Arang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 19 July 2016

Pagi ini aku sudah mandi dan sudah mengganti baju santai ke baju resmi. Baju yang biasa aku pakai untuk mengajar. Kemeja lengan panjang warna abu-abu polos dan celana kain berwarna hitam sudah melekat di tubuhku. Tinggal menunggu istriku selesai menyetrika dasi yang sudah beberapa tahun menemaniku berdiri di depan anak-anak. Memakai dasi bukan hal yang diwajibkan tetapi sebuah harapan pemilik lembaga. Pak Rahman namanya. Sebagian besar yang pengajar di sana memakai dasi karena pak Rahman selalu memakai dasi. “Meski bukan guru berstatus PNS, kita tidak boleh sembarangan dalam mengajar dan berpakaian” ucapnya suatu hari.
Gaji guru swasta yang terbilang sedikit itu sering menjadi obrolan keluarga yang kadang menyakiti hatiku. Aku merasa telah gagal menjadi kepala keluarga. “Sudah bertahun-tahun mengajar di sana, gajinya kok tidak naik-naik?” canda istriku kemarin sore. Kesabaran istriku sedikit memudar karena kebutuhan hidup semakin banyak. Tagihan listrik yang tinggal beberapa hari lagi, Andin yang sudah merengek-rengek meminta seragam untuk sekolah, beras, dan kebutuhan dapur lainnya.

Tidak seperti biasanya istriku menyetrika lama seperti ini. Aku sesap teh hangat yang tinggal setengah gelas perlahan. Aku melangkah ke kamar untuk melihat istriku. Saat aku berdiri di dekatnya, istriku terdiam memunggungiku. Orang yang sudah bertahun-tahun menemaniku dengan setia itu seperti melamunkan sesuatu. Ia tidak sadar kalau suaminya berdiri di dekatnya. Namun tiba-tiba suaranya mengagetkanku. “Mas, aku minta maaf” ucap istriku lirih. Ia menyodorkan dasi yang aku tunggu sejak tadi. Ada bekas hitam di atas dasi yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun dulu. Wajah takut dan cemas terlihat jelas di wajah istriku. “Betapa mulia hatimu, engkaulah calon bidadari surga, Sayang.” Aku duduk di sampingnya lalu memeluknya. “Nurul istri tercintaku, aku tidak akan dipecat gara-gara tidak memakai dasi hari ini.” bisikku. Aku melepaskan pelukanku dan berdiri meninggalkannya. Ia masih terdiam. “Seharusnya kamu senang, karena suamimu hari ini tidak sama dengan orang-orang berdasi yang sering korupsi.” Godaku. Senyumnya sedikit mengembang. Senyum yang selalu bisa menenangkan risau hatiku. Ia menyambut tanganku lalu menciumnya. Kegiatan rutin setiap hari sebelum aku berangkat mengajar.

Anak-anak sudah mulai gaduh, mereka menungguku. Aku terlambat dua puluh menit. Hal yang belum pernah aku lakukan selama ini. Aku memperlebar langkah menyusuri ruang kelas. Anak-anak yang penuh semangat mulai berhambur ke bangku mereka masing-masing ketika melihat kedatanganku. Melihat antusias dari anak-anak di depanku, aku pun semakin semangat. Aku memulai pelajaran. Tidak terasa, dua jam pelajaran terlewati. Aku keluar kelas menuju kantor. Sebelum masuk kantor, aku dikejutkan suara Pak Risqy. Kepala bagian tata usaha yag selalu bergerak lincah. “Bapak dipanggil Pak Rahman di kantornya sekarang.” Kami berjabat tangan saling bertanya kabar. “Baiklah. Terima kasih Pak,” jawabku. Terus terang, beberapa pertanyaan-setelah pak Risqy pergi, datang silih berganti. Apa karena keterlambatanku? Atau karena tidak memakai dasi?

Aku duduk di depan pak Rahman. Beliau menggunakan dasi berwarna dongker yang senada dengan kemejanya. Senyuman khasnya tidak mampu meredam detak jantungku yang mulai tidak menentu. Bukan karena takut dimarahi atau dipecat. Aku malu. “Bapak Abdul, silahkan diminum.” Ucapnya mempersilahkan. “Ada kepentingan apa Bapak memanggil saya? Maaf, kalau tadi saya terlambat masuk dan tidak memakai dasi.” Aku bertanya setelah menyesap kopi di depanku. Suaraku sedikit bergetar. Pak Rahman masih tersenyum. Dia mengambil sesuatu dari laci mejanya. “Tidak ada apa-apa Pak, tenang saja! Lagi pula kita sudah lama tidak mengobrol berdua kan? Saya yakin Bapak mempunyai alasan atas keterlambatan dan tidak memakai dasi.” Ia mencari-cari sesuatu di lacinya lagi. Aku menunggunya dengan sedikit tenang. “Pak Abdul saya masukkan ke daftar penerima tunjangan fungsional. Ini daftar nama teman-teman. Tolong nanti ke bapak Risqy untuk mengisi dan mempersiapkan yang dibutuhkan” Beliau meletakkan map merah di depanku. Aku membukanya. Ada sepuluh nama non S1 di bawah namaku. Di lembar kedua ada beberapa nama S1.

Setelah keluar dari kantor pak Rahman, aku menemui pak Risqy. Sesampai di tempat pak Risqy, aku melihat pak Syamsuri sudah sibuk mengisi formulir. “Alhamdulillah, pemerintah akhirnya melihat pahlawan seperti kita juga.” Serunya sambil tersenyum menyambut kedatanganku. “Jangan sampai tidak mengajar karena tidak mendapat seperti ini! lihat itu, pak Abdul saja santai-santai saja ketika belum mendapat seperti ini mulai dulu. Padahal beliau sudah mengajar hampir sepuluh tahun disini.” Pak Risqy menambahkan. Sontak saja aku mulai tersenyum malu. “Sudah jangan diteruskan! Nanti pak Abdul terbang.” Pak syamsuri melirikku. Aku tahu mereka memancingku untuk ikut berbicara. “Tapi saya bukan malaikat Pak.” Candaku. Mereka tertawa. “Di tempat kita tergolong lambat. Soalnya di daerah lain sudah cair beberapa bulan lalu.” Pak Risqy menjelaskan.

Hari ini aku pulang dengan kepala agak tegak. aku ingin memberi tahu kabar baik ini kepada istriku segera. Kabar gembira, agar ia tidak terlalu pusing memikirkan kebutuhan. Aku juga sudah meminjam sedikit uang kepada koperasi simpan pinjam. Kata pak Risqy, kalau prosesnya lancar dana tersebut akan bisa dinikmati beberapa minggu lagi. Istriku duduk di kursi plastik berwarna hijau yang terletak depan rumah seperti biasa. Ia begitu setia menungguku pulang. Mungkin Andin masih menikmati jatah tidur siangnya.
“Eh, Mas sudah pulang?” ia cepat berdiri dan menyambut tanganku. Ia tersenyum. Dia mengambil tasku. Biasanya dia juga melepaskan dasiku. “Tadi Andin merengek-rengek lagi Mas.” Ujarnya sambil mengikuti langkahku. Aku duduk di pinggiran ranjang dan menariknya duduk di sampingku. “Mas, tadi pinjam uang ke koperasi.” Wajah istriku menatapku tidak percaya. “Jangan khawatir. Mas nanti bayar” ucapku tenang. “Mas, jangan menambah beban lagi, nanti bayar pakai apa?” aku tersenyum berusaha menenangkannya. “Nama mas sudah masuk daftar penerima tunjangan fungsional. Beberapa minggu lagi sudah dapat kartu rekening.”
“Apakah sudah dapat dipastikan, kalau uang itu akan segera cair Mas?” kuurungkan niatku untuk mengambil handuk. “Semoga saja. Tidak mungkin mereka mempermainkan orang banyak. Jumlah uang ini bagi mereka sangat kecil. Gaji mereka satu bulan mungkin lebih besar dua kali lipat.” Mendengar penjelasanku, istriku terlihat sedikit tenang. Ia memang sedikit tidak percaya kepada pejabat dan pemerintah. Menurutnya, janji orang-orang besar kepada orang kecil seperti ucapan guraun yang tidak perlu ditepati. Semoga uang ini bukan harapan semu yang mereka berikan, agar kepercayaan istriku dan istri-istri yang lain tidak semakin menipis ke negeri ini. Bukankah cinta kepada Negara sebagian daripada iman?

Sabtu pagi aku dan sepuluh orang teman guru lainnya berbondong-bondong pergi ke tempat yang sudah ditentukan untuk pengambilan kartu rekening dan ATM. Kutingggalkan tugas untuk murid-murid agar mereka tetap bisa mendapatkan haknya. Belajar. Gelak tawa pecah ketika mobil yang kami tumpangi mulai bergerak. Rencana dengan uang itu pun mulai terangan-angan. “Nanti aku akan bayar uang kuliah. Biar orangtuaku bisa bernapas lega untuk sementara waktu.” Celetuk Arif. Guru yang masih kuliah itu. “Aku akan beli note book. Cukup tidak ya?” Ucap Evi dengan penuh antusias. “Kalau aku ingin buat bayar hutang. Sisanya ditabung buat persediaan.” Pak Joko ikut nimbrung. “Kalau pak Abdul mau diapakan uangnya?” Suara Pak Dzakri menyentakku. “Hm… mau dibuat apa saja.” Aku menjawab sekenanya. Tidak enak kalau membeberkan kebutuhan rumah tangga kepada orang lain. Tapi yang jelas beberapa rencana mau dikemanakan uang itu, sudah tercetak jelas di kepalaku.

Sesampai di tempat tujuan, orang-orang sudah berjubel. Mereka berebut formulir dan tempat untuk menulis data-data yang diperlukan. Setengah jam kemudian, aku dan teman-teman berhasil melepaskan diri dari kerumunan. Aku dan teman-teman menuju lantai dua untuk menyerahkan formulir yang telah terisi. Setelah menyerahkannya, baru kita dapat kartu rekening dan ATM.

Di dalam ruangan ada tiga meja dan beberapa pegawai bank sudah menunggu. Tanpa pikir panjang aku menyerahkan formulirku sesuai nomor. Aku meletakkannya di meja nomor tiga. Entah apa sebabnya, sebagian teman-teman yang lain salah meletakkan formulir. Alhasil, ketegangan sedikit terjadi. Apalagi formulir yang sudah diletakkan tidak bisa diambil lagi. “Mohon bapak dan ibu guru sekalian untuk antri, saya yakin bapak dan ibu guru sekalian sering menyuruh anak didiknya untuk selalu membudayakan antri. Kalau bapak ibu tidak bisa antri, layanan akan kami hentikan.” Seorang pegawai bank berdiri sambil memegang microphone. Mukaku sedikit panas mendengar kata-katanya. Harga diri guru seakan hanya seharga uang tunjangan fungsional yang belum tentu cair. “Apakah semua orang akan seperti ini kalau sudah mempunyai uang dan kekuasaan, tidak pernah pernah perduli harga diri orang lain?” Aku membatin sambil menekan dada.

Pukul satu siang aku dan teman-teman pulang. “Besok ATMnya sudah aktif.” Kata-kata pegawai bank terngiang kembali. Aku tersenyum. Wajah ceria istriku dan Andin terbayang jelas. “Semoga bisa meringankan beban dan bisa mengembalikan kepercayaanmu ke negeri ini. Tidak semua pejabat berhati hitam pekat” Batinku. “Lain kali coba jangan sembarangan dan jangan cengengesan!” suara pak Jamal mengagetkanku. Guru senior yang agak disegani oleh teman-teman guru lain. Aku tidak mengerti arah pembicaraannya. “Nomor tiga diletakkan di meja nomor satu. Tidak beres.” Ucapnya lagi sambil bersungut-sungut. “Maaf pak, saya kira bisa diletakkan di mana saja tadi.” Jawab pak Syamsuri sambil tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa. Setelah mendengar pak Syamsuri menjawab, aku mulai paham arah pembicaraan pak Jamal. “Ternyata kesalahan tadi belum selesai. Kenapa orang-orang negeri ini senang membesar-besarkan hal-hal kecil?” Pikirku.

Aku langsung pulang ke rumah. Istriku dan Andin menungguku, mereka duduk di atas kursi plastik hijau seperti biasa. Andin berhambur lari ke arahku setelah melihatku. “Ayaah..” teriak Andin. Aku sambut permata hatiku jatuh kepelukanku. “Aku dan ibu sudah tadi menunggu kedatangan ayah. Ibu bilang ayah akan segera membelikan aku seragam sekolah. Benar yah?” Kudaratkan ciuman di keningnya. “Benar. Andin tidak tidur siang?” Tanyaku lembut. Andin menggeleng sebagai jawabannya. “Bagaimana Mas?” tanya istriku tidak sabar. “Akan mas check besok.” Jawabku sambil memberikan kartu rekening sekaligus ATMnya. Esok hari terasa begitu lama menjemputku.

Sesuai dengan rencana, setelah pulang sekolah aku pergi ke ATM terdekat. Tanpa dinyana, aku bertemu teman-teman kecuali Evi. Melihat wajah mereka, aku bingung menafsirkan ekspresi wajah mereka. Ketika mereka melihatku keluar dari ATM, mereka lantas tersenyum. “Bagaimana pak?” Pak Dzakri menghampiriku sambil tersenyum. “Uangnya belum masuk pak.” Jawabku sedikit kecewa. Bayangan Andin dan istriku mulai berkelebat. Aku bingung alasan apa yang akan aku berikan kepada mereka. “Mungkin besok atau minggu depan sudah bisa dicairkan.” Pak Rizqy menenangkanku. “Semoga saja pak.” Jawabku sambil tersenyum hambar. Aku menunggu satu hari, satu minggu dan hampir satu bulan. Aku sudah berkali-kali pergi ke ATM terdekat bahkan ke bank kota. Kegiatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku juga sudah tidak punya alasan dan janji lagi untuk menenangkan Andin. Aku pernah optimis, karena teman-temanku yang S1 hanya butuh satu hari untuk bisa menikmati uang tersebut. Teman-teman non S1 di daerah lain juga sering membesarkan hatiku. “Hanya tinggal menunggu waktu saja pak, tidak mungkin mereka memakan jatah kita yang sedikit.” Ucapnya sambil bergurau. Beberapa kali aku bertanya kepada sekolah namun jawabannya masih tetap sama. “Sabar pak! Semoga dalam waktu dekat ini sudah cair.” Sudah berkali-kali aku mengamini, tapi sampai hari ini belum terpenuhi. Teman-teman yang lain tidak jauh berbeda dengan keadaanku. Gusar dan kecewa. “Mungkin seperti ini ya nasib orang kecil. Kebutuhan orang kecil tidak begitu penting namun kesalahan orang kecil meskipun menjadi besar.” Ucap pak Dzakri dengan nada kecewa.

Kemarin, seorang teman megabariku melalui SMS bahwa tunjangan fungsional tahun ini hangus. Ia tahu dari Koran. Sekitar dua ribu orang yang bernasib sama denganku katanya. Pada hakekatnya bukan hanya dua ribu, istri dan anak-anak mereka menambah jumlah mereka. Sekarang bukan hanya uangnya yang hangus menjadi arang tapi harapan dan kepercayaan juga. Semoga semangat dan keikhlasan dua ribu guru, termasuk aku tidak ikut hangus dan menjadi arang.

Cerpen Karangan: Ferry Jo
Facebook: Ferry Jo

Cerpen Arang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Hayat Sang Honorer

Oleh:
Suasana pagi itu tak seperti biasanya, rumah yang sepi kini mendadak menjadi ramai. Banyak mobil-mobil mewah yang hilir mudik ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari ayaman bambu. Tak

Satu Dari Seratus Mimpi

Oleh:
Seseorang membuka pintu kamar dengan lembutnya, tetap saja pintu tua itu mengeluarkan suara pelan “krekettt”. Udara Yang mulai menusuk tulang membuatku berlindung di bawah selimut. “Lenari-chan apa kau Sudah

Sepucuk Kata Unuk Suamiku

Oleh:
Kukatakan sekali lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Jangan pernah lagi pulang malam malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Adakah di dunia ini yang hidupnya hanya menghabiskan waktu

Tempe Goreng

Oleh:
Hah? Di mana aku? Kukerdipkan mataku beberapa kali, berusaha memulihkan kesadaranku. Oh, aku baru ingat, aku sedang berada di asrama. Mimpi barusan benar benar terasa nyata, membuatku sempat lupa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *