Brianna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 September 2021

Sebagai seorang gadis, apa yang akan kamu lakukan ketika mempunyai aset yang memabukkan pria?
Jika aku gadis berada, aku akan merawatnya dan menjaga apa yang aku miliki tentu saja.
Namun, kondisiku pelik.

Minggu lalu aku baru lulus SMA dan harusnya sekarang aku sedang menyibukkan diri untuk mengikuti beberapa test agar aku masuk perguruan tinggi impianku. Nilaiku bisa dibilang memuaskan, tapi pada seleksi beasiswa aku tidak lolos. Kenapa?
Karena universitas yang kupilih terlalu bagus dan aku terlalu percaya diri bisa masuk disana padahal kenyataannya Tidak.

Miris.
Sekarang aku bingung, benar benar bingung.
Di satu sisi aku ingin jadi seorang pengacara, tentunya aku harus kuliah.
Dan masalahnya aku tidak punya biaya.
Minta orangtua?
Sayang sekali aku hanya punya ibu sekarang, kedua orangtuaku bercerai ketika aku berumur 15 tahun.

“Brianna, sayang. Kamu lagi mikirin apa?” Johan, kekasihku sejak setahun lalu mengelus rambutku.
Aku menatapnya tanpa minat, dia memang tampan dan kaya. Tapi sayang dia pengoleksi wanita. Seminggu dia bisa gonta ganti pasangan sebanyak 5 kali. Aku mengetahui wanita wanita itu karena Johan sendiri yang bilang.

“Kamu mulai terusik sama petualangan aku?” tanyanya lagi.
“Nggak, aku nggak peduli juga. Itu hak kamu Jo. Terserah kamu mau duain aku tigain, terserah” mataku menatap manik matanya yang nampak menegang setelah kata terakhirku terucap.

Aku tersenyum sebentar lalu meraih jemarinya. Mengalihkan ketegangan yang mungkin terjadi.
“Jo, kamu keterima di jurusan apa?”
“Manajemen, kenapa? Kamu bukannya pengen jurusan hukum. Kamu lolos seleksi?” tanyanya antusias.
“Emm, aku nggak lolos seleksi, salah pilih universitas”

Johan menatapku iba, ia bangkit dan memelukku. Tangan kanannya mengelus punggungku lembut.
“Gapapa, masih ada jalur lain kan, kamu mau aku bantuin?” tawarnya.
Perlu kalian ketahui, salah satu faktor pendukung kenapa Johan bisa jadi pengoleksi wanita yaitu karena dia pintar.
Jadi, dia itu tampan, kaya, dan pintar.
Satu lagi, tubuhnya tinggi menjulang dengan mata kebiruan.
Almost perfect.

Aku menggeleng kuat.
“Aku nggak mau Jo, awas kalo kamu bantuin aku dengan jalan pintas”
Johan terkekeh.
“Kamu lucu, aku jadi pengen nyium” sesaat suasana menjadi dramatis hanya karena kata-kata bualan Jo yang mampir di telingaku.

Wajah Johan mulai mendekat, aku dapat merasakan hangat nafasnya di kulit pipiku.
“Kamu cantik Bri, bagi aku kamu satu satunya wanita yang nggak boleh diputusin. Kamu adalah masa depan aku” mulutnya yang lincah itu berbicara sangat manis.
Ia meletakkan kepalanya di pundakku. Tangan kanannya melingkar sempurna di pinggang rampingku. Kursi kami yang tadinya bersebelaan sekarang menyatu karena dari tadi Johan menggesernya.

Suasana hening diantara kami, aku mengelus pipi Johan, menilik wajahnya yang teduh tersenyum di ceruk leherku.
“Jo,”
“Hmmm”
“Katanya kamu lagi latihan basket kok malah berduaan sama cewek model gini sih?” Johan gelagapan dan segera menjauhkan diri dariku.
“Gu..e pusing..mm Melani”
Aku menatap sekilas perubahan ekspresi Johan, mungkin Melanie ini salah satu mainan Johan dan aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang.

Aku berdiri, tubuhku yang beberapa centi lebih tinggi dari Melanie akan membuat rencanaku semakin baik.
“Hai, Melanie. Aku Brianna”
Melani menatapku mencoba menilai siapa wanita yang bersama Johan. Kekasihnya.
“Maafkan adikku yang satu ini ya, dia memang manja padaku”
Johan menekuk wajah ditempatnya berdiri, dan Melanie.

“Ah, kalian ..bersaudara? Kukira Johan menduakanku, sebab kudengar dia..”
“Melanie, kalau kau kemari hanya ingin membuka aibku di depan Brianna lebih baik kau pulang” Jo menatap Melanie tajam, membuat gadis itu sedikit terintimidasi.
“Tidak, Jo. Sebaiknya aku saja yang pulang. Melani kau duduklah disini” .
Aku berdiri, lalu berbalik badan siap untuk pergi dari tempat ini. Entah kenapa aku jadi tak enak sendiri pada gadis ini.

“Melanie, kau dan Jo sudah berpacaran berapa lama?” aku harus tahu langkah ini benar atau tidak. Aku ingin memastikan sesuatu.
“Aku dan Johan sudah 2 bulan kak”
Tepat seperti dugaanku. Johan memang layak disebut kolektor.

“Baiklah, kurasa cukup. Aku ada urusan. Tolong jaga Johan ya. Bye” aku berjalan cepat menuju pintu keluar mengabaikan suasana hatiku yang tiba-tiba saja kacau setelah kedatangan wanita itu. Tidak biasanya Johan betah dengan mainannya selama lebih dari satu bulan.
Dan bersama Melanie dia bisa sampai 2 bulan.
Hubungan mereka pasti agak serius!

Aku menangis tertahan. Aku mulai lelah pada Johan.
Bagaimana bisa dia dengan gamblangnya menjalin hubungan dengan wanita lain di depanku.
Ya. Aku memang tidak peduli, tapi hatiku peduli, dan hati ini sudah remuk hampir disemua bagian.
Satu tahun bersamaku nyatanya tak merubah sikapnya.
Johan tetap Brengsek!!!

Aku berlari menembus pekatnya malam sendirian, jika biasanya aku menunggu Johan ketika hal seperti tadi terjadi, kali ini egoku menolak.
Cukup sudah!

Aku mengetuk beberapa kali pintu minimalis di depanku dengan tangan bergetar karena kedinginan.
“Mom, aku pulang.” pintu rumahku terbuka, ada ibuku yang tersenyum hangat padaku.
Ah, melihat ibuku, kurasa aku harus memikirkan studiku daripada Johan.

Aku masuk kamarku, mandi lalu berganti pakaian hangat agar terlihat manis di depan ibuku. Setelah kupertimbangkan. Untuk sementara aku akan meninggalkan hidupku disini, juga Johan.

“Mom, sekarang kurasa aku sudah siap. Apakah mom keberatan jika aku pergi untuk beberapa saat?” ucapku setenang mungkin.
“Bri, kamu yakin?” aku mengangguk setuju.
“Baiklah, aku akan mengabari Christian jika putrinya akan kembali” ibuku mendesah panjang, lalu kami terdiam cukup lama.
“Apa mom akan ikut bersamaku?” jariku saling terkait, sesekali aku meremas ujung kaos oblong yang menempel pas ditubuhku.
“Menurutmu, Bri?” ibu menatapku ragu.
“Aku akan berbicara pada Daddy dan mungkin kita bisa bersama kembali”
“Bri, ibu tidak bisa. Cukup.”
“Tapi aku nggak mau tanpa mommy, daddy sudah berubah mom. Aku yakin dia pasti sangat merindukanmu” aku mulai terisak pelan di pelukan ibuku.
“Baiklah, aku akan memikirkannya.”
“Terimakasih, mom” aku tersenyum penuh arti dipelukan ibuku.

“Brianna, habiskan sarapanmu sayang, mommymu sudah membuatnya untuk kita. Jadi habiskan” Suara daddy menggema sampai di telingaku.
Aku mengangguk lalu tersenyum genit.
Mataku melirik mom dan dad di seberang meja, kursi mereka dekat. Sangat dekat hingga aku berpikir Daddy mungkin sedang tak ingin berpisah dari Mom bahkan dengan jarak 1 inchi.

“Hari ini aku ada workshop, jadi kurasa aku akan pulang telat” kataku sambil menyeruput susu di depanku.
“Hati hati sayang” ibuku tersenyum hangat.
Aku menyambar kunci mobilku, lalu keluar.

Suasana aula kampusku sangat ramai siang ini, fakultas mengadakan acara yang lumayan besar.
Workshop & Talkshow nasional, serta meet and greet bersama salah satu pengusaha nomor 1 di negara ini.
Aku duduk di barisan pertama, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu seseorang di depan sana.
Apa kalian berpikir Daddyku yang sedang kumaksud?
Atau Johan?
Tentu saja bukan.

“Baik, mari kita sambut Jeffrey Maxwell” ucap pembawa acara dengan begitu bersemangat.
Seorang pria berumur hampir kepala 7 memasuki panggung dengan begitu percaya diri. Riuh tepuk tangan semakin kencang ketika pria itu berdiri diatas podium untuk memberikan sambutan.

“Apa kabar para pemuda” ucapnya lantang.
“Hidup mahasiswa” teriaknya lagi.
“Hidup mahasiswa. Hidup mahasiswa” suara teriakan di barisan belakangku begitu bersemangat.

Selama acara aku tidak sedikitpun mengalihkan pandanganku dari pria itu. Dia adalah salah satu alasan aku bisa seperti sekarang.
Hidup normal, punya keluarga, bisa mengejar mimpiku.
Apalagi yang kurang?

Selama 2 tahun aku belajar di universitas, tahun ini adalah tahun terakhirku. Sebentar lagi aku akan jadi master hukum sesuai impianku.

“Adakah disini yang ingin menjadi seperti saya” ucap pria yang tak lagi muda itu sambil melangkah turun dari panggung.
Dia menghampiri peserta seminar.
Semua peserta kecuali aku mengangkat tangan mereka tinggi tinggi.

“Wah, hebat sekali” komentar pria itu.
“Adakah yang tidak ingin seperti saya?” aku mengangkat tanganku.
“Wah, kau ikut aku nona?” pria itu menyuruhku duduk di kursi yang seharusnya diduduki oleh pemateri.
“Katakan apa alasanmu?”

Aku memegang pengeras suara itu mantap. Lalu melihat sekilas semua peserta seminar hari ini.
“Aku ingin jadi pengacara. Mr.maxwell. Kakekku pernah berkata jika aku punya mimpi aku harus fokus, aku harus konsisten dan berusaha keras untuk mewujudkannya.
Kekayaan dan harta tidak selalu mendatangkan kebahagiaan. Bahagia adalah bagaimana cara kita memandang dunia, cara kita menyikapi segala hal yang terjadi pada kita sangat menentukan kebahagiaan kita”

Kusak kusuk peserta lain mulai terasa. Suasana aula menjadi sedikit berisik.
“Tenang, ada yang perlu aku luruskan dari persepsi gadis ini”
“Apa orangtuamu kaya?”
“Kami merasa cukup” kataku mantap.
“Baiklah, aku tahu. Ketika kita merasa ada yang kurang pada diri kita, pada kehidupan kita. Manusia cenderung ingin selalu memperbaiki diri. Ketika kalian melihat diriku, you’ll think that I’m very rich, right? Dan kalian merasa kurang dengan keadaan kalian, benar?” seluruh peserta terdiam.

Pria itu melanjutkan
“Semua itu tidak salah, karena kebahagiaan adalah ketika kalian senang dengan pemikiran dan pilihan kalian. Tapi bagi pembisnis seperti kami ambisi untuk menjadi yang terbaik adalah tujuan kami. Semua pilihan ada di tangan kalian”

“Hidup mahasiswa!” dan acara hari ini berakhir dengan begitu mengesankan.

Apa kalian berpikir ceritaku sesingkat ini?
Tentu tidak. Aku akan menceritakan hal lain tentang Johan dan cerita cintaku selanjutnya.

Sebelumnya aku ingin bertanya.
Bagaimana kalian menyikapi hidup yang penuh intrik ini? Apa tolak ukur bahagia menurutmu?

Cerpen Karangan: Maulida Solekhah
Blog / Facebook: Maulida Solekhah
IG: maulidasolekhah8
Wattpad:ravinsary

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 14 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Brianna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Angel of Death

Oleh:
Ruangan besar berbentuk persegi panjang itu tampak sunyi. Hanya ada suara tangan beradu dengan papan keyboard dan suara jam yang berdetik tanpa henti. Seorang laki-laki duduk di ujung ruangan.

Hujan dan Kamu

Oleh:
Aku mulai menghitung dari hari ini, menghitung hari untuk sebuah perpisahan, perpisahan karena tak ada lagi pertemuan untuk waktu yang cukup lama. Memang, hari itu masih jauh, tapi aku

Undian

Oleh:
Aku terus berlari menerpa hujan, tak peduli bajuku sudah basah dan kakiku yang kotor terciprat lumpur. Siapa yang akan peduli dalam keadaan begini, aku baru saja menang undian. Aku

Cinta Seorang Nina

Oleh:
“Hebat! Berani sekali kamu membantah omongan Pak Haris tadi, Nina!” decak Riri kagum pada Nina yang sedang asyik makan bakso di hadapannya. “Harus dong, Ri. Kita-kita kan tidak salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *