Bintang Cemerlang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 August 2015

Ketika sang surya beranjak terbit dari ufuk timur. Lampu-lampu jalan padam, tergantikan oleh lembutnya sinar mentari pagi. Setitik embun bergantian menetes pada rumput-rumput kering. Ibu kotaku Jakarta nampak tersenyum tanpa kemacetan. Sepinya jalanan tanpa kebisingan laju kendaraan. Kubuka mata lebar-lebar, kuraih kacamata lawas di atas meja.

Kudengar suara adzan masih berkumandang di masjid depan. Kubergegas bangun, mengambil peci dan sarung. Tanpa sandal, kulari menuju masjid biar gak ketinggalan jamaah sholat shubuh.

Aku, Burhanul Umam. Ya, nama yang bagus bukan? Aku terlahir dalam keluarga orang-orang kecil, maksudnya bukanlah dari keluarga kaya ataupun anak pejabat. Sederhana, itulah kesimpulannya. Adikku yang manis bernama Sintia Melati, aku suka memanggilnya Sin. Adikku masih duduk di kelas 3 SD, sedangkan aku masih kelas 2 SMP. Aku bukanlah kakak yang baik, namun aku sangat menyayangi adik manisku ini.

Oh ya, ayahku bekerja sebagai penjual tahu di Pasar Senin. Dan ibuku desainer terkenal di kampungku, alias penjahit baju. Orangtuaku selalu mengajarkan untuk bersyukur atas apa karunia tuhan yang telah diberikan kepada kita. Hidup kami penuh kebahagiaan karena rasa sayang yang tulus dan kesederhanaan.

Saat pagi menjelma kembali, senyumku tak pernah ketinggalan tuk menghiasi wajahku yang tak semanis adikku. Aku dan adikku selalu berjalan bersama saat berangkat sekolah. Memang sekolah kami berbeda namun jaraknya masih tergolong dekat. Adikku sangat pintar menulis, kalau disuruh membuat karangan, adikkulah jagoannya. Karena terlalu banyak karangannya, sampai-sampai merembet untuk ditempel di dinding kamarku.

Bagiku, ya sudahlah tak apa. Sekalian bisa menutupi catnya yang sudah banyak mengelupas juga mengurangi cicak-cicak yang bermain di dinding kamarku. Kalau aku, tidak pintar mengarang, kata teman-teman juga tidak tampan, terus jadi juara kelas pun juga enggak, 10 besar pun tak dapat. Tapi kata teman-teman, aku anak yang rajin beribadah, salat jamaah tak pernah ketinggalan, tadarusan menjadi kebutuhan pokok, salawatan insya allah tak pernah absen. Itulah kata teman-temanku.

Rahmat Jalaluddin, itu nama sahabatku. Panggil saja Jaja. Di mana-mana kami selalu bersama. Di kelas, kantin, masjid, sampai WC pun bareng. Dan alhamdulillah Allah swt merestui persahabatan kami, karena dari SD sampai SMP kami selalu satu kelas. Di kelas, Jaja paling jago soal hitung-hitung angka, ya.. mata pelajaran Matematika dan Fisika itulah keahliannya.

Sekolahku bukanlah sekolah idaman ataupun sekolah anak-anak orang kaya. Sekolahku adalah sekolah biasa di pinggiran ibu kota Jakarta. Saat terik sinarnya memancar menyengat kulit-kulit manusia. Bel besi sekolahku berbunyi, waktu tanda pulang. Kupakai topi SMP-ku dan jaket hitam buatan ibuku. Biar panas si mentari tidak merubah kulitku ini.

Berjalan, berbelok-belok, jalanan yang sempit dan perumahan padat penduduk itulah kampung di kota Jakarta. Namun jangan salah, kampungku bukanlah kampung kumuh yang terdapat banyak sampah sedang menunggu jemputan. Kampungku kampung bersih, dan pastinya bebas banjir. Rumah bercat hijau, dihiasi baju-baju yang sedang berpose menarik pelanggan, sudah terlihat dari tikungan jalan.

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” adik manisku menjawab.
“Sssstt?”
“Hemm.. ibu di belakang tuh, makanan toh mas di lemari. Cepetan makan sana! keburu dimakan cicak lho..”
“kalau dimakan cicak, biar cicaknya tak goreng, terus arwahnya gentayangan di sini!”
“emang mas Umam doyan cicak goreng?”
“enggak. Masih enakkan tokek bakar kalee..”
“heleh.. gak ada sinyal, jaringan putus-putus”
“hahaha.. udahan dulu ya. Mas umam mau isi bensin dulu.”

Tak terasa sudah pukul 2 siang. Jangan ditanya lagi, cacing-cacing di perutku bak seorang penyanyi rocker menghancurkan panggungnya minta makan. Sepiring nasi, ditemani sayur asem-asem buncis. Tanpa aba-aba telah habis di 5 menit kemudian.

Adzan asar berkumandang, kupakai peci menuju masjid depan. Tidak usah pakai lari kalau sore-sore begini. Tak lupa berdzikir dan memanjatkan doa kepada Sang Khalik, agar dimudahkan dalam perjalanan hidup ini. Sepeda hitam lawas milikku telah terparkir di depan rumah, setumpuk baju-baju tertata rapi di meja depan.

“Mas, cepetan!” adikku berteriak dari balik jendela.
“Mas umam datang…”
“Ayoo mas, penumpang kecewa loh.”
“Siap laksanakan.”

Kukayuh sepeda berboncengan bersama adikku. Berkeliling-keliling dari rumah ke rumah mengantar pesanan baju-baju ini. Namun tiba-tiba.

Brukk! Sepedaku jatuh, aku dan adikku pun juga ikut jatuh.

“Aduhh piye toh mas?”
“hehe.. gak apa-apalah, atraksi kok”
“atraksi sih atraksi, tapi iki loh… Caosnya tumpah.”
“Caos? Walah.. tak tumbas bakso ya? Hehe.. ogak-ogak, sakit gak?”
“ogak lah.”
“yo wes, pulang aja yo.”

Semenjak kejadian itu, tak pernah terpikir akan separah nantinya.

“loh.. kok kakimu berdarah sin?” tanya ibu.
“iya kok bu, mas Umam nakal.”
“iya bu, tadi Sin sok-sok’an atraksi gitu bu.” aku pun menyahut dengan sigap.
“lah.. gimana toh ceritanyaa?” ibuku keheranan.
“hahahaha…” aku dan Sin hanya tertawa.

Hari berganti, jam-jam terlewati. Tak ada angin, tak ada hujan. Adikku sakit panas, batuk-batuk terus, seperti radio mau rusak. Di pikiran kami, diberi obat-obat biasa nanti juga sembuh. Tak ada yang aneh waktu itu.

“kenapa Sin? Walah.. panase, tak tumbaske es batu di warung Bu Min ya?”
“Alah.. mas. Ohh.. buatin cicak bakar aja mas!”
“What? Cicak Bakar? Kasian toh, cicak butuh hidup, makan, minum, berkembang biak, mencuci baju, beli beras di pasar, masak mie instan.”
“nah toh, alay nyaaa…”
“hahaha.. gak percaya? Tanya sama cicak sana? Rumahnya kan deket.”
“ya..ya..ya..”

Satu minggu kemudian, sakitnya bukan sembuh malah tambah parah. Ketika dibawa ke dokter, adikku mengidap penyakit leukimia, harapan untuk hidupnya mungkin tak lama lagi. Sakit hatiku mendengarnya. Anak semanis adikku harus menahan rasa sakit separah itu. Aku terpaku melihat Sin tertidur di kasur rumah sakit. Sin sering bicara tentang bintang. Aku dan Sin memang suka dengan bintang. Kami ingin seperti bintang, yang selalu dipandang kala malam oleh setiap insan.

Kami ingin seperti bintang, yang selalu memancarkan sinarnya di tengah-tengah langit malam menemani sang bulan. Begitulah bintang menurut kami. Kami sering melihat bintang di atas atap rumah, karena terasa dekat dengan bintang. Kini hari-hariku tak seindah dulu, bak burung merpati ketika kehilangan pasangannya. Ayah, ibu dan Sin, bagiku adalah penerangan di saat gelap dan matahari bagi kehidupan.

Ayah mulai kehabisan uang untuk biaya pengobatan Sin, Ibu juga sering sakit-sakitan dan di sekolah nilai-nilaiku kian hari kian menurun. Terkadang aku ingin bertanya pada tuhan, mengapa harus begini? Mengapa cerita manis gula jawaku berubah menjadi pahitnya jamu Brotowali?. Dan ini bukanlah bak seseorang pahlawan berubah menjadi ultraman. Ini adalah cerita piluku.

Pada hari Rabu, Sin siuman dari komanya. Bibirku tersenyum, namun hatiku benar-benar menangis, rasa-rasanya serasa tersayat gergaji. Aku mencoba mendekatinya, namun air mata ini tak dapat terbendung lagi. Aku menangis bak air bah membanjiri kota Jakarta.

“Hiihh.. nangis ki ngapain? Kurang kerjaan.”
“Ben. Aku mau toh, bar jatuh dari genteng terus guling-guling.”
“Waahh.. bagus.bagus. Terus rekamanne mana?”
“enggak ada. Nanti nak kamu pulang ke rumah, bakalan tak reply wes.”
“siip mas.” Kami tertawa layaknya biasanya. Namun bagiku itu adalah tawa akting yang diperankan artis-artis figuran.

3 bulan berselang, tak ada perubahan. Tapi akhir-akhir ini Sin sering keluar melihat bintang, dia juga sering membicarakan tentang surga, aku benar-benar takut kalau Sin memang akan dipanggil tuhan. Masalahnya repot kalau dipanggil tuhan, ya karena Sin bukan hanya dipanggil tapi juga diambil. Entahlah, sudah cape mataku menangis setiap malam. Tak terbayangkan kalau Sin benar-benar pindah ke surga.

Ini adalah saat-saat tidak meyenangkan. Ketika candanya telah hilang, senyumnya tak akan ada, karangannya telah terhenti dan bintangnya telah mati. Jantung Sin berhenti berdetak setelah operasi terakhirnya. Ayat-ayat suci al-Qur’an terus kupanjatkan, mengiringi operasinya. Tak kusangka, memang inilah akhir hidup Sin. Sinar bintangku meredup seketika.

“mas, kalau Sin pergi, mas gak usah nyusul ya. Jangan sedih, lanjutkan hidup seperti biasa. Kan masih ada mas Jaja.” kata terakhirnya yang akan selalu kuingat di dalam hati kecilku.

Kepergiannya membuat aku depresi. Kadang saat melihat bintang, aku ingin menyusulnya. Tapi entah tak tahu bagaimana caranya, minum baygon persediaan lagi habis, gantung diri gak ada tempatnya, loncat dari jembatan gak berani, ditabrak kereta api jauh dari rel kereta.

Tapi seandainya bunuh diri tetep aja gak akan ketemu, nantinya aku malah masuk neraka. Namun aku sadar, bintangku tak boleh meredup. Ia harus tetap bersinar cemerlang. Untuk Sin, akan kubuat dia tersenyum di atas sana. Aku akan belajar, berusaha dan tetap berdoa, memperbaiki hidup menjadi lebih baik lagi. Membuat semuanya seperti dulu walau telah tiada Sin di sisiku.

Aku tak akan mengecewakan ayah ibuku, hanya karena kehilangan Sin. Bukan begini caranya, bukan. Bagiku raganya memang telah tiada namun jiwanya tak akan mati, jiwanya masih di sini bersamaku. Suatu saat aku akan seperti bintang yang kuimpi-impikan. Karena bintangku akan tetap tersenyum bersinar cemerlang.

15 tahun kemudian, semuanya telah selesai. Kini aku menjadi bintang. Seorang dokter yang aku impi-impikan kini telah menjadi aku. Dulu, aku ingin menjadi dokter agar dapat membantu mengobati orang-orang sakit, biar gak ada yang menangis sepertiku, tersayat-sayat gergaji sepertiku dulu. Sin tunggu beberapa tahun lagi ya, kita akan bareng-bareng lagi.

“Terimakasih”

Cerpen Karangan: Cynthia Ajeng Wulandari

Cerpen Bintang Cemerlang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruang Tunggu Bandara

Oleh:
Bandara udara internasional minangkabau, Sumatera Barat. Kami menjejali langkah menuju ruang tunggu bandara, di sampingku seorang pria sedang asyik memotret langit-langit bandara yang dihiasi lukisan-lukisan pemandangan Sumatera Barat, mulai

My Sister

Oleh:
Di suatu hari siang siang tanpa sengaja ku bertemu dengan seorang gadis cantik, kuamati wajahnya yang cantik itu, hampir ku jatuh cinta padanya. kuhampiri dia dan kusapa dengan kata

Gelap Terang Senyuman

Oleh:
“Gapai semua jemariku, rangkul aku dalam bahagiamu, ku ingin bersama berdua selamanya. Jika ku buka mata ini ku ingin selalu ada dirimu dalam kelemahan hati ini bersamamu, aku tegar”

Takdir Yang Mengubah Segalanya

Oleh:
Pagi belum menampakkan fajar, Andi bersiap siap untuk berangkat sekolah, ia memakai pakaian sekolah. Andi berpamitan dengan Ibunya “bu saya mau berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum” kata Andi “walaikumsalam hati

Langkah Hati Aina (Part 1)

Oleh:
Hidup harus memiliki tujuan, melangkahlah! Entah sudah berapa ribu kali ku baca kalimat yang tertulis besar di dinding kamar kos ukuran lima kali lima meter ini. Jam menunjukkan pukul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *