Bayangan Dalam Risauku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 22 September 2016

“Ayah, kenapa kita tidak bisa mengulang masa lalu?”
Seseorang yang dipanggil ayah itu menengok ke arah bocah kecil di pangkuannya, dengan beberapa kerutan di dahinya. “Kenapa kamu bertanya seperti itu Sayang?” tanyanya sembari membelai lembut rambut pirang bocah itu. Lalu dengan polosnya bocah kecil menjawab, “Aku sering mendengar kalimat itu di tivi..”
Ayah tersenyum, kemudian ia meraih tubuh si Bocah ke dalam pangkuannya. Dan merengkuhnya dalam dekapan. “Kenapa kita tidak bisa kembali ke masa lalu?” Ayah mengulang pertanyaan bocah kecil.
“Itu pertanyaanku Ayah, Ayah seharusnya menjawab, bukan mengembalikan pertanyaan!” protes bocah kecil. Sebaliknya, sang Ayah justru tersenyum geli demi mendengar kalimat lugu itu. Sedetik kemudian, ia menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Lalu kedua bibirnya mulai terbuka seperti hendak melafalkan sesuatu.
“Kita tidak bisa kembali ke masa lalu karena Tuhan ingin kita bisa selalu mengingat setiap masa indah yang sudah kita lalui Sayang! Kita tidak bisa kembali ke masa lalu karena kita punya masa sekarang yang harus kita lalui”.
“Kenapa kita harus melalui masa sekarang?” kembali pertanyaan polos dilemparkan.
“Karena kita harus memperbaiki hal-hal buruk yang sudah kita lakukan di masa lalu, supaya kita menjadi lebih baik di masa mendatang, masa depan yang tidak bisa kita ketahui”.
“Memangnya kenapa kita tidak bisa mengetahui masa depan Yah?” sekali lagi sang Ayah merasa seperti digelitiki oleh pertanyaan si Bocah. Kali ini justru diiringi tawa kecil, dan semakin mendekap bocah itu dalam pelukannya.
“Supaya kita akan terus berhati-hati dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi Sayang! Karena hidup ini tidak selamanya mudah, tidak selamanya bahagia, karena hidup ini penuh dengan rintangan dan perjuangan pula pengorbanan” Ayah menerawang ke langit-langit rumah yang sudah berumur tua itu. Meski sebentar, tapi bocah kecil itu sempat menangkap mata sang Ayah berkunang-kunang. Entah kenapa? Mungkin Ayah teringat Ibu, pikirnya.
“Kamu belum waktunya mengerti hal semacam ini Sayang!! Suatu hari nanti, kamu akan mengerti dengan sendirinya” sang Ayah mencoba memberi pengertian. Sebenarnya gadis kecil ingin bertanya sekali lagi pada sang Ayah tentang beberapa hal. Tapi urung setelah ia sempat melirik mata ayahnya yang tampak sayu. Mungkin Ayah sedang lelah, ia kembali menebak-nebak dalam hati.

Kini, si Bocah Kecil telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Bukan lagi bocah ingusan berumur delapan tahun dengan ribuan pertanyaan, yang kemudian tidak tahu bagaimana caranya mencerna kata-kata sang Ayah yang begitu bijak. Sudah tiba waktunya ia mengerti. Tiba waktunya ia berpijak pada bumi yang mengajarkan arti masalah dalam solusi. Berdiri tegap pada hiruk pikuk kehidupan yang kian riang berkutat dengan kemelut ilustrasi. Menikmati pahit, manis, asam, garamnya dunia. Dan memberikan keterangan pada pertanyaan yang setia menunggu jawabannya.

Gadis itu sudah mengerti kenapa manusia tidak bisa mengulang masa lalu, karena ia bukan untuk dijalani kembali. Masa lalu adalah pembelajaran supaya seseorang menjadi lebih baik. Keindahan untuk dikenang, dan penyesalan untuk sebuah perbaikan. Pula terhadap masa depan yang tidak bisa diterka seperti apa wujudnya. Supaya manusia tidak hanya bertumpu pada mimpi dan hayalan. Terlalu sering berandai-andai hanya akan membuat manusia lupa rasa berterimakasih. Mendaki gunung tanpa peduli adanya bukit yang tidak semua orang mampu memijakkan kaki di puncaknya, hanya mengobarkan ambisi terhadap ketinggian. Bukankah mendaki bersama akan jauh lebih memesona?

Gadis itu tersenyum demi mengapresiasi kemampuan berpikirnya yang telah berkembang. Tapi, ada yang lain dari senyum itu. Seperti ada sesuatu yang memaksanya untuk tidak memperlebar garis lengkungnya. Ia merebahkan diri di ranjang. Sejenak ingin melepas lelah setelah seharian bercumbu dengan angka-angka dan huruf-huruf yang tereja di papan tulis. Kemudian perlahan ia terpejam. Lalu setetes bening mengalir pelan melalui celah kelopak mata yang tertutup. Bergulir menuruni pelipis, dan yang terakhir mendarat di bantal. Memaksa ia harus meralakan bantal kesayangannya basah untuk beberapa saat.

“Apa ini yang kau sebut berhati-hati dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi Ayah? Andai saja waktu itu kau jelaskan pada putri kecilmu yang dungu ini, mungkin semua bisa tertunda” Ia mulai terisak.
“Apa kau lupa arti masa lalu anakku? Keindahan untuk dikenang, dan penyesalan untuk sebuah perbaikan? Bukankah kamu sendiri yang memaknainya? Ingat bagaimana imajinasimu berbicara tentang manusia, sering berandai-andai hanya akan membuat kita lupa caranya berterimakasih”

Gadis itu kembali belajar dari masa lalu. Mimpi bertemu ayahnya sore itu membuat ia mengerti bagaimana memetik buah dari beberapa pohon yang hampir tumbang. Bukan hanya pada bagaimana ia bangkit dari keterpurukan, melainkan pula mengikhlaskan sesuatu yang tinggal kenangan.

Selamat jalan Ayah… terimakasih telah mengajarkanku menyebut namamu dalam risauku. Terimakasih telah memberi pengertian bagiku untuk keluar dari kubangan luka yang curam. Terimakasih atas beberapa alasan aku harus bertahan meski tercabik kejam. Kini, mengenangmu adalah satu-satunya caraku mendekap erat kerinduan.
Hitam di atas putih tertuang rapi di buku hariannya.

Selesai

Cerpen Karangan: Andariwulan
Facebook: Andarii Wulandarii
Muslimah yang satu ini memiliki nama asli Retno Wulandari. Ia lahir di Blitar, 12 Maret 1997 dari pasangan Miswanto dan Yuliati. Kegemarannya menekuri permainan kata menjadikan remaja ini sering berceloteh di dunia pena. Merangkai kata demi kata hingga sampai pada sebuah cerita. Semoga kelak impiannya menjadi seperti Asma Nadia bisa segera terwujud. Aamiin …

Cerpen Bayangan Dalam Risauku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarcasm is a Custom

Oleh:
Bagi kalian yang bertelinga lebar, apa ada pernah diejek lembeng sebelumnya…? Lembeng dalam artian ini adalah, seseorang yang bertelinga lebar. Di kampungku, orang-orang yang bertelinga lebar adalah mayoritas. Dan

Rumah Kenanga

Oleh:
Terik matahari di Jakarta pagi ini tidak sedikit pun menghapus semangat gadis berusia 19 tahun ini. Ia sibuk sekali dengan perabotan yang sedang ia masukan ke dalam sebuah kardus

Gila

Oleh:
Dinginnya malam yang penuh rintangan, banyak nyamuk berkeliaran di kanan kiriku yang kubiarkan tubuhku tergeletak lemas di atas kasur kumuhku. Tangan kugerakkan terasa berat untuk menggapai hp yang ada

Rajutan Asa Mak Yus

Oleh:
Pagi ini suara ayam bersahutan, dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih

Pertemuan Singkat

Oleh:
Entah telah hitungan hari yang keberapa saat pagi tiba hingga sampai pada matahari yang redup perlahan di kaki-kaki langit, ketika aku bangun dari tidur malamku yang kerap dihantui rasa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *