Bait Perjuangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 6 September 2016

Kala itu di sore hari, awan hitam menyelimuti langit menunggu aba-aba Tuhannya menurunkan hujan. Gerimis mulai mendarat di Desa Lalahan. Angin berhembus menerobos lubang-lubang jendela. Seminggu sudah tiap sore hujan berjatuhan di Desa ini. Ini menjadi berkah tersendiri bagi anak dan Ibu yang tinggal di pojok gang dekat Kali Kecing. Seorang wanita penjual wedang ronde, terus tersenyum lembut melihat hujan berkah sore ini. Sembari sibuk menghitung-hitung uang hasil jualannya.

“Alhamdulillah Le, uangnya cukup untuk beli beras untuk sarapanmu besok” Ucap syukur wanita itu. Akhirnya bisa memberikan nasi untuk anaknya esok hari, walaupun malam ini anak laki-lakinya itu hanya bisa makan ubi rebus pemberian Mbok Jumi, tetangganya.

Suara detikan jarum terus berguguran, seiring jatuhnya hujan sore ini. Senja kembali datang membawa kisah keajaiban untuk Emak Siti dan anaknya. Usianya belum begitu tua, sekitar 45 tahunan, tapi kerutan kesusahan hidup sudah sangat kentara di wajah janda penjual ronde. Anak yang kini sedang dilihatinya tengah melahap ubi itu berusia 9 tahun. Janda ini mempunyai dua laki-laki jagoan, Rifqi dan Rizqi. Tapi, anak pertamanya pergi meninggalkan Desa Lalahan untuk merantau, mengadu nasib bersama paman Karno ke Ibukota. Sudah tiga tahun Rifqi pergi dan tanpa kabar.

Sang suami yang amat dicintai meninggal empat tahun yang lalu, cahaya cinta sejati masih hangat ia rasakan sejak pertama kali bertemu suaminya hingga melihatnya diantarkan ke liang lahat. Kenangan-kenangan tentang suaminya menyeruak dari dalam ingatan janda ini. Sang suami adalah segalanya, bukan hanya teman hidup tapi sudah lebih dari itu. Lelaki itu menjadi juara di hati Siti sampai saat ini. Segala sesuatu tentang lelaki itu tak pernah lari dari dalam hati dan ingatan Siti.

“Mak, ubinya enak, Emak nggak mau cobain?” bisik bungsu pada Ibunya, setelah melahap beberapa potong ubi hangat pemberian Mbok Jumi.
Sesaat, dia sadar dari lamunan mendengar ucapan buah hatinya, dan berusaha menata kembali raut wajah lalu tersenyum tulus ke arahnya. “Tidak usah, makan kamu semua saja, setelah itu belajar, Emak mau siapin bahan-bahan wedang ronde dulu” beranjak meninggalkan si bungsu yang masih menatapnya menuju ke dapur untuk membuat ronde jualannya.

Seperempat kilo jahe yang tadi siang dibeli Rizqi di warung Mbak Lastri, satu persatu mulai dikupasnya, dengan cekatan dan terampil ia mulai menyiapkan bahan-bahan membuat ronde. Ronde buatannya biasa dijajakan di waktu siang menjelang sore. Biasanya jahe beserta bahan yang lain dipersiapkannya malam-malam seperti saat ini. Setelah bekerja sebagai buruh ladang, biasanya Siti baru membuat ronde dagangannya. Ini semua dikerjakan demi Rizqi, demi mencukupi kebutuhan sandang, papan, dan terutama pangan.

Hujan yang sempat mengguyur mulai reda. Dinginnya malam tak menghalangi tangan terampil Siti mengupas jahe. Malam gelap membekap rumah kecil peninggalan suaminya, lamunan yang sempat berhenti kembali berjalan mengikuti alur pisau yang sedang dipegangnya. Biasanya sang suami yang membantunya mengupas jahe-jahe ini. Walaupun dulu kehidupannya sama-sama susah seperti saat ini, tapi setidaknya dulu masih ada teman curhat, menghadapi masalah, dan berbagi solusi. Sekarang tinggal kenangan saja yang tersimpan. Sembil menanti kabar kesuksesan putranya.

Malam mulai meninggi, suara katak bersahut-sahutan menyanyikan lagu suka cita di tepi kali Kecing dekat rumahnya. Hatinya tak sepi lagi. Lagu asing yang sempat mampir di hatinya pelan-pelan menghilang, semenjak putranya menghapiri dan membantu. Percakapan hangat dengan si bungsu mengindahkan rasa dingin malam ini. Kata-kata bungsunya menjadi obat yang ditelan untuk melupakan kesedihan, kesusahan yang terus menerus ia rasakan. Menarik napas panjang, merasakan lelah perjuangan dan menghembuskannya bersama angin yang menyelinap masuk di antara sekat sekat rumah.

Tanah basah sisa hujan semalam berhias daun berguguran menyambut surya di ufuk timur. Tak putus-putus harapan serta do’a yang ia panjatkan di esok kali ini. Sapu lidi yang sedang ia genggam siap mengelus daun-daun di depan rumahnya.
Menikmati kembali keramahan cinta sekelilingnya menyapa lembut menghibur hati seorang buruh sekaligus penjual ronde ini. Sembari menunggu kebahagiaan yang entah kapan datangnya. Mencari kenyamanan hidup yang entah hilang kemana. Merindukan sosok lelaki yang selama ini ia tunggu kehadirannya. Dalam setiap akhir sholatnya selalu ada sebait, dua bait, tiga bait, atau mungkin berpuluh-puluh bait untuk anak yang dirindukannya.
Menumpahkan semua angan dan ingin pada aliran deras Kali Kecing. Mengalirkan perjuangan dan cinta pada serpihan kekuatan. Meresapi semua pemberian Illahi bagi kehidupannya dulu dan kini. Hantaman badai dan gejolak api tak berarti apa-apa bagi perjuangan untuk yang tercinta. Meraih titik sempurna dalam ketidak sempurnaan.

Setelah mengantar Rizqi ke sekolah, Siti bergegas menuju sawah. Sepeda onthel reyot peninggalan sang suami pelan tapi pasti dikayuhnya, melewati jalan beraspal, jalan berbatu hingga jalan berlumpur. Di sawah seluas 1 hektare milik juragan Qosim inilah tenaga Siti diadu sebagi buruh sawah. Pekerjaan yang begitu berat dilaluinya dengan ikhlas. Sejenak melupakan kesengsaraan batinnya, senyum tawa bersama teman-temannya menanam padi sanggup mengurangi kepedihan.

Dua minggu sekali emak Siti dan kawan-kawan menerima upah dari hasil kerja di sawah. Hari ini kebetulan upahnya akan dibayarkan. Rp. 35.000,- mungkin cukup untuk upah keringatnya. Syukur Alhamdulillah, masih bisa berjuang dan menghasilkan bagi sang buah hati. Ia yakin kerja keras dan semangat yang dimilikinya tak akan pernah sia-sia. Saat ini memang belum begitu ia rasakan, masih ada nanti, suatu saat nanti ia yakin jerih payahnya akan terbalas.

Saatnya kembali ke rumah. Mengolah bahan-bahan semalam yang sudah disiapkan. Ilmu membuat ronde, ia dapatkan dari mertuanya. Dulu, Siti sempat berjualan jajanan pasar yang di jajakan keliling desa, tapi sayangnya peminatnya hanya sedikit. Lalu dia beralih menjadi penjual ronde seperti saat ini.
Di saat musim hujan seperti saat ini, ia berdagang ronde. Saat musim kemarau, seperti beberapa bulan yang lalu ia beralih sebagai penjual es campur dan es buah. Yang dijajakannya berkeliling menggunakan gerobak beroda dua. Dahulu, yang mendorong gerobak tua itu suaminya, sementara ia hanya membuat wedang rondenya. Walaupun ini sangat berat ia tetap yakin bahwa Allah selalu mengiringi setiap langkah kakinya.

“Bismillahirrahmanirrohiim” langkahnya mulai terpacu seiring jarum jam berputar. Menawarkan wedang ronde yang masih panas pada setiap orang yang ditemiunya. “Rondeee… rondeee… rondeee,” teriak wanita itu sekuat yang ia mampu sambil sesekali memukul gelas untuk memanggil pembeli. Setiap sudut gang desa Lalahan tak ada yang luput dari jajahan langkah beratnya.
“Mbak Sitiiii… ronde mbaak..!!” teriak ibu muda yang rumahnya di ujung gang Kenari. Memanggil sang penjual ronde, tentu saja untuk membeli,
“Yaaa..,” terlihat sekali suara semangat dari intonasinya. Menghampiri calon pembeli pertamanya. Dengan sigap Siti mendorong gerobaknya menuju sudut gang.
Tujuh bungkus sekaligus ibu muda tadi membeli ronde itu dan artinya sudah ada Rp. 14.000,- yang menghuni kantong celananya. Masih ada tiga belas bungkus lagi yang harus ia salurkan pada pembelinya.

Ia berhenti sejenak di persimpangan jalan, mengatur napas yang tersenggal-senggal setelah jauh berkeliling, mengusap peluh dengan selendang yang dibawanya. Mengistirahatkan kaki yang sedari tadi sudah melangkah berkilo-kilo meter demi menjemput rezeki. Kemudian wanita itu duduk beristirahat sambil berharap masih ada pelanggan yang membeli dagangannya. Senang rasanya, tinggal lima bungkus lagi, setelah tadi beberapa anak TPQ membeli wedang rondenya. Semua terbayar lunas, rasa puas dagangan yang dibawanya laris. Sibuk menghitung-hitung lembaran uang hasil kerjanya.
“Mbak wedang ronde lima, dibungkus” pinta pembeli lelaki itu, pendek. Sambil melirik dan mengotak-atik ponsel yang sedang digenggamnya. Sepertinya sedang mengetik sms yang akan dikirimkan pada seseorang.
Uang yang belum selesai dihitung Siti secepat mungkin dikembalikan ke saku kanan celananya. Dengan sigap Siti melayani pembeli terakhirnya. Tidak seperti pada pembeli lainnya, biasanya Siti banyak berkomunikasi sehingga para pembelinya terkesan bisa akrab. Kali ini ia hanya diam, fokus pada wedang ronde yang sedang diraciknya.
“Ini mas, rondenya, semuanya sepuluh ribu” tuturnya sambil menyodorkan plastik hitam berisi lima bungkus wedang ronde.
Lelaki itu bangkit dari tatapan ponsel hendak menerima bungkusan rondenya. Alangkah tercengangnya laki-laki itu, melihat wanita penjual ronde itu.
“Emaaaak… apa kabar?, Maaak!” sambil memeluk penjual ronde.
“Kamu ini siapa?” Tanyanya heran sambil berusaha melepaskan pelukan laki-laki muda itu.
Sambil menahan tangis harunya dan membiarkan orang di hadapannya bingung, “Ini Rifqi Mak, anaknya Emak” menjelaskan sedikit tentang dirinya pada Siti.
“Ya Allah Le, akhirnya kamu pulang, Emak kangen sekali sama kamu Le,” kata wanita itu sambil masih tak yakin, ini adalah nyata.
Adegan itu berlanjut dengan tangis haru sekaligus senang. Tak peduli berapa pasang mata yang menatap ke arah mereka. Penasaran tentu saja dirasakan orang-orang yang tak sengaja lewat di persimpangan jalan.

Matanya mengkodekan kepada Emak Siti pada sebuah mobil sedan mewah keluaran terbaru dari perusahaan terkenal Jerman, warna putih mengkilap.
“Emak, mari masuk ke mobilku” mengajak Ibunya masuk ke sedan mewahnya.
“Le, kaki Emak kotor, nanti mobilnya kalau jadi kotor gimana?” kata emak Siti sambil menunjukkan kakinya pada putranya, yang memang saat itu sandal yang dipakainya penuh dengan tanah basah sisa hujan semalam.
“Hahaha, tidak usah dipikirkan Mak, ini semua juga milik Emak kok”, tawa geli mengiringi kata Rizqi pada tingkah aneh Ibunya. Menggenggam tangan keriput Ibunya lalu mengajak masuk ke dalam mobilnya.

Sampailah mereka di rumah kecil pojok gang samping kali Kecing. Pemandangannya tetap sama tak ada perubahan yang signifikan dari semenjak tiga tahun lalu Rifqi pergi meninggalkan Desa Lalahan.
Tatapannya tertuju pada pintu rumah yang menghadap ke jalan. Lagi-lagi Rifqi terjebak dalam ruang nostalgia. Mengingat kembali saat Ibunya berat memberikan izin untuk pergi bersama paman Karno. Ibunya yang memohon agar ia tetap di desa tak dihiraukannya, demi tekad bulatnya merubah nasib keluarga. Janjinya sudah tidak bisa diingkari lagi. Tidak akan kembali ke rumah sebelum kesuksesan ia raih. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk meraih kesuksesannya seperti sekarang ini.

Demi melihat senyum lebar Ibunda melihat kesuksesan sang putra. Mencicil hutang-hutangnya pada Emak terbaiknya. Hutang-hutang yang tak kan pernah lunas walaupun ditukar dengan gunung emas sekalipun. Harapan serta do’a Emak pelan tapi pasti terwujudkan, terkabulkan oleh Allah swt.

“Alhamdulillah ya Le, sekarang impianmu sudah terwujud” kata Siti sambil mengelus pundak anaknya, mengucap kata bangga pada sosok lelaki yang sekarang sudah bertambah tiga tahun dari semenjak kepergiannya dari rumah ini.
“Ini juga berkat do’a Emak”, balas Rifqi pada Emaknya yang dari tadi sudah menyimak kata perkata yang diucapkannya.
Cerita hebat mulai keluar dari mulut Rifqi, menceritakan perjuangan kesuksesan hingga sampai saat ini. Emaknya juga antusias mendengar kehebatan anaknya. Sampai Emaknya diam dan terbisu mendengar ucapan istimewa Rifqi.

“Emak, tabungan Rifqi sudah cukup untuk memberangkatkan Emak ke Baitullah, seperti yang Emak bicarakan pada Bapak, kita berangkat sama-sama walaupun Bapak tidak bisa ikut bersama kita.
“Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah mengabulkan do’a-do’a hamba” bersujud, berterima kasih kepada yang Maha Pemberi Rezeki.

Pembaca yang budiman, semua perjuangan, usaha dengan energi maksimal, do’a-do’a yang selalu kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa tidak akan ada sia-sia dalam perjalanan hidup ini. Mungkin sekarang anda belum merasakan kemenangan, masih ada nanti yang menunggu kita di gerbang kesuksesan. Kecewa memang selalu kita rasakan dalam proses kita menjadi manusia baik. Bagi juara tidak akan ada kata menyerah sebelum sukses dan merasakannya. Dan bagi juara mempertahankan kesuksesan adalah hal yang utama. Tidak ada kata puas dalam diri kita. Kita baru saja memulai kehidupan menuju manusia baik dan berbudi. Jadi, jangan menyesal jika perjuangan kita gagal, karena sesungguhnya bait perjungan kita sudah dimulai.
Selamat berjuang kawan 🙂

Cerpen Karangan: Fahridinia Maulida Nuril Ulya
Blog: fahraay.blogspot.co.id
Seorang calon penulis yang masih kurang konsisten nulis. Sekolah di MA Raudlatul Ulum, dan baru kelas 1. Kepoin aja di twitter @fahraay_22.

Cerpen Bait Perjuangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Karena Nayla (Part 1)

Oleh:
Mas Amran berubah. Itulah sebuah kesimpulan pendek setelah seminggu ini kuperhatikan ada banyak perubahan dari diri suamiku. Sikapnya menjadi pendiam dan berbagai kejanggalan muncul disetiap gerak-geriknya. Sosok Mas Amran

Saat Terakhir Bersamamu

Oleh:
Pagi itu, jam dinding menunjukkan pukul 03.30. Udara yang dingin, begitu terasa di kulit. Di saat itu tarqim berkumandang. Menggema di seluruh penjuru desa. Disaat itulah, seluruh orang sedang

Pagi Kuning Keemasan

Oleh:
“Badrol! Yok cari karang!” Seru Kentang pada sohib akrabnya yang kini tengah menengadahkan kepalanya mengarah ke mercusuar. Melihat kawannya tak merespon, Kentang-pun setengah berteriak, “Woy! Lihat apa pula kau?”

Older

Oleh:
Malam-malam mencekam kembali datang. Lebih dingin dari biasanya. Kebut-kebutan di jalanan guna menghilangkan sedikit beban pikiran, dia lantas berhenti di depan sebuah rumah makan. Bukan karena perutnya yang keroncongan,

Last Rain

Oleh:
Hujan menyambut pagi ini dengan senyumnya. Tanah di sekitarku mengeluarkan aroma khas yang tak bisa disamakan dengan aroma manapun. Dedaunan juga merunduk tak kuat menahan air yang mengguyurnya. Angin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *