Atas Nama Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 March 2017

Malam pilu mengikat, di antara lorong jalan setapak langkahnya merancu memulai Bismilah dari depan pintu rumah, mendorong gerobak tua berisi sekoteng yang ia tawarkan lewat bunyi gelas di depan gagang pegangan gerobak. Berharap ada banyak badan yang mencari kehangatan pengganti secangkir kopinya malam ini. Dengan begitu, setidaknya ada receh demi receh yang bisa dia ucap sebagai Alhamdulilah. Tugasku tiap malam adalah meringankan beban ayahku walau hanya sekedar memotong dadu roti tawar dan mencuci jahe yang aku beli di pasar pagi tadi. Ditemani lampu kuning yang mulai pudar benderang, tak lupa kusiapkan teh manis di cangkir seng bercorak hijau loreng putih kegemarannya. Ayah selalu pulang larut malam kala aku sudah terlelap tidur, berapapun jumlah rupiah yang ada di laci gerobak Ayah selalu katakan itu semua sebagai nikmat yang tidak boleh dihujat.

Namaku Andini, aku memang hanya berdua dengan Ayah menempati dua petak rumah sederhana ini, oh tidak maksudku bertiga dengan bimbim kucing kampung yang setia menemani malam-malamku agar tak sunyi. Semenjak musibah kebakaran yang menghanguskan baju-baju yang semestinya ayah jajakan, keberadaan ibu tidak pernah kami ketahui lagi, ia memutuskan pergi meninggalkan suami dan anaknya, mengucapkan salam perpisahan penuh cacian yang tertulis dengan tinta hitam pada selembar kertas di atas meja. Semenjak itu pula kehidupan keluarga kami berubah, yang aku tahu Ayah sempat putus asa dibuatnya, keadaan seolah mencekam relung batin dan jiwanya. Pernah kujumpai seutas tali yang menggantung pada sela kayu di atap kamar mandi, ayah berdiri di atas bangku plastik berwarna biru tua dan siap mengalungkan tali yang menggantung ke lehernya. Syukur kuucapakan karana aku lebih dahulu menghampiri, menahan niat bunuh diri ayahku dengan raungan tangis anak yang sangat mencintainya ini, memberikan pilihan padanya untuk tetap bertahan atau aku ikut mati mengenaskan bersamanya. Tangis haru kami pecah, ia menurunkan kaki dari bangku itu dan memeluk tubuhku, berjanji akan memulai kehidupan baru kami.

Malam itu saat kami tengah duduk bersama menikmati pisang rebus, ayah teringat kala dahulu ia sering membantu kakek mengolah si pedas jahe menjadi minuman hangat yang cukup diminati. Dan dari saat itu pula lah ayah mencoba mempraktekan apa yang ia pelajari dulu sebagai mata pencarian penyambung hidup kami. Selalu sebelum pukul tujuh tiba yang mengharuskanku menuntut ilmu di sekolah tak pernah absen kucium kening ayah yang tertidur setelah mengimami subuhku setiap pagi. Tak jarang jika teringat niat ayah mengakhiri hidup waktu itu airmataku jatuh membasahi pipi, aku tidak mau sendirian menjalani hari.

Kini setelah dua tahun berlalu, gerobak tua itu sudah menjadi milik ayah, jadi tidak perlu lagi membayar sewanya tiap bulan. kehidupan kami sedikit demi sedikit menjauhi kata haru, menuliskan cerita baru meski tanpa sosok seorang istri dan ibu. Lelaki perkasa dan terhebat versiku, aku sungguh mencintainya. Ayah selalu meminta maaf atas keputusasaannya terdahulu, bagiku sungguh indah bisa menjumpai ayah kala aku membuka mata. ‘Hidup memang proses belajar, Jatuh itu perlu agar kita tau nikmatnya hasil dari kata kebangkitan’ begitu nasihat ayah selesai berjamaah subuh tadi.

Seperti biasa, kala malam mulai menjelang gerobak ayah sudah lengkap berisikan panci besar dengan air jahe olahannya. Berpamitan dengan anak semata wayangnya dan siap mendorong gerobak dari kampung ke kampung demi menghasilkan rupiah.

Dari depan pintu ku lihat langkah ayah perlahan mulai menjauh, semakin jauh dan terakhir hanya terdengar suara gelas yang dia bunyikan lewat sendok yang ia genggam. Malam ini sudah ku niatkan memecahkan si ayam jago berisikan recehan uang jajan yang Ayah berikan.
“braaaak..” bunyi pecahan tanah liat berserakan, ditemani si bimbim ku hitung lembar demi lembar patimura, serta logaman lima ratusan. Sudah hampir tiga bulan rupiah ini aku kumpulkan, semula untuk membeli sepatu sekolahku yang sudah penuh dengan jahitan sol, namun niatku berubah karena bentuk kecintaanku pada Ayah. Tidak banyak jumlahnya, kurang dari seratus lima puluh ribu. Kubelikan cat warna agar gerobak tuanya terlihat lebih menarik.

Kugoreskan kuas cat sedikit demi sedikit, menutup warna yang telah lusuh. Semaksimal mungkin kuarahkan jemari ke kanan dan kiri. Berharap ketika ayah terbangun nanti cat telah kering melekat pada kayu. Mungkin sekarang hanya lewat hal sederhana seperti ini aku bisa menujukan baktiku padamu, bentuk hormatku padamu, dan tunduk cintaku padamu Ayah. Kuyakin setiap jengkal doamu selalu terselip namaku, dan kelak suatu saat nanti akan kubuktikan baktiku dengan lebih baik, aku bersumpah atas namamu, Ayah.

Cerpen Karangan: Uswatun Hasanah
Facebook: facebook.com/uswatun.hasanah.503092

Cerpen Atas Nama Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nasihat Ayah

Oleh:
Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di

Ayah Atau Pacar

Oleh:
Nama gue Tyas, tahun ini usia gue 23 tahun. Gue kuliah jurusan hukum semester 7. Tadi waktu di kampus, dosen ngasih tugas ke kami untuk membuat sebuah makalah tentang

Berbagi Peran

Oleh:
“AAAHHH!” jeritku membahana, tak mampu lagi menahan rasa sakit ini, “SUSTER! SUSTER! Gak kuaaattt.” Seorang perawat bertampang datar menghampiriku, “Sabar ya, Bu. Dokternya belum datang.. Ibu atur napasnya ya.”

Karena Mimpi

Oleh:
Namaku Erlita Sabrina, panggil saja Erlita. Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang sangat menyebalkan, Reno namanya. Besok adalah hari kamis, malam ini aku serius menggambar karena PR menggambarku belum

Bersama Hujan

Oleh:
Hujan turun membasahi jendela kamarku, berembun sejak butiran pertama. Aku tersenyum melihat ada segerombolan anak kecil bermain sepeda. Seperti itu aku yang dulu. Polos, yang hanya tahu bermain dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *