Berkelahi Dengan Naluri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 19 May 2016

Saat harap tidak sesuai dengan rencana yang dinginkan, menata hidup dengan rapi tapi kenyataan selalu berkata lain, ditambah lagi dua paham yang menghantui seakan memberi jalan dengan pandang yang berbeda satu sama lain. Pola pikir yang berangkat dari Perasaan dan dan pola pikir yang berdasarkan pemahaman logika manusia, saat menentukan pilihan tak jarang, dua dari pola pikir manusia ini, memberi efek dilema padaku saat menentukan pilihan seakan diri ini sedang “Berkelahi Dengan Naluri”.

Sulit, banyak memeras tenaga hati, namun itulah yang terjadi. Mempunyai pribadi yang membenci rasa ego, dan lebih mementingkan hal yang berbau sosial yang erat dengan religius. Kadang hal ini yang menambah sulit untuk menentukan pilihan mana yang harus ku jalani. Pernahkah anda merasa sulit untuk memberi pilihan buat hidup saudara, atau merasa dilema saat menentukan jalan yang mana yang harus anda jalani. Sederhananya, setiap manusia pasti melewati fase ini, namun tak sedikit di antaranya berakhir dengan perbuatan tak terpuji, seperti membahayakan diri sendiri dengan memilih untuk mengakhiri hidup atau tidak sedikitnya, banyak pula manusia akan lari pada hal-hal yang berbau negatif, serta rentan membahayakan orang lain di sekitarnya.

Dipaksa menikah di umur sembilan belas tahun karena dampak dari pergaulan bebas, tentunya hal ini sangat merubah kepribadianku, walaupun sebenarnya ku akui, semua yang ku rasakan adalah buah dari yang ku tanam sendiri. Apa boleh buat, seorang anak laki-laki umur sembilan belas tahun harus mengakhiri masa lajangnya, di saat semua teman-teman sebayanya, sementara sibuk dengan mengejar mimpi mereka masing-masing. Setelah menjalani pernikahan beberapa bulan, semangatku untuk menjalani hudup serta menatanya kembali, terbayang akan pentingnya mempersiapkan masa depan buat Bayi kecil perempuan yang mungil dan baru lahir ini. Rasa panik seperti para pria dewasa, saat menanti kelahiran anaknya pun dirasakan anak remaja usia sembilan belas tahun ini.

Suara yang tak asing bagi bayi yang baru lahir, terdengar begitu menyiram rasa suram hidup ini, menjadi sebuah harapan yang tak akan tergantikan. Kini anak usia sembilan belas tahun itu resmi menjadi seorang ayah muda. Dinamakannya anak perempuan itu Frilia Gebriel Ladee. Karena rasa kagum pada hidup kembali berwarna, aku pun memutuskan untuk pergi melanjutkan kuliah di ibukota, demi merebut masa depan seperti yang dilakukan oleh semua teman sebayaku. Ku titip rasa rindu yang mendalam buat sang putriku dalam hati, “Ayah harus pergi, demi melanjutkan sekolah dan kembali menjalakan semua mimpi demi anakku yang ku cintai,” kata dalam hatiku saat hendak mau melangkah naik di atas bus yang menuju ke arah ibukota provinsi ini.

Perjuangan masih terus ku lakukan baik itu melawan rasa ego sendiri dan melawan godaan untuk bertindak ceroboh saat menjadi mahasiswa, namun semua rasa itu ku bendung dengan melibatkan diri pada organisasi keagamaan di kampus. Dengan berbagai kegiatan organisai yang digelar di kampus cukup menyita waktuku, namun itu sangat bermanfaat, setidaknya seorang ayah muda ini mampu melewati harinya tanpa melupakan istrinya yang ada jauh di sana bersama anak perempuannya. Merasa bosan dengan kegiatan kampus yang terlalu menuntutku untuk melakukan pengeluaran yang besar setiap hari, jujur saja walaupun sudah beristri aku masih diongkosi oleh orangtuaku, di tiap bulannya baik biaya kampus maupun untuk di setiap harinya.

Keadaan tersebut membuatku malu, bagaimana tidak, seorang anak yang sudah beristri, harusnya sudah bisa membiayai hidupnya sendiri, bahkan keluarganya pula harus menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Dengan desakan paham itu pun aku sadar, kota yang besar ini tidaklah mungkin jika lowongan pekerjaan untuk seorang lulusan SMA sederajat tidak dibutuhkan, setidaknya aku bisa menjual skill yang ku miliki secara otodidak ini. Mencari pekerjaan dengan memanfaatkan mempunyai banyak teman, tentunya akan mudah menemukan informasi lowongan pekerjaan. Saran dari teman, yang baik selalu berujung baik, ku sempatkan mengikuti saran temanku, lamaran untuk perusahaan pers yang membutuhkan seorang wartawan.

Walaupun awalnya merasa asing dengan pekerjaan tersebut, namun apa salahnya jika mencoba hal yang baru, berharap diterima dengan cepat, ternyata memang itu yang terjadi. Pagi hari, telepon dari kantor perusahaan pers itu pun menelepon, mereka memintaku untuk segera datang ke kantor buat diinterview, hanya dengan dilemparkan beberapa pertanyaan di durasi waktu yang cukup singkat, keputusan terakhir aku pun diterima bekerja sebagai wartawan. “Wow, apa yang harus ku perbuat, pekerjaan ini sungguh asing bagiku, aku tidak tahu bagimana membuat berita, ataupun mencarinya,” kataku dalam hati, sambil senang bercampur khawatir.

Bermodalkan, pribadi yang cepat bergaul dengan orang lain, cukup membantu, buat pekerjaan yang satu ini, hanya dengan beberapa hari aku pun bisa berbaur, dan memiliki skill yang tidak terlalu buruk untuk si pewarta amatiran. Merasa sudah cukup mapan dengan pendapatan per hari, keputusan untuk memanggil tinggal bersama keluarga keciku pun ku niatkan. Rasa rindu pada putriku, yang sudah hampir dua tahun itu ku tinggalkan sepertinya akan segera terobati, istri dan anakku tinggal menghitung jam mereka akan tiba dan akan tinggal bersamaku. Pelukan yang ku nantikan dari anakku yang sudah hampir bisa berbicara itu, akhirnya bisa mengobati rasa rinduku padanya selama ini.

Harus ku akui, anakku akan merasa asing denganku karena lingkungannya selama ini tidak ada aku di benaknya, entah dia bertanya-tanya. “Siapa orang ini, kok dia memiliki rasa rindu yang mendalam dan sesekali menciumiku dengan genit rasa lucu,” Hanya dengan hitungan minggu, anak perempuanku, kini bisa memangilku papa, walaupun masih seperti malu-malu namun kemajuan keberaniannya harus ku akui, ditambah lagi saat aku meninggalkan mereka, anakku masih berusia dua bulan lebih. Bagaimana tidak aku merasa senang dengan panggilan itu, papa. Anakku usia satu tahun sebelas bulan itu, kini memanggilku Papa. Hari-hari kami lewati bersama, dengan layaknya seperti rumah tangga yang lain, anakku Gebriel kini di setiap harinya makin ceria, hal ini memberi semangat yang luar biasa bagi ayah muda ini.

Sebelum pergi bekerja, di pagi hari diwarnai dengan canda akibat polos Gebriel Berbicara dengan nada yang lucu, sepertinya momen ini membuatku berat meninggalkannya pergi bekerja. Serasa mau bermain dengan Gebriel seharian penuh. Saat tiba jam istirahat makan siang adalah waktu yang ku nantikan pula, aku akan pulang ke rumah untuk makan siang di sana ada anak dan istriku yang menunggu. Kini sudah dua bulan lebih anak dan istriku tinggal bersamaku, keluarga sederhana ini makin memberi semangat yang tak kunjung padam buatku, untuk jalani hidup, tak akan ada kata mengeluh, semuanya akan baik walaupun susah ataupun senang. Ditambah lagi di bulan kedua saat kami tinggal bersama, setelah hampir dua tahun tidak pernah bertemu fisik hanya saling berbagi hari lewat satelit, istriku kembali memberi kabar baik yang menyejukkan sekalian memberi semangat.

Hanya benda kecil seperti sedotan minuman gelas itu dan bergariskan dua garis yang berarti Positif, kini putriku Gebriel akan segera memiliki teman bermain di kelahiran adiknya yang hanya delapan bulan lagi. Kini hariku makin semangat, menurut bayangku, aku akan segera memiliki dua anak, di umurku yang kedua puluh dua di tahun depan. Kalian pasti bisa bayangkan, apa yang akan dirasakan seorang pria yang amat mencintai keluarganya sampai-sampai rela berkorban dalam bentuk apa pun itu. Kini kami satu keluarga sederhana ini, akan memiliki anggota baru di berapa bulan kedepan. Namun diriku dikejutkan dengan kelahiran anakku yang kedua ini, pasalnya hitunganku meleset dan terjadi secepat ini, bagaimana tidak anak dalam kandungan istriku, lahir hanya dalam kurung waktu empat bulan semenjak kami putuskan akan tinggal bersama.

Berbagai tanggapan hadir dalam benakku saat kelahiran anakku yang kedua ini, ditambah lagi tim medis mengatakan mustahil ada anak sesehat ini akan lahir dalam kurun waktu yang singkat yakni hanya empat bulan saja. Tanya, terus terbayang dalam benakku, demi menjaga nama baik istriku, aku hanya bisa menjawab pada semua orang yang bertanya padaku tentang kelahiran purtriku yang kedua ini. “Kami hanya salah hitung kok, tidak ada yang ganjil pada kelahiran putiku ini,” kataku pada setiap orang yang menanyakan kelahiran putriku yang diduga prematur empat bulan itu. “Yah Tuhan apa, apa yang terjadi pada kehidupan rumah tanggaku, siapa yang salah Tuhan? ini sudah terjadi, tak akan ada gunanya, jika aku menyesali,” kataku dalam hati, sambil meneteskan air mata hangatku.

Tiga hari berlalu, semenjak kelahiran putriku yang ku beri nama Melodi Natalia itu, kini kami harus berpindah tempat tinggal ke rumah adik mertuaku yang perempuan, tepatnya di sudut kota ini. Di sana mereka akan teratur konsumsinya, keluargaku saat aku tinggalkan pergi ke kantor. Karena tak tahan dengan sejumlah pertanyaan setiap orang padaku, aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada istriku siapa gerangan ayah kandung dari anak yang baru dirinya lahirkan itu. Dengan rasa bersalah dan menyesal istriku menjelaskannya, ternyata memang benar dugaanku, istriku sudah hamil duluan saat dirinya meminta untuk ingin pergi tinggal denganku.

Begitu menyakitkan saat harapan berganti dengan kenyataan yang pahit dan sulit untuk dijalani, pengorbanan sekan tak ternilaikan dan harga diri seperti telah diijank-injak. Namun itu yang terjadi, sekarang waktunya mengambil keputusan, apakah aku akan besar hati berkorban demi menyelamatkan keluargaku yang sederhana ini, seperti paham yang diajarkan oleh kepecayaanku atau aku lebih condong memikirkan hal yang umum dilakukan oleh semua suami yang didzalimi. Sulit memang sulit, di satu sisi ada anak kandungku Gebriel yang membutuhkan seorang figur ayah di masa pertumbuhannya, sementara itu anak yang dilahirkan istriku tidak punya salah apa-apa dan tak berdosa aku harus punya rencana yang mulia menanggapi problema ini.

Walaupun demikian suramnya masalah yang ku hadapi, aku tetap sadar bahwa hidup bukan cuma untuk hari ini, masih banyak dimensi hidup yang menunggu untuk ku masuki dan menjalaninya. Keputusan yang dominan ku pilih saat ini lebih berat pada rasa egoku, aku lebih memilih menjadi duda di usia yang masih terbilang muda ini. Aku tidak menyangkal dengan takdir yang ku jalani serta tanggung jawab yang harus ku hadapi, hanya saja aku telah mengingkari janji suci yang telah ku ucap saat pernikahan kudus di gereja beberapa Tahun lalu. Menafkahi dua putri yang cantik ini masih terus ku lakukan, walaupun kami tidak tinggal satu atap lagi, ku luangakn waktuku di tiap minggunya pergi menengok putri-putriku.

Rasa besar hati hanya sebagian ku tunaikan untuk menerima kenyataan ini, bisa dibilang kehadiran anak-anak polos dan tak berdosa ini bisa ku malumi. Tapi kehadiran serakahnya ulah manusia yang tega menyakiti hati pasangannya, masih belum bisa masuk di atas normal benakku. Pilihanku saat ini, memang bertolak belakang dengan paham agama yang ku jalani, tapi aku hanya berharap, pilihan yang telah ku pilih ini akan direstui oleh Sang pengukir hidupku serta mengampuni dosaku. Naluri kadang berkata lain namun logika berkata lain pula, manusia bisa saja berkelahi hanya karena berbeda pendapat, namun ku pikir pandangan naluri dan pandangan logika hari ini sedang bertengkar satu sama lain hingga dampaknya dilema membayangi di setiap detik hidup yang ku jalani.

Cerpen Karangan: Stenlly Ladee
Facebook: Stenlly Ladee
Nama : Stenlly Ladee
TTL : Mangkutana 23 Maret 1994
Pekerjaan : Wartawan, Jurnalis
Agama : Kristen Protestan
@email : stenllypers[-at-]gmail.com
Twitter : @stenllypers94
Facebook : Stenlly Ladee
Stenlly yang sering disapa Eten, adalah putra asli Poso, dirinya sejak dilahirkan di Maleku Kecamatan Mangkutana Luwu Timur, dan dibesarkan di Desa Bo’e Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso.

Sejak duduk di bangku SMP Stenlly telah memulai menujukan kegemaranya pada menulis dan melukis serta dirinya juga sering menunjukan kegeamaranya bermain musiknya digereja.

Banyak karyanya saat itu hanya menjadi koleksi sendiri di rumah tanpa di publikasikan pada temanya di disekolah, dengan alasan teman sebayanya masih merasa tabu dengan Hobi Stenlly gemar menuis.

Saat dirinya mulai bekerja di perusahaan pers di Kota Palu Sulawesi Tengah, sebagai wartawan khusus untuk liputan Seputar kegiatan SKPD yang ada di lingkup Pemerintahan Kota Palu, dirinya makin mantap dengan meperbanyak diri berteman dengan Para Jurnalis, sehingga dia memutuskan untuk lebih lagi mengasa kemampuan menulisnya.

Dari semua novel dan cerita pendek serta puisi yang ditulisnya, semuanya berankat dari pengalaman pribadinya dan apa yang dirinya lihat, saat bekerja mencari berita di dalam kota.

Cerpen Berkelahi Dengan Naluri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Negeri di Awan

Oleh:
“Ini cerita tentang negeri di awan. Sebuah istana dengan dinding batu berdiri kokoh di antara gumpalan awan putih yang lembut. Pepohonan hijau dan bunga warna warni mengelilingi istana tersebut.

Hanum Bidadari Kecil

Oleh:
Seperti biasa setiap malamnya Hanum gadis manis kelas 3 SD dari pasangan Herman dan Sarah ini hanya asyik dengan buku gambarnya, malamnya hanya dilalui dengan asisten rumah tangganya yaitu

Pinta Dibalik Penyesalan

Oleh:
Saat aku masih kecil, mama adalah pujaan hatiku. Ke mana-mana sama mama, main sama mama, makan sama mama, tidur pun sama mama. Mama itu malaikatku. Mama sangat peduli padaku.

Jingga di Ujung Senja

Oleh:
“Nja, senjanya! The most perfect one!” “Hah? Mana? Huuh, nggak ah nggak. Biasa aja. Jingganya kayak kemarin. Nggak ada yang spesial.” “Duh, kamu! Kamu mau senja yang gimana, sih?”

Taman Surga

Oleh:
Di balik sebuah jalan kehidupan yang terkadang kelam dan terang, kini aku berada di tepian jurang tanpa dasar yang ku sebut dengan sebuah jalan pilihan. Sebuah jalan pilihan dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *