Berbagi Peran

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

“AAAHHH!” jeritku membahana, tak mampu lagi menahan rasa sakit ini, “SUSTER! SUSTER! Gak kuaaattt.”
Seorang perawat bertampang datar menghampiriku, “Sabar ya, Bu. Dokternya belum datang.. Ibu atur napasnya ya.”
“Astagfirullah.. Sabar gimana sus! Ini bayinya udah mau keluaaarrr.”

Tubuhku bersimbah keringat. Jilbab yang menutupi kepalaku sudah basah kuyup rasanya. Sempat terpikir untuk melepasnya sementara, tapi batin ini jadi tak tenang. Kedua tanganku bagaikan mau patah, saking terlalu keras menggenggam besi pegangan di samping meja bersalin. Perasaanku campur aduk tak karuan. Antara menahan rasa sakit yang hampir tak terbendung lagi, serta rasa marah karena harus menunggu sang dokter yang tak kunjung tiba. Ditambah perhatian para suster yang tampaknya acuh tak acuh menjagaku.

BRAKKK! PRANNGGG! Entah peralatan medis apa itu yang barusan ku tendang tak sengaja.

“Huhuhu.. Aaahhh.” isak tangis dan eranganku bertubi-tubi memenuhi ruangan itu, menambah efek dramatis.
“Bu, sebentar ya, Dokter Rino sudah menuju ke sini. Tadi ada tindakan operasi di rumah sakit lain katanya.” Perawat yang terlihat lebih senior menyampaikan pesan itu sambil merapikan peralatan yang berantakan di lantai. “Dokter jaga ada sih, Bu. Tapi Ibu kan pasien khusus Dokter Rino.”
“EEERRRGGGHHH!!!” aku tak mampu menggubris ucapannya. Dorongan dari dalam perutku ini terlalu besar.
“Bu! Jangan dulu ngeden Bu!” Kini giliran para suster itu yang panik.

Tak jauh di ruang tunggu kamar bersalin, seorang pria bertopi dan berjaket hitam tampak gelisah. Kepalanya tertunduk seolah-olah tak ingin ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Berulang kali ia menengok jam tangan dan memainkan sebungkus rok*k yang tak bisa disulutnya. Suara teriakan yang terdengar dari dalam kamar bersalin seakan menambah rasa cemas yang menyelimutinya sedari tadi..

“Bu, dokternya datang.”

Aku melirik tajam ke arah sosok berbaju putih itu di sela-sela proses mengejan yang sudah berkali-kali kulakukan. Alhamdulillah, ada rasa lega melihat wajahnya. Namun, rasa sakit yang lebih besar tak kuasa kusingkirkan. “EERRGGHH.. Fuh, fuh, fuh.. Dari mana ajaahh.. Hahh.. Hahh.. Eeerrggghhh.”

Dokter tampan itu mendekatiku. “Mah, maaf, Mah.. Tadi Papah operasi dulu.. Mamah baik-ba.. Ayooo! Kepalanya udah muncul! Lebih kuat lagi!” Satu dorongan terakhir bagaikan mendobrak bagian bawah tubuhku. Diikuti dengan suara tangisan bayi yang begitu meraung-raung. Tiba-tiba lampu ruangan di atas sana terasa sangat menyilaukan. Ku rasakan napasku tercekat dan dunia sekitarku seakan berputar-putar. Yang ku ingat kali terakhir adalah mataku terpejam dan tubuhku terkulai lemas tak berdaya.

Dokter Rino menyerahkan bayi mungil dari tangannya kepada suster untuk mendapatkan penanganan selanjutnya. Perhatian kembali tertuju pada Salma, istrinya yang jatuh pingsan setelah melewati proses persalinan yang melelahkan. Wanita itu kehilangan banyak darah. Tiba-tiba ada rasa takut yang menyeruak di batin Dokter Rino, rasa bersalah. “Maaf, Mah.. Sebenarnya tadi aku menemui Trisa.. Ia bilang merindukanku, dan aku penasaran ingin mengetahui kabarnya setelah kami putus mendadak karena pernikahan kita.” Suster yang memeriksa kondisi Salma menggeleng lemah. Setetes air mata jatuh di pipi Dokter Rino.

“CUT!”

Tepuk tangan riuh bersahutan.
“That’s a wrap! Selesai juga kita di season pertama. Please, take a break and have a nice holiday..”

Sang sutradara bangkit dari kursinya. Ia menyalami kru yang berkumpul dan beberapa pemain yang telah berakting dengan sempurna. Namun, ia celingukan mencari sang ibu melahirkan yang sukses menampilkan adegan sesuai dengan arahan skenario. Sutradara itu tak sadar si aktris diam-diam turun dari meja bersalinnya dan buru-buru melepas segala atribut yang dikenakannya untuk peran ibu melahirkan. Jilbab yang penuh keringat, daster longgar, serta bantalan perut buatan, tergeletak begitu saja di lantai. Pria bertopi dan berjaket hitam yang berdiri mondar-mandir sejak mendengar aba-aba sutradara, kini tersenyum lega. Di hadapannya telah berdiri wanita yang ditunggu-tunggu, mengenakan tanktop kelabu dan celana jeans pendek sebatas paha. Si pria menawarkan jaketnya, namun si wanita menolak dan tergesa-gesa mengajaknya meninggalkan lokasi.

“Tamat ya gue? Sampe lo jemput segala.” tanya si wanita gelisah. Ia membuka kotak make-up di dalam tas selempangnya dan mulai mencorat-coret wajahnya.
“Nggak lah. Lo gitu. Anak emas. Yang ada gue yang disemprot, nggak becus ngatur jadwal lo.” jawab si pria pasrah. Mereka berlari menuruni tangga ke arah tempat parkir. Wanita itu berdecak kesal ketika melihat sekelompok orang berkerumun di depan. “Fans lo suka dateng ke sini?” tanya si pria memastikan. Beberapa orang dari kelompok itu mulai menunjuk-nunjuk ke arah si pria dan wanita. Ada yang tertawa mencemooh, mencibir, ada yang mendelik dengan ekspresi benci.

“Woi, alay kejar tayang!”
“Gila, abis jadi emak-emak sok alim, sekarang langsung berubah jadi siluman seksi.”

Si wanita melenggang dengan cuek, memasuki pintu mobil bagian depan. Sementara si pria agak khawatir dengan kata-kata kasar yang dilontarkan orang-orang tadi. Ia lalu menyusul masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Sesaat ia melirik ke arah si wanita, menunggu reaksinya. Wanita itu tak menunjukkan sedikit pun rasa gentar. Ia malah sedang sibuk menyempurnakan polesan di wajahnya. Menyerupai seekor serigala.

“Haters.” seringainya.

Cerpen Karangan: Marina Yudhitia Permata
Blog: www.marinayudhitia.wordpress.com
Marina Yudhitia Permata, a stay-at-home-mother. Menulis adalah kebutuhan.
Sila kunjungi blog pribadi di: https://marinayudhitia.wordpress.com
atau Facebook di: https://www.facebook.com/marina.permata

Cerpen Berbagi Peran merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secercah Asa

Oleh:
Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

Bintang

Oleh:
Sepuluh tahun sudah aku tidak ditemani bintang sahabatku, dia adalah sosok yang baik, serta peduli dengan keadaan di sekelilingnya, seperti namanya bintang memang selalu menyinari hati yang dirundung kelam.

Berkelahi Dengan Naluri

Oleh:
Saat harap tidak sesuai dengan rencana yang dinginkan, menata hidup dengan rapi tapi kenyataan selalu berkata lain, ditambah lagi dua paham yang menghantui seakan memberi jalan dengan pandang yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *