Bolehkah Aku Meminjamnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 May 2016

Namaku Fahri. Ini adalah cerita sewaktu aku berumur 15 tahun. Sore ini seperti biasanya, Ayah mengajakku untuk sekadar jalan-jalan di taman kota yang letaknya tak jauh dari rumahku. Udara sejuk sore hari ini begitu menyegarkan, terdengar suara burung yang saling bersahutan. Pohon-pohon dan bunga-bunga tertata rapi di taman ini, membuat mata setiap pengunjung yang datang ke sini akan terpesona dengan keindahan taman ini, ditambah juga penataan tamannya yang rapi. Di setiap pinggir dan sudut taman terdapat bangku panjang yang terbuat dari besi, yang biasanya digunakan pengunjung ketika ingin duduk setelah berjalan mengelilingi taman yang lumayan luas ini.

Ayahku masih saja menuntunku untuk berjalan mengelilingi taman sambil menjelaskan setiap sudut taman ini seperti penjelasanku di atas. Ayahku selalu meluangkan waktunya untuk pulang lebih awal dari kantornya, hanya untuk menemaniku jalan-jalan ke taman ini. Aku bisa saja pergi sendiri ke taman ini, tapi, itu tidak mungkin. Karena, sekarang aku tidak bisa melihat lagi. Beruntungnya kalian yang masih bisa melihat dengan jelas. Aku sendiri hanya bisa pasrah ketika mendengar kabar dari dokter, bahwa mataku sudah tidak bisa melihat lagi. Kejadiannya 7 tahun yang lalu. Ketika itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3. Kejadiannya tepat pas pulang sekolah, aku ditabrak oleh sebuah mobil, ketika aku hendak menyeberang jalan untuk membeli sesuatu di warung yang berada di depan sekolahku. Kejadian itulah yang membuat kedua mataku sudah tidak bisa melihat lagi.

Drrrtt…Drrrtt…
“Halo, Asalamallaikum?” Sapa Ayahku kepada seseorang di seberang sana. Langkah Ayahku kemudian terhenti.
“Walaikumsallam. Pak, bisa kita bertemu sekarang? Ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai proyek kita yang baru ini.” Jelas seseorang di seberang sana.
“Apa besok tidak bisa Pak?” Tanya Ayahku.
“Tidak bisa Pak, kita harus membicarakan ini sekarang.”
Setelah itu, mereka kemudian berencana akan bertemu di salah satu Cafe dekat taman. Ayahku kemudian menjelaskan semuanya kepadaku bahwa dia ada urusan sebentar.

“Fahri, Ayah ada urusan penting. Fahri mau Ayah antar ke rumah atau mau tunggu di sini?”
“Aku mau tunggu Ayah di sini aja. Gak apa-apa kok, Ayah pergi aja. Lagian itu urusan penting kan?”
“Baiklah, kalau itu mau kamu. Ayo, kamu bisa duduk di sini! Kalau Ayah sudah selesai, Ayah akan menelepon kamu yah.” Ayahku kemudian menuntunku untuk duduk di bangku sudut taman. “Ayah pergi dulu yah.” Ujarnya kemudian.

Aku hanya bisa tersenyum ketika mendengar suara langkah kaki Ayahku yang mulai menjauh. Tidak lama aku duduk sini, aku mendengar seperti ada seseorang yang berjalan menghampiriku. “Boleh aku duduk di sini?” Tanya seseorang kepadaku. Dari suaranya saja aku bisa menebak, kalau umur pria ini mungkin sudah 20 tahun ke atas.
“Boleh kok. Silahkan!” Jawabku.
“Terima kasih.”
“Sama-sama” balasku.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar seperti seseorang yang sedang membaca buku. “Pasti pria yang duduk sebangku denganku ini sedang membaca buku.” pikirku dalam hati. Setelah itu…

“Hahahaha….” Tawa pria itu pecah seketika. Tawanya terus berlanjut.
Aku keheranan. Aku langsung bertanya kepadanya. “Apa yang membuatmu tertawa?”
Sesaat tawanya reda. “Buku ini ceritanya sangat lucu sekali. Aku sampai tidak bisa menahan tawaku,” jelas pria itu.
“Boleh kau ceritakan kepadaku? Kau bisa lihat kan, kalau mataku sudah tidak bisa melihat lagi?”
“Boleh kok. Aku akan menceritakannya.”
“Bla bla bla…..” Setelah pria itu menceritakan apa yang dibacanya aku pun langsung tertawa. “Hahaha… Lucu sekali ceritanya.”
Kami pun hanyut dalam tawa. Sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini.

Tawa kami pun mulai reda. Kemudian aku bertanya. “Bolehkah aku meminjamnya?”
“Bukunya?” Pria itu balik bertanya kepadaku.
“Matamu. Ketika kamu sudah tidak memakainya lagi, bolehkah aku meminjamnya?” Tanyaku lagi.
Pria itu kemudian terdiam. Dia bingung harus menjawab apa lagi.
Aku bertanya kembali. “Bolehkah aku meminjamnya?”

Kami pun terdiam. Tak lama kemudian, Ayahku pun datang. Pria itu kemudian pamit pergi untuk segera pulang kepada kami. Tidak beberapa lama, kami mendengar suara tabrakan yang tak jauh dari taman. Kami pun bergegas menuju ke lokasi kejadiannya. Ayahku yang melihat korbannya langsung memberitahu padaku bahwa korbannya adalah pria yang duduk di sebelahku di taman tadi. Mengetahui itu, kami pun langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat. Di sela pemeriksaan pria itu berkata kepada dokter.

“Dok, aku minta tolong buatkan surat dan berikan surat itu kepada anak yang buta tadi!” Pinta pria itu.
“Baiklah. Apa yang harus aku tulis?” Tanya Dokter itu kemudian.

Pria itu pun kemudian mengatakan apa yang harus ditulis di dalam surat itu. Tak lama kemudian, keadaan pria itu semakin kritis. Dokter berusaha menanganinya. Berbagai cara telah dilakukan oleh Dokter dan asistennya. Tapi, takdir berkata lain. Akhirnya pria itu menghembuskan napas terakhirnya. Dokter kemudian ke luar dari ruangan, dan mengatakan bahwa nyawa pria itu tidak dapat tertolong lagi. Aku dan Ayah pun turut berduka cita.
“Ini ada surat yang dititipkan pria itu sebelum meninggal. Surat itu buat anak Bapak.” Ujar Dokter itu kemudian, sambil memberikan surat itu pada ayahku. Dokter itu pun berlalu. Ayahku langsung membuka suratnya dan membacakannya untukku.

“Mohon maaf sebelumnya, mobil yang menabrak kamu waktu itu adalah mobilku. Waktu itu aku sangat terburu-buru, karena aku hampir telat ke kampus. Aku sangat minta maaf. Beribu-ribu maaf. Mendengar pertanyaanmu di taman itu, benar-benar membuatku terkejut dan bingung. Dan, kemudian aku mengingat bahwa kamulah yang dulu aku tabrak. Penderitaanmu karena sudah tidak bisa melihat lagi, itu semua karena ulahku. Maka, aku putuskan untuk meminjamkan kedua mataku ini padamu. Salam dari Zaky.”

Saat ini aku sudah menginjak usia 20 tahun. Sekarang aku sudah bisa melihat lagi dan melakukan aktivitas sebagaimana biasa. Berkat seorang pria yang duduk di bangku taman denganku waktu itu. Mata yang begitu indah yang diberikan pria itu kepadaku, akan ku jaga sebaik mungkin.

Tamat

Cerpen Karangan: Dandriyanto Gani
Facebook: Dandri Gani

Cerpen Bolehkah Aku Meminjamnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pucuk Harapan

Oleh:
Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang

Tak Berujung

Oleh:
“Sore menjelang petang! Saya Weni, hadir kembali untuk Anda di tembang tembang lawas penghantar minum teh di senja hari… silakan buat yang mau request tembang lawas yang bisa membuka

Baranti Accident

Oleh:
Aku masih menahan kantukku, ku lirik arloji yang melingkar di tangan ini telah menunjukkan pukul 23.00. “Huaaah Jusman belum tidur,” sahut Puang -panggilan kehormatan untuk orang yang lebih tua-

Dibalik Kabut

Oleh:
Sudah tiga hari Ari tinggal di kampung halamannya sejak kepergiannya ke kota tempat ia menekuni ilmu. Baru kali ini Ari pernah pulang ke tempat kelahirannya setelah setahun ia berada

Salah

Oleh:
Apakah kalian percaya akan adanya Tuhan? Hahahaha…. lelucon macam apa itu? Tuhan? Aku tak percaya itu semua. Bukan tak percaya, tapi berhenti untuk percaya. Aku tak lagi menganggap Something

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *