Bagian Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 June 2013

Kini aku memahami satu hal, ketika sesuatu yang merupakan bagian dari dalam diri itu hilang, rasanya ini hanya lelucon.. rasanya ada orang asing yang mengenalmu di suatu tempat kemudian mengambil tasmu (mencurinya) kemudian positif menyembunyikannya di suatu tempat dan akan mengembalikannya saat-saat kau merasa putus asa. Tapi itu salah dan kali ini berbeda. Awalnya apa yang aku pikirkan adalah “AKU BENAR-BENAR TOLOL”.

Pada suatu malam (Kamis, 30-Juni-2013) di salah satu wilayah kota Makassar yang termasuk pinggiran tapi tidak terbilang laut, ujung jl. Pettarani sebuah angkutan umum yang masyarakat sini sering menyapa itu pete-pete, seorang mahasiswa menyodorkan upah transportasi di depan pintu sebelah kiri supir seharga 3 ribu. Tumpukan bemor di belakangnya yang tersusun rapi menyuarakan alunan ajakan “hei.. bentor, mau kemanaki, nda mau jaki naik bentor” cukup baik menjadi tukang bentor (becak-motor) untuk keramahannya tapi tidak menurutku, dan itu sangat menganggu. Dan aku bosan mendengar itu berulangkali meski berapa kali aku harus menolaknya.

Pada dasarnya, aku pecinta jalan, berjalan kaki membuatku menyeimbangkan diri dalam ketergantungan transportasi. Aku perlu menyeimbangkan itu untuk kebutuhan yang lain, untuk perjalanan panjang di suatu provinsi luar, untuk pendakian gunung, sekaligus membatasi diri untuk tidak percaya pada perkembangan yang memaksa tempo kehidupan melaju begitu cepat. Dan menabung mungkin solusi untuk sesuatu yang lain. Dan aku memutuskan berjalan kaki menuju tempat selanjutnya (Perumahan Hartaco Indah. Daeng Tata).

Sebelumnya, sempat di dalam benak mendiskusikan itu, “Apa yang kau pikirkan untuk berjalan kaki..? bukankah kamu memiliki uang di kantong celana belakang sebanyak 50 ribu? dan harga tranportasi hanya 3 ribu! astaga.. itu perbandingan yang begitu jauh..” aku mencoba memandang hal itu berbeda, “ini bukan soal berapa uang yang mesti aku keluarkan, bukan tentang 3 ribu yang kau akan mencapku bahil!!! Ini hanya masalah waktu, waktu tak memburuku kemana pun, aku punya kedua kaki yang kuat dan hitung-hitung sudah beberapa lama aku tak melatihnya lagi, aku hanya ingin menikmati kota penuh sesak ini sebelum waktuku meninggalkannya, aku punya ide untuk menyemangati diri dengan wanita yang lalu-lalang, kerlap-kerlip lampu kendaraan dan gedung-gedung membuatku dapat memaknainya dalam bentuknya yang akan ku simpan dalam arsip lembar sejarahku.” Dan keputusannya, aku berjalan!!! dan kendaraan membuatku bosan tiap kali ingin menyebrang jalanan yang cukup luas dengan hati-hati (perlahan) seperti menjelajahi puluhan peluru yang tak henti melaju bergantian, dan aku memainkannya layaknya game tetris dalam tank panser melawan rajanya. apabila sedikit lagi kamu akan tertembak, kamu harus lari.

Perjalanan yang akhirnya tidak begitu melelahkan meskipun lapar sedang menyerang. Perjalanan yang kian ratusan meter (jl. Manuruki) membuatku kaget dengan sapaan seorang bapak berdiri di sebalah kanan sisi jalanku, “ade, ade, ade, bisa kesini sebentar (layaknya orang yang sangat butuh sesuatu dariku). Ade, disana tadi, yang depan market itu, seorang bocah SMA telah di pukul oleh (entah itu seorang atau beberapa orang) “dalam kurung ini hanya tanggapanku sekilas” lanjutnya, kamu tahu persis peristiwanya..? sanggahku cepat, tanpa menginginkan dialog itu di bangun lama dengan sosok polisi anjing dimataku, karena telah kuputuskan dari pertanyaannya dia pasti seorang intelegent. “tidak pak, saya saja baru tiba disini dengan berjalan kaki” terkahnya “trus yang di dalam tasmu itu apa..? jangan sampai kau menyembunyikan benda tajam atau semcamnya..?” ah.. itu bukan seperti apa yang bapak pikirkan.!! Di dalam tas ini hanya ada sebuah buku, pakaian dan kamera. Di tengah dialog itu, teriaknya lagi kepada seseorang yang baru saja berjalan kaki keluar dari gang “ade.. ade.. sini dulu de…!!! Ade tau kejadian yang baru-baru saja terjadi di depan market sana..? tadi seoarang anak SMA telah di pukul, dan pelakunya mungkin masih ada di sekeliling sini. Sini!! Coba saya periksa, sempat kamu menyelipkan benda tajam di dalam pakaianmu..!!! mana KTP..? kamu juga, mana KTPmu..?” aku makin penasaran dengan aksi ini, bapak ini memojokkanku dengan meminta KTP, dalam hatiku untunglah aku tak pernah membawa KTP kemanapun belakangan ini. Hp, mana hpmu..? aku mulai curiga.. sekilas terlintas kejadian 3 tahun yang lalu (2010) di serambi skretariat Unit Kegiatan Pers UNHAS. Seorang bocah pada hari minggu pagi, datang menghampiriku bersama beberapa kawan di sekitarku. Mungkin bocah itu dari tampakan fisik dia berumur ukuran SMP kelas 2. Katanya “kak.. ada anggota di sana memanggil kakak” seketika aku terkejut, anggota..? aku bingung dan bertanya ke bocah itu “anggota apa..?” kata bapak tadi “ade, sini sebentar.!!! Kamu lihat yang duduk di sana yang mengenakan jaket putih (dan itulah aku), panggil dia dan katakan aku anggota yang memanggilnya. Tapi sebelum kau memanggilnya Hp kamu mana? Sini saya pegang, karena jangan sampai kamu tidak memanggilnya dan tidak kembali kesini. Sepintas bocah itu berbalik dan melihatnya dari kejauhan sini, bapak itu sudah tidak ada lagi.

Pertanyaan tentang Handphone itu mulai membuatku gelisah tapi aku tetap berusaha relax. Beberapa menit kemudian aku memutuskan diri untuk beranjak dari tempat ini, tapi bapak itu tetap menahan dan segera menyuruh teman yang satu tadi untuk menghampiri yang katanya di belokan sana ada dua orang pemuda. Katakan padanya “pak Nur siap di posisi kata pak Ahmad” berulang kali kata itu di ucap hingga teman tersebut paham dan segera kesana. Tapi.. de.. sini dulu mana dompetmu, sini saya simpan jangan sampai kamu tidak kembali. Setelah dompet itu di simpan, bapak tersebut menawariku untuk menyimpannya, tapi aku menolak dan mengatakan “bapak sendiri yang minta, kenapa saya yang harus pegang” dengan tanggapan itu dia memutuskan untuk menyimpannya dan menambahkan “lihat ada begitu banyak uang didalamnya” aku makin gelisah. Pertanyaanku, dari mana dia mengetahui kalau uang di dalam dompet itu banyak? Tanpa lama aku berpikir, tiba-tiba pemuda yang tadi kembali datang dan mengatakan “ada dua orang pemuda di belokan sana. Tapi, aku tak sempat memberitahuanya, Karena jangan sampai aku salah orang. Timpal bapak tersebut “kenapa tidak kau Tanya?” ini dompetmu.. dan sekarang giliranku yang disuruhnya, aku memutuskan untuk menepati suruhannya sebagai makhluk sosial (mungkin terlalu naïf), sekaligus lanjut perjalananku untuk pulang ke rumah sementara. Tiba-tiba dia menahan.. tas kamu simpan saja dulu, nanti kamu tidak kembali. Aku menyanggahnya penuh candaan. Perut ini sudah keroncongan, perjalananku masih panjang dan waktu yang kau sita sudah terlalu banyak. Dan aku tetap memutuskan untuk membawa tas ini. Tapi ketetapan itu ciut bersama turunnya jelmaan wajah bersama ribuan kata yang memetikku dalam lembah tak berdaya. Aku memenuhinya segera karena ku pikir itu tak terlihat jauh. Dalam perjalananku ke belokan yang dia maksud, aku berusaha tetap menoleh ke belakang, tetap berjalan, tetap menoleh ke belakang, hingga penolehan ke empat tempat itu mulai terlihat samar, dan rasanya aku telah di bodohi.. sekonyong-konyong aku berlari tanpa peduli siap pun di sekitar “aku harus cepat.! Pasti kedua pria itu telah bekerja sama untuk membodohiku dan mengambil tasku beserta seluruh isinya. Dan itu benar.

Setiba disana aku meneriaki diri dalam hati “UH… TOLOL”. Bangsat, polisi gadungan anjing..!!! aku mulai menoleh ke kanan – ke kiri. Ku lihat sebuah motor yang terparkir bersama pengendaranya yang sejak tadi ternyata berada disitu. Dan aku yakin dia bagian dari aktor yang memerankan adegan akhir untuk menertawaiku dan melihatku tertawa dalam kebodohan tak terampuni. Tapi aku tak akan mengambil langkah yang pasif tanpa harus memikirkannya matang-matang. Tanpa basa-basi lagi tanpa berharap lebih lagi, aku memutuskan putus asa sambil tertawa, sambil berjalan, dan melupakan untuk seharusnya bergegas pulang dengan mengendarai bentor atau ojek dan memutuskan untuk menghubungi salah satu teman yang andil dalam kejadian seperti ini. Tapi ketololan itu lebih besar dan sekarang aku benar-benar tolol tanpa inisiatif yang segar untuk mengambil langkah signifikan. Perjalanan tanpa memaknainya lagi sebuah yang cukup panjang. Melainkan layaknya orang gila berjalan tanpa teman, tanpa tas, hanya terus tertawa sambil memukul kepala dan mengatai diri “TOLOL” entah ribuan kali hingga membuatku tiba di rumah.

Nah.. akulah si celana robek dengan baju biru gelap berlengan panjang dan si nasib sial karena ketololan pemakainya. tanpa menyebut siapapun aku teriak dengan batasan sambil tertawa “bagian dari diriku yang lain telah hilang, aku kini cacat karena kebodohan sendiri. Kamera dan semua berkas bersama buku Goodfather seorang teman yang baru kemarin dia meminjamkannya, satu Handphone merk Mito, tawas penghilang bau ketek, celana dan baju kotor semua telah di terima dengan baik oleh seorang penipu yang seharusnya aku tak tertipu, meskipun pada akhirnya tetaplah tertipu. Kini keberadaanku yang lain telah dimiliki orang lain. Aku sedih, entah kenapa masih saja tertawa. Mengambil segera Handphone dan menghubungi teman membuktikan pada sekelilingku aku berusaha untuk mengembalikannya kembali. Tapi aku tahu semua yang kulakukan ini hanyalah sia-sia.

Aku bukan anak nakal yang harus memotong lidah.. memotong jari para pecundang… membutakannya dengan taik yang aku memberakinya.. keinginanku hanya tenang tanpa mencari masalah.. dengan begitu telah lama kuputuskan untuk tidak begitu akrab pada setiap kenalan.. sekarang aku sial dalam niat baik membantu untuk pertama kalinya.. aku hilang, diriku yang lain hilang, aku tak lagi asik untuk di ajak, terlebih.. dari dulu jelas, orang tak pernah menengokku. Aku cacat.. orang mengasihaniku.. membiarkanku menuliskan ini. Dan aku makin tersudut dalam nama sendiri.

Cerpen Karangan: Chac Lubber
Facebook: https://www.facebook.com/chac.lubber

Cerpen Bagian Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kind Heart

Oleh:
“Kamu pikirkan lagi deh, Mes. Apa yang kamu liat dari dia? Kamu itu satu-satunya harapan keluarga kita. Kamu satu-satunya anak Ayah dan Bunda yang sukses dan punya penghasilan tetap.

Pelajaran Dari Pengemis Tua

Oleh:
Kisah dari pengalaman seorang temanku di sekolah. Waktu itu saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami diperintahkan untuk menceritakan pengalaman pribadi masing-masing apa saja terserah apa yang mau diceritakan olah kami

Rahasia di Balik Rintik Hujan

Oleh:
Langit mendung sore itu. Gumpalan abu-abu gelap seperti sudah mewanti-wanti semua yang dinaunginya bahwa sebentar lagi ia akan menumpahkan bawaannya. Eros bukannya tidak menyadari itu semua. Ia tahu jelas.

Interaksi Dengan Orang Asing

Oleh:
Interaksi selalu menjadi bagian hidup bagi seluruh kehidupan di muka bumi ini, baik itu manusia dan manusia, hewan dan hewan, atau pun manusia dan hewan, tentu saja menarik untuk

Cahaya yang Hilang (Part 1)

Oleh:
Gerbong adalah rumahku. Penumpang adalah langgananku. Tukang asongan, pengamen dan penjaga adalah teman karibku. Suara peraduan antara roda besi kereta dan rel mengawali harapan hidupku hari ini. Entah sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *