Balada Pajeko (Nelayan Tua Di Selat Lembeh)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 July 2016

Sumoal menatap langit dengan seulas senyum menyungging di bibirnya. Di langit nampak cerah, walaupun saat itu senja tak lama lagi menuju peraduan malam. Mambang kuning di ufuk barat mulai menempias di atas cakrawala, dan wajah punggung bukit yang mulai redup dalam temaram. Sebab biasanya, Sumoal akan sedikit melisut wajahnya ketika langit menampakan bilur-bilur kehitaman di angkasa sebuah pertanda parade para topan dan badai yang sedang mempersiapkan pesta tawuran mereka, kelak pada malam hari.
Sebab malam nanti, Sumoal bersama dengan sepuluh orang masanae*, sudah termasuk Gompa anak lelakinya semata wayang yang akan pergi melaut. Sudah menjadi pekerjaan sehari-hari buat Sumoal bersama dengan masanaenya. Hanya itulah keahlian mereka, yakni sebagai nelayan kecil. Sumoal bertindak selaku pemilik perahu pajeko**, sekaligus juga sebagai Tonaas*** pajeko.

Pajeko milik Sumual merupakan warisan satu-satunya dari orang tuanya. Bapak dan Ibunya sudah lama meninggal. Sebab tak ada harta lain yang dimiliki orangtua Sumoal selain perahu pajeko tersebut. Sungguh miris memang. Sebetulnya, untuk orang yang pada umumnya bila mempunyai usaha pajeko, maka tentunya akan dipandang sebagai orang yang kaya. Sebab Dia mampu membuat atau membeli sebuah perahu sekaligus johnson atau motor temple dua buah sebagai alat untuk menjalankan atau menggerakan perahu di atas laut, sekaligus juga dengan sebuah pukat untuk menangkap ikan. Walaupun hanya seukuran dua ekor tarikan tenaga kuda atau 25pk, namun itu merupakan ukuran orang yang memiliki uang. Dan orang yang demikian jika tinggal dan hidup bersosialisasi di kampung kecil, dia akan dipandang sebagai orang yang terhormat. Karena orang yang mempunyai atau memiliki perahu pajeko sudah pasti adalah orang yang berduit.
Tapi tidak untuk Sumoal. Sekolah Dasar pun hanya sampai pada kelas III. Oleh karena, sejak kecil Sumoal mengikuti ajakan bapaknya melaut. Sehingga timbul rasa jenuh dan bosan untuk menerima pelajaran di sekolahnya. Dan akhirnya Sumoal hanya tamat pada kelas III SD.
Sosok Sumoal tak jauh beda dengan peribahasa: bagai kecebong di bawah tempurung.

“Bapak, aku ikut melaut!”
“Ayo, persiapkan pakaian ganti karena di laut gelombangnya sangat ganas!” kata Bapaknya.

Esoknya lagi, bapak Sumoal bertanya.
“Moaal, melaut gak kamu!”
“Siaap pak, aku mau melaut!”
Dengan semangat berapi-api Sumoal terus, dan terus merasa betah dan keenakan melaut bersama bapaknya. Lupa pada diinya sendiri. Dan sebaliknya bapaknya juga demikian.
Cuaca seperti inilah yang didambakan oleh Sumoal. Ya, seperti inilah harapan Sumoal. Harapan bagi seorang nelayan untuk mempertaruhkan nyawa bila gelombang datang menerjang di tengah samudera luas. Sebab arus dan gelombang akan membenturkan pada buih-buih gelombang kepada siapapun dan apapun yang memalang di depannya, pasti akan binasa.
Hidup memang penuh dengan segala perjuangan, Apalagi jika ingin menggapai impiannya. Dengan cara apa saja yang penting keinginannya terpenuhi. Apakah itu dengan sesuatu yang benar ataukah dengan cara-cara yang tidak terpuji ataukah dengan cara mengorbankan orang lain yang penting diri sendirinyalah yang selamat. Sebab hanya dengan begitu saja sebuah impiannya pasti akan tercapai. Pemikiran yang terlalu sempit.

Sekali lagi, Sumoal menatap angkasa, bahkan sekali-kali pandangannya mengarah ke sebuah pohon Ketapang yang tumbuh di samping rumahnya, tak jauh dari tepian pantai.
Lautan sangat teduh. Tiada desir angin pada daunnya.. Angin hanya berhembus syahdu dan semilir nyaris serupa berbisik. Desis kata hati Sumoal.

Para masanae, semuanya telah siap di atas pajeko termasuk Gompa. Dengan handuk melilit di kepalanya Sumoal beranjak menuju Perahu. Tak lama kemudian perahu pajeko Sumoal bersama masanae pajeko perlahan-lahan menyusuri tepian pantai, menuju lautan lepas, samar-samar terlihat sebuah nama pada perahu pajeko yang tertulis di samping depan dengan warna cat putih, Dirham, dengan huruf kapital.
Sempat salah seorang masanae Sumoal bertanya tentang arti Dirham yang tertulis pada badan perahu pajeko itu dan Sumoal menjawab, Itu kependekan kata, yang artinya: “Diriku hampir mati!” Para masanae yang lain hanya tertegun dengan jawaban Bos mereka. Pikir mereka Pak Sumoal tentu seorang yang ulung dan hebat di laut. Karena jawaban tadi menunjukan seorang Tonaas punya kesaktian sehingga dia tidak jadi mati. Dalam hati mereka berdecak kagum.

Malam mulai merayap perlahan-lahan. Udara laut semakin dingin. Air laut nampak laksana berminyak sebab di laut yang sangat luas itu tidak ada ombak mendebur. Hanya kecipak riakan kecil yang tersebat pada lunas perahu oleh karena sentuhan lajunya perahu.

Hampir tengah malam masih belum ada juga tanda-tanda perahu lampu untuk memanggil perahu-perahu pajeko dengan bahasa isyarat mereka bahwa ikan sudah naik. Bila sekawanan ikan sudah naik menghampiri perahu lampu, maka orang yang berada di atas perahu lampu itu cepat-cepat memberikan kode ke setiap penjuru laut untuk memanggil perahu pajeko untuk melingkari dengan pukat yang sangat panjang. Panjang pukat penangkap ikan hampir semua di atas ukuran 100 hasta dengan ke dalama atau lebar pukat kurang lebih 10 sampai 20 hasta. Semua tergantung besaran perahu pajeko. Semakin besar perahu pajeko itu tentu ukuran pukatnya juga sangat besar dan panjang.

Sepanjang malam itu, Sumoal tidak tidur. Matanya terus menerawang ke seantero lautan. Sebagai Tonaas, Sumoal tentu sudah tahu jam-jam untuk memukat ikan. Namun dia terus memantau keadaan laut, jikalau tiba-tiba ada isyarat panggilan. Sebab bila sudah ada isyarat, semua pajeko akan berebutan ke lokasi perahu lampu tersebut. Perahu pajeko mana yang duluan tiba tentu dialah yang berhak untuk menjala sekawanan ikan itu. Apalagi ukuran pajeko Sumoal termasuk ukuran yang kecil. Kalah bersaing kecepatan dengan pajeko lainnya.

Pada malam itu juga, tanpa sepengetahuan Sumoal. Gompa anaknya tak bisa tertidur. Teman-teman masanae lainnya sudah terpulas dengan mimpi mereka masing-masing. Gompa nampak gelisah, tetapi dia tetap saja berbaring. Usianya kurang lebih tujuh belasan tahun. Sama seperti bapaknya, Gompa hanya sampai bangku sekolah dasar kelas IV.
Apakah pepatah tua telah menjadi sumpah serapah dalam hidup ini. Sehingga apa yang dibuat oleh orangtuanya akan pula terbawa ke anak atau turunannya kelak? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sungguh kalimat yang seakan mencemooh dan menohok bagi kehidupan seseorang. Seakan mata rantai itu menjadi dendam kesumat dan mengakar di setiap jiwa-jiwa yang pongah, sulit untuk terbantahkan dan terpatahkan.

Bola mata Gompa yang sedang berbaring, menerawang bintang gemintang di langit. Tiba-tiba saja dia melihat raut ibunya yang telah meninggal tujuh tahun silam akibat serangan malaria tropika. Tangan ibunya seakan-akan melambaikan memanggil dia dari sorga. Gompa hanya tertegun menatap dengan tatapan hampa.
Lapat-lapat, dari kejauhan di daratan sana terdengar suara azan subuh di Mesjid mulai menggema. Pula, dentang lonceng Gereja untuk persiapan ibadah subuh di Minggu pagi itu bagi umatnya. Semua akan bersujud pada Sang Khalik. Memohon ampunan dariNya
Tiba- tiba terdengar suara teriakan keras Sumoal.
”Cikaarr”. Ini sebuah perintah dan menjadai trend para Tonaas dan seluruh nelayan, agar segera dan secepat mungkin bergerak maju. Sebab operasi sudah dimulai.

Seluruh masanae terbagun, berlarian dan sibuk mempersiapkan operasi penyerbuan mereka. Buru-buru yang memegang kendali mesin menstarter mesinnya.. Juru mudi segera berada memegang kemudi untuk mengendalikan perahu. Perahu pajeko Sumoal melesak dengan raungan gas mesin laksana sang raungan harimau ganas yang sedang kelaparan.. Di depan haluan perahu, pada bagian atas Sumoal dengan tongkat komando di tangannya berupa senter delapan baterai memberikan isyarat cahaya bila membelok ke kanan atau pun ke kiri. Tak berapa lama, perahu pajeko Sumoal yang bernama Dirham, melesap bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Tak terhitung menit, mereka telah tiba di perahu lampu yang mengirim kode tadi, dan tak lama kemudian para masanae segera melego pukat dengan cara melingkari perahu lampu yang berisi ikan. Lalu perahu lampu itu kemudian meredupkan cahaya lampunya, untuk membiarkan sekawanan ikan di dasar laut itu agar tidak berjibaku. Perlahan sekawanan ikan-ikan itu telah diam sambil bergerombol di bawah redup cahaya lampu petromax sebanyak enambelas buah. Sungguh suatu penglihatan cahaya yang terang benderang di tengah lautan yang maha gelap itu.

Pekerjaan ini memang membutuhkan gerakan reflex, dan sangat cepat dan cekatan. Hanya orang yang sudah tebiasa dapat mengerjakan pekerjaan secepat itu. Karena menangkap ikan itu sangat sulit sekali. Apalagi pekerjaan ini dikerjakan secara manual dengan tangan manusia. Tidak memakai alat-alat canggih seperti yang terlihat di Televisi, namun justru dengan teknologi modern sekarang ini, ikan-ikan hampir musnah oleh karena banyak pencurian ikan di wilayah-wilayah tertentu termasuk juga di wilayah Sumoal.

Sumoal sibuk memberi aba-aba kepada masanaenya. Sambil teriak–teriak, agar anak buahnya cepat bergerak.
“Haluan, kemudi, haluan, kemudi!”
Aba-aba ini juga menjadi bagian dari pekerjaan nelayan pajeko. Itu maksudnya agar ada keseragaman dan kesatuan kerja untuk mengeluarkan tenaga. Sebab menarik pukat dari dalam air, itu juga sangat sulit. Beratnya luar biasa. Apalagi pukat itu sudah terjaring beribu-ribu ton ikan di dalamnya.
Suara Sumoal membahana, memecah sunyi dihari hampir pagi itu. Dalam hatinya sungguh sangat gembira sekali. Sebab rejeki datangnya disaat pagi mulai merekah.

Seperti biasanya dalam pekerjaan ini pula, ada salah satu masanae akan melompat ke laut untuk memegang dan mengatur tali pelampung. Agar pelampung dan besi pemberat bisa tegak berdiri, untuk mencegah ikan-ikan tidak lolos dari jeratan pukat tersebut. Tugas itu adalah Gompa.
Gompa menghentak tubuhnya. Sekali genjot dia telah terjun ke laut, Suara air laut berkecipak menangkup tubuh Gompa, lalu dia berenang sambil memegang pelampung untuk tetap terapung di permukaan laut. Dia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Gompa pun sangat gembira. Sebab ikan yang masuk dalam jaring tangkapan adalah sekawanan ikan yang jumlahnya sangat banyak.
Sementara itu awak masanae mulai menarik pukat ke atas perahu. Sembilan orang berbagi kelompok masing-masing. Perlahan-lahan namun pasti, jaring itu mulai bergerak terangkat.
Para masanae melihat hasil tangkapan sungguh sangat besar, maka semangatlah mereka melebihi semangat hari-hari kemarin.
Hingga akhirnya, perahu pajeko Dirham tak bisa menampung seluruh ikan yang ada. Perahu mereka sudah sarat. Bila dipaksakan Perahu Pajeko Dirham akan tenggelam oleh banyaknya ikan yang dimuat. Beruntung ada salah satu pajeko lain yang masih berada di sekitar pajeko Dirham.

Sumoal memanggil tonaasnya untuk segera merapat. Sambil bernegosiasi sedikit, akhirnya pajeko itu siap membantu mengangkut ikan-ikan yang masih belum sempat terangkat. Dengan jaminan pajeko itu akan mendapat bayaran yang cocok dari Sumoal. Kerja sama yang baik dan saling menguntungkan.
Fajar telah menyingsing dari Timur. Cahaya kuning keemasan membias di cakrawala. Air laut mula nampak terlihat. Riakannya berkecipak bersama hembusan angin pagi. Menyatu sendu dengan langkah gemulai sang surya untuk menibakan sebuah kisah tentang hati yang ceria dari seorang Sumoal. Tanah daratan nampak mulai benderang.
Bersamaan pula, dua perahu pajeko perlahan bergerak bergandengan menuju labuhan impian, bagi seluruh awak pajeko itu. Betapa tidak! hasil tangkapan mereka ini sangat luar biasa banyaknya. Dan mungkin baru kali itu Sumoal dan awak masanaenya mendapat rejeki yang melimpah seperti demikian. Tempat pelelangan ikan sudah tampak terlihat. Perjalanan dari laut memakan waktu kurang lebih dua jam.
Tiba-tiba Sumoal kelihatan bingung. Seakan-akan dia mencari sesuatau. Masing-masing awak masanaenya ditatap satu persatu. Kepalanyan mendongak ke pajeko yang satu bergandengan dengan pajeko mereka. Tubuhnya mulai gemetar. Tanpa bicara Sumoal terus mencari-cari. Semua sudut kedua pajeko itu sudah dicari. Dia kembali ke awak masanaenya.
“Kalian melihat Gompa!?”
Seluruh masanae terperanjat. Semuanya ikut mencari sambil memangil manggil. Tidak ada jawaban.
Lututnya goyah dan lemas, Lalu terjatuh sambil berdiri dengan lututnya dan memandang ke arah buritan, dimana mereka tadi mulai beranjak. Dengan kepala mendongak ke langit dan kedua tangan yang gemetar sekali mengembang ke atas.
“Gompaaaaaaa!!!”

@rskp, 02052016, Jakarta

Masanae)* = Anak buah nelayan
Pajeko)** = Perahu penangkap ikan
Tonaas)*** = Kepala / pemimpin perahu pajeko
Selat Lembeh = Selat antar pulau Lembeh dan daratan kota Bitung
Lokasi: Arah Utara dari kota manado Sulawesi Utara

Cerpen Karangan: Riecki Serpihan Kelana Pianaung
Facebook: Riecki Serpihan Kelana
Karya ini asli.
Cerita ini hanya fiksi, nama dan tempat hanya kebetulan saja. Sebab penulis lahir dan di besarkan di daerah ini.

Cerpen Balada Pajeko (Nelayan Tua Di Selat Lembeh) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Markonah dan Uang Lima Ribuan

Oleh:
Markonah menemukan uang lima ribuan. Pas waktu itu di kantongnya hanya tinggal uang lima ribu. Jadi sekarang uang Markonah ada sepuluh ribu. Markonah bingung. Ini uang siapa? Haruskah aku

Kesialan di Malam Jumat

Oleh:
Kau menghela napas panjang. Bola matamu bergerak ke kanan dan kiri, menyapu setiap jengkal taman ini. Kau menggerakkan tangan kanan, mengetuk-ngetuk kursi besi berwarna merah, yang diduduki sedari tadi.

Entahlah

Oleh:
Pagi hari ibuku selalu membangunkanku dengan cara-caranya yang tak bisa kutebak. Kali ini ia membangunkanku dengan mencubit hidungku sangat keras. Katanya, ia sudah membangunkanku tiga kali, tapi aku tak

Menelusuri jejak sang pencerah

Oleh:
Penguasa siang nampak terbakar oleh kobaran api dan menyemburkan cahaya panas yang menghujam ke permukaan bumi, suara desingan mesin-mesin robot jalanan menambah kepenatan saat itu, deru kereta api terdengar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *