Batu Yang Hancur Di Hari Yang Gugur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 April 2019

Hari ini adalah awal dimana aku tidak akan pergi ke sekolah seperti biasa. Keputusan bapak sudah jelas, meski dengan sangat kecewa aku menerimanya, aku harus berhenti sekolah.

Sejak pertama kali diterimanya surat undangan rapat untuk wali murid dari sekolah, bapak sudah tidak ada gairah sedikitpun untuk menghadiri kumpulan tersebut. Paling mau ngasih tahu kenaikan SPP, katanya saat itu. Dan memang benar adanya, pihak sekolah memang hendak menambah beban bagi bapak yang hanya berpenghasilan tak seberapa dari usahanya.

“Lebih baik kamu bantu-bantu bapak di kebun. Sekolah hanya akan buang-buang duit saja!”

Mau tidak mau. Aku tidak bisa menolak, apalagi memberontak. Aku hanya bisa menerima kenyataan yang getir. Cara pemikiran bapak memang tidak seperti pemikiran kebanyakan orangtua yang lain: memperjuangkan anak mereka untuk mendapatkan pendidikan selayak-kayaknya.

Namaku Arie… Arie Herawan, lengkapnya. Mungkin saja nama itu masih ter-absen di sekolahku sana -SMPN 2 BABAKAN- lantaran tidak ada keterangan yang tersirat bahwa aku telah lepas dari sekolah itu. Siapa yang tahu?

Beberapa minggu berlalu, aku jadi lebih sering menghabiskan banyak waktu dengan mendekam diri di kamar. Aku merasa tidak punya muka untuk bertemu kawan-kawan di luar sana. Minder yang ada. Aku memang anak yang pendiam, tapi tidak pernah semurung ini. Sesekali keluar rumah jika sedang disuruh bapak saja ke ladang. Selebihnya, aku selalu di kamar.

“Arie… kamu sudah makan?”
Ibu sewaktu-waktu mengingatkanku, untuk makan, ataupun hal lain. Suaranya selalu lirih, seakan menyimpan kegetiran yang sama sepertiku dalam lubuk hatinya. Beliau selalu menyuruhku untuk tabah, dan mengatakan kalau ia sangat mengerti perasaanku.

Oh, benarkah? Jika memang ibu mengerti, kenapa tidak berbuat apa-apa untuk membelaku di depan bapak? Apa karena betapa bapak orang yang begitu keras? Orang yang sangat otoriter? Hingga ibu tak ada niat sedikit juga untuk melunakkannya? Sepertinya memang begitu. Kepala bapak seperti batu.

“Mau sampai kapan kamu akan terus mengurung diri seperti ini, Ri…!? Sampe mati!?”
Selain keras, kata-kata yang diucapkan bapak selalu menggores perasaan. Seringkali ketus. Gersang. Biar begitu, aku sudah terbiasa. Telingaku telah teradaptasi akan hal itu. Kata-kata ketusnya di suatu sore, yang pada malam harinya aku cerna dalam pikiranku yang mulai merasakan jenuh.
Aku memang tidak perlu seperti ini terus, yang hanya akan membuatku stress, terlebih gila.

Keluar di malam hari sepertinya tidak terlalu buruk buatku. Setidaknya aku takkan menemui teman berseragam sekolah, yang akan membuat wajahku serasa dilempari kotoran. Lagipula aku hanya duduk di teras rumah. Tidak kemana-mana.

Aku teringat saat kakak sulungku menegur bapak, tempo hari. Sama halnya denganku, ia seperti tersambar petir kala mendengar keputusan bapak yang dianggapnya keputusan sepihak, yang didasari oleh rasa emosional semata.

“Arie putus sekolah!? Mau jadi apa dia, Pak!?”
Menanggapi ucapan kakak, bapak hanya cukup menjawab, lihat sendiri dirimu, yang dengan mudah membuat kakak bungkam.

Kakak sulungku, Mas Roni, sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Ia tinggal di rumah mertuanya yang tidak jauh dari rumah ini. Pekerjaannya hanya sebatas buruh bangunan, padahal ayah menyekolahkannya hingga tamat SMK. Itu yang membuat kakak diam di depan bapak.

Malam kian hening. Aku merasa ingin masuk kamar saja dan pergi tidur. Berada di luar, sama rasanya jika tidak ada teman untuk mengobrol. Dan kemudian aku mulai memikirkan hal itu. Besok-besok aku ingin berteman dengan seseorang untuk mengobrol. Menuangkan apa saja yang aku rasakan. Apa saja.

Bajo, adalah nama panggilan anak seusiaku yang rumahnya terletak di belakang mushola. Aku menemuinya di pinggir sungai -tempat anak-anak biasa nongkrong- seorang diri. Dia juga anak yang tidak bersekolah. Bukan karena orangtuanya tidak mampu, dasar dianya yang malas.

Ada aroma kecut yang tercium saat aku mulai mengajaknya bicara, dan itu adalah hal yang biasa. Dia suka minum minuman keras.
Dia menanyakan perihal tentang diriku yang selama beberapa hari ini tidak ia jumpai. Aku menceritakan semuanya. Entah anak itu benar-benar mendengarkan curhatanku atau tidak, aku tidak masalah. Setidaknya aku bisa merasa agak lapang, dan juga mendapatkan sedikit tanggapan darinya, kalau yang aku lakukan itu menurutnya hanya sifat kekanak-kanakan.

Ada benarnya, memang.
“Harusnya kamu gembira, Ri… Pikiranmu bisa lebih bebas kalau tidak sekolah. Iya, kan? Bukan malah memenjarakan diri begitu… Payah”
Aku tidak mengiyakan ucapannya, tidak juga membantahnya. Aku hanya sedikit tersenyum. Siapa yang mau mendengarkan omongan orang mabuk?

Sejak pertemuanku dengan Bajo di malam itu, aku jadi sering menemuinya berulangkali. Bukan hampir lagi, tapi memang setiap malam. Lama kelamaan aku mulai menikamati rasa kebebasan bersamanya. Melupakan hari-hari kemarin, mencoba hal-hal yang belum pernah aku coba, termasuk merok*k dan minum miras. Tak jarang, anak bengal itu juga suka mengajakku melakukan perbuatan asusila, seperti mencekoki gadis jal*ng dengan meminum arak, yang kemudian bisa kami ger*yangi setelah ia mabuk.

Berteman dengan Bajo, telah membuatku menjadi anak yang kurang ajar. Aku jadi sering melakukan hal-hal yang tidak baik di rumah: Mencuri uang bapak dari saku celananya yang tergantung di dapur, mengambil rok*knya yang masih penuh, yang tidak akan ketahuan jika kucuri barang sebatang. Lebih-lebih jika ibu menyuruhku untuk menggiling sekarung padi ke pabrik, maka hasil berasnya bisa kusisihkan dulu sebagian sebelum membawanya ke rumah. Aku bisa menjualnya ke Bu Yati -tetangga yang suka berjualan lontong di pasar. Dia orang yang bisa dipercaya. Dan tentu saja uangnya kugunakan untuk gila-gilaan bersama Bajo.

Semakin sering perbuatan nakalku itu berlaku, diam-diam rupanya bapak mengawasinya juga. Artinya, bahaya sudah mengintaiku.

Pada suatu kesempatan, aku kepergok bapak saat melakukan jual-beli di rumah bu Yati. Sepertinya desas desus tetangga tentang kecuranganku itu telah sampai di telinga bapak belakangan ini. Dan kali ini, ia ingin membuktikan kecurigaannya sendiri.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung digelandang ke rumah dan dihukum habis-habisan. Aku diseret, dipukuli dengan sapu. Tanpa ragu, bapak melampiaskan segala amarahnya padaku.

Aku masih ingat ketika bapak tidak suka melihatku mengurung diri terus di kamar. Sekarang ia sendiri yang malah menyekapku di sana. Tentu itu adalah bentuk hukuman yang ia voniskan, aku dilarang keluar.

Airmata meleleh di pipiku, tercurah dari kedua mata yang terasa panas. Aku tidak hanya sedang merasakan sakit di beberapa bagian tubuh, tapi juga perih yang teramat sangat di dalam hati. Betapa sedih melihat keadaan diriku sendiri.

Aku ingat Bajo, yang beberapa hari ini aku tidak lagi melihatnya. Ada yang bilang, dia dikirim orangtuanya ke rumah pamannya di Kediri. Saat bapaknya mulai tidak tahan lagi dengan kebusukan anaknya, diputuskannyalah untuk merehabilitasi anak itu ke Pondok -tempat adiknya mengajar. Aku merasa, Sulaiman lebih beruntung dari pada keadaanku saat ini. (Sulaiman: nama Bajo sebenarnya)

Kepergian Bajo seakan membuat diriku makin terhimpit. Paling tidak, saat-saat seperti ini, aku bisa minggat dari rumah dengan mengajaknya ke mana saja. Meminum arak atau anggur, mengobati luka dan sakitnya perasaan. Aku telah terlanjur terjun ke dalam lubang yang sudah dia gali sejak pertama kali, dan kini dia malah pergi setelah orangtuaku benar-benar menguburku. Lalu, apa gunanya hidupku yang seperti ini?

Sekilas, niat tidak baik terbesit dalam batinku. Hingga pada akhirnya, mata sembabku mulai mencari-cari ke sekeliling ruangan, sesuatu apa yang bisa aku gunakan untuk mengakhiri hidupku di sini.

Ibu membuka pintu dengan panik. Suara keraslah yang telah mengundangnya masuk kamarku. Aku masih bisa melihat langkahnya saat menyergapku, dan masih bisa mendengar jeritnya saat memanggil bapak. Di antara serpihan kaca lemari yang telah kupecahkan, aku terkulai lemah dengan lengan berdarah akibat irisan. Saat tatapanku mulai kabur, dan jantungpun berdebar tidak karuan, seseorang lekas meraih tubuhku dan menggotongnya keluar. Itu bapak, aku bisa merasakan napasnya yang mengiramakan rasa kekalutan.

Dan ketika dalam perjalananku menuju penyelamatan, aku melihatnya dengan sangat jelas. Bapak tertunduk haru, dengan tubuh yang terguncang-guncang, dengan lelehan airmata yang membasahi pipi, dan dengan tangan yang menggenggamku erat-erat. Di situ… di samping tubuhku yang sudah terdiam kaku.

Cerpen Karangan: Aditya Ramadhan
Blog / Facebook: Aditya Ramadhan
Aditya Ramadhan, bertempat tinggal di Kec. Ciledug Kab. Cirebon.

Cerpen Batu Yang Hancur Di Hari Yang Gugur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mizuki, I’m Sorry

Oleh:
Angin musim gugur berhembus lembut menggugurkan helai perhelai bunga Sakura yang sudah terjatuh sebagian banyak dari pohonnya. Mizuki yang menyandarkan kepalanya di bahu Minaru hanya terdiam menatap setiap kelopak

Janji

Oleh:
Suara embusan angin sepoi terdengar, mengalun syahdu bersama melodi klasik yang diputar. Mataku terpejam sesaat, menikmatinya tenang. Pelan-pelan, cahaya senja masuk melalui jendela kayu yang engselnya bergerak, nyaris terbuka

Sampai Sirna

Oleh:
Siapa yang menyangka kalau pagi ini adalah pagi yang terasa baru bagi Kristin. Rumah sebelah yang semula kosong sekarang sudah ada yang menempati. Rasa penasaran mendorong tubuh kecil Kristin

Penggila

Oleh:
Lelaki itu duduk tak tenang pada batu cadas yang keras, sekeras deru debam kendaraan yang lalu lalang pada mulusnya Pantura yang tak pernah lengang. Sinar mentari pagi yang mulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *