Awan dan Kematian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 17 June 2013

“Kita tak berhak menilai apakah seseorang itu baik atau buruk,” ujar pria tua itu padaku suatu hari.

“Meskipun ada tanda-tanda yang memberi petunjuk?” tanyaku lagi.

Ia tersenyum dan memandangiku lama sehingga membuatku sedikit canggung dan menunduk karena segan padanya.

“Tanda-tanda seperti apa?” tanyanya. Aku tak menjawab dan malah membenamkan wajahku semakin dalam sambil terus memijiti kaki kurusnya.

Warga kampungku heboh. Pagi tadi, seorang warga yang pernah jadi pejabat ditemukan tewas di apartemen miliknya di ibukota. Entah apa alasannya, aku tak mau tahu. Reputasinya sebagai pejabat yang pernah mendekam dua tahun di penjara karena kasus korupsi membuat banyak warga malah mensyukuri kematiannya. Tak satu pun menampakkan raut kesedihan di wajahnya. Awalnya, para warga menolak mantan koruptor tersebut dikuburkan di kampung kami. Alasannya sederhana: takut bawa sial. Tapi, karena penjelasan pria tua itu mereka mengalah.

Rumah pejabat yang agreng tersebut sepi. Di samping para pemburu berita, hanya kerabat dan relasinya yang berpakaian serba hitam terlihat hilir mudik dan turun dari mobil-mobil mewah mengkilap yang dijejerkan di pekarangan rumah bak istana tersebut. Mereka pun tampaknya sekedar singgah karena tidak sampai lima menit masing-masing sudah menghampiri mobilnya lagi dan meluncur kembali ke ibukota. Meski pintu gerbang terbuka lebar, hanya satu dua warga kampung yang datang, dan itu pun mungkin karena keluarganya bekerja pada keluarga pejabat tersebut. Yang kulakukan hanya seperti ini, berdiri mematung di depan gerbang istana sang pejabat.

Siang hari, iring-iringan kecil jenazah itu bergerak menuju pekuburan. Aku berjalan di belakang. Rupanya ada yang merasa janggal dengan cuaca hari itu. Seseorang melihat langit dan memperhatikan ada yang aneh dengan awan. Segumpal awan teduh mengiringi rombongan pengantar jenazah, padahal di sisi lain matahari sedang terik-teriknya.

“Mayitnya dipayungi awan,” bisik salah seorang lelaki yang berjalan di depanku.

Entah bagaimana caranya kalimat tersebut seketika menyebar ke seluruh penjuru kampung. Warga kampung yang tadinya menutup rapat-rapat pintu rumah mereka kini malah keluar mengikuti iring-iringan jenazah dan terpesona memandangi gerak awan teduh yang ganjil itu. Saat jenazah tiba dan berhenti di pemakaman, awan tersebut juga tetap di sana, tidak bergeser sedikit pun.

ADVERTISEMENT

Pandangan warga kampung terhadap si mayit perlahan mulai berubah. Ada yang beranggapan mungkin saja si mayit adalah orang yang jujur dan ia dulu hanya menjadi korban yang di tuduh sebagai koruptor. Masing-masing mulai memiliki keyakinan seperti itu, terlebih lagi seminggu sebelumnya mereka menonton TV dan menyaksikan berita mengenai meninggalnya seorang ulama besar negeri ini. Kealiman sang ulama telah diakui oleh seantero warga tanah air, bahkan ribuan pelayat memadati jalanan utama ibukota untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.

Saat itu peristiwa ganjil yang sedang mereka alami sekarang ini terjadi. Ada yang bilang bahwa di saat jenazah sang ulama diturunkan ke liang lahat, awan di langit berubah wujud menjadi sosok manusia yang menengadahkan kedua tangannya. Sontak saja media segera menyiarkannya dan menerjemahkan perilaku awan tersebut dengan kalimat yang dramatis seperti berikut: “Awan pun turut mendoakan Almarhum Ustaz Badruddin”; “Doa awan untuk sang ulama”; dll.

Setelah adanya isyarat dari awan itu, para warga berbondong-bondong memenuhi undangan tahlilan pada malam harinya di rumah pejabat mantan koruptor itu. Ah, bukan. Mereka tidak lagi menganggapnya sebagai seorang koruptor. Mereka sudah meyakini bahwa ia adalah orang baik dan di sayang Tuhan. Buktinya, awan pun Dia perintahkan buat memayungi prosesi pemakaman si pejabat. Itu adalah sebuah peristiwa langka. Tentu saja, sebagaimana berita kematian Ustaz Ibukota lalu, media pun tak mau melewatkan hal ini. Keesokan harinya, headline media massa dari yang lokal hingga nasional hanya terfokus pada satu tema: sang pejabat dan awan teduh yang memayungi kuburannya.

Waktu terus berlalu, namun kematian pejabat dan awan teduhnya masih tetap jadi topik hangat obrolan warga kampungku dan tak pernah bosan untuk diceritakan oleh para ibu saat mencuci baju di sungai atau ketika mengerubungi tukang sayur. Begitu pula halnya bapak-bapak dan anak-anak muda yang setiap malam asyik bercengkerama di warung kopi atau di pos ronda mendadak menyanjung-nyanjung sang pejabat. Awan dan kematian; keduanya seolah memiliki ikatan kuat yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan warga kampungku bahkan mereka jadikan dongeng untuk anak-anak mereka menjelang tidur.

Beberapa lama setelah kematian sang pejabat, kiai sepuh di kampungku yang usianya mencapai satu seperempat abad dan memiliki banyak santri jatuh sakit hingga mengembuskan nafas terakhirnya. Para warga percaya bahwa awan di langit akan berwujud sesuatu yang indah seperti saat meninggalnya ustaz ibukota dan si pejabat dulu. Tatapan mata mereka terus terpaku pada langit sejak iring-iringan jenazah yang berjibun menapakkan langkah mereka hingga sampai di pekuburan. Mereka terus menunggu dan berharap melihat awan berdoa, bersujud, mengukir lafaz Tuhan, atau membentuk sayap bidadari seperti dalam dongeng. Ah, benarkah itu semua nyata? Mengapa tak pernah dapat kubedakan sendiri mana awan yang berbentuk musang, pulau, atau manusia? Namun, tak ada yang istimewa dengan awan di langit senja itu. Kekecewaan tampak di wajah mereka, bahkan mulai terdengar bisik-bisik yang meragukan kesalehan sang kiai. Ketika mereka berbalik untuk melangkah pulang, seseorang berseru, “Lihaaat! Awannyaaa… awannyaaa…!”

Para pelayat tanpa di komando membuang tatapan mereka ke langit, begitu pula aku. Ketakutan seketika melanda mereka dan masing-masing segera berlarian pulang dan menutup pintu serta jendela rumahnya. Sedangkan aku? Tak sedikit pun aku beranjak dari posisiku. Mataku mengerjap-ngerjap melihat rupa awan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya. Awan yang berwujud makhluk bertanduk sempurna dengan taringnya dan berwarna merah menyala. Teringat lagi pertanyaanku pada pria tua itu, yang kini terbaring damai di hadapanku: “Meskipun ada tanda-tanda yang memberi petunjuk?”

Peristiwa kemarin sore masih menyisakan sepi di kampung ini. Hanya beberapa orang saja yang beraktivitas seperti biasa, seperti tukang bubur keliling dari kampung sebelah dan seorang penjaja koran yang sesekali berteriak menawarkan korannya pada orang-orang yang lewat. Kulambaikan tanganku pada tukang koran di ujung gang tak jauh dari rumahku itu. Tiga lembar seribuan kuangsurkan padanya untuk satu eksemplar koran hari ini. Mataku melotot melihat tulisan besar-besar dengan huruf merah terpampang di halaman paling depan: “Awan Iblis di Kuburan Kiai Kampung X.”

Aku menengadah ke langit dan tertawa getir. Sungguh aku tak tahu sebegitu istimewanya dirimu, awan.

Di penghujung senja, 16 Mei ‘13

Cerpen Karangan: Nurul Handayani
Facebook: http://www.facebook.com/nh.dyni
mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Cerpen Awan dan Kematian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Di Bulan November

Oleh:
Hujan amat deras mengguyur kota bandung, tak menyisakan berkas berkas pengasihan kepada penduduk yang hendak beraktivitas. Rere yang menatap butiran-butiran hujan dari jendela kamarnya menjadi pilu, sembari mendengar berita

Melesatkan Waktu

Oleh:
Kenyang rasa perutku tiba-tiba. Membaca pesan singkat abah yang berbunyi “malam ini jasmine nikah, mau ikut tidak?” Perutku yang lapar, tanganku yang cekatan memotong-motong batagor yang masih hangat itu

Cerita Dibalik Sebuah Cita-Cita

Oleh:
Bunyi kursi roda yang berderit pelan membuatku menoleh kebelakang dan tersenyum pada gadis yang duduk diatasnya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, tidak juga sakit yang mungkin sedang ia rasakan

Kembali Pulang

Oleh:
Detik-detik pemakaman dilewati secara dramatis dan terbilang menyedihkan. Sang istri yang sedang dirundung duka, harus membayar beberapa orang agar sudi menggotong jenazah suaminya menuju mushola terdekat untuk selanjutnya disholatkan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *