Biarkan Waktu Yang Berbicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Senin pagi, matahari yang baru beberapa waktu membuka matanya menampilkan sinar kuning terang menerobos lobang-lobang tirai jendela kamar kostku, yang aku sendiri pun tidak mengerti kenapa tirai ini berlobang. Aku pun juga baru membuka mataku yang baru ku pejamkan selama 4 jam, huaaaah, malasnya, teriakku… di benakku tergambar aku harus turun dari tempat tidur empukku ini, mengambil sikat gigi plus odol dan sebotol cair sabun, serta menarik handukku yang berwarna merah darah. Berjalan ke luar dari kamar kost ini, menuruni tangga dan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di luar rumah kontrakan ini. Seperti kamar mandi umum, ya memang kamar mandi umum tapi hanya umumnya penghuni kost-an yang hanya berjumlah 8 orang.

“Hmm, aku pun bergumam kembali. Ku ambil hp-ku bermaksud untuk melihat jam berapakah sekarang, tersentak bagai ada yang menarik rambutku ke belakang ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.25, “Telat nih, telattt…” sambil bangkit dari tempat tidur segera ku sambar peralatan mandiku dan handuk, lalu membuka pintu kamar kost dan tidak lupa mengunci kamarnya, karena seperti pengalamanku bertahun-tahun tinggal di kamar kost.

Walaupun satu rumah kost tetap rentan barang-barang berharga di dalam kamar kost hilang. Kepercayaan untuk mempercayai teman-teman di tempat kost memang sangat minim sekali dan itu pun pernah aku rasakan ketika dengan teledor tidak mengunci kamar kost, akhirnya hp dan uangku di dalam dompet yang tinggal 50.000 pun raib hilang. Tidak hanya sekali ataupun dua kali, setiap berganti-ganti tempat kost pun selalu terjadi.

Ritual pagi pun sudah selesai dilakukan, hanya 15 menit, “tinggal tersisa 15 menit lagi aku harus sampai di pintu masuk karyawan,” pikirku. Setengah berlari, aku pun mendekati jalan depan rumah kostku dan menunggu ada beberapa orang yang bisa aku kenal untuk menumpang. Akhirnya dewi fortuna ternyata masih berputar di sekitarku, akhirnya aku menumpang kenalanku seorang gadis yang juga berkerja sebagai spg di dept.store tempatku berkerja juga, namun dia menangani supplier yang berbeda denganku.

Jam 8 kurang 5 menit pun akhirnya sampai di pintu karyawan. Beberapa ritual masuk ke suatu kantor pun berjalan seperti biasanya, dengan finger scan, cek body, dan briefing singkat dari spv area dept store. Namun ada yang aneh briefing kali ini, spv area mengambil tema briefing yaitu disiplin waktu dengan mengambil contoh kasus yang sedang dia tangani saat ini berdasarkan laporan supplier yang complain terhadap dept.store tersebut. Namun yang sangat janggal sekali pagi ini adalah tatapan sang spv selalu mengarah kepadaku, atau jangan-jangan… pikiranku pun melayang ke beberapa hari yang lalu.

Senin minggu yang lalu ada kunjungan dadakan dari supplier kantor pusat Bandung ke daerah kami, dan meeting dadakan dengan semua spg dan spb searea Surabaya. Kami dipanggil satu per satu dan diinterogasi mengenai kinerja kami sebagai spg/spb. “Dew, kenapa seperti ini, sebenarnya ada masalah apa?” aku bertanya kepada Dewi teman spg satu supplier namun beda Mall. “Entahlah, ini karena Mbak Anik mengadu kalau kita susah diatur serta beberapa counter turun karena katanya kita tidak disiplin, saya hanya pasrah Mas Wijaya, mana saya lagi hamil lagi 7 bulan.” aku pun menurunkan pandanganku ke perut Dewi, sambil menghela napas.

“Saya gak bisa incharge terus menerus di counter seperti waktu saya tidak hamil, memang ada peraturannya kalau kita hanya dibatasi sampai dengan umur kehamilan 5 bulan, tapi saya butuh uangnya untuk persiapan persalinan, harus bagaimana lagi, suami saya juga kan spb Mas Wijaya. Lihat sajalah apa keputusannya.” Dewi pun terlihat pasrah sambil melihat ke pintu masuk kantor tempat interogasi beberapa spg/spb.

Sga/spb yang sudah diinterogasi dilarang untuk berbicara ke spg/spb yang belum diinterogasi. Pintu keluarnya pun dibedakan dan dijaga oleh petugas keamanan. Aku pun menjadi tidak yakin juga mengenai kapasitasku berkerja, karena ingat selalu sering telat karena kegiatannya di luar perkerjaan. Aku adalah seorang supporter kental club sepak bola di kota ini, setiap ada pertandingan aku pun tidak pernah ketinggalan untuk menonton.

Bahkan sering memaksa untuk bertukar jadwal dengan rekanku, hal ini juga sering menjadi peringatan dari coordinator brand tempatku berkerja kepadaku, belum lagi kesenanganku untuk menonton setiap pertandingan bola Mancanegara di televisi sampai larut malam bahkan subuh, sedangkan keesokan harinya harus masuk pagi. “Ya aku pun harus pasrah juga sepertinya, harus mengaku salah memang performance kerjaku seperti ini, aku sudah coba berubah tetapi tidak bisa berubah. Apakah harus pribadi prinsipku yang berubah? Ataukah pola berkerjaku yang berubah?” Ini selalu menjadi pertanyaan besar bagi diriku setiap aku sadar akan kelakuannya, namun sampai saat ini pun belum bisa aku temukan jalan keluarnya.

Berganti-ganti supplier sudah ku jalankan selama di Surabaya ini. Selepas menempuh Pendidikian Sekolah Menengah Umum di Kampungku yaitu Kediri. Aku pun merantau ke Surabaya yang hanya 2 jam dari kampungku jika mengendarai sepeda Motor. Dengan semangat yang masih muda dan belum memikirkan masa depanku, aku berniat ke Surabaya hanya ingin dekat dan melihat secara langsung club kesayanganku berlatih dan bertanding. Namun dengan alasan yang berbeda ke orangtuaku akhirnya saya pamit. Saya pun tidak melupakan niatku ke orangtua untuk berkerja, aku pun akhirnya melamar menjadi spb di suatu dept.store terbesar Nasional di kota Surabaya.

Pikirku dengan menjadi spb aku bisa mempunyai waktu banyak untuk menonton bola, mengatur jadwal seenak hatiku dan bisa berkerja santai tanpa tekanan apa pun. Namun semuanya salah, tidak ada yang bertahan lama dengan prinsip kerjaku seperti itu, supplier di dept.store juga mempunyai target tersendiri terhadap spg/spb-nya, karena mereka berada di dept.store tersebut juga mempunyai target pencapaian yang tidak sedikit. Itu tidak disadari olehku, sering diperingatkan beberapa kali oleh staf-staf serta teman-teman di Dept. store tersebut, namun kebiasaan tersebut tidak bisa diubah.

Menurut pengakuan teman-temanku aku memang terkenal rajin, suka menolong jika melihat teman kesusahan, jika jaga di counter juga tidak pernah no sale dan selalu bisa memikat pembeli walaupun secara target individual belum bisa tercapai. Punya potensi namun tidak disadari oleh pribadiku sendiri walaupun sudah sering diingatkan. Ke luar dari pintu interogasi pun masih menjadi tanda Tanya besar bagiku untuk kelangsungan aku berkerja di supplier ini. Secara polos juga saya mengakui kesalahanku dalam berkerja. Aku menjabarkan alasanku secara jujur dan apa adanya. Syukurnya memang tidak ada sesi penekanan dalam interogasi ini. Semuanya berjalan secara santai dan tidak terkesan adanya unsur pemaksaan harus mengikuti aturan ini dan itu.

Hanya sharing atau tukar pikiran serta mengambil jalan tengah biar kelakuanku tidak terulang kembali. Pak Johan Spv dari Bandung juga hanya menasihati, nasihatnya yang aku ingat sampai aku keluar dari kantor tersebut adalah, “untuk makan jangan sendok yang kamu suruh untuk menyendokkan makanan ke mulutmu tapi dengan tangan yang memegang sendok dan mulut mengangalah makanya makanan bisa masuk dan dikunyah dengan baik. Artinya jangan perkerjaan yang kamu paksakan menuruti kemauan kamu tapi kamulah yang harus mengkondisikan kemauan kamu untuk berkerja, berusaha, sehingga segenap pikiran dan tenaga kamu tercurah dengan ikhlas untuk berkerja.”

Namun setelah 3 hari sehabis kunjungan, petuah itu pun hilang setelah melihat di Koran pertandingan club kesayangannya pada hari sabtu. Penyakitnya pun kambuh, namun hal ini lebih parah karena aku tidak lagi menukar jadwal namun tidak masuk sama sekali tanpa adanya kabar baik ke toko maupun ke coordinator. Aku khilaf karena pertandingan ini adalah pertandingan final di Liga Indonesia. Aku melupakan semua, melupakan apa yang menjadi komitmen diriku, melupakan jalan satu-satunya untuk meniti karir di retail. Kesadaranku mungkin sudah terlambat, tapi tidak ada kata terlambat toh? Selama manusia ingin terus berubah.

Pagi ini mungkin awal pikirku sambil terus mendengarkan materi briefing dari spv areaku. “Mungkin ini saatnya, pikirku kembali, sambil menunduk dan mengingat kembali perkataan Pak Johan pada waktu sesi sharing tempo hari, “Yah, ini saatnya untuk berubah, harus, “gumamku. Namun lamunanku pun buyar ketika mendapat tepukan di bahu, “Wijaya, ikut aku ke kantor,” seru Pak Herry Spv Toko. Sampai di dalam toko, Pak Herry yang memang terkenal tanpa basa-basi langsung menyodorkan surat kepadaku. Melihat kalimat pertama saja sudah menampilkan sudut cemas di wajahku, lemas seluruh persendianku, hilang apa yang aku pikirkan pagi ini, ku hela napas panjangku dan ku teruskan membaca surat pemutusan kontrak dari Suppliernya.

“Kamu juga mulai hari ini tidak bisa berkerja lagi di Dept Store ini lagi Wijaya, baik di cabang ini maupun di cabang mana pun di seluruh Indonesia.” Seru Pak Herry. Kabar kedua yang membuatku tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menelan ludah, tidak terasa tanganku terus memegang kertas dalam posisi membaca padahal mataku menatap ke kaki meja. Dengan langkah gontai, aku pun meninggalkan dept.store tersebut. Jam di hp-ku menunjukkan angka jam 9.30. Hanya dalam jangka waktu satu setengah jam nasibku pun berubah menjadi pengangguran.

“Itulah hidup Wijaya, kita tidak bisa merubah suatu peraturan atau kondisi sesuai dengan kemauan pribadi kita. Dimana orang lain masih bergantung terhadap kondisi atau peraturan tersebut, tetapi kita yang harus bisa menyesuaikan diri.” Dimana bumi di pijak di situ langit di junjung. Cuaca kota Surabaya yang biasanya panas menyengat namun di bulan Januari ini cukup mendung dan berangin. Ditandai dengan bulir-bulir air hujan rintik-rintik yang tertiup angin kencang, aku pun bersiap berkemas untuk kembali ke kampungku karena aku tidak mempunyai uang lagi untuk membayar kost bulan ini.

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Biarkan Waktu Yang Berbicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pucuk Harapan

Oleh:
Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang

Pak Tua

Oleh:
Pagi begitu cerah. Langit biru udara sejuk menemani perjalanan pagiku menuju tempat kerja. Aku menengok jam tanganku. Waktu baru menunjukkan pukul 06.33 menit. Selama kurang lebih satu jam selalu

Jendela Cerita Menembus Mimpi

Oleh:
Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa Serentak puluhan suara menggemakan sebuah ruangan dari sudun ke sudut, ribuan tepuk tangan pun

Belenggu Tabir Kepalsuan

Oleh:
Jejak hujan masih membekas remang di antara rumput dan dedaunan. Helai daun yang gugur menyimpan sajak-sajak kepedihan. Nyiur melambai masih menyisakan gerimis di daun jendela. Menyingkap resah dalam hulu

Aku dan Mimpiku

Oleh:
Aku berusaha tersenyum padanya….”kau tidurlah, kakak akan mencarikan makanan untukmu” Mata bulatnya memandangku sayu, ah,,, seandainya saja kau tumbuh seperti anak-anak yang lain kau akan menjadi yang tercantik d

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *