Ayah kami bukan kriminal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 August 2012

Kami sedang berduka. Ayah kami ditangkap polisi karena dituduh merencanakan pembunuhan. Ayah tak mungkin ada niat membunuh walau dendam sekalipun. Ayah bilang ia dijebak oleh karsiman, sang direktur perusahaan importir yang juga beraksi sebagai mafia korupsi. Karsiman dan komplotanya menjebak ayah karena takut dengan sepak terjang ayah sebagai ketua kpk baru yang cemerlang memburu koruptor-koruptor di Indonesia.

***
Pagi-pagi buta saya sudah mandi karena hari ini ayah disidang. habis selesai mandi tiba-tiba ayah menelepon dari penjara. Dengan nada yang jelas tapi terdengar buru-buru “Nak, coba kamu kekamar ayah ambil kaset di laci yang berlabel ‘rekaman 20 juni’. Bawa barang bukti itu ke persidangan ayah nanti siang. Ayah tak punya banyak waktu. Kau dan adikmu pasti bisa. jangan minta bantuan polisi kalian tau sendiri, karsiman pasti menyuap para polisi. Satu hal lagi, telpon ini pasti telah disadap, jadi berhati-hatilah.” Sebelum saya sempat bereaksi, ayah sudah menaruh gagang telepon ke sarangnya. Saya segera memanggil seluruh penghuni rumah. Mama, Triyo(adik saya), pesuruh, supir dan tukang kebun.

Seketika seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. “Tadi ayah telfon, dia bilang dia punya barang bukti buat persidangan nanti. Kaset berlabel 20 juni di laci kamar. Aku dan triyo disuruh bawa barang itu ke persidangan nanti siang”
Mama terlihat senang tapi matanya berkaca-kaca “jangan kecewakan ayah nak. Pak supir tolong antar mereka berdua ke persidangan”
saya menjawab “Nggak bisa gitu caranya mah. Ayah bilang telponnya disadap. Jadi aku yakin anak buah karsiman lagi menuju kesini buat nangkep kita semua.” “Jadi rencana kamu apa ?”, kata triyo.
“Pak slamet dan pak guntur mau bantu gak” aku langsung bertanya kepada tukang kebun dan pesuruh kami.
“Kalau demi pak artha yo wes lah” kata pak slamet. “Saya juga” kata pak guntur.
“Jadi begini rencananya …..” saya menjelaskan, mereka semua paham. Sekarang tinggal eksekusinya.

Pak Slamet dan pak Guntur telah memakai pakaian saya. kemeja lengan panjang, celana jeans dilengkapi dengan sepatu sporty yang lumayan sempit di kaki mereka. ya, mereka berdua akan menyamar menjadi saya dan triyo.
“para preman itu udah kepung rumah kita” kata triyo sambil mengintip dari jendela. Jumlah mereka 1 peleton, jelas sekali mereka menunggu kami keluar. “ambil posisi masing-masing” sayapun segera mengambil kaset rekaman itu. Triyo memesan taksi melalui telepon. Pak slamet dan pak guntur telah siap dengan motor ninja punya saya. “semoga berhasil nak” pak guntur menepuk pundak saya. saya mengiyakan “bapak juga ya”.

Pak guntur dan pak slamet akhirnya menyalakan mesin motor dan keluar melalui pintu pagar samping. sontak para preman melihat mereka dan langsung mengejar. mereka dengan mudahnya terkecoh. akhirnya, didepan rumah kami tak terlihat satupun preman. Suara knalpot motor yang gaduh karena kejar-kejaran juga sudah tak terdengar. Tak lama kemudian, taksi yang sudah dipesan akhirnya datang. saya dan Triyo bergegas ke pengadilan. sementara itu mama dan pak supir mangamankan diri ke rumah Bu’de dengan mobil pribadi.

***
Ditengah perjalanan saya mendapat telepon dari sang penyamar, Pak slamet dan pak guntur. “halo”
“halo mas ardit, maaf mas kami tadi tertangkap tapi untungnya ndak sampai babak belur. Mereka maksa nanya mas ardit dan mas triyo kabur naik apa. terpaksa bapak kasih tau”
“oh nggak papa pak. makasih infonya”
“ya mas”
setelah telepon itu, saya memrintahkan supir taksi supaya memutar ke jalan lain. Triyo yang tak mengerti situasinya asal saja memaki-maki saya. “aduh ngapain sih lu bang nyuruh muter-muter segala. bisa telat ini.” saya menjawab “tadi pak slamet sama pak guntur telpon, mereka terpaksa kasih tau lokasi itu.” Triyo kaget “kok bisa gitu???” “udahlah yang penting kita sampe ke pengadilan” triyo mengiyakan “terus rencana lu gimana?”

setelah memutar ke jalan lain, kami berhenti di jalan yang cukup sepi. kami turun, dan saya menyuruh Triyo memesan taksi lain yang warna mobilnya beda. perjalanan kami cukup mulus walaupun melewati jalanan jakarta yang semrawut.

***
Pengadilan sudah ramai dengan wartawan dan beberapa massa. tiba-tiba triyo bicara “pak di depan situ ada mobil TV Two, kita turun disitu aja.” “ada apa yo?” tanyaku.
“emang lu nggak sadar ya? liat tuh, ada ormas yang badanya kekar-kekar, lu pikir mereka asli dari ormas? pasti itu preman yang menyamar.”
“Terus mau ngapain ke mobil TV Two?”
“kita bujuk wartawan supaya sorot kita sampe masuk ke pengadilan, dengan gitu kan preman-preman itu nggak berani macem-macem” kali ini ide triyo memang gila. tapi walau bagaimanapun kami berdua harus kasih bukti rekaman itu ke pengacara ayah.

Sesampainya didepan Mobil satelit TV Two, Triyo dengan yakinya turun dari mobil lalu menghampiri para wartawan itu. Saya bahkan belum turun dari mobil, entah apa yang dikatakan triyo tau-tau para wartawan sudah siap dengan kameranya. Saya dan Triyo seperti artis dadakan. Mereka menyorot kami sampai masuk ke pengadilan.

Sampai masuk di pengadilan Triyo berbisik ke saya “bang, lu kasih kasetnya ke ayah, gua tahan tahan wartawan dulu disini”. entah apa rencana dia, saya mengiyakan saja. sampailah saya ke depan barisan ruang sidang. kaset itu telah diterima oleh pengacara ayah. Kaset itu kemudian diperdengarkan. Karsiman lah yang menjebak ayah supaya memberi oleh-oleh makanan yang telah diracuni kepada direktur pt. Garuda.

***
Pukul 3 siang putusan sidang dibacakan. ayah dinyatakan tak bersalah dan dibolehkan pulang kerumah. malam ini kami berkumpul di meja makan kami berdoa dan mengucapkan syukur kepada tuhan. Baru kali ini saya merasakan kehangatan bersama keluarga. Kami juga berterimakasih kepada pak slamet dan pak guntur yang mukanya agak bonyok karena ulah preman-preman tadi.

Nama Penulis: rifky adni
Blog / Facebook: http://iniqempul.blogspot.com

Cerpen Ayah kami bukan kriminal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Danau Tinta

Oleh:
Duduk di atas rumput tebal berwarna hijau. Memandang danau yang terlihat sangat luas. Suara burung berkicau seakan sebuah melodi dalam lagu yang membuatku banyak terinspirasi. Meja kecil berada di

Jupiter dan Mars

Oleh:
Pada sore Jumaat itu Jupiter dan Mars sedang berjalan pulang dari sekolah. Saat itu mereka sangat senang sebab sekolah akan berakhir. “Akhirnya sekolah berakhir, saya sudah menunggu untuk saat

Hurt

Oleh:
Hari itu, hari yang kutunggu-tunggu. Hari yang selalu kuharapkan. Hari yang kupikir akan menjadi kenangan yang indah. Adalah awal kehancuranku. Hari itu, semua musnah. meninggalkan rasa sakit dan kehampaan.

Marwah Negeri Tanah Melayu

Oleh:
Manusia tamsilkan panas dan hujan permainkan hari suka dan duka permaianan hidup akhirnya tiada daya menentang maut, rusa mati rumput subur namun patah tumbuh hilang berganti, kayu-kayu besar-kecil terhampar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *