Bagong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 11 July 2020

Tersudut oleh mata-mata yang terpatri dalam sudut pandang alamiah manusia. Mataku menyipit, rambutku teracak oleh pundi-pundi udara persawahan. Kulepaskan sapi-sapiku menjelajahi padang rumput bak savana. Berlarian memburu hijaunya rerumputan. Bergoyang mengikuti irama natural rerumputan hijau yang menyamar. Aku bersandar pada teras-teras sawah dengan melodi air yang saling berbenturan dengan batu-batu kali. Ikan-ikan nampak asyik bersendau gurau dengan arus, bersembunyi diantara lubang-lubang dan batuan kali.

Tak sendiri hadirku disini, kudapati dua bocah sedang berlarian diluasnya padang rerumputan. Tersembunyikan oleh padi yang mulai merintis kehidupan barunya. Mataku tak jemu memandang. Kunikmati aliran sendu yang menyatu dengan aliran darahku. Seakan terpompa keseluruhan tubuh mungilku. Seakan kuhembuskan nafas kedamaian bak musik belantara. Di sudut lain kudapati semut yang menyapa pada alam berbaris merapat berdampingan.

Belalang bersembunyi diantara irama musik yang menerbangkan dedaunan. Bersandar disela kerimbunan syahdu ilalang yang bersyair pada alam. Tubuh mungil khas perawakan orang timuran Jawa, terkibas oleh bulir-bulir angin. Menerbangkan barisan layang-layang khas musim pancaroba. Menantikan bulir hujan memaknai hijaunya persawahan. Hingga aku terlelap, mendalami lukisan Ilahi.

Sinar Ultraviolet tidak akan bisa mengacaukan skenario mimpi buatanku. Ternaungi oleh pohon lamtoro yang tumbuh gagah pada sandaranku. Sajakku menggema pada alam yang seakan tak pernah berhenti, rima cantik tersuguhkan dalam mimpiku yang seolah kabur. Aku terkejutkan oleh siang yang merabaku, surya mulai berjalan menyilaukan mata. Skenarioku mulai kacau, aku mengumpulkan nyawa-nyawaku yang sempat hilang. Sapi-sapiku nampak begitu kenyangnya. Namun masihlah enggan untuk pulang.

Suara itu semakin menderuku, aku berlarian menghambur ke tanah lapang. Mulai mengamuk kembali, memanasi lahar yang keluar dari mulutnya. “Astaga mungkin aku akan mati.” Sapi-sapiku mulai kutuntun menjauhi. Pikiran semakin kacau. Dua bocah kecil disampingku menjiplak tindakanku, ia berlarian mengejar kakaknya yang mendahulu pergi dari zona berbahaya. Kakiku seakan mematung memasrahkan tubuhku akan digerus sang “wedhus gembel”.

“Blarr…blar…” aku menunggui letusan itu berpadu pada sinar ultraviolet yang akan menggosongkanku. Savana ini akan hancur karena ketidakbersalahannya. Mata saling mengintai penuh ambigu. Menguras Adenosin Tripospat pada aliran darah yang terpompa menuju otakku. Entah bagaimana aku mendaur ulang kata-kata yang sempat aku taburkan. Sapi-sapiku mulai berpasrah pada takdirnya. Ia hanya mampu berlari mengelilingiku. Aku ragu sekaligus mengadu.

Asap mulai menyembul kuat dari perut sang gunung api. Tersembur segala isi perutnya, baunya laksana kotoran sapi. Sudahku duga ini tak akan mengapa. Aku hanya menyuguhinya dengan bulir-bulir imajinasi konyolku. Kubuat gunung api sendiri menurut sudut pandangku. Aku menjahili senja yang mulai berangkat tidur. Anak SD sepertiku memang buntu pikiran untuk tak berbuat tak sejalan logika. Aku berlarian mengejar buih-buih percikan vulcano mountain milikku sendiri. Inilah duniaku, kuterjemahkan dalam bait syair nafas milikku. Bermain di dekatnya, kubentuk gunungan dari tanah kucampuri kotoran sapi kubakar ranting-ranting pohon didalamnya. Semua bereaksi, aku menghambur menunggunya, dunia dongengku kembali terputar terbayang imajinasi konyol memadu menyelarasi otak rata-rataku.

“Kuk.. kuk.. kuk..” burung hantu menjelma menjadi musik pengganti radio butut milikku. Emak dan bapak masih sibuk menata jerami di kandang. Aku bergoyang bersama lampu sentir. Kuciptakan bayangan-bayangan malam nan dingin. Adik-adikku masih sibuk dengan dakonnya. Sedangkan aku merindukan melodi puisi kakakku yang nomer satu. Merindukan keributan dengan kakakku yang nomer dua. Istilah itu mengintuisi batinku, terkadang aku mendamba purnama tapi sungguh aku hanyalah kolam ikan yang sebatas memberinya bayangan khas malam.

Aku bersyair pada sang purnama berselaras dengan dinginnya dekapan kegelapan. Dinding bambu terselusupi oleh rongga-rongga angin yang mendamaikan mimpiku. Beralaskan tikar tipis daun mendong buatan emakku. Terkadang aku mengintip langit yang masih nampak nyata lalu kembali menyelami otak bawah sadarku. Menciptakan skenario film bersutradarakan diriku sendiri.

“Bagaimana kita akan makan esok?”
“Sudahlah Ilahi tidak akan mengkhianati diri”

Mataku tersautkan pada pandangan kedua orangtuaku yang belum juga merajut mimpinya malam ini. Sendu kulihatnya, lantas aku benahi posisiku diantara kedua adikku. Aku mengikrari mimpi dalam bahasa berfrasa yang tertulis dengan rima selaras mengucilkan sang purnama. Aku hanya bisa mendayu dalam doa.

“Dimana dirimu yang merobek rajutan asaku?”
“Bukankah mayatnya sudah kau makan bangkainya”
“Apa aku gila?”
“Kau tak lebih dari seorang atheis yang tak berdosa”
“Apa kau gila?”

Suara itu menyelusupi gendang telingaku. Memporak-porandakan membran timfaniku. Aku mengonggok ditempat biasa. Suara itu tak henti-hentinya meneriaki imajinasi. Aku geram dibuatnya, mataku nanar mengintrogasi. Dari sudut pandang yang lain kudapati gadis kecil dengan kerudung putihnya memakiku untuk menjauh. Duniaku terkacaukan oleh lagu-lagu lawas milik orang kaya itu.

Padahal kamboja masihlah basah di pekuburan. Namun mulut itu tak juga mengering beradu argumen. Tak pantaskah kumelihatnya. Dasar pria dewasa tak beradab sekonyong-konyongnya. Memaksa hatiku untuk berdamai pada logika. Kuredam rasa geramku padanya. Kuamati air mata itu menderma pada bumi. Bumi menganga menanggapinya. Entah adakah hubungan dengan kedua sudut pandang didepan mataku. Kulanjutkan kembali terlelapku dalam dunia mimpi.

Deru angin persawahan masih mengacak rambutku yang mulai menebal. Melodi khas persawahan masih mengalir merambati hidungku. Tak lupa dengan binatang kecil usil yang ikut berpadu. Aku tak akan pernah tahu akan esok hidupku, akan nanti hidupku. Aku mendamai bersama gemericik air sungai yang membentur batuan kali.

Hidungku mulai berargumen mengobrak-abrik kegilaan pada otak. Makanan berbalutkan kemenyan meninju lubang hidung nan hampa mengosong. Tiba-tiba kaki mulai kokoh berdiri, ku ikuti bau aneh itu. Banyak orang beriringan menyertainya. Andaikan aku kupu-kupu aku akan terbang mengikuti bau aneh itu. Karena kebisingan kakiku, semua orang menyulutku dengan pandangan tajam bak rajawali. Udara disekitarku mulai memanas menggelayuti kulit sawo matangku. Nafas bermain-main dalam hal ini. Kulemparkan senyuman ketidakbersalahan. Dan pada akhirnya aku membauri mereka.

Bulu kudukku berdiri, adakah dedemit disampingku. Mulut selalu berulah tidak terima. Duduk dibelakang orang dewasa yang membawa bau-bauan aneh tadi. Tertunduklah ragaku enggan berkomentar. Mulut “sang modin” komat-kamit, aku hanya berharap tidak ada belalang ataupun lalat yang melintas. Sebab kulihati sedari tadi mulutnya tak juga mengunci. Diikuti gerakan tangannya menaburi benda hitam dan pada akhirnya terciptalah bau-bauan aneh, mengepulkan asap hitam, menyembul pada panasnya udara sekitaran. Pohon beringin diatasku melihatku konyol. Tentu aku merasa ketakutan menyaksikan ritual aneh ini. Ayam panggang nampak mengusik mataku yang mulai meredup ketakutan. Diam penuh memaknai arti ritual aneh macam ini.

Setelah “sang modin” mengunci bibirnya yang mulai kering. Otakku kembali melogika namun tak sampai. Semua orang berlalu setelah membacakan jimat atau hal sejenisnya itu. Anganku seakan tersumbat, dengan tanpa apa-apa aku mengajak sapi-sapiku pulang. Belum sampai di rumah, kaca tinggi yang memantulkan sinar mentari mengajakku berhenti. Daun-daun lamtoro mendorongku untuk tidak mematung tak melakukan apa-apa.

Dengan naluri berintuisi penasaran, aku mendekati rumah itu. Rumah cukup megah namun tak berpenghuni. Gigiku saling bertautan menggigil sedang tubuhku tremor. Mataku menyipit, aku sembunyikan tubuhku dan sapiku diantara semak belukar tebal.

Mata itu menusukku tajam, aku membisu dalam ruangan gelap tak bernyawa ini. Kakiku tidak sempat menopang tubuhku hingga terkulai seenaknya ke lantai. Benturan hanya menyambut hantaman keras menyebabkan getaran disekeliling area zona tumbukan. Asap rokok dibarengi kemenyan menyembul-nyembul rajutan mimpiku. Nyawa terserap dalam, menghampiri raga yang kosong.

“Hey, bangun cah tengil”
“Kamu mau ikut campur urusan wong tua Le?”

Tangan itu menampar pelan pipiku, naluriku tak berjalan sesuai logika. Deretan imajinasi menyebar merata dalam analogi orang dewasa. Astaga! Seperti dalam keranjang dipenuhi ranjau. “Mati atau entah bagaimana”. Semua sarafku menerima respon konyol yang sejenak mati terkubur dalam angan belaka.

“Darmin! Bagaimana engkau tega memakan putrimu sendiri setelah ibumu.”
Sorot mata itu menyekaku untuk berpikir normatif. Kaki tergabung dalam ndarat yang tertanam pada kursi butut seadanya. Gudang semakin mengibliskan suasana. Aku hanya bermain sajak melihat kedua orang dewasa ini, menyudut pandangkan gejolak tak menyukai.

“Sudah Lhe kamu pulang saja, maafkan putrane simbah”
Tangan-tangan keriput itu mengambilku dalam duduk tak lain tak bukan ialah pak modin yang beberapa hari lalu aku buntuti. Amarahnya seakan menyulut menyulut wajahnya yang keriput. Aku terbebas, aku berlari layaknya orang lain. Tak pernah kurasai aku akan lakukannya. Kaki terhenti bergejolak tak terima, meneriaki nafas tak teratur. Menghentikan logika untuk berpikir. Teriakan-teriakan itu terpantulkan nyaring pada telingaku. Menyumbat aliran darah mengaliri seluruh tubuh.

“Bukankah kau hanya seorang iblis egois?”
“Kenapa? Bukankah ayah yang mengajariku?”
“Dasar anak gila”
“Lantas bagaimana dengan diri Anda? Semua mimpiku kau renggut, istriku kau bunuh hanya demi harta rumah bertingkat dan lembu-lembumu”
“Bukankah itu bukan salahku”
“Lantas sekarang kau tega membabat putri kandungmu?”
“Apa dia sudah mati?”

Suara pukulan benda keras merajuti membran timfaniku. Menggegerkan audioku yang seakan menuli. Kulawan aliran yang terhenti. Berhenti melibatkan diri dalam sudut pandang orang ketiga. Bau wangi khas melati dan kamboja mengguguri tanah pekuburan baru. Nyawa terenggut oleh keserakahan otak orang dewasa yang tak pernah melogika.

Derai-derai gerimis menghapuskan debu khas kemarau. Menghapuskan jejak kaki usang orang-orang tak berdosa. Aku sendiri masih sibuk mengemasi seragam sekolahku yang sudah usang. Aroma khas hujan mengalirkan emosi kedamaian dalam nadiku. Kucoba lenyapkan tingkah konyolku bersudut pandang orang ketiga. Para petani sibuk mengungsi pada gubug. Sapi-sapiku terkulai hangat selimut hujan hingga membauri dunia mimpinya. Kemarau tergantikan begitu juga ceritaku kemarin. Aku selalu mencoba bermain dengan imaji-imaji karanganku. Dan pada akhirnya duniaku tak senyaman dahulu.

“Bagong… masuk Lhe”

Termenungku pecah mengalir bersama halilintar. Derai gerimis menajam membenturi kerikil jalanan. Alangkah sakitnya. Ku bersyair pada hujan, menyikapi kekosongan senja. Aku menerjemahkan pikiran orang dewasa dalam bentukku sendiri. Ritual-ritual aneh itu hanyalah isyarat bahwa mereka belum temukan kisah yang sebenarnya. Menghadirkan cerita sumbang bersyair melodi hujan. Mataku tajam menyoroti gubug tua rumah berdindingkan bambu ini.

Semua orang menyadari ketidak pahaman mereka dari satu sudut pandang. Menjelma sesosok iblis manusia memutarbalikkan kemudi kehidupan. Kini mereka tersadar dalam ketidaksinkronan cerita. Kudapati mereka kembali tersenyum dalam dekapan senja. Terkadang intuisiku mengadu bagaimanakah suatu kondisi termakan waktu. Hingga akhirnya mereka kembali menemui-Nya dalam sebaitan doa rasa kebersalahan. Mengundang hati-hati yang merapuh kembali mengokoh berkat cinta-Nya. Senja termenung dalam badai hujan, ku menyairkan sajak bermelodi sendu. Mencemari logikaku untuk tak lagi mengkonyoli diri.

Derai embun mengalir pada dedaunan didepan rumahku. Cahayanya menghangati tubuhku yang lelah dari mimpiku semalam. Syukurku tiada tara, nafasku masih menteraturi menyembul pada dunia beku dihadapanku. Kukenakan seragam putih merah, kutentengi tas rajutan emakku. Menyemanyamkan mimpi-mimpi yang sempat hilang melayang. Kuciptakan dunia baru dimasaku.

Di bangku kedua dari belakang aku memesan tiket bioskop dalam mimpiku. Bu Marni mengotak-atik saraf diotakku membisikkan bunyi-bunyian aneh tak terdengar. Aku terbangunkan oleh angin pengintusisi bersajak, meneriaki bagian nyawaku yang terlelap dalam bioskop filmku sendiri. Benar sekali suara itu mengantarku berlari memutari lapangan sekolah 2 kali. Dan aku mampu mengembalikan duniaku yang lucu.

Dari pengamatan lensa mataku, ini dunia mereka teman-teman sebayaku anak kelas 4 SD. Tidakkah mereka terlibat pada skenario orang dewasa sepertiku. Tidak, kumulai nikmati dunia normalku meninggalkan kawan lama berlagak logika dan imaji-imaji.

Kuceburkan diri pada sungai yang siap menangkapku. Isinya kembali terpenuhi oleh air. Kuarungi arus berbatu dengan sekawanan anak seusiaku. Senyumnya seakan nyata adanya. Kukembalikan jalanku menurut sudut pandang mereka. Menerjemahkan angin sawah yang menyelimuti udara sekitaran. Berbaris rapi menggoyangkan ilalang makanan sapi.

Senja meraba kaki-kaki gunung, dingin dan beku. Ternganga merah kejinggaan. Kudapati rumah itu tak lagi sepi. Pusat pertokoan amal tergelar didalamnya. Tak ada mata iblis yang menguasai. Sekarang hanya ada senyum khas orang Jawa menyungging di bibir warga desaku. Begitu juga dengan emak dan bapak. Kuhilangkan sepotong episode agar engkau tahu siapa diri dari sudut pandangmu.

Lampu sentir bergoyang bersamaku, tertabrak angin malam yang meninabobokkan kedua adikku. Aku hanya mentrampili alat buatanku sendiri berbahankan bambu dan kaca bening. Kuolahnya menjadi dunia baruku. Menyiratkan pesan-pesan khas purnama dalam logika bersenandung frasa unik berceritakan diriku.

“Bagong tidur Lhe, wis bengi!”

Cerpen Karangan: Amanda Novitasari
Blog / Facebook: amandanov.blogspot.co.id / amandanovshine.co.id / amanda novitasari

Cerpen Bagong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudahkah Aku Terbangun

Oleh:
Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan

Haji Mahmur, Bukan Haji Mabrur

Oleh:
“Allahu Akbar, Allahu Akbar” kumandang azan dzuhur siang hari ini. Ini adalah hari minggu, seakan-akan orang-orang menganggap bahwa hari minggu adalah hari untuk meliburkan diri. Begitu pula dengan Pak

Surga Kecil Yang Hampir Terlupakan

Oleh:
Adi Bima Saputra adalah nama yang diberikan oleh almarhum ayahnya, harapannya agar kelak ia menjadi seorang laki-laki yang kuat dan tangguh untuk menghadapi kehidupannya, seperti tokoh pewayangan hindu kuno

Tisu Terakhir

Oleh:
Di suatu pagi yang buta, terdengar kokok ayam jantan yang sangat merdu. Diiringi dengan senandung adzan yang menggugah hati, aku terbangun dengan mata yang masih sangat berat. Ku usap-usap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *