Balada Cinta Bocah Pemulung (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 September 2021

Aroma sampah busuk menyeruak dan menusuk ke hidung, setiap kali memasuki kampung kumuh di dekat Tempat Pembuangan Akhir, yang berada di dekat pelabuhan itu. Letaknya persis di pesisir sebelah barat pelabuhan. Tiap jam truk katrol pembawa harta karun bagi kaum pemulung itu datang dari berbagai desa, membawa berton-ton sampah rumah tangga. Kemudian, sampah berton-ton itu dimuntahkan ke tumpukan sampah hingga menggunung.

Para pemulung yang sedari tadi duduk-duduk di bangku panjang warung kopi dengan menyumpal mulutnya dengan pisang goreng dan segelas kopi hitam, menghampiri sampah yang datang. Lalu dengan sebatang besi yang dibengkokkan ujungnya, tangan-tangan mereka memilah dan memilah sampah seperti karton, gulungan tembaga, batu baterai, kaleng-kaleng susu bekas, dan sebagainya yang masih bisa didaur ulang untuk dijual ke juragan barang rongsokan di kota. Bagi mereka, sampah-sampah yang menggunung itu adalah sebuah tambang berharga yang menyimpan intan permata. Mereka sama sekali tidak merasa jijik berkutat dengan sampah busuk. Sebab dari sampah-sampah itu lah mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang.

Di antara para pemulung yang berjibaku dengan sampah itu, ada satu pemulung yang masih muda. Usianya baru 16 tahun. Dengan sangat lincah bocah lelaki yang mengenakan pakaian seadanya itu memilah sampah yang masih bisa dijual. Lalu, sampah seperti karton, botol bekas air mineral, kaleng bekas ikan sarden dan susu, dan gulungan tembaga dan besi berkarat disumpalkan ke mulut karung yang disandangnya di belakang. Kalau di tempatnya habis, maka dia akan pindah ke tempat lain hingga karung sampahnya menjadi penuh.

Sudah dua bulan ini dia bekerja sebagai pemulung sampah. Setiap pukul 6 pagi, dengan bertelanjang kaki dia sudah berangkat ke tempat pembuangan akhir itu dan berbaur di warung kopi bersama para pemulung lain yang lebih tua usianya. Untuk sampai ke tempat itu, dia harus menunggu truk sampah yang lewat di tepi jalan dekat rumahnya. Dia akan berdesak-desakan dengan petugas sampah yang bau keringatnya bau sampah.

Setelah karungnya penuh, bocah lelaki itu meninggalkan tempat itu dan berangkat menuju tempat juragan barang rongsokan. Di bawah terik matahari yang menyengat, bocah itu dengan susah payah menggendong karung itu. Dari dalam karung mencuat berbagai karton yang tidak muat karena saking penuhnya. Tapi bocah lelaki itu sepertinya sudah terbiasa bekerja berat-berat. Lengan tangannya yang kecil begitu kokoh memegang karung. Meski keringat mengucur di sekitar wajahnya dan telapak kakinya tersengat sinar matahari yang menghantam aspal, dia masih kuat berjalan sampai satu kilo meter. Dia sama sekali tidak merasa putus asa atau ciut untuk menghadapi kerasnya kehidupan.

Sesampainya di tempat juragan barang rongsokan, bocah lelaki itu menurunkan karungnya. Diluruskan kedua lengannya yang pegal. Setelah menunggu giliran timbang, barulah dia beranjak ke timbangan dan meletakkan karungnya di atas timbangan itu. Setelah diketahui beratnya, dari tangan lelaki gendut yang sibuk memencet kalkulator itu, dia menerima sejumlah uang. Lumayan. Pendapatan siang ini lumayan banyak.

Siang itu dia pulang ke rumahnya dengan menumpang truk sampah reyot dari tempat pembuangan akhir. Wajahnya tampak sumringah. Uang dari hasil menjual barang rongsokan menyembul dari saku celananya. Tapi dia simpan rapat-rapat agar tidak diketahui petugas sampah.

Sebuah rumah reyot, melukiskan kemiskinan di setiap dinding dan atapnya, tinggal lah bocah lelaki itu bertiga bersama adik-adiknya. Adik pertamanya adalah laki-laki. Usianya 10 tahun. Dan adik keduanya perempuan. Usianya 7 tahun. Kedua adik-adiknya putus sekolah sebelum memutuskan untuk merantau ke kota itu. Dulu, bocah itu juga sekolah di salah satu SMP di kota kelahirannya. Sama seperti adik-adiknya. Bahkan dia selalu masuk ke ranking tiga besar. Nilainya selalu tinggi. Tapi musibah datang tiba-tiba. Ruko yang dimiliki oleh kedua orangtuanya mengalami kebakaran hebat.

Tengah malam itu, ketika penghuni ruko sudah tertidur lelap api sudah melalap ruko paling ujung. Pihak berwajib untuk sementara waktu menduga kalau kebakaran itu disebabkan oleh korseleting listrik. Dengan cepat api melalap ruko sebanyak 20 unit di pinggir kota itu. Semua barang dagangan orangtuanya ludes tak tersisa. Termasuk kedua orangtuanya yang menginap di ruko. Keduanya ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Wajah mereka sampai tidak dikenali. Untungnya, Allah menyelamatkan nyawanya dan nyawa kedua adik-adiknya yang masih kecil. Sebenarnya, mereka bertiga hendak menginap di ruko, tapi pakdenya datang dan membujuk mereka untuk bermain bersama anak-anaknya.

Sejak kematian kedua orangtuanya, mereka bertiga menjadi yatim piatu. Harta tidak ada. Uang tabungan yang dimiliki oleh kedua orangtuanya dibayarkan pada perusahaan sebagai ganti rugi. Awalnya mereka bertiga menumpang di rumah pakdenya, namun karena merasa tidak enak, bocah itu pamitan untuk merantau ke kota lain. Dengan sedikit uang yang diberikan oleh pakdenya, dia akhirnya pergi ke kota itu dan menyewa sebuah rumah yang memang disediakan untuk para pemulung. Dan sejak itulah dia resmi berprofesi sebagai pemulung.

Malam itu dia bersama kedua adiknya makan dengan mi goreng instan dan nasi. Dengan uang dari hasil jerih payahnya tadi siang, dia membeli beras dua kilo dan enam bungkus mi instan di kios sembako yang tak jauh dari rumah kontrakannya. Setelah nasi matang, dia memasak mi. Lalu di teras rumah, mereka bertiga makan dengan khusyuk.

Tiba-tiba ketika mereka masih makan, tiba-tiba adiknya menangis.
“Kenapa kamu menangis, Rel?” Tanya abangnya menghentikan makannya.
“Seandainya Ayah dan Ibu masih hidup… kita tidak mungkin makan dengan nasi dan mi instan, Mas. Hiks. Hiks. Hiks.” Kata adik nomor duanya.
Mendengar kalimat itu, hatinya terasa pedih. Air matanya menjadi basah. Sungguh, hidup ini tidaklah semudah yang dibayangkan olehnya. Jalan hidup mereka masih panjang. Di depan mereka masih banyak ujian yang akan datang.

“Mas tahu kalian pasti sedih. Tapi mas tidak ingin kalian menangis dan meratapi kepergian Ayah dan Ibu. Kita doakan orangtua kita agar diampuni oleh Allah. Mas yakin kalau kita pasti akan bersama-sama lagi kelak. Sekarang kalian makan supaya perut kalian tidak lapar.” Bocah itu menasihati kedua adik-adiknya dengan penuh kelembutan.

Selesai makan, mereka berdua tidur di sebuah dipan kayu reyot. Lalu, bocah lelaki itu mematikan lampu. Melihat adik-adiknya sudah tidur, dia mengambil sebuah celengan ayam. Setelah itu dia menyumpalkan beberapa uang kertas dan logam ke dalam lubang celengan. Ditimangnya celengan itu. Sudah berat. Berarti isinya sudah penuh. Selain sedikit menabung, dia juga mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan rumah. Jadi, sebagai kakak tertua dirinya harus bekerja keras demi adik-adiknya. Biar pun dirinya untuk sementara waktu putus sekolah, siapa tahu kelak ada orang baik yang akan membiayai sekolahnya. Tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan pendidikan. Selama orang itu mau belajar dan ingin menjadi sukses.

Pagi itu, seperti biasanya bocah lelaki itu menumpang truk reyot yang mengangkut petugas sampah. Saking dari seringnya dia menumpang, sampai-sampai dia mengenal semua petugas sampah. Sesampainya di tempat pembuangan akhir, dia turun dan berbaur bersama para pemulung yang lain.

Di warung kopi itu dia mengenal seorang pemulung bernama Pak Joko. Pria paro baya itu merasa kasihan sekaligus takjub melihat bocah itu bekerja keras. Sambil memesankan segelas kopi dan pisang goreng, lantas dia bertanya-tanya tentang asal-usul kedatangan bocah itu kenapa bisa sampai di kota ini dengan menjadi pemulung. Lalu, dengan segelas kopi dan pisang goreng yang masih panas, bocah lelaki itu menceritakan kehidupannya pada Pak Joko.

“Dulu, kehidupan saya sama dengan anak-anak yang lain, Pak. Saya juga sekolah di salah satu SMP di kota saya. Pulang dari sekolah saya mengerjakan PR bersama teman-teman saya. Bidang studi yang paling saya sukai adalah Matematika. Jadi, kadang-kadang saya juga membantu kedua orangtua saya di ruko. Ayah dan Ibu saya menjual barang-barang pelengkap dapur. Seperti rak piring, tempat cucian piring, kompor, dan sebagainya. Kalau Ayah sedang sibuk melayani pembeli, saya membantu untuk menghitung keuntungan yang harus dibagi antara toko dan distributor. Dan mereka tidak bisa berbuat curang. Kami sebenarnya memiliki rumah dan barang-barang mewah. Tapi, tengah malam itu. Tiba-tiba api melalap seluruh ruko yang ada di pinggiran kota itu. Dua puluh unit ruko ludes terbakar. Malam itu, Ayah dan Ibu saya menginap di ruko. Sementara saya dan kedua adik saya ada di rumah pakde. Pada saat kejadian itu terjadi, pakde ditelpon oleh pihak berwajib. Kepada pakde, polisi mengabarkan bahwa kedua orangtua saya tewas terbakar. Kondisi mereka sungguh mengenaskan. Saya pun terpukul mendengar itu. Karena pihak distributor dan perusahaan pemasok barang tidak mau rugi, maka kami harus membayar uang ganti rugi. Pakde pun menjual seluruh aset milik kedua orangtua saya dengan disaksikan oleh saya sendiri. Rumah dan mobil ludes. Saya tidak memiliki apa-apa lagi selain diwarisi dua adik yang terpaksa putus sekolah. Karena saya malu menumpang hidup di rumah pakde, lantas saya memutuskan untuk merantau ke luar kota. Maka saya memilih merantau di kota ini.” Bocah itu bercerita panjang lebar. Lelaki itu mendengarkan dengan saksama.
“Kamu yang sabar ya, Nak.” Bapak pemulung itu menepuk-nepuk pundak bocah itu.

Bocah lelaki itu meneteskan air mata. Teringat akan kedua orangtuanya yang sudah tiada. Andai saja kebakaran itu tidak meminjam kedua orangtuanya untuk dibawa kepada Tuhan, pasti dirinya tidak luntang-lantung di kota orang.

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Facebook: @khairulazzamelmaliky

Novelis. Karyanya yang sudah terbit antara
lain: Sang Kiai, Metamorfosa, Sang Nabi (2021).
Aku, Kasih dan Kisah, Jalan Setapak Menuju Fitrah,
Aku, dan Kata Selesai (Kumpulan cerpen, 2021).
Buku kumpulan cerpen yang akan terbit:
Bus Kota Warna Merah, Babi-Babi Berburu Emas,
Dan Orang-Orang Tangguh.
Dan 30 novel di Kwikku.com.
Fb: @khairulazzamelmaliky

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 8 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Balada Cinta Bocah Pemulung (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Jalanan

Oleh:
Kebaya lusuh menghias di tubuhnya, usianya mungkin tak muda lagi, keriput di wajah dan tubuhnya menapakan jejak-jejak yang telah hilang karena waktu. mangkok beling di tangannya, menyisir setiap rumah

Dialetika Seorang Gus

Oleh:
“Gus, aku ingin bercerita tentang bangsa yang dulu pernah disebut sebagai bangsa yang santun dan ramah dalam figur macan Asia” ungkapku sambil membungkukkan badan. “Silakan, Nak. Dengan senang hati

Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *