Balada Cinta Bocah Pemulung (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 September 2021

Setelah menandaskan segelas kopi dan pisang goreng, bocah itu kembali bekerja. Memilah-milah sampah yang masih bisa dijual. Memasukkan karton, gulungan tembaga, dan kaleng-kaleng bekas ke dalam karung yang digendongnya. Diusapnya keringat yang membasahi dahinya dengan tangan kanan. Meski dia sudah memakai topi, tapi terik matahari masih terasa membakar ubun-ubunnya.

Setelah dirasa karungnya sudah penuh, bocah itu meninggalkan tempat itu untuk pergi ke tempat juragan barang rongsokan. Saat dia menimbang barang rongsokannya, datang sebuah mobil. Lalu turun dari mobil seorang lelaki berpakaian rapi, diikuti oleh seorang gadis seusia dirinya. Pria itu tampak berbincang-bincang dengan juragan barang rongsokan sampai-sampai dia tidak merasakan kalau dompetnya yang tidak masuk sepenuhnya ke saku, akhirnya jatuh ke tanah. Bocah itu melihatnya.

Saat hendak memberitahu pemiliknya, dia dipanggil oleh karyawan boss rongsokan untuk mengangkut barang-barangnya ke tempatnya. Dia baru selesai memindahkan barang-barang di saat pria berpakaian rapi itu meninggalkan tempat tersebut. Dia memeriksa kembali tempat di mana jatuhnya dompet tadi. Dan alhamdulillah, ternyata dompet kulit berwarna cokelat itu masih ada. Mungkin karena samar, karena warnanya sama dengan tanah jadinya tidak ada orang yang melihatnya. Lalu dia menyerahkan kepada juragan barang rongsokan itu.

Keesokan harinya, bocah lelaki itu jatuh sakit. Dia demam. Kedua adiknya menjaganya di tempat tidur. Untung ada seorang ibu-ibu tetangga baik hati yang berasal dari kota yang sama merawatnya. Dibuatkannya bubur dan dibelikannya obat. Seharian dia mengigau memanggil-manggil nama Ibunya. Tapi Ibunya tak kunjung datang. Untuk hari ini dia tidak bekerja memulung barang rongsokan di tempat pembuangan akhir.

“Assalamualaikum.” Seorang laki-laki menguluk salam di luar rumah.
“Waalaikumsalam.” Ibu itu menguluk salam dari dalam rumah.
Ibu-ibu itu meninggalkan tempat tidur dan pergi ke luar rumah. Di depan rumah tampak tiga orang laki-laki dan seorang gadis. Salah seorang lelaki menyapanya dengan tersenyum ramah.
“Tegar ada, Bu?” Tanya lelaki itu dengan sopan.
“Maaf, Bapak siapa? Dan keperluannya untuk apa?” Ibu-ibu itu bertanya sopan pula.
“Saya Pak Joko. Orang yang biasanya memulung barang rongsokan bersama Tegar.” Lelaki bernama Pak Joko itu memperkenalkan dirinya.
“Ooo… Tegar sakit, Pak. Silakan masuk!” Ibu-ibu itu mempersilakan ketiganya masuk.

Keempat orang itu masuk ke ruang tamu. Di sana mereka tidak menemukan kursi untuk tamu. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu yang disebut gedhek. Lantas Ibu-Ibu itu menggelar selembar tikar dan mempersilakan mereka duduk.
“Silakan duduk, Bapak-Bapak! Hanya inilah yang dimiliki oleh Tegar.”
Lelaki berpakaian rapi itu menyapu ruang tamu. Matanya nanar dan ingin meneteskan air mata. Hatinya terenyuh menyaksikan kemiskinan yang cekikikan di depannya. Lalu dia melihat kedua bocah miskin yang seharusnya duduk di dalam kelas.

“Ke mana orangtua Tegar dan kedua adiknya ini, Bu, kalau boleh tahu?” Lelaki berpakaian rapi itu bertanya pada Ibu-Ibu itu mencari tahu.
Lalu, Ibu-Ibu itu menceritakan ihwal musibah kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tua Tegar dan adik-adiknya. Dari cerita yang dia dengar langsung dari Tegar saat awal mereka bertetangga, perempuan itu bercerita kalau malam itu ruko milik kedua orang tua Tegar dilalap si Jago Merah karena korsleting. Api yang besar langsung melalap bangunan sebanyak 20 unit itu tanpa sisa. Petugas pemadam kebakaran yang merasa kewalahan karena sulit menemukan pasokan air berjuang keras untuk memadamkan api yang membumbung tinggi. Akibatnya korban meninggal pun berjatuhan. Dua dari korban meninggal adalah kedua orang tua Tegar. Sejak kematian kedua orang tuanya, Tegar membawa adiknya merantau ke kota itu dengan menjadi pemulung. Mendengar cerita itu, pria berpakaian rapi itu terhenyak kaget, seperti teringat akan sesuatu di masa lalu yang diperbuatnya.

“Keperluan Bapak-Bapak ini ke sini untuk bertemu Tegar ada apa, kalau boleh tahu?” Ibu-Ibu itu bertanya setelah bercerita.
“Begini, Bu. Kemarin siang. Saat saya menemui Pak Haji ini di tempat kerjanya dompet saya terjatuh. Dan saya tidak sadar kalau dompet saya jatuh. Saat itu di sana ada Tegar yang sedang memindahkan barang-barang rongsokan. Sesampainya di rumah saya baru sadar kalau dompet saya sudah tidak ada lagi di saku celana. Saya bingung bukan buatan karena di dalam dompet itu ada lima kartu atm, uang tunai sepuluh juta, ktp, sntk, bpkb dan npwp. Lalu saya mengingat-ingat di mana jatuhnya dompet itu. Dua menit kemudian, Pak Haji menghubungi saya kalau dompet saya ditemukan di tempat kerjanya. Saya pun lega. Setelah saya kroscek, ternyata benar dompet itu adalah dompet saya. Saya pun bertanya siapa yang menemukan dompet itu, dan Pak Haji bilang bahwa bocah pemulung itu yang menemukannya. Lantas saya menanyakan di mana dia biasanya memulung barang rongsokan, Pak Haji pun membawa saya ke tempat pembuangan akhir. Di sana, kami pun bertemu dengan Bapak ini. Dari Bapak inilah kami akhirnya sampai ke rumah Tegar ini. Kalau begitu, di mana Tegar sekarang, Bu?” Lelaki berpakaian rapi itu menjelaskan tujuan kedatangannya.

Ibu-Ibu itu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Beberapa jurus kemudian, Ibu-Ibu itu kembali bersama Tegar yang tampak masih sakit. Tubuhnya masih menggigil. Kepalanya terasa pusing. Kepada bocah lelaki itu, lelaki berpakaian rapi itu mengucapkan terima kasih. Dan sebagai rasa terima kasihnya, dia akan mengangkat Tegar dan kedua adiknya sebagai anak asuh. Dia berjanji akan menyekolahkan Tegar dan adik-adiknya sampai ke jenjang perguruan tinggi.

“Mulai saat ini, saya mengangkat Tegar dan kedua adiknya sebagai anak asuh. Saya akan menyekolahkan mereka sampai lulus kuliah. Saya juga akan membawa Tegar dan kedua adiknya ke rumah saya. Dan sebenarnya, saya juga ingin menebus kesalahan atas perbuatan dosa yang pernah saya lakukan dulu. Yah, kebakaran yang telah melahap ruko itu bukan karena korsleting listrik. Tapi, kebakaran itu memang disengaja. Ada beberapa orang yang sengaja membakar ruko itu dan orang itu adalah suruhan saya. Saya berencana ingin membeli tanah itu untuk dibangun perumahan real estate. Tapi pemiliknya malah menjualnya pada developer lain. Saya sama sekali tidak tahu kalau ternyata di dalam ruko ada penghuninya dan salah satunya adalah kedua orangtua Tegar. Maafkan Bapak, Nak. Bapak memang tidak sengaja membunuh kedua orangtuamu. Gara-gara dosa Bapak, kalian menjadi yatim piatu. Jadi, mulai detik ini, kalian adalah anak Bapak.” Lelaki berpakaian rapi itu bercerita dengan jujur yang membuat orang-orang yang ada di ruang tamu itu terhenyak bukan buatan. Terutama Tegar dan kedua adiknya. Bocah lelaki itu sama sekali tidak menyangka kalau dompet yang dia temukan adalah milik orang yang telah membakar ruko orang tuanya. Tapi, bocah itu dapat menerimanya dengan ikhlas.

Sejak resmi diangkat sebagai anak, Tegar dan kedua adiknya kembali melanjutkan sekolah. Mereka mempunyai teman. Rindu pada sekolah kini telah terobati. Hari-hari mereka tidak lagi bermain di rumah tapi mengerjakan PR. Dan Tegar tidak lagi menjadi pemulung barang rongsokan tapi kembali merangkai cita-citanya menjadi pakar Matematika. Dia satu sekolah dengan saudara angkatnya yang bernama Salma, putri pria baik hati itu. Dan perlahan-lahan dengan seiring berjalannya waktu, dari hati mereka tumbuh benih-benih perasaan cinta yang harus mereka simpan terlebih dulu. Dari ayah angkatnya, Tegar belajar menjadi menjadi kontruktor andal.

Dia memang sedang dipersiapkan untuk menjadi kontruktor hebat. Karena sejak semangat hidupnya kembali menyala, pria itu melihatnya sebagai pembelajar yang cepat dan tangkas. Dan dia juga telah berencana untuk menyerahkan perusahaannya untuk Tegar, termasuk pula menikahkan remaja itu dengan putrinya setelah mereka berdua dewasa nanti. Kebaikan yang pria itu lakukan telah mengalahkan rasa bersalahnya, dan dalam diri Tegar sama sekali tidak ada niat untuk membalas. Dia tidak boleh balas dendam. Karena semua ini, Tuhanlah yang telah menentukan. Tapi tugas Tegar setelah ini adalah menyingkirkan developer-developer curang, yang membeli tanah rakyat dengan cara yang tidak halal. Mereka membangun kerajaan bisnis mereka di atas penderitaan orang-orang miskin. Sampah-sampah seperti mereka harus dibuang ke tempat pembuangan akhir, bukan ditampung dengan alasan supaya negeri ini menjadi negara berkembang.

Kota Angin Timur, 2021

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Facebook: @khairulazzamelmaliky

Novelis. Karyanya yang sudah terbit antara
lain: Sang Kiai, Metamorfosa, Sang Nabi (2021).
Aku, Kasih dan Kisah, Jalan Setapak Menuju Fitrah,
Aku, dan Kata Selesai (Kumpulan cerpen, 2021).
Buku kumpulan cerpen yang akan terbit:
Bus Kota Warna Merah, Babi-Babi Berburu Emas,
Dan Orang-Orang Tangguh.
Dan 30 novel di Kwikku.com.
Fb: @khairulazzamelmaliky

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 8 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Balada Cinta Bocah Pemulung (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happy B23ATH Bisma Karisma

Oleh:
“We Wan’t SMASH! We Wan’t SMASH!” teriakan itu masih terngiang di telingaku, Teriakan 23 tahun yang lalu, Teriakan dimana para Motivatorku, meneriaki Kami, Teriakan yang selalu mengingatkanku pada mereka,

Peri Tanpa Sayap

Oleh:
Tatapan mata itu, aku masih sangat mengingatnya, kurasa aku takkan pernah lupa dengan mata itu, mata yang seperti momok menakutkan, mata yang besar seperti monster yang membelalak yang ingin

Diary Seorang Gadis

Oleh:
Inilah kisah gadis itu… Gadis namanya, cantik… nyaris menyentuh garis kesempurnaan! Usia nya baru menginjak 17 tahun. Putri sematawayang dari keluarga konglomerat.. dia dimanjakan oleh orangtuanya. Hidupnya sangat royal..

Serendipity

Oleh:
Berteman dengan kegelapan, itulah yang kini tengah dilakoninya. Bersama secangkir kopi tanpa gula yang masih mengepulkan asap tipis. Ge menyandarkan punggung lelahnya ke sandaran kursi kerjanya. Perlahan ia berputar

Mengukir Pelangi Di Negeri Rangsang

Oleh:
Suasana pagi nan indah, semilir angin yang berhembus dari arah laut, menyeberangi bebatuan pantai yang berbaris dengan rapi di mulut pantai. Tak tertinggal, burung-burung berterbangan di sekitaran semenanjung pantai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *