Aroma Balasan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

Perawakan tinggi langsing dengan rambut ikal sebahu sukses membuat kaum adam terpikat. Paras wajah yang cantik meski tanpa ada taburan bedak menjadi nilai tambah. Memiliki tampilan menarik adalah satu kebanggaan tersendiri untuknya. Weza seorang wanita perantauan yang mengadu nasib di Ibu Kota. Bak miliarder, segala barang mewah ia miliki. Rumah besar beserta perabotan dan beberapa koleksi benda bernilai ratusan juta rupiah berjejer hiasi lemari kaca.
Kemolekan tubuh yang ia miliki menjadi aset utama untuk menujang pekerjaan yang ia rasa nyaman. Cita-cita menjadi seorang model tercapai dengan mudah. Namun, Weza bukan tipe orang yang mudah puas. Selalu haus akan harta sehingga membuatnya kalap. Ia rela melakukan apapun demi mendapatkan rupiah. Menjadi pelayan café yang mengharuskannya pulang pagi pun ia lakoni. Dunia malam seolah menjadi siang untuknya. Tak peduli gunjingan tetangga, ia terus berburu kekayaan. Yang dulunya hanya bisa ngekost di kampung kumuh, berpindah ke appartement dan sampai rumah mewah yang sekarang ia miliki belum juga cukup memuaskan hasratnya akan harta.

Weza sangat menyukai keharuman. Kegemaran mengoleksi parfum dengan merk ternama membuatnya bangga. Bahkan ada sepetak ruangan yang khusus untuk menaruh ratusan parfum yang ia beli dari luar negeri. Hidup bergelimang harta menjadikan ia merasa mulia. Dengan begitu, ia selalu memandang orang lain rendah. Tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Menganggap orang lain seperti robot. Menyuruh tanpa meminta tolong. Sangat berbanding terbalik dengan sifat dan sikapnya sebelum ia menjadi seperti sekarang ini. Harta adalah segalanya. Mindset keliru itulah yang menjadikan pribadi Weza berubah. Semua hal di dunia ini bisa dengan mudah ia taklukan dengan adanya uang. Termasuk perasaan. Ia tidak percaya dengan adanya ketulusan.

Wewangian yang tercium dari tubuhnya menjadikan ia percaya diri. Keakraban dengan dunia malam membuatnya tenang. Seakan ia bisa melakukan apa saja di malam hari tanpa orang lain mengetahui. Dan benar ia melakukan hal itu. Bersama pria muda yang sering ia temui di café tempatnya bekerja, membuat Weza tertarik. Tubuh bak binaragawan dengan aroma harum berhasil membuatnya luluh. Pria itu meminta Weza untuk menemaninya malam ini. Tak mau melewatkan kesempatan, Weza pun segera mengiyakan ajakan pria itu.

Terbangun dari tidurnya, ia tidak lagi melihat sosok pria yang tidur bersamanya. Hanya selimut yang membalut tubuh seksinya itu. Baju, botol minuman keras dan putung bekas rok*k berserakan di lantai. Kepalanya terasa berat, sejenak ia tidur kembali berharap sakit kepalanya hilang ketika bangun. Deringan headphone membangunkan tidurnya. Pesan singkat masuk dan segera ia membacanya, “terima kasih atas kenikmatan bersamamu semalam. Amplop di atas meja itu sebagai bentuk rasa kekagumanku padamu”. Setumpuk uang ratusan ribu rupiah pria itu tinggalkan untuknya.

Berbekal tubuh ia bisa dengan mudah mendapatkan uang. Pikiran busuk mulai meracuninya. Kini, ia mulai beralih profesi sebagai pemuas kebringasan pria berhidung belang. Bahkan ia bangga dengan profesi barunya ini. Dengan cepat, namanya pun melejit sampai ke luar negeri. Bisa terkenal ke mancanegara membuatnya besar kepala dan lupa segalanya. Ia tak menyadari kalau ia sudah terjerumus ke dalam lubang hitam duniawi. Yang terpenting hanyalah harta. Demi hartalah ia rela menjual tubuhnya. Bukan lagi dikenal sebagai model professional, sekarang predikat itu berubah menjadi si wanita jal*ng. Betapa tidak berharganya ia di mata siapapun. Atau mungkin harganya sebatas lembaran rupiah. Sungguh memalukan. Saat tengah malam ketika ia sibuk menjajakan dirinya, berita atas terbakarnya rumah beserta seluruh harta pun mencuat. Segera ia pulang dan mendapati istananya hangus dan dikerumuni banyak orang termasuk petugas pemadam kebakaran.

Si jago merah melalap semua harta yang selama ini selalu ia banggakan. Tidak ada lagi rumah besar dan barang-barang mewah. Hanya tersisa parfum koleksinya dan beberapa barang yang kebetulan ia bawa. Masih ada rupiah yang tersisa di tabungannya. Langsung ia ambil tunai dan menarik habis uangnya di bank. Kini ia hanya tinggal sepetak rumah di perkampungan kumuh pinggir sugai. Satu per satu petugas berwajib memutus aliran listrik dan saluran air. Bahkan sering kali ia menangis menahan lapar.

Kehidupan yang ia jalani sekarang jauh dari kata mewah bahkan bisa dibilang tidak layak. Tubuh seksi yang selalu dibanggakannya pun semakin kurus tak terurus seiring waktu. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Memanglah, penyesalan selalu datang terlambat meski pada awalnya diri membatasi. Namun tetap saja nafsu duniawi sebagai pengendali. Gunjingan tetangga tak kunjung reda justru malah meluas merajalela. Bibir tak mampu menyangkal. Tangan tak mampu menggapai. Biarkan saja semua melanda. Nurani yang dulunya hilang entah kemana, sekarang baru saja kurasa akan kehadirannya. Harta kini tiada harganya. Semua telah sirnah. Rupiah pun seakan berlari meniggalkan dunia yang fana.

“Ibu. Ayah. Dimana mereka berada? Bagaimana keadaan mereka?” Ucapku merintih. Sama sekali tiada orang peduli. Penyesalan yang sangat amat dalam kini kualami. Bak film maksiat yang sedang kulihat. Semua perbuatanku seolah kembali nyata dalam mimpiku. Detak jantungku berdegup kencang. Ketakutanku semakin menjadi. Air mata seolah menjadi bukti akan semua penyesalan ini. Hidupku seakan tiada arti. Siapapun tolong cabut duri di hati. Sakit. Kesakitan sangat hebat kurasakan. Turuti kata hati ingin sekali ku teriak. Apadaya tubuh yang ringkih tak lagi sanggup lakukan inginku sendiri.

Terasa sangat berat mata untuk terbuka. Dari dalam perut mulai terdengar suara. Tiada lagi makanan untukku hari ini. Tangan hanya mampu merayuh segenggam tanah. Demi memperpanjang usia, yang seharusnya diinjak, kini kujadikan ganjalan tenggorokan. Entah bagaimana rasanya aku pun tak peduli. Entah sampai kapan ku harus begini untuk melewati hari-hari. Tulang belakangku terasa kaku. Badanku seketika menggigil. Hujan yang begitu deras menetes dari sela atap yang rusak. Genangan air merendam seebagian dari tubuhku. Jangankan untuk mengungsi, Berdiripun ku tak bisa lagi.

Tercium aroma aneh yang sangat menyengat membuat tetangga mendatangi kediaman Weza. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat kondisi mayat Weza yang kotor, berbau busuk dan dipenuhi lalat. Basahan air hujan beberapa hari lalu membuat Weza tak lagi mampu mempertahankan hidupnya. Meski rela memakan tanah hanya untuk menambah usia. Melihat tubuhnya mati mengenaskan membuatnya menangis. Aroma harum yang dulu ia sukai sekarang berubah menjadi aroma busuk. Sudah terlambat untuknya menyesal, tiba waktunya mempertanggungjawabkan semua di alam yang berbeda.

Cerpen Karangan: Risa C A

Cerpen Aroma Balasan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adinda dan Pada Akhirnya

Oleh:
Gadis itu tak berdaya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Adinda dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter kandungan. Awalnya ia tidak percaya saat melihat hasil tespeknya bergaris

Cerita Mas Danu

Oleh:
“Udah dapet belum yang di cari. Hampir sore ntar dicariin ayah di rumah!” kataku sembari menepuk bahu seorang anak laki-laki disampingku. Aku melihat ke seberang rak buku. Anak perempuan

Sephia

Oleh:
Sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati. Menjadi

Putri Ku

Oleh:
Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya dan sinarnya berusaha menyapaku melalui celah-celah dedaunan di atasku. Aku masih terpaku sambil terus memandangi nisan itu. Tulisan di batu nisan itu memang

Lima Belas Juni

Oleh:
Kasih… Atas nama cinta, aku akan menahan himpitan kemiskinan dan kepedihan derita, serta kehampaan yang terasa dalam perpisahan. Atas nama cinta, aku akan tetap berdiri kokoh laksana batu karang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aroma Balasan”

Leave a Reply to Pradipta Alamsah Reksaputra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *