Bendera Bendera di Tiang Bambu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 20 February 2014

Senja telah menepi. Penguasa siang terlelap di peraduannya. Di antara bukit gersang Kampung Cileled. Meninggalkan garis-garis emas di langit sore itu. Cileled dari tahun ke tahun. Gubuk-gubuk reyot. Tanah gersang. Gerimis turun. Basah. Licin. Menyisakan bau tanah yang tertiup angin. Masih seperti dulu.

Angin berhembus. Meniup bendera-bendera di tiang bambu. Semarak. Merah. Kuning. Hijau dan puluhan warna lainnya. Tak ada yang mencolok kala ditelan malam mendung.

“Apa yang Aki harapkan dari pesta demokrasi ini?” tanya seorang mahasiswa yang sedang melakukan praktek lapangan membuka pembicaraan. Tubuh renta dengan cangklong di bibirnya menghisap asap tembakau dalam-dalam dan dihembuskannya kembali.
“Tidak ada. Bagi Aki sama saja dari pesta ke pesta juga”.
“Tapi… ini sebagai jembatan untuk merubah kehidupan menuju yang lebih baik…”
“Sama dengan cerita yang lalu. Sama dengan yang mereka janjikan. Tak beda jauh,” potong Si Aki dengan nada datar.
Di rumah permanen di perbatasan kampung.

“Dengan memilih partai kami menuju kehidupan yang lebih baik akan segera terwujud dan kemakmuran bukan sekedar impian semata,” seorang dengan pakaian perlente mengumbar kata-kata di depan penduduk dusun yang terpana dengan penampilannya.
“Coba seminggu sekali ada acara seperti ini di kampung kita, tidak usah jalan berkilo-kilo meter jauhnya melihat sandiwara di kampung tetangga,” bisik seorang pemuda kepada temannya. Orang-orang hebat itu semakin berbusa mengeluarkan kata-kata inteleknya. Warga dusun hanya terbengong-bengong seperti menyaksikan goyang pinggul sang ronggeng gunung.
“Kami tak sekedar mengumbar janji tapi bukti. Silakan!”
Berhamburanlah orang dusun. Saling menarik, mendorong dan menginjak demi sepiring nasi, sepotong daging dan segelas air mineral.
Akh, masih jauh kau makmur!

Tiba-tiba halilintar menggelegar. Hujan turun dengan deras. Air berkelimpahan. Cileled diguyur hujan. Bendera-bendera tak berdaya. Basah. Tak menarik di kala malam hujan turun.

Beberapa lama kemudian…
“Banjir! Banjir!”
Banjir bandang. Warga dusun berhamburan. Keluar. Menyelamatkan diri. Tangis bayi. Suara ternak. Suara gubuk reyot dan suara air yang menyapu Cileled berbaur di malam hujan deras. Orang-orang dusun basah kedinginan.

Keesokan hari…
Gubuk-gubuk. Hilang. Tanah gersang, air telah membawanya semalam. Membentuk delta di kaki bukit bersama panci, tembikar, cangkul, bilik bambu, bangkai ternak dan tak ketinggalan bendera-bendera. Semarak. Kotor. Tercabik menjadi sampah!

“Kalian telah menebang hutan di hulu! Itu penyebabnya!” ujar orang sok pintar mendakwa.
“Bukan! Bukan itu penyebabnya. Kita miskin!”
Cileled menangis.
“Kami hanya ingin makan, rumah tinggal dan tanah tempat bercocok tanam,” kata Si Aki yang berhasil menyelamatkan diri.

Dermawan berdatangan. Semua ikut menyumbang. Semua peduli. Tiang-tiang bendera telah berdiri lagi dengan bendera-benderanya. Semarak. Merah, kuning, hijau dan puluhan warna lainnya. Sebab pesta belum berakhir.

Cerpen Karangan: Aris Kumetir
Anggota Fiksimini Basa Sunda

Cerpen Bendera Bendera di Tiang Bambu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mutiara Kusam

Oleh:
Operasi pelastik, kata yang cukup tabu bagiku, tak pernah sekalipun terlintas di anganku untuk mencobanya meskipun semua teman sebayaku telah berbondong-bondong melakukannya untuk memoles diri mereka. Dimana mata memandang

Kematian Tanpa Sesal

Oleh:
“Rara, bangun..!” “Hoamm.. iya ibu, Rara sudah bangun”. Kulirik jam dinding yang tergantung manja di tembok kamarku. Jarum-jarum mungilnya menunjukkan bahwa saat ini jam berjalan pukul 04.50 pagi. Saatnya

Sebuah Kehidupan

Oleh:
Setiap hari hujan turun begitu deras. Sederas air mata yang jatuh di kedua pipiku. Entah mengapa seakan hidup ini begitu melelahkan untuk dijalani, tapi kaki ini masih bisa untuk

Memandang Lebih Dalam

Oleh:
Rintikan hujan terus berjatuhan menerpa atap serta aspal jalanan. Ditambah dengan kencangnya angin yang bertiup, membuatku hanya bisa diam dan duduk manis dalam lindungan halte kecil depan sekolah. Dengan

Senyum Terakhir Ibu

Oleh:
Pagi ini, di saat matahari belum terlihat jelas, seorang pemuda telah sibuk menyiapkan kotak semir yang akan dibawanya untuk mengais rezeki. Pemuda itu bernama Ardit. Umurnya baru 16 tahun,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *