Bapak Pinjami Aku Hatimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

Suara burung terdengar seperti irama pengiring tidur, ditemani suara ombak kecil, berdenting sangat lembut alunannya. Daun pohon yang tertiup angin terlihat melambai-lambai, dan matahari mulai meredupkan sinarnya, sebab senja akan segera tiba. Namun kakiku belum juga beranjak pergi dari suasana ini, karena suara pantai menyeruku untuk tetap di sini, menemani sepi dan kebingunganku setiap hari. Aku juga butuh teman dan butuh tenang.

Namaku Adelwis, gadis kecil berambut hitam berkulit kuning langsat. Aku tinggal di sebuah gubuk kecil dekat pantai, tinggal bersama Bapak terkadang bersama Mamak. Mereka sudah lama berpisah, Mamak sudah menikah lagi dengan tetangga desa, tapi terkadang singgah di rumah kami sekedar mampir, atau menginap saat Bapak lagi sibuk berlayar tengah malam. Bapak masih duda, tanpa ada wanita yang menemani kecuali aku. Tubuhnya sudah renta, hari demi hari bergilir, Bapak semakin menua. Uban sudah mulai menumbuh di sela-sela helai rambutnya, pendengarannya juga mulai mengurang, terkadang Bapak mengeluh sakit punggung saat tiba pulang dari melaut.

Saat melaut adalah berangkat sore pulang pagi, itulah Bapak. Mencari ikan di laut bayarannya tak seberapa, cukup untuk makan dan minum. Bapak tetap saja melakoni pekerjaan itu, katanya “Bersyukur masih dapat kerja Nak!” Selama ini Bapak tidak pernah mengajakku melaut, aku jadi penasaran bagaimana rasanya melaut seperti Bapak.

Senja tiba, saat Bapak berangkat melaut, menunggu Mamak datang baru Ia pergi.
“Bapak? Aku boleh ikut Bapak mencari ikan? Jenuh Pak, Delwis di rumah terus.” Tanyaku pada Bapak, memegang tangannya.
“Cukup singgah di rumah Delwis, Mamakmu akan datang menemanimu sebentar lagi.” jelas Bapak dengan tenang
Tak lama kemudian Mamak pun datang, Bapak langsung beranjak pergi melaut, “Jaga Delwis, baik-baik.” Pamit Bapak. Mamak hanya mengangguk tanpa menolehnya.

Di rumah, kami malah saling diam, aku tak tahu apa yang harus aku ceritakan dan tanyakan, rasanya takut. Yang kulihat dulu dan sekarang, sifat Mamak berbeda, lebih banyak tiba-tiba diam lalu marah-marah.
“Dulu kan Mamak pernah mengajarimu untuk tidak berlaku kotor, ini kenapa dapur bersimbah debu Del?” Tegur Mamak padaku,
Aku hanya diam, menundukkan kepala.

Jenuh di rumah, aku keluar ingin bermain dengan teman-temanku. Aisfa, Tulip, dan Nuri, “Delwis! Sini!” terdengar Nuri memanggilku dari jauh, aku hanya menoleh dan lari ke sumber suara. Kami pergi ke sebuah gajebo kecil, disitu kami bercerita-cerita, tertawa bersenda gurau. Namun keadaan berubah saat Teratai datang, ia datang dan bercerita buruk tentang Bapak,
“Tau nggak? Bapakmu itu punya banyak utang sama Papa aku, tapi waktu ditagih, nggak dikasih-kasih, gara-gara Papamu itu! Aku jadi gagal pergi nyusul Kakakku.” Tegas Tera menatapku,
Aku paling benci siapapun yang mengusik tentang Bapak, turun dari gajebo lalu memukulnya “Jangan pernah hina Bapak, Bapak nggak ada kaitan sama Kamu!!!” Tegasku,
Dia menangis lalu lari, aku menoleh ke gajebo itu teman-temanku terlihat takut, lalu aku menghampiri mereka, tapi mereka malah lari. Tiba-tiba kepalaku pusing, kepalaku sekejap mengingat masa lalu saat Mamak dan Bapak bertengkar, aku pun bersender di bawah pohon Kelapa.

Hari sudah mulai petang, Mamak pasti mencariku, aku pun melangkah menuju rumah, di sepanjang jalan anak-anak lain bilang “Jangan temani dia, dia galak sama kayak Mamaknya.” Lagi “Nak jangan dekat-dekat dia, dia anak nakal” Aku hanya melototi mereka. Sampai di rumah, Mamak terlihat melotot padaku tiba-tiba, Plakkk.. Plakk… Mamak memukuliku “Kamu apakan anak Bos itu? Hei Jawab? Kamu? Siapa berani-berani memukulinya, ini balasannya ya!” Tegasnya sambil memukulku, aku lirih menangis dan bilang “Ampun Mak! Ampun Mak!”. Malam itu Mamak langsung pulang meninggalkanku. Sepi rasanya, sakit semua badanku, lirih rasanya nafasku. Bapak? Cepat pulang aku lelah pak.

Pagi tiba, Bapak pulang melihatku “Loh.. Delwis. Ini kenapa mukamu memar?” Aku menangis “Bapak, Delwis sakit, Mamak memukulku lagi” kupeluk Bapak. Seharian Bapak mengompres lukaku lalu menyuapiku, “Bapak? Kenapa waktu dulu Mamak memukul Bapak, Bapak nggak balas?” tanyaku. “Nak? Bapak pernah melakukan kesalahan pada Mamakmu, sudah sepatutnya Bapak begini. Yang penting tidak ada dendam dan benci dari Bapak padanya.” Jelas Bapak. “Sabar, harus kuat”.

Bapak hari ini tidak melaut, dia lebih memilih menemaniku, karena tidak ada yang menjagaku, Mamak tidak mau menemani malam ini. Krik… krik.. krik… suara jangkrik malam hari, aku bersandar di samping Bapak, yang sedang berlibur melaut hari ini. “Bapak? Kenapa Delwis hidup seperti ini?” ucapku sembari tidur di pangkuan Bapak. “Delwis, anak Bapak yang kuat dan tangguh, seharusnya kamu biarkan mereka berbicara semau mereka, mereka tidak tahu hidupmu seperti apa, sabar ya Nak! Tuhan Memiliki rencana lebih indah untukmu.” Ujar Bapak sambil mengelus-elus rambutku.
Bapak? Pinjami aku hatimu, agar aku tahu rasanya bersabar dan kuat mengahadapi semua masalah, agar aku belajar menjalani hidup tanpa rasa benci sedikitpun terhadap siapapun yang mencelaku, agar aku bisa berjuang tak mengenal kata menyerah, agar aku bisa terus bersyukur dengan adanya karunia Tuhan yang terindah, yaitu engkau Bapak.

Cerpen Karangan: Nonik Soedirman
Facebook: Nonik Soedirman
Instagram: @noniksoedirman

Cerpen Bapak Pinjami Aku Hatimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sad But True

Oleh:
Melihat sebuah foto yang terpajang di dinding rumah itu, membuat Else teringat pada masa-masa kecilnya. Dimana ia hidup dengan penuh cinta dan kasih sayang. Saat keluarganya masih lengkap dan

Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

Cinta Tanpa Syarat (Part 2)

Oleh:
Suasana rumah sakit cukup ramai siang itu. Tampak Pak Rio sedang terburu-buru menemui Shady. “Shady, bisakah kita bicara sebentar?” “Baik, Om. Ada apa?” “Begini, seperti janji Om, Om sudah

Malam Takbir

Oleh:
Senja telah tergantikan oleh kabut hitam di awan, penghias langit telah berganti menjadi malam yang gelap. Di setiap jalan sudut kota telah terhiaskan lentera lentera malam kemenangan menemani dan

Entahlah

Oleh:
“Entahlah” hanya kata itu yang bisa ku katakan saat melihat whatsapp ku tak dibalas olehnya. Aku selalu memulai dan aku selalu mengakhiri setiap pembicaraan dengannya “mengenaskan” kata yang muncul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *