Bacaan Untuk Seb

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Siang sedang terik, namun Seb tak begitu terpengaruh. Ia tetap tenang duduk di atas tumpukan kardus bekas yang dijaganya sejak sejam yang lalu. Bocah sepuluh tahun itu belum sadar jika terik matahari mulai memanaskan puncak kepala. Sementara teman-teman di sekelilingnya sibuk mengumpulkan kardus dan koran bekas untuk dijual, Seb masih berkutat dengan majalah berisi tulisan yang nyaris kabur dimakan usia. Bahkan, untuk membaca pun ia harus mengeja dengan keras.

Majalah usang yang sudah tak bersampul itu ditemukannya saat memulung. Jika biasanya dia belajar membaca dari koran —dengan tulisan kecil tentang politik dan masalah perkotaan yang tak dimengertinya— kini bocah berambut cepak itu lebih nyaman membaca cerita anak-anak lengkap dengan gambar. Menekuni satu halamannya —yang berisi tidak lebih dari empat paragraf— membutuhkan waktu setengah jam baginya. Bukan saja karena kisah di dalamnya menarik untuk dibaca, tapi kesempatan menemukan majalah anak-anak yang mudah dipahami adalah sesuatu yang jarang terjadi.

“Seb! Segitu saja kardusmu? Makan apa kamu malam nanti? Ayo kita cari di gang Melati!” seru Tio dari jarak enam meter dari Seb. Laki-laki itu balas melambai sebagai isyarat mengusir bocah satu tahun lebih muda darinya itu.
“Duluan saja! Aku menyusul!” sahut Seb tanpa menoleh. “Su-da … sudah … pe-ri … Oh, sudah pergi … lagi. Sudah pergi lagi,” ucapnya terbata mengeja tulisan.

Tio menggeleng-geleng saja sembari memanggul karung. Setelah yakin semua kertas dan kardus sudah rapi dalam karung, ia pergi meninggalkan teman kecilnya di bawah pohon yang tak menaungi dengan baik. Jika si kulit hitam itu sadar dengan mentari yang menghanguskan kulit kepala, mungkin ia baru melepaskan mata dari buku. Selalu begitu jika ia menemukan bacaan yang sukses menyita perhatian.

Cerita pendek berjudul ‘Berterima Kasih Pada Tuhan’ yang sedang dieja Seb dengan susah payah itu adalah kisah seorang anak yatim piatu yang memulai kebaikan. Ketika ia membantu seorang lelaki yang menjatuhkan tumpukan kayu bakar, lelaki itu mengucapkan terima kasih. Si yatim piatu menyahut, “Berterimakasihlah pada Tuhan.” Meski dengan sedikit heran, lelaki itu menanggapi ucapan si yatim dengan senyuman

Lelaki dengan kayu bakar melanjutkan perjalanannya hingga bertemu dengan penjual bubur. Roda gerobak bubur terperosok di selokan. Tanpa diminta, lelaki itu menurunkan kayu bakar dari pundaknya demi membantu penjual bubur mengangkat gerobak dari selokan. Ucapan terima kasih diterimanya yang disahut dengan, “Berterimakasihlah pada Tuhan.”

Sama seperti lelaki kayu bakar, penjual bubur sedikit heran mendapat sahutan seperti itu. Di tengah jalan, penjual bubur bertemu dengan seorang pengemis yang kelaparan. Setelah melayani seorang pembeli, penjual bubur menyiapkan satu mangkuk untuk pengemis. Penuh rasa syukur, pengemis mengucapkan banyak terima kasih atas pemberiannya yang dijawab tenang oleh penjual bubur, “Berterimakasihlah pada Tuhan.”

Pengemis melangkah pulang ke rumahnya. Dia berpapasan dengan seorang anak yang tersandung hingga terjatuh.
“Hati-hati, Nak,” ucapnya sembari membantu berdiri.
“Terima kasih, Kek,” kata anak kecil itu dengan senyum tulus.
“Berterimakasihlah pada Tuhan.”

Anak kecil itu tak heran dengan sahutan pengemis karena dia sudah sering mengucapkan kalimat serupa. Dialah anak yatim yang pertama mengucapkan kalimat itu. Mereka berpisah dan melanjutkan aktivitas masing-masing.

Seb menutup majalahnya sambil tersenyum. Dia juga ingin seperti bocah yatim piatu dalam cerita. Tapi kebaikan apa yang bisa dimulainya kali ini? Jika ingin mengucap “Berterimakasihlah pada Tuhan”, maka seharusnya ia menolong orang lebih dulu.

Dilihatnya mentari sudah sedikit condong ke barat. Lama juga dia membaca sebuah cerita yang hanya sepanjang dua lembar. Tumpukan kardus di dekatnya pun belum setinggi lutut, padahal pengepul kertas hanya menerima hingga pukul empat sore saja. Dengan kardus sebanyak itu, uang yang diperoleh hanya cukup untuk membeli sebungkus nasi uduk saja padahal ada tiga perut yang mesti diisi.

Sedikit tergesa, anak laki-laki itu membereskan kardus dan koran-koran bekas ke dalam karung. Seingatnya, tadi Tio mengajak memulung di Gang Melati. Mungkin saat ini Tio sudah selesai menyisir tempat itu. Percuma saja jika ia menyusul pergi ke Gang Melati.

Majalah anak-anak tanpa sampul disimpan di balik kaos. Dipanggulnya karung yang tak seberapa berat di pundak kanan. Biasanya dia kuat menahan beban sekarung penuh kardus dan kertas bekas meski sesekali harus menyeretnya sepanjang jalan saat bahu terasa pegal. Tak peduli panas atau hujan, absen sehari dari kegiatan memulung, sama artinya dengan absen makan sehari untuknya dan dua adiknya.

Beberapa anak berpakaian putih merah melintas berlawanan arah dengan Seb. Mereka asyik membicarakan kelucuan seorang teman yang mendapat tugas membaca puisi di depan kelas. Anak kecil dengan karung di punggung itu menghentikan langkah, berpura-pura mengorek tempat sampah meski telinganya berusaha menguping pembicaraan. Siapa tahu salah satu dari mereka membuang buku yang sudah tak terpakai hingga Seb bisa memungutnya. Sayang, pemulung kecil itu harus menelan bulat-bulat impiannya. Sampai gerombolan itu hilang di ujung jalan, tak ada selembar kertas pun yang jatuh ke tanah dari tas warna-warni mereka. Seb mendengus dalam hati. Memangnya siapa yang mau rugi membuang buku berharga dari sekolah di tengah jalan?

Keinginan untuk sekolah seperti anak-anak sebaya yang ditemuinya saat memulung memang sempat terbesit di kepala Seb. Jika itu terjadi, ia yakin bisa membaca dengan lancar saat ini. Membaca koran dengan huruf-huruf kecil pun tak mungkin kesulitan. Mungkin pula ia akan mendapat banyak bacaan dari guru saat bersekolah. Dan mungkin dia tak akan membutuhkan bantuan Uwak Sardi untuk menghitung total hasil memulung seharian. Kabarnya, dengan bersekolah, ia juga bisa menjadi presiden. Wajahnya pasti akan muncul di koran yang biasa dipulungnya. Tio akan terkejut saat melihat wajah sahabat karibnya terpampang pada lembaran koran yang ditemukannya di tong sampah.

Seb tersenyum membayangkan semua itu. Langkahnya semakin mantap menyusuri jalanan demi memungut beberapa onggok kertas tak terpakai. Jika ia bekerja giat, ia akan punya uang untuk sekolah dan menjadi presiden. Mungkin itu sekiranya yang ada dalam benak bocah sepuluh tahun itu.

Karung di punggungnya sedikit tersentak saat Seb melompati selokan. Karung itu masih ringan, jangankan untuk sekolah, untuk mengisi perut tiga orang saja belum cukup. Sepertinya jalan untuk menjadi presiden masih jauh. Lagi-lagi, pemulung kecil berkaos longgar itu mengeluh dalam hati. Jangankan menolong orang lain untuk mendapat ucapan yang bisa dijawab dengan “Berterimakasihlah pada Tuhan” karena bahkan untuk menolong dirinya sendiri saja begitu sulit.

Matahari semakin condong ke barat. Seb mendapati gudang kardus dan kertas bekas sudah sepi. Tak nampak seorang pun di sana meski pintu gudang masih terbuka. Ia berlari kecil dengan karung di punggung yang masih cukup ringan —jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Tergesa pula ia masuk ke dalam gudang dan mencari jam dinding. Jarum kecil berada di angka empat sedang yang panjang ada di angka tiga. Apakah saat itu pukul tiga atau empat? Sepertinya pukul empat. Uwak Sardi mengatakan jam ditunjukkan oleh jarum yang pendek. Itu artinya Seb belum terlambat.

“Aku hampir pulang, Seb,” tegur seorang pria mengagetkan Seb yang sedang menekuni jam dinding.
“Aku belum terlambat, Wak,” sahut Seb menurunkan karung ke atas timbangan.
“Kamu terlambat lima belas menit,” kata Uwak Sardi sembari mengatur pemberat timbangan hingga lurus.
“Darimana Uwak tahu aku terlambat lima belas menit? Aku datang pukul empat.”
“Lihat jam itu. Jarum panjang ada di angka tiga. Itu artinya lima belas menit,” jawab Uwak Sardi tanpa menoleh. “Sepuluh ribu saja ini, Seb.”
“Jadi kalau jarum panjang di angka tiga, artinya lima belas menit, Wak?” Seb mulai memasang raut serius. “Kalau di angka empat bagaimana, Wak?”
“Dua puluh menit,” jawab Uwak Sardi.
“Kalau lima?”
“25 menit.”
“Kalau enam?”
“Seb, tambahkan lima menit setiap tambah angka!” sahut Uwak Sardi sedikit kesal tapi tak ingin memarahi bocah yang ingin belajar itu. “Nih, duitnya. Uwak tambahkan dua ribu untuk beli buku belajar membaca jam,” lanjutnya.
“Ada, Wak? Beli di mana?”
Uwak Sardi tertawa lebar sembari menjawab, “Di tempat kayak gini, Seb.”
Seb merengut sambil menyimpan uangnya di dalam saku. “Terima kasih, Wak.”
“Sama-sama,” sahut Uwak Sardi menepuk kepala Seb.
“Seharusnya Uwak menjawab ‘Berterimakasihlah pada Tuhan, Seb.’ Begitu, Wak,” ujar Seb membuat Uwak berkepala nyaris plontos itu tertawa lagi.
“Kamu baca buku apa lagi hari ini?”
“Ini, Wak,” sahut Seb cepat mengeluarkan majalah dari balik kaosnya. “Aku sudah baca banyak. Kalau ditolong orang, kita harus menjawab ‘berterimakasihlah pada Tuhan’.”

Uwak Sardi menerima bukunya lalu mencari halaman yang dimaksud anak buahnya. Ada logo ‘Bobo’ di samping nomor halaman. Bacaan yang memang ditujukan untuk anak-anak seusia Seb.

“Kamu tahu kenapa, Seb?”
“Kenapa apanya, Wak?” Seb berbalik tanya.
“Kenapa harus berterima kasih pada Tuhan?”

Seb diam sejenak lalu menggeleng. Dia hanya membaca, bukan mencari arti kenapa bisa demikian. Lagipula dia tidak bertemu dengan penulis yang membuat cerita itu. Apa pentingnya mengetahui alasan penulis menceritakan hal semacam itu?

“Uwak tahu?” Seb bertanya lagi.
“Mungkin karena semua anugerah datangnya dari Tuhan. Jadi ucapan terima kasih adalah untuk Tuhan.”

Seb manggut-manggut saja meski tak begitu paham dengan ucapan uwaknya. Menengadahkan tangan dan mengucap doa saja tak pernah, apalagi memahami hal serumit yang dikatakan Uwak Sardi. Laki-laki berusia kepala empat itu mengembalikan majalah pada Seb.

“Untung maksudnya bagus, Seb. Lain kali kalau baca, harus ditelaah dulu maknanya, jangan langsung diikuti. Kalau bermakna buruk, jangan diikuti begitu saja. Nanti kamu sendiri yang rugi,” nasehat Uwak Sardi sambil menutup pintu gudang.

Ah, kenapa perkataan Uwak Sardi rumit sekali untuk dimengerti? Seb menyimpan lagi majalah di balik kaos. Dia harus segera menuju warung Mak Niah untuk membeli makanan dengan uang hasil perolehannya hari ini. Cici dan Emi pasti sudah menunggu dengan perut lapar di rumah 3x3m yang ditinggalkan orang tuanya. Seandainya orangtuanya kembali ke rumah, mungkin ia tak perlu bekerja sekeras ini. Mungkin juga dia tak butuh bantuan Teh Dea untuk mengajarinya membaca sebulan sekali saat perempuan itu pulang dari perantauan.

Benaknya yang dipenuhi perandai-andainya terhenti saat matanya menangkap buku dengan halaman terbuka di tepi sungai. Seandainya ada angin besar, pasti benda itu sudah tercebur ke dalam air. Buru-buru Seb menyelamatkan buku penuh dengan gambar berwarna-warni itu.

“Wah, bagus! Ada gambarnya!” kata Seb kegirangan. “Bacanya di rumah saja. Sudah hampir malam,” ucapnya sambil menutup buku.

Majalah dengan sampul berlogo kepala kelinci itu disimpannya di balik kaos bersama dengan majalah Bobo yang belum khatam terbaca. Dia harus bergegas ke warung Mak Niah demi tiga bungkus nasi lauk ikan asin. Semoga Mak Niah mau menambahkan bonus lauk tambahan untuk menemani malam Seb dengan buku-buku bergambarnya yang ada di balik kaos.

Cerpen Karangan: Amarta Shandy
Facebook: @amarta.shaddy

Cerpen Bacaan Untuk Seb merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Renta

Oleh:
Tak terasa, ternyata sudah satu pekan aku berbaring di tempat tidur ini. Kaku, sakit, ngilu. Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi padaku? apa ini pertanda? tapi kapan waktunya? cepat

Tegar

Oleh:
Sinar matahari menemani langkah Echa seorang gadis yang sederhana dan selalu berprilaku santun kepada semua orang. Hidup hanya di temani Nenek yang sudah berumur hampir mencapai satu abad yang

Senja di Musim Kemanusiaan

Oleh:
Alhamdulillah, kami sebangsa senegara sedang bergembira. Gembira bukan sembarang. Kami mendapat anugerah yang membahagiakan. Jikalau kalian sebut anugerah itu berupa minyak bumi, palawija, kayu-kayuan atau hasil bumi yang lain,

Aku Juga Wanita

Oleh:
Entah berapa juta-juta kali kata-kata cemoohan dan cibiran itu keluar dari mulut setiap orang yang mengetahui keadaanya. Bahkan yang paling ekstrim ada yang sampai mengutuk dan memvonisnya sebagai penghuni

Arti Makna Kehidupan

Oleh:
Awal cerita berawal dari seorang anak yang merantau ke negri orang dimana dia dulunya adalah seorang anak yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya yang bernama JANUR. Anak ini mencari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *