Bersama Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 31 January 2017

Hujan turun membasahi jendela kamarku, berembun sejak butiran pertama. Aku tersenyum melihat ada segerombolan anak kecil bermain sepeda. Seperti itu aku yang dulu. Polos, yang hanya tahu bermain dan tertawa. Tapi aku yang sekarang, kini menanggung beban yang berat, mempunyai tujuan hidup. Sekarang tidak ada waktu lagi untuk bermain, karena hanya saat ini kesempatan itu datang. Dan jika aku terjatuh, mungkin kesempatan kedua tak ada untukku.

Sudah enam bulan aku jauh dari negara asalku. Sendiri, dengan uang tak begitu banyak, tak ada yang kukenal di negara ini. Tapi dewi keberuntungan ada di pihakku, aku mendapat tempat tinggal yang berada di atas bukit. Rumah ini kudapatkan dari seorang saudagar kaya raya saat aku menolongnya terjatuh dari sepeda motor, aku membawanya ke rumah sakit, saat itu uang yang aku punya tak seberapa, tapi aku sanggup membiayai administrasi saudagar itu. Dia sangat berterimakasih kepadaku, untuk imbalannya dia memberi sekantung emas, tapi aku menolaknya, aku hanya ingin tempat tinggal yang sederhana jauh dari keramaian. Dia dengan senang hati memberikan rumah yang kecil tapi nyaman di atas bukit. Aku bersyukur bertemu dengan saudagar itu.

Nyaman rasanya tinggal di sini tak ada suara yang nyaring, tak ada jendela yang pecah, tak ada suara gesekkan pisau. Aku bisa istirahat sambil menikmati segelas kopi panas tanpa buru-buru. Mungkin aku tidak akan kembali ke negaraku. Ya, aku pergi dari rumah orangtuaku. Aku tak bisa hidup disana. Mereka selalu saja adu mulut tak ada yang mau mengalah, selalu aku yang disalahkan oleh laki-laki yang berjanggut itu.

Uangku tersisa sedikit, tak mungkin aku bisa makan dengan uang yang aku punya. Hidup di negara ini serba mahal. Membeli satu roti di sini seharga membeli tiga buah pizza di negaraku. Aku tak bisa terus seperti ini, niat awalku untuk menjauh dari mereka ternyata menguras habis uangku.
Berada di negara ini rasanya mustahil bagiku untuk mendapat penghasilan. Aku hanya lulusan SMA yang tak fasih berbahasa inggris. Aku sudah melamar ke berbagai toko tapi mereka menolakku. Aku pun tak berbakat. Bisa saja aku menjadi pengemis, tapi pengemis di sini mempunyai cara yang beda, mereka bermain alat musik yang menurutku itu mahal harganya, yah bisa dibilang pengemis elite. Sudah kususuri jalan yang ramai ini, tak ada satu pun yang aku lihat sedang membutuhkan orang untuk diperkerjakan. Menyerah untuk hari ini.

Bulan menghampiri langit yang gelap. Setiap kulihat jendela, ingatanku tentang kata-kata itu mebuatku ingin menangis, terbesit di otakku, aku ingin sekali hilang dari bumi ini. Laki-laki berjanggut itu selalu saja melihat diriku dengan penuh amarah. Dia dendam kepadaku. Tak kusadari air mata menetes di pipiku. Aku menangis, entah kenapa.

“Aku siap!”. Hari ini aku akan bekerja keras untuk menghilangkan ingatan itu. Aku sudah berniat untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin agar aku tidak mati muda dan pastinya agar tidak kembali ke rumah itu.

Jalan ramai seperti biasa. Suara hentakan kaki membuatku tambah bersemangat. Kuawali kerjaku hari ini dengan menawarkan kekuatanku untuk membawa barang. Aku berteriak ke sana dan ke sini. Sampai ada seseorang yang megangkat tangan memberi kode. Yap, pelanggan pertama. Aku membawa barang belanjaannya dengan senyuman. Aku kerja sangat giat sekali hari ini, senang rasanya mengumpulkan uang dengan keringat sendiri.

Senja datang tanpa adanya komando, aku beristirahat sejenak di bawah pohon. Melihat sekeliling, mengamati orang-orang yang sedang berjalan. Ada sesuatu hal yang aku dapatkan. Di negara ini oarang-orang berjalan dengan cepat, tapi kebanyakan dari mereka merasa sakit kaki. Aku punya ide.

Sejak saat itu aku rajin pergi ke perpustakaan, untuk mencari hal tentang sepatu atau sekedar menyibukan diri agar ingatan itu tak muncul di hadapanku. Ya, sekarang aku sangat sibuk. Pagi hari aku harus bekerja seperti biasa menjadi kuli angkut barang, siangnya aku harus pergi ke perpustakan. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakan, menenggelamkan diri bersama buku. Sampai akhirnya aku bisa berkenalan dengan seorang wanita yang tak lain adalah penjaga perpustakaan. Dia lebih tua dariku, mungkin sebaya dengan wanita yang sedang kurindukkan di negara seberang sana. Dia mengajariku banyak hal, dia tahu semua yang sedang aku cari.

Malam tiba, angin berhembus masuk melalui celah jendela. Dia memberiku isyarat untuk segera pulang. Hari ini aku mendapat banyak hal yang belum kuketahui. Ternyata membuat sepatu itu tidaklah mudah, tidak seperti yang kubayangkan.

Kulewati hari seperti biasa. Sudah sebulan aku belajar tentang sepatu, aku pun sudah mempraktekkan bagaimana cara membuat sepatu di rumah kecilku ini. Gagal, itu yang kudapat. Otakku terus bekerja tanpa henti, memikirkan cara yang tepat untuk membuatnya. Semakin aku berusaha, semakin menipis pula uang yang kupunya. Kutekadkan niatku untuk mencari uang lebih banyak lagi, aku bekerja sampai larut malam, tak ada waktu untuk istirahat sejenak ataupun minum kopi panas di bawah pohon. Sungguh aku ingin sekali mewujudkan keinginanku ini.

Pagi menjelang, aku belum tidur sama sekali. Malam itu ingatanku tentang mereka kembali lagi. Ini yang membuatku frustasi, disaat semuanya telah berjalan dengan baik, ingatan itu kembali tiba-tiba. Laki-laki berjanggut itu menampar seorang wanita sebayanya, tanpa rasa iba, tanpa memikirkan akan bahaya yang terjadi selanjutnya. Tetapi wanita itu tetap diam, berdiri dengan tegap, tanpa ada rasa kesal di wajahnya. Entah apa yang salah dengan pendengaranku, suara itu sangat jelas meskipun itu bisikan “Dia anak yang tak kuinginkan, anakmu akan kuhancurkan”

Deg, mimpi itu lagi, masa lalu yang ingin aku hapus dari sejarah hidupku. Hari ini aku akan bertemu saudagar kaya itu untuk sekedar menyapanya. Aku pergi ke rumahnya dengan berjalan kaki, rumahnya tak jauh dari rumahku. Aku masuk rumah saudagar itu tanpa mengetuk pintu, bukan aku tidak sopan, tapi dia yang membuat peraturan itu. Aku mencari ke dalam rumah, tapi tak ada satu pun orang, pembantunya pun tak ada. Lalu aku pergi ke halaman, yah ternyata kau di sini rupanya, nafasku lega. Aku bercerita tentang apa yang sedang kukerjakan selama ini. Dia mendengarkanku dengan serius. Dia pun memberiku beberapa nasehat dan motivasi untuk selalu bekerja keras. Saat aku berpamitan, dia memberi sebuah kartu nama. Dia menyuruhku untuk pergi ke orang itu.

Mr. Josh Mahendra, itu nama yang tertera di kartu. Nama itu sepertinya familiar. Aku pergi ke alamat yang ada pada kartu itu. “Gila, gede banget rumahnya”, aku berdecak kagum. Selama aku hidup, aku tidak pernah melihat rumah sebesar dan semewah ini. Aku langsung menyakan ke penjaga rumah itu dan memberikan kartu nama yang aku pegang. Dia mempersilahkanku masuk. Aku sangat takjub melihat seisi rumah, barang yang serba mewah berlapi emas, sofa yang empuk, televisi yang sangat lebar dan satu lagi yang membuatku terpana, sepatu ukuran besar terpajang di tengah-tengah ruangan ini, berlapis emas yang dihiasi mutiara kecil.

“Hallo!”, sapanya. Aku hanya menundukan kepala. Dia mempersilahakanku untuk duduk. Tanpa perlu waktu lama, aku sudah mulai asik mengobrol, membahas ini itu tentang sepatu. Dia terkekeh saat aku menceritakan tentang kegiatanku selama ini. Tak perlu tunggu lama dia menawarkan diri untuk mengajariku membuat sepatu. Besok, aku akan ke sini lagi. Aku tidak akan membuang kesempatan ini.

Esoknya aku pergi dengan membawa sepatu yang aku buat sendiri. Aku ingin minta pendapatnya. Dia mengajari banyak sekali, dari awal proses pembuatan sampai selesai. Akhirnya dia membawaku ke pabrik sepatu miliknya. Pabriknya sangat besar, pegawainya banyak. Semua proses di sini menggunakan mesin, pegawainya hanya memantau dan menekan tombol untuk mengaktifkan mesin, semuanya serba canggih. Dia mewarkanku untuk bekerjsama dengannya. Aku pun langsung setuju. Tapi aku bekerja dengan tanganku sendiri. Dia menyetujuinya. Mulai besok aku bekerja lebih giat dari biasanya.

Aku telah menyelesaikan pekerjaanku. Membuat sepatu berjumlah 10 pasang yang akan kirim nantinya kepada Mr. Josh. Sebenarnya dia memintaku utnuk membuat rakitan sepatu yang selama ini telah aku pelajari, untuk bagian menghias biarkan Mr. Josh yang melakukannya. Ternyata Mr. Josh sangat lihai menggambar untuk menghias sepatu, dia juga mengerjakan sendiri dengan tangannya. “Mengapa yang di pabrik tak mister kerjakan sendiri?” tanyaku, tapi dia hanya tersenyum. Aku heran, tidak biasanya ia tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak mempedulikannya. Dia juga mengajariku tentang menghias sepatu agar tahan lama dan tidak cepat luntur saat terkena air. Aku kagum melihatnya, dia hebat sekali.
Seharian aku di rumahnya, sepatu yang kubuat telah selesai kukerjakan. Senang rasanya melihat hasil karya sendiri di depan mataku. Besok aku akan menjualnya.

Hari berganti, cuaca pun berubah. Hari ini tak sedingin biasanya. Menurut berita kemungkinan besar sekarang akan turun hujan sangat deras saat mengjelang malam. Aku tak patah semangat, aku berteriak menawarkan kepada semua orang yang ada di depanku. Awalnya aku sangat pesimis hari ini tidak akan terjual habis, tapi pemikiranku berbanding terbalik. Sepatuku terjual habis dengan cepat, banyak anak sekolah yang suka dengan sepatuku. Aku bahagia. Aku pun langsung pergi ke rumah Mr. Josh untuk menceritakan hal ini. Sayang sekali, hujan turun lebih cepat.

Rintikan hujan membasahi payungku. Aku sengaja berjalan-jalan di tengah hujan yang deras ini. Aku melihat sekeliling, mengamati orang-orang kembali, itu kebiasaanku. Banyak orang-orang yang memilih untuk berteduh di bawah payung besar dekat taman, ada juga yang menutupi kepalanya dengan tas, berlari-lari kecil mencari tempat untuk berteduh, meninum kopi panas, bercengkrama dengan teman. Aku memilih untuk sendiri.
Bagiku sendiri itu menyenangkan, kita bisa mengkhayal sepuas yang kita mau, memilih makanan tanpa ada yang memprotes, menangis tanpa ada yang melihat, merasakan sakit tanpa diketahui orang.

Malam menunjukan dirinya, saatnya aku harus pulang. Aku berlari dari kerumunan orang, sesegera mungkin aku harus sampai di rumah. Di luar sangat dingin aku tidak bisa menahannya. Kukebaskan jaketku yang depenuhi percikan air. Rehat sejenak sambil menikmati kopi panas. Saat-saat seperti ini ingin rasanya aku bersandar di bahu wanita itu, menceritakan pengalamanku, membahas tentang segala hal. Tapi itu semua tak mungkin kulakukan, aku terlalu jauh untuk menggenggam tangannya, bahkan memikirkannya pun aku tak tahan, selalu saja air mata ini jatuh dengan sendirinya. Aku ingin menjadi pelindung untuknya, tapi dia terlalu tunduk kepada lelaki berjanggut itu. Seakan ada benteng yang menghalangi aku untuk menyentuh tangannya.

Langit gelap telah menghilang, aku harus membuat sepatu lagi dan mengirimkannya lagi kepada Mr. Josh. Siangnya aku pergi ke rumah Mr. Josh, rumahnya sepi tak ada yang menjawab sahutanku. Pembatu Mr. Josh menghampiriku, dia memberitahuku kalau beliau sedang pergi ke luar kota untuk waktu yang lama. Dia juga memberikan aku sejumlah kain yang sudah dibuatnya untukku. Ah, aku berdecak kagum, kekagumanku terhadap karyanya tidak pernah luput. Aku membawa kain itu dan ku langsung pulang ke rumahku.
Aku rakit semua kain ke sepatu, satu persatu selesai. Aku mulai belajar sendiri membuat pola untuk menghias sepatu, ah ternyata sulit juga. Lagi lagi aku gagal. Aku terus mencobanya lagi, aku tidak bisa mengandalkan Mr. Josh untuk selalu menghias sepatu yang kubuat. Berjam-jam dan akhirnya aku bisa. Meskipun tidak sebagus karya beliau. Tapi ini karyaku yang dibuat dengan tanganku sendiri.

Aku menjualnya kembali, ternyata di tempat biasa aku mulai jualan, sudah banyak orang yang mencariku untuk membeli sepatu. Seketika itu pun sepatuku terjual habis. Banyak diantara mereka yang memesan sepatu kepadaku, aku semakin bersemangat.

Semakin hari penjualan sepatuku banyak peminatnya. Aku mendapat banyak uang dan sepatuku ini sudah terpajang di berbagai jendela toko. Aku juga mengirimkan beberapa sepatuku ke luar kota ini. Bisnisku semakin melonjak. Tidak hanya itu sekarang aku pun sudah mempunyai pegawai yang membantuku di rumah. Aku masih membuat sepatu dengan tanganku sendiri tanpa cetakan mesin. Itu membuahkan hasil yang sangat besar.

Sampai kejadian hari itu pun tiba. Saat aku ingin membeli bahan baku untuk membuat sepatu yang tempatnya jauh di luar kota. Berita itu pun terdengar di telingaku, rumah kecilku dibakar habis oleh seseorang yang tak kukenl, sepatuku, uangku terlahap habis oleh api yang membakar rumah. Pedih sekali mendengarnya, tak kuasa aku menahan tangis yang tak bisa kubendung ini. Aku harus cepat pulang. Rumahku rata dengan tanah, pemadam kebakaran sudah melenyapkan api itu. Aku terduduk, menangis histeris. Mataku sembab, aku tak tahu harus bagaimana. Rasanya aku ingin pulang. Bisnis yang selama ini aku jalani hilang sudah, tak ada lagi yang tersisa. Mentalku hancur bersama tangisanku yang semakin menjerit.

Sehari setelah kejadian itu, aku tinggal di rumah saudagar kaya. Hujan turun kembali. Sepertinya hujan tahu apa yang sedang kurasakan, dia datang di waktu yang tepat. Ingatanku tentang negara asalku kembali menyelimuti lamunanku. Semakin aku terdesak, ingatanku semakin kuat di pikiranku. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku masih tidak percaya apa yang sudah terjadi. Aku benci kepada diriku. Mungkin benar apa yang dikatakan lelaki itu, aku tidak seharusnya dilahirkan di dunia. Setiap apapun yang sudah kuraih, dengan sekejap mereka menghilang dengan seenaknya.

Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku memantapkan niatku untuk pulang, sudah terlalu jauh aku berlari. Meskipun aku dicaci maki oleh lelaki itu aku tidak peduli lagi, yang kubutuhkan sekarang hanya wanita itu, pelukkannya.

Aku pulang. Yah sekarang benar-benar pulang. Air mataku jatuh, bukan kesedihan, melainkan sebaliknya.

Di hadapannya aku tak banyak bicara, dia tahu apa yang sedang aku rasakan, tanpa aku minta, dia dengan segan memelukku. Erat sekali. Sudah lama aku tidak merasakan pelukan darinya. Hangat dan nyaman, seperti dulu, tak ada yang berubah. Mungkin selama ini aku yang berubah atau mungkin keadaan yang membuatku berubah. Aku ingin meluapkan semua penyesalanku terhadapnya, semua yang ingin kukatakan tentang dirinya. Tapi kata-kataku hanya tersimpan dalam pikiran tak aku keluarkan.

Sudah lama aku meninggalkannya, tapi dia tetap menerimaku, dia tetap berdiri tersenyum lebar melihatku, tanpa rasa benci, tanpa ada raut amarah di wajahnya. Ingin rasanya memutar waktu, waktu dimana kejadian itu seharusnya aku tidak mendengarnya. Sungguh kebahagianku kini sempurna setelah aku kembali dengannya, ibu.

Aku percaya roda kehidupan, di atas di bawah susah senang sedih tertawa menangis sakit. Entah kenapa saat kugenggam tangannya roda kehidupan hancur hilang tak kurasakan lagi. Ya, sekarang tak perlu lagi cemas ataupun takut. Karena saat ku terjatuh, ada malaikat yang akan menolongku, yang akan menopang badanku dan memotivasiku untuk selalu kuat.

Bangkit lagi. Ya, aku memulai bisnis yang telah lama hilang dariku. Aku membuatnya kembali. Sepatu. Sekarang aku sudah mempunyai tujuh buah toko dengan brand yang aku ciptakan sendiri, bersama ibu.

Cerpen Karangan: Dyni A Riyani
Aku penulis pemula. Mohon kritik dan sarannya, terimakasih sudah membaca
line : dyniar

Cerpen Bersama Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kakak Maafkan Aku

Oleh:
“Azri, papa akan mengadopsi seorang kakak untukmu!” kata papa. “Apa? kenapa papa mengadopsi anak? aku kan gak ingin punya kakak!” balasku. “Iya sih, tapi mungkin dia sangat berguna bagimu”

Yupi Yupi Jadi Wi Fi

Oleh:
Namanya Nellyana Khalidah Arsyinta, kelas 4 Sd Harapan Jaya 1. Anak ketiga dari 5 bersaudara. Kakak pertamanya bernama Dodit Syahputra, kelas 1 Smp Harapan Jaya 1. Kakak kedua Nellya,

Bidadari Penyelamat

Oleh:
Wajah mungil dan polos. Begitulah aku melihat seorang anak perempuan yang tengah tertidur lelap di depan pandanganku. Wajah putih belum ternoda hitamnya dosa, sungguh pemandangan yang tenangkan jiwa. Meski

Ayahku (Bukan) Seorang Robot

Oleh:
Malam semakin larut namun suara deru mesin masih terdengar memecah kesunyian malam, aku berjalan menuju ke sebuah ruangan tempat ayahku bekerja menghidupi keluarganya padahal jam di dinding sudah menunjukkan

Ini Berlian… Bukan Sampah

Oleh:
Makanan. Satu hal yang sebelumnya sangat jarang kuperhatikan. Padahal, makanan adalah bagian yang cukup penting untuk kelangsungan hidupku. Sampai akhirnya, Aku mengerti apa itu makanan. Sesuatu yang sangat berarti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bersama Hujan”

  1. Anggiapus says:

    Salah satu cerpen yg membuat aku penasaran dengan akhir ceritanya, good job! Keep writing and never give up!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *