapan. Aku datang, Anan dengan boots karet yang kini kecokelatan terengah-engah. Tanpa arit yang ada di selempitan celananya. Baginya ini sebuah keberuntungan. Musim hujan datang dengan tamu yang masih saja berdatangan. Peluang untuk mendapatkan kertas bergambar pahlawan-pahlawan itu, pikirnya.

Kaseh, anak wanita Anan, sudah di perapian. Ketika aku bertemu 8 tahun yang lalu ia masih dalam bedong milik ibunya. Ia duduk di samping pawon dengan pakaian yang hijau bercampur cokelat tanah beralaskan sepatu boots juga warna tak jelas tertutup cokelatnya tanah. Gegenian, katanya sambil mendekatkan tangan ke arah pawon. Ia baru saja pulang dari tegal milik Anan. Ia tidak banyak berbicara. Kopi hitam terhidang beserta kentang rebus seukuran bola pingpong sebagai kudapan. Anan berkata, biar Kaseh terbiasa dengan tanah yang nanti jadi miliknya maka sejak kecil dibiasakan untuk bekerja di tegal. Lahan keluarga kecil yang berukuran 40 x 60 meter persegi itu ditanami kentang, kubis, dan bawang.

Lahan itu yang menghidupi keluarga kecil Anan. Dulu, sekitar 20 tahun lamanya, setengah lahan itu ditanami jagung oleh ayah Anan. Ia mengingat ayahnya menanam itu karena memang sulit mendapatkan beras. Anan sekeluarga harus makan nasi dari campuran beras dan jagung. Saat itu hasil panen sulit dijual. Bukan karena kualitas jelek, tetapi jalan ke pasar yang mirip seperti kubangan babi. Tetapi kini serba gampang katanya. Tanpa harus ke pasar, pedagang sudah berinisiatif mencari petani yang panen. Itulah sebabnya sekarang ladang milik Anan berisi tanaman kubis, kentang, dan bawang. Ia hendak mengajarkan Kaseh bahwa uang dapat membeli makan, tetapi makan belum tentu menghasilkan uang.

Sepertinya…. Anan dengan ayahnya saja sudah berbeda. Tentu ajaran itu bisa jadi tidak sepenuhnya berhasil. Aku masih tidak tahu apakah Kaseh nantinya menyulap tegal tersebut menjadi sebuah villa mungkin. Atau menjadi kebun pinus untuk memenuhi hasrat para pencari gambar teduh. Ah lazimnya pinus itu disandingkan dengan kata hutan, tapi bagi aku tak ada hutan yang ditanami oleh bibit dengan pola vertikal, horizontal, atau bahkan diagonal. Hutan itu tumbuh dengan bibit yang tak berpola! aku tetap bersikukuh, apa pun yang environmentalis itu katakan bagi aku tetap tak bisa disamakan.

Bagi para pengecam kapitalisme aku mau bertanya, apakah bisa dikatakan kalau hutan mengalami komodifikasi? Karena direka sedemikian rupa lalu dikatakan sebagai hutan dengan tujuan untuk mengambil keuntungan dari sana. Kalau iya, mari kita bersekutu. Tapi aku pikir dulu kalau Kaseh mau membuat seperti itu, lalu, aku akan setuju. Anan lupa, jagung yang ditanam ayahnya dulu itu ternyata tidak membuat tanah tegal mereka berceceran ke jalan raya. Anan bingung, sekarang tanah tegal di sana semakin banyak yang menutupi jalan raya aspal ini. Kalau ada orang mengenakan safari ia kerap dipanggil, tanah dari tegal miliknya kalau panas menjadi debu tapi kalau hujan menjadi lumpur. Merusak! Kata orang bersafari itu. Kebun pinus dengan akarnya yang besar-besar bisa membersihkan jalan raya aspal itu. Kaseh, pikirkanlah.

Kaseh jelas tidak mengerti apa saja yang merusak dan dirusak. Ia hanya mengerti kalau ayahnya sekarang bekerja di ladang dan masuk hutan. Ayahnya sering mengeluh sakit punggung setelah dari hutan. Ia pernah sekali diajak ayahnya bekerja masuk hutan. Selama berjalan ia pernah bertanya pada Anan mengapa tak ada perempuan yang memikul tas seperti yang dilakukannya. Ayahnya menjawab bahwa ini pekerjaan yang membutuhkan tenaga laki-laki, perempuan tidak boleh. Kaseh sendiri tak pernah berpikir untuk memikul tas ransel besar itu, bisa sakit semua badannya nanti. Kaseh tak tahu nantinya bisa masuk hutan atau tidak.

Aku tak bisa membayangkan kalau Kaseh masuk hutan, kopi hitam ini terasa begitu getir. Setiap hari Kaseh selalu melihat hutan, tapi tak pernah masuk. Rumput di ujung ladang Anan terasa seperti jeruji besi yang menghentikan langkahnya untuk tak beranjak lebih jauh. Belum lagi ada tugu berukuran kecil yang lebih mirip sesuatu dipangkal paha ayahnya. Tegak berwarna putih pudar bertuliskan milik negara. Anan pernah beradu mulut dengan orang berseragam pdl sambil menunjuk tugu tersebut. Kaseh di sana saat itu. Setelah kejadian itu, ayahnya langsung pulang lalu kembali dengan sepucuk kertas seperti mantera pengusir pria berseragam pdl tersebut. Kaseh bertanya apa yang terjadi. Anan berkata kalau nanti orang itu kembali membawa pacul atau traktor, Kaseh tak boleh ke sana lagi. Di sana akan menjadi hutan. Kaseh, kau tak boleh masuk hutan.

Aku masih di perapian. Anan di depan aku. Riuh jalan protokol kota besar menyisakan sedikit luka dalam diri. Kadang aku memandangi dengan takut. Ketakutan akan buasnya kendaraan itu dengan cepat menggilas kepala atau suara aku bernasib seperti adzan dari mesjid yang lirih lalu terabaikan. Aku merasa seperti pengecut yang datang ke pangkuan Anan dan berselimut dinginnya dataran tinggi. Aku kembali bercengkerama dengan Anan. Di sini, Anan setiap hari bertaruh dengan tajamnya dingin dan rakusnya orang berseragam. Ia kadang memandangi Kaseh dengan takut.

Di luar hujan sudah reda. Bau lumpur dari tegal orang-orang menyeruak. Campuran pupuk dari kotoran hewan dan juga obat kimia menghasilkan bau yang aneh. Tidak jelas. Dari perapian Anan beranjak membeli rok*k. Aku ikut. Sudah aku kembali pada riuh jalan protokol. Kopi hitam dan rok*k tercipta sebagai obat luka. Anan kembali pada Kaseh membawa buku. Aku turun ke bawah, singgah di toko pakaian dan kembali necis.

Anan dan aku bercengkerama di perapian. Kaseh duduk di samping Anan. Mereka berdua tak lagi memakai boots yang berwarna pudar tertutup tanah itu lagi. Tegal di samping hutan itu ditanami jagung dan pinus. Kaseh melihat jadwal anak-anak sekolah berkunjung ke sini. Perapian itu masih pakai kayu. Anan ingat ayahnya… aku masih menyeruput kopi hitam dan menghisap rok*k. Masih seperti itu karena para pengendara buas itu matanya menjadi rabun melihat cahaya pada diriku. Suara adzan terdengar begitu merdu kini. Aku tidak memotong luka itu, tetapi ada perawat yang begitu sabar membersihkannya setiap hari. Ia tahu bahwa tak ada lelaki sendiri yang tangguh. Oh dara… 2 tahun. Luka aku sembuh. Semakin membaik. Karena sudah percaya. Seperti kau, Anan!

Cerpen Karangan: Kambing Militia
Facebook: Andika Nur P.
Menulis tanpa ilusi

Cerpen Arah Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surau Yang Diwariskan

Oleh:
Sudah dua tahun, Tun ditinggal suaminya. Bukan uang dan juga rumah mewah yang diwariskan oleh suaminya, melainkan hanyalah sebuah gubuk yang dijadikan Surau oleh mendiang suaminya dan juga warga

Nilai Sebuah Keridloan

Oleh:
Menjadi ustadz TPQ memang mempunyai keunikan tersendiri. Satu sisi gelar ini sangat mulia, dihormati orang, dipanggil Ustaaad… oleh santri-santri, dan mempunyai kenikmatan batin tersendiri ketika bisa menyampaikan ilmu membaca

Hujan Membawa Takdirku

Oleh:
Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai.

Marwa, Aku Tidak Ingin Melihat Karma

Oleh:
Mengapa sekarang kau berubah Marwa? Apa kau sudah tidak ingin melanjutkan semua yang telah kita rancang bersama? Kita telah sepakat untuk tetap berjalan beriringan. Tetap berada dalam batasan-batasan, tetap

Sebuah Rahasia

Oleh:
Banyak hal yang mengherankan di dunia ini. Segala sesuatu entah terjadi secara alamiah atau mungkin sengaja di buat seperti itu. Ini sebenarnya adalah rahasia yang bukan rahasia, faktanya kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *