Bedul Si Anak Emak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Siapakah pemilik negeri ini?
Siapakah penguasa negeri ini?
Dan siapakah penghuni negeri ini?

Negeri loh jinawi, kaya akan rempah-rempah yang luar biasa lengkap, bahkan terlengkap di dunia. Negeri yang kaya akan budaya, tradisi dan adat. Negeri yang kaya akan bahasa yang berjumlah lebih dari tujuh belas ribu macam. Negeri yang kaya akan pulau. Dan negeri yang kaya akan generasi bangsa yang muda dan berkompeten. Siapa yang tidak mungkin, negeri dengan kekayaan luar biasa yang diberikan oleh Tuhan dapat menjadi negeri penguasa dunia. Hal itu tentu dapat terjadi bukan? Tentu dapat. Namun apa yang salah? Kekayaan yang seharusnya dinikmati oleh penghuninya harus dicuri oleh orang lain. Dicuri secara bertubi-tubi dan negeri ini tidak memberi perlawanan apa pun. Pertanyaan! Mengapa masih banyak kemiskinan, kebodohan, kejahatan dan lainnya yang masih banyak hingga susah untuk disebutkan satu per satu.

“Bedul! Ayo mengapa kau diam saja? Cepat turun ke sini, kita main bola di sungai ini. Sebelum emak kau datang menghajar aku habis-habisan!”
“Aduh, bagaimana ini, aku takut Rigit!” teriak Bedul.
“Apa yang kau takutkan bocah?! Tak ada emak kau cepat turun ke mari, sebelum kami rampungkan ini permainan,” balas Rigit.
“Bagaimana jika aku ketahuan nanti? Matilah aku!”
“Amboi! Kau tidak akan mati anak muda. Paling-paling emak kau hanya memukul pantat kau sampai lebam saja. Macam pantatku,” seraya memperlihatkan pantatnya yang penuh dengan lebam akibat pukulan dari ibunya.

Sebenarnya Bedul sangat ingin ikut bermain, karena ia merasa ialah yang paling jago dalam memainkan permainan ini. Karena takut Bedul pun melangkah untuk pulang ke rumah. Tidak mempedulikan teriak Rigit yang dari tadi menyuruhnya untuk segera masuk ke sungai. Namun tiba-tiba.. BYURRR!!! Ternyata bukannya ingin melangkah pulang. Ternyata Bedul malah mengambil ancang-ancang untuk melompat ke sungai. Dasar betine gile sudah dibilang orangtua jangan main di sungai. Tetap saja anak itu bermain, sepertinya terlalu banyak congek dalam telinga anak itu.

“Dasar kau!!! Selalu saja mengejutkanku!” teriak Rigit.
“Hahaha… walaupun niatku tidak ingin, namun apalah daya kau begitu memaksa,”
“Hey bocah! Mengapa kau tuding aku. Kau sendiri yang ingin mengerti!”
“Iyalah, memang aku sendiri yang ingin.”

Tak terasa hari menjelang maghrib. Buru-buru Bedul dan Rigit mengenakan bajunya kembali dan berusaha mengeringkan badan mereka. Agar tidak terlihat emak masing-masing. Namun bagaimanapun mereka mengerikan tidak akan berhasil. Alhasil mereka hanya membuat baju mereka semakin basah. Dalam perjalanan pulang Bedul terlihat sedikit tegang.

“Hey Bedul! Mengapa wajahmu seperti itu ditambah tahi lalat dipipimu itu. Sejak kapan mereka ada di situ?”
“Ah kau ini, tahi lalat ini sudah ada sejak aku lahir. Aku hanya takut saja, jika emak tahu, habislah aku,”
“Ah kau ini, jangan terlalu dipikirkanlah. Kita ini lelaki kawan. Kita sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu. Bagiku perempuan memang begitu kawan. Galak dan sangar macam emakku,”
“Emakku tak kalah sangar kau tahu, aku sampai ingin mengompol apabila lihat emak marah.”

Dan di persimpangan jalan pun mereka berpisah. Karena rumah mereka yang berbeda arah. Di jalan Bedul memikirkan hal tersebut lagi. Semoga emak tidak tahu batinnya. Ia tidak ingin mendapat bogem mentah dari emak karena itu sangat sakit dan baru sembuh setelah beberapa hari. Dan apabila ia mendapatkan pukulan tersebut di pantat. Ia akan kesusahan apabila akan duduk saat sekolah. Rasanya cenat-cenut. Seperti ada yang menusuk-nusuk. Tidak enak sekali rasanya.Dan sesampainya di depan pintu rumah. Bedul terkaget-kaget dengan kehadiran emak di balik pintu. Dengan wajah beringasnya emak bertanya.

“Dari mana saja kau?! Mengapa baru pulang? Tak tahukah kau ini sudah menjelang maghrib?! Jawab! Emak tanya kau jawab jangan diam saja!” bentak emak.
Bedul masih terdiam seribu kata, takut akan amarah emak yang meledak.
“Ini mak, aku baru pulang dari rumah Rigit, tadi kami main bersama di sana,” jawab Bedul dengan mulut gemetar.
“Kau tahu tidak ini pukul berapa? Berapa lama kau main? Mainlah sepuas kau, hingga kelong wewe menculik kau baru tahu rasa!”
“Tapi mak, emak kan tahu aku main ke mana. Paling hanya ke rumah Rigit saja, tidak ke mana-mana,”
“Dasar budak, orangtua bicara nyahut saja kerjaannya!”
“Bagaimana sih emak, bukannya tadi disuruh jawab. Diam salah, berbicara tambah salah.” bisik Bedul dalam hati.

“Mengapa rambut kau basah?”
“Ini mak..”
“Ini apa?! Jangan bilang kau main di sungai?!”
“Emak! Tidak baik menuduh orang sembarang mak. Anakmu ini anak yang taat. Bedul tidak bermain di sungai hanya di rumah Rigit saja. Dan aku juga mandi di sana, karena badanku kotor sehabis main”
“Awas kau sampai emak tahu kau main di sungai. Jangan harap kau dapat makan di rumah ini lagi.” kata emak seraya pergi meninggalkan Bedul.

Dalam hati, betapa beruntungnya Bedul kali ini. Ia dapat selamat dari maut. Tuhan memang maha mendengar dan maha mengabulkan. Buktinya doa Bedul terkabulkan, ia dapat selamat dari emak. Walaupun begitu, berulang kali emak peringatkan jangan pernah main di sungai. Namun hal itu hanya dianggap angin lalu oleh Bedul. Siapa peduli dengan omongan emak. Yang katanya di sungai itu berbahaya, arusnya dapat berganti secara tiba-tiba menjadi deras. Namun Bedul berpikir nyatanya sampai detik ini ia masih hidup. Selamat dan tetap sehat walafiat. Tidak pernah sakit, justru bertambah kuat karena bermain bola di sungai harus menggunakan kekuatan melempar yang kuat. Dan kaki harus terus berenang seperti anjing baru belajar berenang agar tidak tenggelam. Itulah Bedul dengan segelintir kisahnya pada hari itu. Dimana hari hari berikutnya ia jalani hampir serupa seperti itu. Bocah dengan kepolosan hati yang belum paham apa-apa, yang ada hanya hidup dibawa gembira. Dan itulah kisah anak negeri di tanah yang kaya atas segalanya.

Tamat

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com
Sekar Jatiningrum, ‘Seseorang yang baru mencoba menulis’.

Cerpen Bedul Si Anak Emak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjanjian

Oleh:
Perjanjian Satu Gemericik cucuran air kran ditingkahi dentingan piring beradu dengan mangkuk, gelas dan sendok yang memenuhi wastafel, lekukan pencucian piring itu sudah tidak terlihat lagi tertutupi tumpukan piring

Sayap Cinta

Oleh:
Wajah lelaki itu tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah mengenalnya di masa lalu. Tapi begitu banyak yang berubah darinya. Bagaimana mungkin aku seorang perawat yang bertugas di rumah sakit

Seekor Anjing Peliharaan dan Seorang Pencuri

Oleh:
Seekor anjing peliharaan yang telah dikebiri lantas kehilangan hasrat dan naluri liarnya, dibelai dengan kasih sayang dan dibuai oleh kesenangan dalam berbagai permainan, karena ia telah menjadi milik seseorang.

Suara Sumbang

Oleh:
Matahari siang ini masih saja terik seperti biasanya, rasanya hanya beberapa jengkal saja dari kepala. Keadaan ini membuat kerongkonganku kering kerontang sehingga memaksa tubuhku untuk dipenuhi haknya. Kuputuskan untuk

Aku

Oleh:
Aku adalah orang bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika Aku itu tidak pernah menyiram bekas buang airnya sendiri. Aku adalah orang yang bodoh. Bagaimana tidak bodoh, Aku bahkan selalu tertawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *