Badut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 17 November 2021

Jalan-jalan kota sudah menjadi bagian hidup Andi. Sudah 3 tahun ia hanya menggantungkan hidupnya sebagai badut. Saat ini menjadi badut adalah sumber kehidupannya. Namun siapa sangka, dibalik topeng lucu badut, ada kesedihan seorang anak yang mungkin tidak diketahui oleh bannyak orang. Usianya masih menginjak 15 tahun, walaupun ia tahu anak-anak seusianya masih bersekolah, tetapi ia lebih memilih bekerja untuk bertahan hidup. Andi memanfaatkan pertigaan, perempatan bahkan perlimaan untuk tempat mencari uang. Namun sering kali Satpol PP melakukan penertiban kepada badut, pengemis dan pengamen angklung yang mengganggu ketertiban umum.

Sekitar 5 tahun lalu, orangtua Andi memiliki sebuah perusahaan besar, tapi karena ditipu oleh seorang investor nakal, maka hilanglah semua harta benda. Tak ada sepeserpun uang yang bisa diselamatkan. Ayahnya meninggal terkena serangan jantung karena syok dengan kejadian itu. Sedangkan ibunya, pergi entah kemana. Sempat ada kabar angin kalau ibunya sudah menikah dengan laki-laki kaya, namun entahlah Andi tak tahu kebenarannya sampai sekarang. Sejak saat itu juga Asyan, adik semata wayangnya menjadi seorang yang pendiam.

Siang ini, surya seperti berapi, serasa menyengat kulit. Keringat terus menetes dari tubuh, sehingga hampir membasahi kostum yang kupakai. Pandangan mata sudah lelah. Berdiri kian lamanya ditengah kepadatan kota yang sangat panas. Mataku saat ini hanya tertuju pada kantung kecil didepan. Menghitung receh demi receh yang berhasil kukumpulkan. Meskipun tidak sebanyak itu, setidaknya masih cukup untuk membeli sebungkus nasi untuk mengisi perutku dan adik. Memang benar hidup seperti roda berputar, kadang diatas, tapi juga bisa dibawah.

“Gimana, dapat banyak hari ini?” sapa budi yang juga berkerja sebagai badut.
“Lumayan bang, 20 ribu.”
“Oh iya deh, nggak pulang dulu? Itu kasian adikmu.”
“Iya bang, ini mau beli nasi bungkus dulu.”

Aku bergegas membeli sebungkus nasi, karena sudah tak tega lagi melihat wajah adik yang kelaparan. Setelah menghabiskan makanan dengan ditemani deru dan asap kendaraan bermotor, aku pulang ke rumah, rumah yang sebenarnya merupakan gubuk kecil beralaskan kardus-kardus yang jauh dari kata layak untuk ditinggali.

Keesokannya aku kembali memakai kostum badut yang menemani rutinitas tiap hari yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusiaku. Berlari kesana kemari untuk mendapatkan kepingan logam. Sembari mengawasi adikku yang duduk dipinggir jalan sendirian. Senyum adikku adalah penyemangat dalam hidupku saat ini. Mungkin jika tidak ada dia, aku sudah berputus asa dan entah hal apa yang bisa kulakukan selain menangis. Memang sulit, namun ini adalah satu-satunya cara untuk menyambung hidup. Tak ada lagi orangtua yang bisa kami andalkan untuk mencari nafkah.

Tanpa kusadari dua orang lelaki bertubuh besar sudah mengawasiku dari tadi. Mereka kemudian berjalan menghampiriku. “Heh anak kecil, sini..!” bisa kulihat tatapan matanya mengarah pada kantung kecil berisi recehan yang sedang kubawa. “Sinii!!” sambil menarik kantung yang kubawa. Dengan sekuat tenaga aku berusaha mengambilnya kembali, namun alhasil aku dipukuli hingga hidungku mengeluarkan cairan merah. Preman itu meninggalkanku di tengah bisingnya kota saat itu. Tidak ada orang yang peduli ataupun berniat untuk menolongku. Seketika aku langsung menoleh, melihat adikku yang terdiam disana. Aku segera menghampirinya. Bisa kulihat jika ia sangat khawatir, itu terlihat dari caranya menatapku yang menunjukkan ingin menanyakan kondisiku tapi tak tahu harus mengatakan apa. Raut wajahnya, lalu kubalas dengan senyuman kecil.

Aku segera kembali mencari recehan yang bisa kukumpulkan hari ini. Namun tidak ada sepeser uang pun. Seketika air mata menetes dari mataku. Kulihat wajah adikku yang lelah, letih, dan lesu seperti berharap akan sesuatu.
“Maaf ya dik, mungkin esok hari kita baru bisa makan,” ucapku sambal mengelus pipi kecilnya.
“iya,” ucapnya lirih, karena kutahu pasti sekarang ia sedang menahan rasa lapar.

Malam semakin larut, menatap bintang di langit seakan berharap ada keajaiban yang datang. Terkadang. ada banyak pertanyaan yang terlintas di benakku.
“Sampai kapan aku harus mamakai kostum badut ini?”
“Apa ini akan tetap berlanjut sampai akhir hidupku?”
Miris rasanya melihat anak-anak lain bisa bersekolah, membaca buku dan belajar tanpa memikirkan beban hidup. Tapi sudahlah karena tidak ada gunanya untuk mengeluh. Tapi lagi danlagi peristiwa itu teringat kembali, seperti terputar ulang dengan sendirinya.

Waktu itu aku dan teman-teman mengadakan pesta kecil didalam kelas. Itu membuatku teringat kembali akan kenangan-kenangan dahulu. Penuh canda tawa tanpa berencana hal itu bisa terjadi. Bahkan hal-hal yang tidak penting pun saat ini menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Dimana masa itu juga keluargaku masih berkumpul bersama. Aku terus mengusap air mata yang mengalir deras dari mataku. Namun, setidaknya itu bisa melupakanku dari rasa sakit dan lapar yang sedang kutahan.

Semburat langit senja membangunkanku. Tak sadar aku tidur begitu lama, karena rasa sakit ini. Kulihat adik berjalan melewati pintu yang sekarang ini terlihat hampir runtuh. Ia berjalan membawa kantung plastik berisi sebungkus nasi, roti, dan air minum. Aku tak membayangkan betapa susahnya ia hari ini. Awalnya aku menolak, karena tidak membantunya sama sekali. Namun, adik memaksaku.
“Kakak harus makan ini,” ucapnya dengan khawatir.

Aku hanya tersenyum. Melihat jerih payahnya hari ini membuatku tak tega untuk menatap wajah kecilnya. Aku bersyukur masih mempunyai adik sepertinya. Pengertian dan tidak pernah mengeluh atas keadaan kami yang seperti ini.

Hari-hari itu sudah terlewati, kami kembali bekerja keras seorang diri, tanpa kasih sayang orangtua. Terkadang, orang memandang kami hina. Namun masih ada orang baik juga yang memberi kami sebungkus nasi ataupun sepotong roti. Semenjak itu, aku tak pernah berhenti untuk berusaha, berharap aku dan Asyan bisa menjadi orang yang sukses. Aku juga berharap ibu yang selama ini kurindukan hadir dalam kehidupanku. Disini aku belajar bahwa hal terpenting dalam kehidupan adalah usaha dan doa, tanpa memandang kasta dan pekerjaan yang dilakukan.

Cerpen Karangan: Hanida Hafsya Tsabita
Blog / Facebook: Hanida Tsabita

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 17 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Badut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Jalanan

Oleh:
Tahu apa itu istilah anak jalanan…? Ya, kebanyakan pasti tahu. Apalagi para muda-mudi yang setiap harinya nonton RCTI tiap malam sebelum isyak. Anak Jalanan adalah sebuah drama elektronik —sinetron—

Asmara di Pantai Panjang

Oleh:
Filosof Islam tersohor bernama Ibnu Rushd bilang: “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”. Rindangnya pepohonan Erru yang tak hentinya bergoyang diterpa

Mang Ojo Terpidana

Oleh:
“Brakkk…!” suara pintu depan rumah didobrak terdengar keras. Kerumunan orang ramai terlihat di luar. Orang-orang sekampung tampak memenuhi seberang jalan itu. Semuanya dengan wajah penuh ingin tahu. Sepasukan polisi

Aku Ingin Seperti Mereka

Oleh:
Suasana kota Jakarta yang penuh dengan keramaian serta kemacetan ini membuatku semakin berpeluang untuk mendapatkan banyak kesempatan. Aku tidak seperti anak-anak seusiaku. Usia 14 tahun. Saat usia 14 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *