Biasanya Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 22 May 2013

Udara panas menyelimuti kota siang itu, matahari bersinar sangat terik tanpa penghalang awan di langit, dan angin seakan-akan tak berhembus yang membuat cuaca semakin panas dengan sempurna. Terlihat Deni melaju dengan motornya dengan cepat, sesekali dia harus berhenti mendadak karena menghindari angkot yang menghalangi jalan secara tiba-tiba, Deni bermaksud ingin segera sampai tempat kosnya untuk menghindari kepanasan diperjalanan sehabis pulang kuliah siang itu. Sebelum belok ke gang dimana kosnya berada, Deni berhenti di sebuah minimarket yang biasa dia datangi jika ingin membeli sesuatu. Setelah memarkir motornya, Deni langsung masuk ke dalam minimarket sampai-sampai dia tidak sadar kunci motornya masih menancap…

Masuk minimarket siang itu rasanya seperti masuk ke dalam lemari es karena udara dari AC yang berhembus di ruangan. Deni pun menarik nafas panjang dan dalam setelah menutup pintu minimarket dari dalam dan membuat mbak penjaga kasir yang bertugas siang itu tersenyum menahan tawa karena melihat tingkah Deni yang terburu-buru masuk ke dalam minimarket karena cuma ingin merasakan udara dingin di dalam ruangan, dan Deni akhirnya menyadari hal itu. Sambil tersenyum Deni pun bilang ke mbak kasir “tenang aja mbak, aku kesini beli kok ga cuma ngadem aja hahaha..”, “iya iya mas.. percaya kok hihi” mbak kasir menjawab dengan menahan tawanya.

Mbak penjaga kasir di minimarket tersebut sudah biasa melihat Deni karena memang Deni sering ke minimarket itu untuk membeli makanan, minuman atau kebutuhan kebutuhan lain di tempat kosnya dan begitu juga sebaliknya Deni pun sudah sering melihat mbak kasir itu bertugas. Setelah mengambil minuman kaleng dari lemari es, Deni menuju kasir, “Mbak panas banget dah hari ini di luar, Mbak sih enak ga pernah kepanasan disini kan?” Deni bertanya sambil menyodorkan minuman kaleng yang dibelinya “tiap siang juga panas kan mas, ya udah mas nemenin saya kerja disini aja, kan ga pake kepanasan hahaha” Mbak kasir itu pun menjawab dan kali ini tidak sedang menahan tawanya. “yee mbak aku kan kuliah kalau pagi, kalau pun harus sama kerja part time gitu bisanya malem mbak dan kalau malem mbaknya kan ga tugas jaga kasir kan? dan malem itu juga ga panas..”. Mendengar jawaban dari Deni mbak kasir pun cuma bisa tersenyum sambil mengatakan “lima ribu mas..” Deni mengambil dompet dari saku celananya dan pada saat ingin mengeluarkan uang tiba-tiba ada orang yang menepuk punggungnya dari belakang sambil berkata lirih “mas…”, Deni langsung menoleh ke belakang dan dia melihat sesosok cewek yang berwajah manis…

Cewek itu lebih muda dari Deni, rambut hitamnya yang lurus sepundak di ikat kebelakang sehingga menimbulkan kesan imut jika di pandang, kulitnya terlihat bersih terawat dan badannya ramping dan bisa dikatakan “berisi”. Deni memperhatikan cewek itu dengan wajah bingung di tambah lagi cewek itu menggenakan kemeja putih polos dan rok hitam seperti layaknya mahasiswi yang sedang dalam acara ospek kampusnya…
“iya mbak ada apa?” Deni menjawab dengan wajah bingung. “yang di depan itu motornya mas ya? ini kuncinya ketinggalan di motor mas”. Cewek itu menjawab sambil memberikan kunci motor Deni yang tadinya memang masih tertancap gara-gara Deni terburu-buru masuk kedalam minimarket itu. “oh iya-iya… aduh saya kelupaan tadi, makasih ya mbak” Deni berkata sambil melihat motornya dari dalam minimarket. “untung ga di ambil orang mas” kata cewek itu. “iya mbak, maaf saya ga nyadar tadi, makasih banget ya mbak..”. Cewek itu cuma mengganguk dan berjalan menuju salah satu ruangan di dalam minimarket meninggalkan Deni.

“Besok-besok ati-ati mas rawan pencurian motor lo mas disini” kata mbak kasir. Sambil memberikan uang ke mbak kasir Deni bertanya, “eh mbak itu tadi siapa ya? Kok dia masuk ke situ?” Deni sambil menunjuk ruangan yang dimasuki cewek tadi. “oh cewek itu tadi memang lagi trainee disini mas, kaya pegawai baru gitu”. “hah? jadi mau jadi kasir disini dia?” kata Deni sambil kaget. Mbak kasir cuma mengangguk sambil berkata “pake kantong plastik mas?”. “Oh ga usah mbak, aku masukin tas aja..”.

Di kos Deni tiduran sambil memikirkan kejadian tadi siang, dia masih kaget cewek manis tadi akan bekerja sebagai kasir di minimarket dekat kos nya. Deni tidak mempermasalahkan pekerjaannya, baginya kerja apapun itu mulia yang penting halal, yang dipikirkannya adalah cewek itu terlalu manis untuk jadi seorang kasir. Deni juga mulai berpikir jika ingin bertemu dengan cewek itu tadi dia tinggal ke minimarket itu dan membeli suatu barang agar menjadi alasan untuk sekedar bertemu dan ngobrol dan Deni memikirkan itu semua dengan senyum–senyum sendiri di wajahnya…

Matahari kembali bersinar terang seperti sebelumnya, panas menyengat sangat terasa, tapi siang ini Deni tidak peduli lagi dengan panas dan segala ketidaknyamanan yang terjadi di perjalanan pulang dari kampus hari ini, dia segera melaju dengan motornya, kali ini tidak untuk segera menuju ke tempat kos melainkan ke minimarket yang menghantui pikirannya sepanjang hari…

Sampai depan minimarket Deni memarkir motornya rapi, dan tidak lupa mencabut kunci motornya kali ini. Dia berjalan perlahan menuju depan pintu masuk minimarket, sebelum membukanya dia berusaha melihat dari luar apakah cewek kemarin itu sudah bekerja di kasir itu.

“Ada!! Yes..!!”, Deni sedikit berteriak di depan pintu minimarket. Deni membuka pintu minimarket dengan perlahan. Dia melihat ke arah cewek itu di ruang kasir, cewek itu sedang sibuk memperhatikan layar monitor komputer kasir di depannya sehingga tidak memperhatikan Deni yang sedang masuk minimarket. Mbak penjaga kasir biasanya sedang tidak berada ditempatnya, hanya ada cewek itu menjaga kasir dan beberapa karyawan cowok sedang menata barang di rak-rak penjualan.

Deni segera menuju ke tempat minuman dan mengambil beberapa kaleng dari sana, lalu dia menuju ke rak penjualan majalah-majalah karena di situlah tempat yang paling dekat dengan kasir, Deni melihat majalah-majalah itu sambil matanya memperhatikan ke cewek itu. Cewek itu memakai kemeja putih dan rok hitam seperti hari kemarin, rambut hitamnya di ikat ke belakang, sehingga wajah manisnya tidak terhalangi rambut jika di lihat dari samping dan kemeja putihnya yang dikenakannya bisa di bilang cukup tipis sehingga Deni kaget dengan apa yang baru dilihatnya, saat cewek itu membelakangi Deni, dia bisa melihat cukup jelas kalau cewek itu sedang memakai bra warna hitam…
Deni terdiam beberapa detik di depan rak majalah itu, mendadak dia gugup dan dipikirannya terus terbayang warna hitam tadi, cewek manis… baju warna putih tipis… dan… hitam… hitam… hitam… otak Deni tiba-tiba terisi dengan hal–hal tersebut dan pikiran kotor pun juga sempat memasuki otak Deni..

Hampir semenit dia berdiri diam di depan rak majalah itu, sampai akhirnya cewek penjaga kasir itu menengok ke arah Deni karena merasa aneh ada orang berdiri diam di dekatnya dari tadi. Sadar cewek itu mulai melihat Deni, Deni langsung segera menuju kasir untuk segera membayar apa yang dibelinya. Dan tibalah Deni dihadapan cewek itu. Cewek itu mulai ingat dengan wajah yang ada di depannya…

“Masnya yang kemarin itu ya?”. Cewek itu memulai percakapan dengan bertanya hal tersebut. Dalam hati Deni berpikir ini momen yang menguntungkan karena dia tidak perlu canggung mengawali percakapan kepada cewek ini. Deni menjawab sambil memperhatikan pengunjung di minimarket siang ini yang cukup sepi sehingga dia bisa santai ngobrol dengan cewek ini karena tidak ada yang mengantri melakukan pembayaran di belakang Deni. “Iya mbak, yang kuncinya kemarin kelupaan terus diambilin sama mbak… Liisaa.. ya? mbak Lisa ya?” Deni melihat nama di name tag yang terpasang di kemeja cewek tersebut, yang tertulis Lisa. “Masnya tinggal deket sini?” Lisa hanya menjawab dengan melemparkan pertanyaan yang lain. “Kos saya deket sini sih, jadi saya sering ke sini kalau beli sesuatu, mbak yang biasanya ga masuk ya?”. Deni mencoba memperpanjang percakapan sebisa mungkin karena barang yang Deni beli sudah mulai di hitung harganya di mesin kasir. “Mbak biasanya hari ini ga ada jadwal jaga kasir mas, gantian sama saya sekarang, emang kenapa mas?” Tiba –tiba Lisa menjawab dengan dingin dan mimik wajah yang mulai tidak santai. Deni menyadari hal itu, dia berpikir cewek ini tidak suka di ajak berbicara dengan orang yang masih asing buatnya, tapi Deni tidak akan menghentikan percakapan ini begitu saja, tidak sekarang…

Setelah beberapa detik terdiam, Deni menjawab “oh ga apa apa kok mbak, mbak kok pake hitam? biasanya warnanya kan putih ya?” Tiba-tiba Deni berbicara seperti itu dihadapan cewek yang baru kemarin dilihatnya. Mendengar apa barusan yang dikatakan Deni dan menyadari kehadiran Deni yang menurut Lisa cukup mencurigakan dari tadi didekatnya, kemarahanpun muncul di wajah Lisa, dengan bersuara yang cukup keras Lisa tiba-tiba membentak ke Deni “eh Mas!! Jangan kurang ajar ya!! Kalau punya mata sama mulut di jaga mas!!”. Mendadak seluruh ruangan di minimarket menjadi hening, suara Lisa bisa terdengar oleh seluruh orang yang berada di minimarket itu. Tampak salah seorang karyawan pria yang sedang menata barang-barang di rak penjualan tadi mulai menghentikan aktifitasnya dan berjalan menuju tempat kasir.
Deni hanya terdiam…

“Ada apa ini lis?” kata karyawan pria itu ke Lisa. “Cowok ini kurang ajar sama saya mas…” jawab Lisa dengan raut muka yang sangat marah. Karyawan pria tadi nampak bingung dengan apa yang dikatakan Lisa dan dia segera menanyakan hal ini ke Deni langsung yang berada di depannya. “Maaf mas sebenarnya ada apa ya? Mas melakukan hal apa dengan karyawan baru kami ini?” Karyawan pria tersebut bertanya dengan nada yang tegas.
Deni menjawab dengan polos karena sebenarnya dia juga bingung kenapa tiba-tiba Lisa sangat marah kepadanya sambil membentaknya. “Maaf mas, saya sebenarnya juga ga ngerti kenapa mbak Lisa ini marah ke saya, saya terakhir tadi cuma menanyakan kenapa kantong plastik ini warnanya hitam? kan biasanya putih?…”

Mendengar jawaban polos Deni, karyawan pria itu tersenyum sambil menjawab, “oh maaf mas hari ini kantong plastik biasanya lagi kosong dan belum di kirim dari pusat jadi terpaksa sementara pakai yang warna hitam yang bukan seperti biasanya”, setelah berkata hal tersebut ke Deni, karyawan itu lantas bertanya ke Lisa, “terus kamu marah kenapa Lis?”. Wajah Lisa yang tadinya marah menjadi kaget dan kaku mendengar jawaban polos dari Deni barusan…

Lisa tidak menjawab pertanyaan dari karyawan pria tadi karena dia bingung dan malu, dia merasa tidak tahu harus bicara apa ke karyawan pria itu dan tentunya dia sangat merasa malu dan sangat-sangat bersalah kepada Deni karena sudah membentak dan marah-marah kepadanya yang ternyata yang dipikirkan sehingga membuat marah tadi cuma salah paham belaka, bukan seperti yang dipikirkannya…
Lisa hanya berdiri terdiam tanpa berkata satu katapun dihadapan Deni dan karyawan pria itu…
Tiba-tiba Deni berkata “udah ga apa–apa kok mas, mungkin tadi ada salah paham saja dan saya juga tidak tahu kalau mbak Lisa ini karyawan baru disini, jadi semuanya berapa mas?” Deni pun menyakan jumlah harga yang harus dibayarkan. Setelah membayarkan sejumlah uang kepada karyawan pria itu Deni melangkah keluar minimarket tanpa memandang wajah Lisa lagi.
Lisa sebenarnya ingin memanggil Deni untuk meminta maaf tapi bibirnya terasa kaku seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi dan Deni akhirnya pun sudah pergi dengan motornya…
Lisa menundukkan kepala dan merasa sangat bersalah kepada cowok yang tidak dia kenal yang sudah dibentaknya tadi…

Seminggu berlalu setelah kejadian itu, Lisa masih memikirkan kesalahan yang diperbuatnya seminggu lalu kepada seorang cowok yang tidak dikenalinya dan telah jadi korban salah pahamnya. Dia merasa tidak tenang atas apa yang telah diperbuatnya, dia juga merasa terlalu keras saat pertama kali cowok itu mengajaknya ngobrol di kasir ini. Tiap hari dia berharap cowok itu datang ke minimarket ini agar dia bisa meminta maaf kepadanya, Lisa memperhatikan setiap pria yang masuk ke minimarket ini, Lisa berusaha megingat-ingat wajah cowok yang telah dia bentak itu, tapi cowok itu tidak pernah datang lagi setelah kejadian itu…

Tiga minggu pun telah berlalu, dan Lisa belum melihat cowok itu berkunjung ke minimarket ini, Lisa ingat perkataan cowok itu kalau kosnya dekat sini dan dia sering berkunjung ke minimarket ini jika ingin membeli sesuatu dan Lisa pun sempat berpikir untuk mencari alamat kosnya tapi hal itu sangat tidak mungkin rasanya dilakukan karena nama cowok itu saja Lisa tidak tahu apalagi tempat kos dan segala hal tentangnya… dan kata-kata cowok itu sering berkunjung ke minimarket ini rasanya sudah tidak berlaku lagi setelah kejadian waktu itu…
Lisa hanya bisa merenungkan kesalahan yang dia perbuat, dia hanya bisa berharap dan pasrah suatu saat nanti bertemu cowok itu dan meminta maaf sedalam dalamnya.

Sebulan sudah terlewati, keadaan minimarket sore itu nampak ramai pembeli, terlihat Lisa yang sudah tidak memakai kemeja putih tipis itu lagi sedang sibuk melayani pembeli yang sedang melakukan pembayaran di kasir. Lisa sudah memakai seragam karyawan, dia sudah menjadi karyawan tetap di minimarket itu. Lisa masih terus berharap bertemu cowok yang dia tunggu selama ini, tapi keadaan minimarket hari ini ramai sehingga dia tidak bisa memperhatikan satu persatu pengunjung yang datang dan harus berkonsentrasi dengan pekerjaannya karena pembeli mulai antri cukup panjang di depan kasir.

“Semuanya lima belas ribu mas” kata Lisa ramah ke salah satu pembeli di kasir sambil terus memperhatikan layar monitor komputer kasir. “wah sekarang sudah kerja tetap disini ya mbak?” Tiba –tiba Lisa mendengar suara dari salah satu pembeli di depannya, mendadak dia terdiam kaku…dia merasa familiar dengan suara pria yang barusan didengarnya…
…’Apakah itu dia?’…dalam hati Lisa bertanya-tanya…
Perlahan Lisa mulai berpaling dari layar monitor kasir itu, dan mulai memperhatikan wajah pembeli yang tertutup oleh layar LCD untuk mengetahui jumlah harga yang harus dibayarkan oleh pembeli di atas meja kasir.

dengan jantung yang mulai berdegup kencang, Lisa melihat wajah pria dihadapannya…

akhirnya dia melihat wajah yang selama ini dinanti kehadirannya selama ini, wajah cowok yang telah dia bentak di depan umum di minimarket ini sebulan yang lalu..

Cowok itu pun tersenyum melihat wajah Lisa yang kaget bercampur bingung. Lisa tidak melihat adanya kemarahan di wajah polos cowok tersebut, hanya senyum manis yang Lisa lihat di wajah cowok itu…
Tiba-tiba Lisa berteriak ke salah satu karyawan yang sedang menata barang di rak dekat kasir, “mas tolong gantikan saya sebentar”. Lisa keluar dari ruangan kasir itu, dan dia dengan cepat memegang tangan kanan cowok yang dia tunggu selama ini, dia menggenggam tangan cowok itu sambil menariknya berjalan keluar minimarket. Pengunjung dan karyawan yang berada di minimarket melihat Lisa dengan wajah nampak bingung dengan apa yang dilakukan Lisa..

Di luar minimarket Lisa langsung meminta maaf atas kejadian yang terjadi waktu itu, dia juga mengatakan kalau setiap hari dia menunggunya berkunjung ke minimarket ini agar dia bisa segera meminta maaf kepadanya. Lisa juga meminta maaf karena tidak langsung minta maaf pada saat setelah kejadian itu berlangsung sehingga dia harus memikirkan kesalahannya sepanjang hari. Selama Lisa berbicara, Lisa terus menggenggam tangan cowok itu sampai dia baru menyadari kalau tangan cowok itu jadi bergemetar karena dari tadi di genggam olehnya…
Perlahan Lisa melepaskan genggamannya setelah meminta maaf dan berbicara panjang lebar tentang kejadian salah paham waktu itu. Lalu cowok itu menjawab dengan sambil tersenyum malu karena dari tadi mendengar penjelasan Lisa sambil memgang tangannya, “aku ga marah kok Lis, aku waktu itu cuma bener-bener bingung aja, kok tiba-tiba kamu sampai bentak aku gitu, tapi toh itu semua uda berlalu, ga usah dipikirin lagi, aku beneran ga marah”. Mendengar jawaban dari cowok itu hati Lisa langsung lega seakan beban selama ini sudah hilang. “oh iya aku tadi belum bayar lo, nih..” cowok itu mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. “oh ga usah, aku yang traktir, anggep aja sebagai ucapan maaf ku buat kamu” kata Lisa dengan wajahnya yang terlihat senang. “wah… beneran nih? asiik… makasih banyak ya lis..” kata cowok itu sambil mengajak Lisa bersalaman. Lisa hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Ok aku duluan ya, ada yang harus aku kerjakan di kos, kamu cepetan masuk sana, ntar dimarahin bos lo…” Cowok itu berpamitan ke Lisa sambil berjalan menuju motornya yang terparkir. Lisa menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan kepada cowok itu, wajah Lisa terlihat bahagia, senyum manisnya bisa terlihat lagi di wajahnya.

Lalu tiba-tiba Lisa sadar kalau dia belum tahu siapa nama cowok itu selama ini, dan segera dia berteriak “Mas.. tunggu mas.. namanya siapa?”. Hampir saja cowok itu akan beranjak pergi dengan motornya, lalu dia menoleh ke belakang ke arah Lisa sambil mengatakan “aku Deni.. dan setelah ini aku akan lebih sering kesini meskipun ga ingin beli apa-apa…” tanpa pikir panjang Lisa mengangguk dengan senyum wajah yang terlihat jauh lebih senang dari biasanya.

Cerpen Karangan: Dwipayana K
Twitter: @dwipadepe

Cerpen Biasanya Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satir

Oleh:
Kumandang Adzan shubuh merobek ufuk fajar membangkitkan jasad serta insan, mereka yang sadar akan kewajiban tak akan, tersumbat kemalasan oleh bising bisik sayitan, berkat adzan shubuhlah ruhku dapat terseret

Penyesalan Terlambat

Oleh:
Pertemuan singkat itu mengawali kisah kasihku di sekolah. Pertemuan yang akhirnya merubahku menjadi sosok wanita yang tak punya moral. Merubah semua kehidupanku. Kehadirannya di hidupku seakan menghipnotisku untuk mengikuti

Khayalan Si Bungul 1 (Sebuah Nama)

Oleh:
Namaku adalah Jimmy Sujana. Aku orang yang paling terkenal di seluruh kota. Aku seorang yang tampan, baik hati, dan kaya. Tepat hari ini, aku berjalan di sebuah taman dimana

Back To You

Oleh:
Buliran air menetes satu per satu terjun melewati ujung daun karena hujan telah cukup lama membasahi dunia ini. Langit masih kelabu dan kemungkinan akan hujan lagi, Ahh, rasanya tak

Hadiah Untuk Ikoh

Oleh:
Namaku Miiko, tapi kalian bisa memanggilku Ikoh. Aku sangat menyesal atas kejadian saat itu. “Ikoh! Ayo segera sarapan, nanti kamu terlambat!” “Iya Mama… Mama bawel banget sih!” “Ya udah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Biasanya Putih”

  1. MisterAdli says:

    Asik…
    Nakalnya sopan..
    hehehe….
    “Biasanya Putih…” Pemilihan judul yang kuat. Salut. Pintar, Cerdas !

    Jadi ikut ngebayangin gan…:D

  2. MisterAdli says:

    Iya gan.. mohon koreksi juga di cerpen2 saya..maklum sy masih newbie.. selamat udah masuk dalam 9 besar nominator Cerpen of The Month.. salam jabat erat..

    • Dwipayana K says:

      selamat juga buat agan karena cerpen Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang Koruptor karangan agan juga masuk kandidat kuat,meskipun tidak jadi cerpen of the month, setidaknya tulisan kita disukai, semoga kedepannya kita bisa terus berkarya gan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *