Banjir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 7 March 2018

Sore itu, kota Tuban terasa lebih sejuk. Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Letak lapangan itu bersebelahan dengan kantor Kepala Desa. Di antara anak-anak kecil yang sedang asyik menendang bola, ada Damar, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun. Bermain bola sudah menjadi rutinitas sehari-hari Damar dan teman-temanya setelah pulang sekolah.

Tidak seperti biasanya, Damar dan teman-temanya yang terbiasa mengakhiri pertandingan sepak bola setelah adzan maghrib. Tidak seperti biasanya, pertandingan sepak bola harus diakhiri lebih awal. Alasan Damar mengakhiri pertandingan bola lebih awal, bukan karena tim Damar menang telak dengan skor 4-0, tapi ditengah pertandingan langit sudah menampakan warna gelapnya. Pertanda hujan akan segera turun.

“Sudah dulu ya. Kelihatanya mau hujan,” ujar Damar kepada teman-temanya.
Roni, teman Damar, yang kebetulan waktu itu menjadi tim lawan Damar seolah tidak terima dengan ajakan Damar, “Ah, Kamu curang. Mentang-mentang sudah menang, mau berhenti. Tidak bisa. Ayo kita teruskan main bolanya.”

“Kamu tidak lihat, langit sudah gelap. Aku takut kalau ada petir.”
“Kamu cari-cari alasan saja Mar. Ayo kita teruskan, kalau hujan tambah seru. Biasanya kita juga masih lanjut kalau hujan. Toh, sekarang masih belum ba’da maghrib.”

“Kamu tidak mendengar kabar baru-baru ini, hah?” Sahut Damar dengan raut wajah serius.
“Kabar apa?”
“Dasar anak rumahan! Minggu kemarin, anak Bu Parman, Rohim, yang tinggal di kampung sebelah meninggal gara-gara tersambar petir waktu mencari katak di sawah. Kamu mau nyusul, hah!”
“Hah, penakut kamu. Soal mati-hidup sudah diatur sama yang Di atas, kata Pak Ustadz. Jadi gak usah cari-cari alasan deh.”

“Terserah kamu saja lah. Aku mau balik sekarang, kalau kalian masih mau main ya silahkan. Aku balik dulu.”

Mendengar perdebatan itu, teman-teman Damar lainya hanya terdiam. Roni yang awalnya ingin terus bermain, akhirnya ikut pulang juga. “Permainan tidak menjadi seru, ketika Damar pulang, aku pulang saja,” pikir Roni.

Seperti lampu kamera, langit sudah mulai menampakan kilat-kilat cahaya, pertanda hujan deras akan segera turun diselingi dengan petir. Damar berlari kencang menuju rumahnya. Jarak antara lapangan sepak bola dengan rumahnya tidaklah terlalu jauh. Ketika berlari menuju rumah, nampak dari kejauhan oleh mata Damar cerobong asap milik pabrik tambang minyak. Cerobong itu berdiri dengan sombongnya di tengah guyuran hujan.

“Itu bangunan apa ya? Dan pipa besar yang mengeluarkan asap itu fungsinya apa?” dalam hati, Damar bertanya pada dirinya sendiri.

Sudah hampir empat tahun pabrik penambangan minyak itu berdiri. Kota Tuban menjadi lokasi yang potensial untuk didirikan pabrik minyak. Hal itu tidak lepas dari rumusan para pakar ilmu pasti yang menyatakan bahwa kota Tuban memiliki sumber daya minyak yang bisa diekspoitasi.

Rumah Damar tidak begitu mewah, tapi tidak terlalu jelek juga. Rumahnya terlihat seperti penduduk desa pada umumnya: memiliki halaman depan yang luas, di samping kiri rumahnya terdapat kandang berisi seekor Lembu dan anaknya, dan sebelah kanan, sedikit agak kebelakang ada tempat jemuran sederhana. Sewaktu Damar masuk ke dalam rumah, terlihat Ibu dan Bapaknya sedang asyik mengobrol.

“Assaalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” Jawab Bapak dan Ibunya dari dalam rumah.
“Dari mana kamu Mar?” Tanya Bapaknya sembari menghisap rokok tingwe.
“Biasa Pak, habis main bola sama teman-teman di lapangan.”

“Sudah. Cepat ganti baju. Nanti, kamu masuk angin,” Perintah ibunya.
“Iya Bu.”

Damar bergegas menuju kamar mandi. Baju dan celana yang kotor terkena lumpur, dia lemparkan ke dalam ember tempat cucian. Sembari mencuci bajunya yang terkena lumpur, Damar membilas seluruh badanya. Mandi sembari mencuci. Ketika sedang asyik mandi, Damar mulai teringat kembali dengan bangunan putih yang dilihatnya tadi. Damar yang usianya baru 14 tahun, belum paham betul bahwa bangunan itu bernama pabrik. Selain mengagumi besarnya bangunan itu, Damar juga terkesima melihat pipa besar yang hampir setiap hari mengeluarkan asap putih, bahkan ketika hujan.
“Aku mau tanya sama Bapak dan Ibu, ah, setelah ini,” ujar Damar dalam hati.

Tubuh Damar kembali nampak segar setelah mandi. Pakaian kotor yang sudah dicuci tinggal dijemurnya setelah hujan reda. Pakaianya sudah berganti. Damar memang sudah terbiasa melakukan apapun secara mandiri, hanya satu kegiatan yang tidak bisa dilakukanya sendiri yaitu cebok setelah buang air besar. Pernah suatu ketika, Damar ingin cebok sendiri setelah buang air besar, tapi hasilnya kurang bersih. Kotoran yang menempel di pantat kecilnya masih tertinggal, mungkin karena tangan Damar yang masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan itu.

“Bu, bangunan putih, besar di sebelah sana itu, namanya apa?” Tanganya sambil menunjuk ke sembarang arah.
“Bangunan yang mana?”
“Haduh, itu-itu yang besar warnanya putih dan sebelahnya ada pipa besar yang bisa menegeluarkan asap.”
“Oh, itu namanya pabrik Le.”

“Pabrik itu sama kayak rumah ya, Bu? Kalau rumah, kok, besar? Pasti yang punya orang kaya?”
“hahahahaha,” Bapaknya yang mendengar pertanyaan polos itu, lantas tertawa terbahak-bahak.
“Ya beda, toh, kalau rumah itu buat tempat tinggal, kalau pabrik itu tempatnya orang kerja.” Ibunya berusaha menjelaskan.

“Oh, tempat kerja. Kalau tempat kerja berarti bisa dapat uang dong, Bu?”
“Iya. Coba tanya sama Bapak saja, sana,” terlihat Ibu sudah mulai lelah menjawab brondongan pertanyaan Damar.

“Yang dikatakan Ibumu benar Le. Kalau rumah buat tempat kita istirahat, kalau pabrik tempat orang cari uang,” Bapak Damar berusaha memberi jawaban yang sederhana agar mudah dimengerti Damar yang masih anak-anak.
“Lho, kalau di sana bisa cari uang, kenapa Bapak gak ke sana, supaya dapet uang banyak? Kan, uangnya bisa buat beli TV baru,” tanganya sembari menunjuk TV tua yang ada di ruang keluarga.
“Husssh, jangan ngomong gitu. Kan, Bapakmu sudah bekerja di sawah. Uang sekolah kamu memangnya datang dari mana, kalau tidak dari sawah,” Sahut Ibunya.

Damar yang sejak tadi mengobrol dengan Bapak dan Ibunya, ternyata tidak menyimak betul apa yang diucapkan kedua orangtuanya. Sembari mengobrol, Damar terlihat tersenyum sendiri.

“Le, kamu kenapa kok senyam-senyum? Hujan-hujan begini jangan kebanyakan melamun, nanti kesambet.”
“Nggak, kok, Bu.”
Bapaknya penasaran dan menyakan maksud senyuman Damar. Damar yang awalnya malu-malu, akhirnya menjawab juga.

“Eh, itu Pak. Sekarang, kan, sudah musim hujan. Kalau sekiranya desa kita banjir lagi, Damar jadi senang.”
“Lho, kok gitu? Ya moga-moga jangan sampai banjir lah. Hampir tiap tahun desa kita ini terendam banjir, semoga tahun ini tidak. Apalagi, bapak dengar kabar, salah satu pejabat tinggi akan berkunjung ke desa kita. Semoga kunjunganya bisa merubah kondisi desa kita yang selalu banjir tiap tahun.”

“Nggak! pokoknya Damar nggak setuju, kalau ada orang yang mau menghilangkan banjir,” Bantah Damar dengan polosnya.
“Kamu mau kalau desa kita terus-terusan banjir?”
Damar diam saja mendengar ucapan Bapaknya.

“Sudahlah Pak. Damar masih anak-anak. Dia belum mengerti,” Ibunya berusaha menengahi.
“Damar, memangnya kenapa kamu kok senang desa kita ini Banjir?”
“Kan, kalau banjir enak, Bu. Damar bisa berenang sama teman-teman.” Jawab Damar dengan polosnya.
Orangtuanya hanya tercengang mendengar jawaban itu dan tidak membantah ucapan Damar.

Suasana sudah mulai ramai. Para bapak sudah mulai hadir dan memenuhi rumah Damar. Acara yang sudah dijadwalkan setelah shalat maghrib akan segera dimulai. Acara belum bisa dimulai, karena Pak Yongki, selaku tokoh masyarakat sekaligus pemimpin do’a, belum hadir. Seperti pada umumnya, orang penting biasa datang terlambat. Sembari menunggu acara dimulai, orang-orang mulai sibuk dengan obrolanya masing-masing. Karena kebanyakan berlatar belakang sebagai petani, maka perbincangan tidak lepas dari masalah: pupuk, padi, musim dan hal lain yang menyangkut urusan pertanian.
Ibu Damar berada di dapur. Bersama dengan ibu-ibu lainya, Ibu Damar beserta rekan-rekanya mendapat tugas menyiapkan makanan untuk Bapak-Bapak yang berdoa di ruang tengah.

“Bu, bu, bu,” tegur Ibu Parman kepada Bu Darmi.
Teguran itu tidak dihiraukan. Ibu Darmi seperti orang yang kesurupan. Tatapan matanya kosong.

“Bu Darmi!” Teriakan Bu Parman yang cukup kencang, selain membangunkan Bu Darmi dari lamunanya, teriakan itu turut mengagetkan ibu-ibu lain yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
“Eh, iya Bu maaf,” Jawab Bu Darmi dengan raut wajah kebingungan.

“Masih kepikiran Damar? Bu, Maaf sebelumnya, bukanya saya mau menasehati, tapi, ikhlaskan saja kepergian Damar. Saya awalnya juga sering melamun, ketika anak saya, Rohim, meninggal terkena petir. Tapi setelah saya pikir-pikir semua sudah ada yang mengatur, jadi saya sudah bisa menerima. Saya tahu betul perasaan njenengan.”

“Tapi Bu, kasus Damar dengan Rohim beda.” Air mata mulai membasahi pipi Bu Darmi. Sembari menangis tersedu-sedu dia melanjutkan, “kalau sampean mungkin bisa menerima hal itu sebagai takdir, karena penyebabnya adalah petir, tapi kalau Damar? Huh, huh, huh. Damar meninggal karena hanyut terseret banjir, dan banjir tidak bisa dikatakan takdir. Banjir itu penyebabnya manusia, Bu. Lihat itu, gara-gara ada pabrik di mana-mana, desa kita jadi sering banjir. Saya juga kecewa dengan pejabat yang beberapa hari lalu datang ke desa kita, sebelum kejadian nahas itu terjadi. Saya kira pejabat itu ingin membuat desa kita terbebas dari banjir, tapi nyatanya, Pejabat itu datang ke sini hanya untuk acara makan-makan dengan orang-orang berdasi dari pabrik itu!”

“Hussh, Istighfar, Bu, jangan bilang begitu. Setidaknya, ada hikmah dari kejadian itu. Dengan adanya kejadian itu, suamimu kan sekarang sudah diangkat sebagai pegawai di sana. Jadi sekarang ndak usah repot-repot ngurusin sawah yang hanya tinggal sepetak itu. Gajinya besar pula,” ujar Bu Parman sembari memeluk Bu Darmi.
“Iya juga sih,” Jawab Bu Darmi sambil terus menangis.

Suasana Malam yang hening terpecahkan dengan lantunan Surat Yasin yang dipimpin oleh Pak Yongki. Semua yang hadir di rumah Damar khusyuk berdo’a, berharap Do’a itu bisa sampai ke Damar yang sudah tenang di alam sana akibat tenggelam di tengah musibah banjir yang menimpa desanya beberapa hari lalu.

Cerpen Karangan: Achmad Soefandi
Blog: siand1k.wordpress.com
Facebook: Achmad Soefandi (Andik)
Alumnus Universitas Negeri Surabaya, Jurusan Sosiologi.

Cerpen Banjir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penantian Bersama Senja

Oleh:
Senja sore ini tampak begitu indah, ditemani nyiuran kelapa yang tengah melambai-lambai di tanah pertiwi, hembusan angin menyejukkan hati, segenap alam ini sungguh tak tertandingi. Deburan ombak itu menyerbu

Kotak Pandora Sang Mantan

Oleh:
Aku baru saja terduduk tenang di sebuah sofa empuk yang nyatanya tak benar-benar empuk karena sudah terlalu sering kududuki. Di sebelahnya, sebuah meja kecil yang diatasnya terdapat sebuah bingkai

Idola Melly

Oleh:
Ada seorang anak yang bernama Melly Defira Putri. biasanya, dia di panggil Melly. Melly bersekolah di SD Hermina I. “Melly!!” panggil seseorang. ternyata itu Helena. Helena adalah sahabat nya

Senandung Untuk Ibuku

Oleh:
Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *