Black Work

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 2 February 2018

Cakrawala membentang bagai permadani alam tanpa ujung, di sana semuanya misteri. Lebih dalam disingkap, semakin dalam pula pandirnya manusia berulah. Di bibir pantai Sanur, siang memaki dengan terik tak terasa diliputi semilir angin darat yang mengibarkan semua yang dapat berkibar. Aku baru sadar bahwa aku sendiri di sini. Tak apa! Alam menemaniku.

Di depan kelopakku terpampang jelas panorama yang bagai lukisan hidup, langit dan laut yang saling bertemu melalui horizon menyajikan kesyahduan yang tiada duanya, lalu paling bawah seolah koral dan karang yang menghambur di tepian, semuanya terbingkai apik. Tubuh dan ruh ini hampir lenyap dalam decak. Betapa Tuhan menciptakannya untuk dinikmati.

Sesaat saja, ingin kulupakan beban kota yang membeludak. Bising metropolitan yang huru hara. Semuanya kulepas untuk saat ini. Bersama alam dan Tuhan aku hanya sebutir debu pada hamparan padang pasir nan tandus, tak lebih bahkan kurang. Jika saja manusia lebih tahu diri untuk tidak merusaknya, pasti alam hanya akan memberi lebih banyak faedahnya. Tapi tangan kami terlalu terampil untuk mengoyak isi dunia.

Dulu aku seorang karyawan kantor dari sebuah pabrik makanan ringan, pagi berdasi malam kusut. Bergelut dengan angka dan dokumen. Tugasku cukup mudah, memberi arahan bawahan lalu tutup mulut atas ulah atasan. Apa saja. Entah penggelapan dana, bahkan pembuangan limbah yang membikin wabah. Bagiku itu tak cukup mudah untuk membuka mata lalu menutup mulut, seperti bisu dan idiot. Tapi bisa apa aku yang dasinya saja masih bayang-bayang alias tak cukup jabatan. Satu-satunya yang bebas kulakukan adalah berharap bahwa tak lagi ada yang kedua seperti mereka.

Di atas sebuah karang besar dengan pecahan ombak di bawahnya aku bersimpuh menatap nanar semuanya. Kancing atas terbuka, dasi melonggar keterlaluan, lengan kemeja tersising hingga siku, kaus kaki dan sepatu tanggal, akhir-akhir ini seperti inilah budayaku saat kemari sembari berargumen mengerjakan tugas dari Bos besar. Terkadang aku tertawa sendiri, Bos besar? Perawakannya kecil, orangnya tak kuat juga, hanya saja omongannya yang besar. Hahaha. Mungkin itu alasannya disebut Bos besar. Hmmm…

Satu kejadian yang membuatku terpuruk dan mendamparkan diri di sini. Kala itu entah apa yang membuatku menyetujui ajakan atasan untuk makan-makan di hotel berbintang lima. Aku mau saja. Apalagi dengan embel-embel gratis tis. Saat itu duduklah kami berdua di kursi berbaju yang cukup mewah dengan ruangan gemerlap dengan lampu besar menggantung di tengah yang sebatas hiasan mati. Mataku protes di sana. Pencahayaannya tak lebih baik dari club malam dan tempat karaoke, kalau kubilang pencahayaannya hanya lima watt. Saat kutanya Bosku, ia bilang kalau ini menambah nuansa romantis antar pasangan. Romantis dengkulmu aku hanya bergumam begitu. Memang benar ya, kalau keburukan dan setan itu awalnya samar. Sama seperti di sini.

Lanjut pada kejadian waktu itu. Sebelum menyantap hidangan besar, seorang waiters hanya menyuguhkan secuil kue kurma yang katanya appetizer, atau menu pembuka. Kukecap pelan lalu mengangguk-ngangguk, enak juga! Tibalah pada maincourse, cukup kerap aku meneguk ludah saat sepotong daging sapi Korea yang terkenal empuk langsung dipanggang di depanku, bahkan aku celegak-celeguk memalukan. Bosku saja terkekeh. Sebelum matang, lagi-lagi mereka menjamukan hidangan lain. Kali ini bukan makanan, sebotol anggur Spanyol mewah dan gelas besar yang hanya dituangi sedikitnya seperlima saja. Warnanya cukup segar untuk dicoba, apalagi Bosku ini dari tadi sudah menenggak sendiri minuman itu. Pelan, antara ragu-ragu dan penasaran aku menjebloskan wine itu ke mulutku. Agak pengar, namun kutelan juga. Rasanya membuatku ketagihan. Sampai entah berapa banyak aku minum dan mengabaikan steak wagyu yang mungkin sudah gembar-gembor kami abaikan.

Setelah itu barulah semuanya nyata, Bosku yang pada dasarnya memang tukang minum yang handal menghadirkan seseorang dengan perawakan jangkung tegap dan rambut klimis belah kanan serta bau parfum maskulin yang benar-benar, euhhh… Jantan! Cara duduknya tentu tegap tak seperti aku yang teler dibudak minuman. Senyumnya penuh arti. Dia hanya menyalamiku dan memberiku basa-basi ringan dan didukung Bosku itu.

“Saya dengar anda seorang Project leader muda yang bertanggung jawab ya, Pak! Anda juga sering mengusulkan tema baru untuk produk perusahaan.” Suaranya terdengar santai tapi berwibawa.
“Benar Pak Michele, dia cukup punya skill dan sayang untuk terus menjadi Project leader pabrik makanan ringan.” Sambung Bosku. Aku menanggapinya bangga.
“Baik, saya punya tawaran bagus untuk anda Pak Ricky. Saya adalah CEO dari perusahaan periklanan, jika anda berminat anda bisa langsung menjadi Project leader tim utama kami. Bagaimana?” ini dia topik utamanya akhirnya bongkar. Tak lantas menjawab aku tersenyum miring.
“Memangnya apa yang telah anda ulahkan lagi?” tembakku asal. Aku faham betul trik ini, pastilah mereka membuat ulah yang membuatku harus memutar otak untuk menutupi kesalahan mereka lalu tutup mulut dan memberikan pengertian pada bawahan yang mulutnya koar-koar heboh dengan busa gosip di mulutnya.

Ngomong-ngomong, jika kusatukan kepingan bongkar pasang ini, kusimpulkan bahwa mereka menyikapiku seperti hidangan di sini. Awalnya memberi secuil kenikmatan untuk merangsang nafsu makanku lalu mengiming-imingi dengan rayuan lain dan hasilnya memberiku wine yang memabukkan.

Michele kembali tersenyum membalas senyumku. Sementara aku menyandarkan kepalaku ke meja tanpa etika. Tangannya dilipat lalu bertukar pandang dengan Bosku yang keparat.

“Bagaimana? Ceritakan rekan?” ulurnya mengejekku.
“tidak juga lebih baik!!” ceplosku membuat keduanya bungkam. Lidahnya mungkin dipasak tulang kali ini, kaku. Satu tegukan ludah yang mantap dari Michele untuk membuka pembicaraan tapi cepat disambar Bosku si mulut corongan.
“hohoho, santai saja!” Bosku menepuk-nepuk pundakku dengan responku yang angkuh.

“begini, limbah eum limbah alumunium foil untuk kemasan makanan kami sudah melakukan transfer ke sungai brantas. Cukup jauh, tapi mungkin akan sedikit menghilangkan jejak. Bagaimana menurutmu?”
“Haish, sudah anda lakukan lalu untuk apa ditanyakan?” sambarku ganas. Muak mendengarnya.
“Masalahnya kami ketauan lagi, dan ini akan mempengaruhi kinerja pabrik.”
“salah siapa, Pak?”

“Ayolah, Rick! Terakhir! Hmm?”
“Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” timpalku.
“Begini, dengarkan yang satu ini. Laporan keuangan akhir tahun. Kurasa kamu bisa menyusunnya, Rick! Sesuai dengan dana yang ada sekarang.”
“Sesuai dengan pengeluaran, Pak! Bukan sisa dana yang ada!” tegasku setengah teler sambil menggebrak meja.

Michele memandangi kami acuh, mengabsen artian ucapan kami lalu mengirim ke ingatan. Gayanya tak berubah, masih sombong tak tahu malu. Penjahat topeng monyet.
“Rick! Tolonglah! Cukup sekali ini! Dan kamu bisa saya beri promosi atau transfer ke perusahaan periklanan milik Pak Michele. Dan setelah itu kamu tidak akan melakukan ini lagi.” Rayunya.
“Bukankah saya rasa sama saja, huh? Di perusahaan baru saya kira juga tak lebih baik dari rekan bisnisnya, tak lebih baik dari anda! Bukankah perusahaan ini membuat iklan untuk produk kita? Saya jawab tidak!”
“Pak Ricky! Menurut saya, anda tipikal yang kompetitif juga. Tapi percayalah, di perusahaan saya anda hanya sebatas Project leader tim utama kami. Saya bisa berikan jaminan.” Michele akhirnya buka mulut.

Selepas kejadian itu aku menjadi rancu. Kuterima atau tidak semuanya menyekapku dalam dilema. Satu sisi aku penat menjadi pembersih kaca bagi atasanku yang kerjaannya hanya menggelapkan dana dan membuang limbah sembarangan. CEO kami seorang politikus tak ambil pusing soal pabriknya, yang penting laba tahunan serah terima ke tangan, beres. Jika aku menolak resikonya adalah pekerjaanku akan tanggal. Lalu bagaimana? Jadilah kuiyakan dengan paksa. Aku tak mau lagi menjadi tameng tikus hitam dan memutihkannya. Rasanya tak sanggup lagi aku dipelihara dosa-dosa.

Masih di wilayah yang sama, Bali. Aku bergelut dengan pekerjaanku yang baru, kali ini mungkin tak ada lagi Bosku yang keparat, tak ada juga para junior yang harus kutertibkan. Hanya saja saat ini aku punya dosa dan penyesalan yang kuemban. Menerima ini dan pergi dengan membantu keburukan mereka untuk terakhir. Masih beban untukku.

Di kantor ini aku bebas keluar masuk kantor meskipun dalam jam kerja. Bos baruku menganggapnya petualangan inspirasi. Katanya inspirasi akan kudapatkan saat aku keluar. Dia cukup baik, namun apalah itu. Tikus tetaplah tikus. Sekarang aku lebih lelap dalam keseharianku mengaduk-aduk otak untuk ide baru periklanan.

Ponselku berderit, sengaja kusetel mode getar agar tak menggangguku. Tapi tetap saja, getarnya mencolekku untuk mengangkatnya. Layar itu memberi tahuku bahwa Michele menelepon. Masih malas kuangkat dan berdehem.
“Ekhem, iya?”
“Anda sudah mempublikasikan keuangan bulanan ke pegawai lain?” tanyanya di seberang sana membuat dahi berkerut.
“Maaf, tapi saya Project leader Pak! Saya kira itu bukan tugas saya.”

“Saya tahu, tapi anda juga biasa melakukan ini di kantor sebelumnya bukan?” suaranya terdengar menyogokku.
“Hmmm, saya ke sana.” Hanya itu. Tidak menyetujui tidak pula menerima. Cukup baginya aku mengatakan ke sana dan ponsel ini kembali ke saku.

Di dalam ruangan delapan kali tujuh meter ini seluruh karyawan dan tim kerja berkumpul melingkar dengan proyektor sudah siap di mantapkan untuk presentasi. Belum dimulai memang, tapi kantor ini cukup disiplin untuk urusan meeting. Berkas-berkasnya sudah di meja utama yang sudah diduduki Michele dan asistennya. Lembar pertama kubuka dan mengurut tabel angka-angka. Rapi. Semuanya disusun secara sistematis dan rinci. Hap! Aku melihatnya. Senyumku mengulas, bisa dibilang tertawa geli. Bertahun-tahun aku menyongsong ulah Bosku dengan laporan palsu dan hari ini kembali lagi. Laporan kas ini rasanya hanya hitungan matematika. Kantor ini kantor sebelumnya, sama saja. Kembali lagi diriku menjadi benteng ulah atasan. Dan nyatanya yang dulu itu bukan akhir.

Cerpen Karangan: Sarirotul Ishmah
Facebook: Hanbee

Cerpen Black Work merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebenaran Untuk Dimengerti

Oleh:
Dita berlari mengejar sebuah mobil berwarna merah yang melaju kencang dari arah rumahnya.. entah apa yang ada di pikirannya saat ini.. berlari tak kenal lelah, tak tau sudah sejauh

Lelaki Aib

Oleh:
Aku ingat suatu masa ketika itu aku pernah menjadi lelaki. Namun, kurasa itu sudah lama sekali. Hari-hariku kini adalah hari-hari dimana aku mengenali diriku sebagai seorang bernama Santi, bukan

Woody dan Rara

Oleh:
Aku kembali melewati pabrik es krim Woody di jalan raya Bogor Jakarta pada sore hari. Sebuah merk es krim klasik, dari masa tempo dulu. Bergambar Woody Woodpecker, si burung

Mohon Dukungannya

Oleh:
“Pak, ada yang cari.” Ayu salah seorang karyawati administrasi memanggilku. “Oh, ya? Suruh masuk.” Ayu keluar dari ruang kerjaku dan dalam beberapa detik muncul dua orang lelaki dari balik

Pikaichi

Oleh:
“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?” “Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!” “Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *