Baranti Accident

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Aku masih menahan kantukku, ku lirik arloji yang melingkar di tangan ini telah menunjukkan pukul 23.00.
“Huaaah Jusman belum tidur,” sahut Puang -panggilan kehormatan untuk orang yang lebih tua- Haji, ku lihat puang haji mengucek matanya dan sesekali menguap.
“Belum Puang Haji masih ada yang harus ku kerjakan malam ini,” sahutku tersenyum kepada puang haji pemilik rumah yang dijadikan Posko Kelurahan Baranti.
“Yah terlalu banyak begadang dek Jusman tidak baik juga,” Pung Haji kemudian memberikan secangkir kopi kepadaku.
“Yah tapi kalau ada perlunya tidak apa-apa juga, jaga kesehatanmu dek,” puang haji meninggalkanku yang sedang asyik mengetik di depan Laptop, tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada puang haji atas pemberian kopinya.

Malam semakin larut, pekerjaan membuat Laporan KKN belum rampung-rampung juga, tinggal sepekan lagi penarikan dan lusa aku harus segera memberikan Laporan ini ke Kantor Kelurahan untuk disahkan. Sesaat aku mengistirahatkan mataku yang sedari tadi beradu dengan layar Laptop, ku lirik teman-temanku yang sedang berbaring di dekat ruang tamu, para pria ditempatkan di dekat ruang tamu sedangkan perempuannya diberikan tempat khusus di dua kamar yang cukup berdekatan di rumah panggung ini. Aku kemudian menyeruput kopi pemberian Puang Haji yang mulai dingin, ketika seruputan terakhir dari secangkir kopi aku merasakan situasi aneh di sekitarku.

“Suasana aneh apa ini tiba-tiba menyelimuti,” Aku beranjak dari tempat duduk dan menyibak tirai yang menutupi jendela, ku intip dari melalui kisi-kisi jendela, sayup-sayup riuh rendah warga berkerumun di depan rumah. “Apa yang terjadi?” tanyaku pada diri sendiri. Aku memutuskan ke luar rumah dan melihat dari beranda. “Kenapa banyak sekali warga di depan rumah? Dan kenapa ada yang membawa ember dan baskom segala?” rasa penasaranku menuntunku turun dari beranda rumah dan melihat situasi dari balik pagar.

“Kebakaran…Kebakaran!!!” teriak salah satu warga kelurahan sambil membawa baskom menuju salah satu rumah warga. Kulihat si jago merah telah beraksi melumat bagian beranda rumah salah satu warga yang jaraknya cukup dekat empat blok dari rumah tempatku berdiam diri selama ber KKN.

Ku putuskan menghubungi call center dinas pemadam kebakaran Kabupaten Sidenreng Rappang, memberikan informasi kebakaran yang sedang terjadi di kelurahan ini. Setelah sambungan line telepon terputus aku bergegas menuju dekat ruang tamu tempat biasa para pria meringkuk dalam selimutnya. “Mochtar Kacong.. bangun,” sahutku pada kawan seposkoku ini yang lebih dikenal sebagai seorang pelawak daripada seorang mahasiswa yang sedang mengabdi di masyarakat.

“Mochtar bangun cepat,” ku bangunkan juga semua penghuni posko, termasuk puang haji.
“Mochtar kenapa kamu bangunkan kami di dini hari ini?” tanya puang haji yang matanya mengeluarkan aura seperti bohlam 5 watt.
“Maaf aku membangunkan kalian semua termasuk Puang Haji, soalnya ada kebakaran di kelurahan ini, pas empat blok di samping rumah ini Pak,” ku lihat raut wajah mereka yang berubah drastis. “Serius jangan bercanda kamu?!” sahut Mochtar.
“Kalau tidak percaya mari kita ke luar rumah sekarang dan lihat sendiri,”

Kami semua bergegas menuruni anak tangga dan menuju rumah yang terbakar itu. Ku lihat puang haji mengucapkan istighfar dan bersama warga membantu memadamkan api dengan alat seadanya, para pemuda bahu-membahu mencoba memadamkan api bahkan menggunakan air got. Ku lihat Mochtar juga terjun langsung di saluran drainase membantu para pemuda dalam memadamkan si jago merah yang makin menggila. Salah satu penghuni posko Resty mengambil smartphone-nya dan mengabadikan momen-momen genting ini. Semua penghuni rumah yang terbakar itu menatap rumahnya dengan tatapan tak percaya, seorang perempuan setengah baya meraung-raung melihat rumahnya terbakar.

“Oh Kasina PuangE Bolaku (Ya Tuhan Rumahku),” sahutnya meratapi musibah yang dihadapinya, ku lihat puang haji dan suami ibu itu mencoba menenangkannya.
“Sudah ke luar semua anggota keluarga ta’ pak Soalihin?” tanya puang haji kepada si empunya rumah yang dilalap si jago merah. Pak Soalihin celingak-celinguk memerhatikan keadaan sekitar, mencari-cari anggota keluarganya apakah semua selamat atau masih ada yang terperangkap dalam rumah itu
“Mana Sriwahyuni?” tanya pak Soalihin kepada salah satu putranya yang berada di dekatnya.
“Bukannya ikut sama Bapak tadi?”
Suara letusan terdengar keras dari arah rumah, kami semua melihatnya dengan tatapan nanar, tapi…
“Hoooi Jusman mau ke mana kau?” teriak Puang Haji melihatku berlari ke dalam rumah yang sedang berkobar. Asap begitu pekat dalam rumah ini, rumah batu berlantai dua, nyala api membara di kiri kanan ruangan.

“Sriwahyuni di mana kau?” teriakku dan menaiki anak tangga mencoba mencari jalan menuju beranda rumah. “Pasti Sriwahyuni ada di balkon rumah karena saat ledakan keras tadi aku melihat Sriwahyuni berdiri menangis,” suasana lantai rumah begitu kacau, plafon sudah berubah berwarna merah menyala aku bergegas menuju balkon rumah. “Syukurlah kau tidak apa-apa Sriwahyuni,” sahutku melihat Sriwahyuni gadis cilik yang ku taksir baru berumur 5 tahun sedang berdiri dan menangis memandangi kerumunan warga yang ada di tepi raya depan rumahnya.

Aku bergegas menggendongnya dan mengevakuasi sesegera mungkin. Suasana lantai satu rumah ini semakin kacau, air yang disiram belum mampu menaklukkan si jago merah. Atap plaffon mulai berjatuhan api semakin berkobar, aku hanya berlari tak mempedulikan keadaan sekitar yang terpenting dalam benakku adalah mengevakuasi sesegera mungkin Sriwahyuni. Syukurlah aku dapat ke luar dari situasi krisis ini… perlahan aku berjalan menuju keramaian di depan rumah Sriwahyuni yang sedang terbakar.

“Mau mati kamu Jusman!!!” sahut puang haji dengan nada amarah, melihat tindakanku yang dapat dikatakan nekat. Ku lihat Sriwahyuni memeluk ayah dan ibunya.
“Terima kasih Nak,” sahut sepasang suami istri yang memeluk Sriwahyuni.
“Syukurlah Pak, Bu,” sahutku, ku lihat puang haji menghelakan napas lega.
“Kamu tidak apa-apa Jusman?” tanya puang haji, aku menggelengkan kepala pertanda tidak apa-apa, namun.. Brakkk aku tersungkur ke tanah, pandanganku berkunang-kunang, ku lihat bayang-bayang wajah puang haji dan bapak-ibu tadi dan gelap.

Aku terbangun seberkas sinar ku lihat memasuki sebuah ruangan yang tampaknya familiar.

“Sudah bangun Jusman,” sebuah suara yang ku kenal membuatku terjaga, rupanya Puang Haji.
“Puang Haji bagaimana semalam, apakah sudah dipadamkan rumah yang terbakar itu?” sahutku kepada puang haji. Puang haji hanya menatapku dengan heran.
“Apa yang terbakar, siapa rumah yang terbakar?” tanyanya yang membuatku kebingungan.
“Semalam rumahnya Pak Soalihin terbakar,” sahutku yang membuat puang haji menatapku dengan kepala yang digeleng-gelengkan.
“Rumahnya Pak Soalihin baik-baik saja Jusman, semalam tidak ada rumah yang terbakar.. mungkin kamu mimpi, semalaman itu kau begadang sampai jam dua dini hari dan tertidur di meja ini, mungkin karena posisi tidurmu tidak baik makanya kamu mimpi kebakaran, sudah siap-siap sana salat subuh,” sahut puang haji berlalu meninggalkanku dan membangunkan semua penghuni posko untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.

Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Twitter: @adilbabeakbar
Facebook: Ilyas Ibrahim Husain
Nama Ilyas Ibrahim Husain, lahir di Sungguminasa 06 April 1993, menyelesaiakn studi Pendidikan Sejarah UNM dari tahun 2011-2016. Cerpen berjudul Baranti Accident merupakan cerpen ketujuh dari kumpulan cerpen Tabularasa Sidenreng-Rappang.

Cerpen Baranti Accident merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kue Apem Fitrah

Oleh:
Saya mengenalnya sudah cukup lama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang pilih-pilih dalam berkawan. Karena saya menyadari setiap manusia adalah terlahir ke dunia ini sesuai fitrahnya. Saya berprinsip, jika

Women, Gossip & Reality (Part 1)

Oleh:
Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa

Salah Siapa?

Oleh:
“Apa yang kalian lakukan di tempat seperti ini?” pertanyaan itu begitu memojokkan nadia bahkan ia tidak berkutik, yang jelas ia hanya tertunduk lemah, entah malu, menyesal atau alasan lainnya,

Turn Left Turn Right

Oleh:
Beberapa tahun lalu, seorang sahabat karibku menelpon ku, sekitar pukul 10 malam. Saat itu aku menginap di rumah kakak tertuaku, awalnya niatku adalah menemani beliau karena buah hati pertamanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *