Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 June 2016

Sepuluh tahun sudah aku tidak ditemani bintang sahabatku, dia adalah sosok yang baik, serta peduli dengan keadaan di sekelilingnya, seperti namanya bintang memang selalu menyinari hati yang dirundung kelam. Rasa rindu ini bukan tanpa alasan sejak dia menghilang meninggalkan desa tempat dimana kita berdua dilahirkan ini, tidak ada sosok yang menjadi benteng bagi warga desa, dialah satu-satunya orang yang berani menendang kepala desa yang berkhianat, menggelapkan uang koperasi para petani.

“Kades (kepala desa) goblok dan biadab seperti dia pantas digantung, jika kalian tidak berani, biarkan tangan saya yang mengurusnya..!!” teriak bintang mengeluarkan segenap amarahnya di hadapan warga desa.

Kades di desa kami memang punya pengaruh yang sangat kuat, di belakangnya berdiri para preman yang ditakuti warga. jangankan untuk melawan, mengatakan tidak pada setiap kebijakannya pun, bisa berakibat pada keselamatan pelakunya.

Dan disana ada peran seorang pria muda bernama Bintang yang akhirnya bisa menggulingkan kekuasaan kades biadab itu, hingga akhirnya warga desa bisa terlepas dari bayang-bayang pemimpin hina tersebut.

Namun sekarang setelah Bintang tidak ada di desa kami, penderitaan warga desa seakan berat sekali. kepala desa yang baru, sama biadabnya dengan yang sebelumnya, warga desa yang umumnya adalah para petani, tidak bisa menjual hasil panennya secara sembarangan, kades itulah yang mengatur sehingga harga jualnya pun rendah, tidak jarang mereka harus makan seadanya agar uang yang didapatkan dari hasil panen tidak cepat habis. Menerima kenyataan seperti ini, saya selalu berharap Bintang kembali dan menjadi sinar di antara gelapnya kekejaman yang sedang dihadapi. Tapi di sisi lain saya heran kenapa Bintang pergi disaat kita sangat membutuhkan sosoknya.

Pernah suatu hari kami berbincang di sebuah saung, tempat dimana kami biasa melepas lelah, setelah seharian bekerja di sawah.
“Kamu tau apa bedanya rakyat dengan pemimpin?” entah apa yang terlintas di pikiranya ketika menanyakan hal tersebut kepada saya, saya pun menjawab sebisanya
“yaa jelas beda lahh.. pemimpin adalah orang yang memimpin rakyat, nah kalo rakyat itu yang dipimpin”

“Salahh..!” Bintang menghentak… saya juga sempat kaget dengan hentakanya.

“Pemimpin itu hanya perantara, dan yang menjadi otaknya adalah kita sebagai rakyat, menjadi pemimpin artinya mau menjadi perantara bagi rakyatnya, dalam membuat kebijakan, yaa.. harus sesuai dengan apa yang rakyat butuhkan, jika kita sebagai rakyat hanya diam dan tidak berani mengeluarkan aspirasi, siap-siap saja merasakan penderitaan, karena rakyat yang diam akan menghasilkan diktator baru dari sebuah pemerintahan, mau sampai kapan kita takut?…, masih betah kamu hidup tertindas” itulah ungkapan yang keluar dari seorang pemuda desa, yang sejenak membuat saya merenungkan bahwa, sampai saat ini saya belum bisa berbuat apa-apa. Perkataan sahabatku itu ada benarnya juga, jika tugas pemimpin hanya memimpin, maka akan ada kekuasaan berlebih dan cenderung seenaknya. Maka yang diperlukan adalah sebuah korelasi antara dua elemen itu agar terciptanya, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

~ Kita butuh lebih banyak Bintang di langit untuk mengalahkan terangnya bulan… ~

tamat

Cerpen Karangan: Muhammad Setiawan
Blog: Setiawannblog.wordpress.com

Cerpen Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepucuk Kata Unuk Suamiku

Oleh:
Kukatakan sekali lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Jangan pernah lagi pulang malam malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Adakah di dunia ini yang hidupnya hanya menghabiskan waktu

Tangis di Malam Takbiran

Oleh:
Aku meninggalkan bangku sekolah sejak berumur 13 tahun karena orangtuaku tidak sanggup lagi membiayaiku untuk bersekolah, padahal aku berharap bahwa aku bisa melanjutkan sekolah sampai ke tingkat SMA. Aku

Anton

Oleh:
Sesekali pria tua itu melihat cincin yang dipegangnya, dengan senyum penuh harapan yang menyiratkan kerinduan. sesekali dia menatap ke awan putih lalu kembali tersenyum dan menunduk seolah bermain dengan

Lintang Kemukus

Oleh:
Garam Mogok Asin Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur

Mutiara dan Sampah

Oleh:
Sampah dan mutiara, apakah perbedaan dari keduanya? Sungguh berbedakah? Bagaimana bila ada mutiara yang tanpa sengaja terjatuh pada tumpukan sampah apakah manusia akan melihatnya? Pasti mutiaranya terlihat, sungguh munafik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *