Buku Yang Tertinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 July 2013

Sendok di tanganku belum sempat aku dorong mengantarkan sesuap nasi menuju ke mulutku, ketika tiba-tiba pintu ruang tamu tempat aku tinggal diketok dari luar. Bergegas aku menuju pintu, kulihat dari sela-sela korden siapa yang datang, aku kenal maka segera kubuka pintu ruang tamuku. Berbasa-basi sejenak, lalu aku pamit cuci tangan, meskipun aku upayakan juga untuk menyediakan minuman untuk tamu yang adalah sahabatku itu.

Sekitar satu jam kami bercakap dengan topik yang tak menentu. Namun hampir pasti di sekitar kerjaan, rumah, HP, Tab, BB dan juga pasangan hidup. Dari daftar itu, bagian terakhir aku paling tidak suka membicarakannya. Entah mengapa aku enggan berbicara masalah itu. Benar usiaku sudah tidak muda lagi, benar pula bahwa teman-teman se-angkatanku dan juga seusiaku sudah hampir semua ada yang memanggil “ibu”, “mama”, “bunda”, “mami”, dan tinggal aku yang masih bertahan dengan paggilan “mbak.” Setelah sekitar satu jam kami berbagi cerita dan berkisah dalam senda gurau, yang akhirnya membuat tempat kami bercakap kacau-balau.

Temanku itu, Suci namanya. Kinathi Suciningtyas, dan akrab dipanggil Suci. Wanita karier, enerjik, supel, agak tomboy dan enak diajak berteman. Hobinya banyak, salah satunya, mengoleksi dan membaca buku. Selalu ketika bertemu, paling tidak memamerkan satu buku baru yang dibacanya, entah pinjam maupun membelinya sendiri. Juga ketika saat ke rumahku, ia membawa atau lebih tepatnya memamerkan buku-bukunya, ada dua yang baru yang katanya bagus. Aku tidak peduli karena memang semenjak dulu, aku tidak begitu suka dengan buku, apalagi membacanya. Saking antusianya memamerkan ke aku, sekitar 4 buku dikeluarkan dari tas dan diperlihatkan ke aku.

Mungkin lupa, atau tergesa, sewaktu hendak pulang, atau lebih tepatnya meninggalkan tempat tinggalku (baru saja dapat BBM katanya) ada satu buku yang tertinggal. Waktu itu aku tahu ketika sedang membersihkan ruangan. Aku kaget karena ada buku di bawah meja, aku sadar itu bukan bukuku. Setelah hampir usai, aku mengambil buku itu, aku kaget, sepertinya aku pernah kenal buku dengan model yang hampir sama. Judul buku itu sederhana, ada tertera angka 33, selalu dengan angka itu penulis memberi judul untuk memberitahukan jumlah tema di dalam buku itu. Setelah selesai semuanya, aku masuk ke kamar, berbaring dengan santai. Rambutku yang masih bertahan panjang semenjak esde kubiarkan terurai, kedua kakiku kuselonjorkan, bantal satu kualaskan buat kepalaku, guling pink sama dengan warna bantal serta spreiku kuletakkan di samping untuk sandaran tanganku. Kipas angin kecil kunyalakan, ada kesegaran lembut menampar sekujur tubuhku. Segar dan menyenangkan.

Aneh, tiba-tiba aku tertarik sebuah buku. Aneh, dan membuat aku seperti kehilangan diriku. Diriku yang sulit tertarik dengan buku, meskipun dengan begitu aku bisa mengenyam pendidikan strata satu. Sepertinya buku ini, milik Suci ini, memiliki daya kekuatan luar biasa. Aku baca sampul depannya. Tiba-tiba, ingatanku melompat ke sebuah waktu di permulaan abad ini. Aku samar-samar ingat, namun amat samar sehingga aku sulit menautkannya menjadi gambaran indah tuk dinikmati.

Mendung tiba-tiba datang tanpa berkabar. Aku maklum, negriku sudah sulit diprediksi keberadaanya. Dulu katanya ada empat musim namun sampai sekarang hanya dua saja yang ada. Buku itu masih kupegang, ada yang aneh. Semakin aneh. Samar-samar ingatku terbangunkan, ada gambaran-gambaran bermain di layar memoriku. Semakin aneh manakala tiba-tiba, ada butiran bening air mata bergulir dari dua ujung kelopak mataku. Aku memejamkan mata, mencoba mengejar kilatan bayangan masa laluku yang telah jauh tertinggal dan sengaja kutinggalkan. Masa lalu yang tak pernah kumengerti, namun yang saat akhir-akhir ini justru aku menyesalinya.

Masih kupegang buku ini dengan erat. Sambil tetap berbaring dan memejamkan mata. Rambut panjangku sengaja kugeraikan, meski kadang mengganggu gerak leherku. Tiba-tiba juga, seperti aku ingat kata-kata, “Aku suka dengan perempuan yang rambutnya panjang”. Aku yakin, waktu itu meskipun tak berucap langsung kepadaku, itu ditujukan ke aku. Hening dan tenang, khusuk dan menyenangkan. Dan aku membuka mata, kubaca lagi sampul buku itu. Ahaaaai! Aku ingat. Iya, buku ini, sama persis judulnya dengan buku di rumahku yang kumiliki. Buku itu istimewa bagiku, amat istimewa. Semakin jelas, kilatan-kilatan waktu lalu memberikan gambaran jelas. Iya, buku ini sama persis dengan bukuku yang tak pernah selesai kubaca.

Siang itu terik luar biasa sang mentari. Meskipun bukan puncak musim kemarau. Panas sudah terasa sejak pagi hari. Persisnya aku lupa tanggal serta tahunnya, namun aku ingat bulannya. Bulan lahirku ke jagad raya ini. Sangat tidak pernah aku duga bahwa peristiwa itu terjadi. Jujur, aku tidak begitu menaruh hatiku padanya. Bahkan mungkin membencinya. Tak ada sedikitpun darinya yang bisa menarik perhatianku.Tidak ada yang menarik minatku, sama sekali tidak ada. Bahkan, ketika sebuah bungkusan diberikan ke akupun, tak semilipun kubergeming. Apalagi, itu buku, barang yang sangat tidak aku sukai. Namun kuterima juga, kubuka bungkusnnya ketika aku tinggal sendiri. Sebuah buku yang judulnya berkenaan dengan yang aku alami. Kutaruh di meja dekat tempat tidurku, dengan kulempar. Malas aku membacanya.
Namun, meski malas dan enggan membacanya, pada waktu-waktu aku merasakan sangat suntuk dan berat meniti hidup ini, aku membacanya. Tidak semua, karena buku itu terdiri dari tema-tema tertentu berjumlah 33. Ada yang sangat menarik perhatianku, dan karena itu aku baca. Usai itu, kutinggalkan yang lain.

Aku masih berbaring di tempat tidurku. Kulihat keluar, ke jendala yang sedikit terbuka, kulihat lagit cerah, biru menggelayut seolah memayungi bumi dengan biru yang damai. Mendung yang tadi sempat menggelapi bumi telah pergi entah ke mana. Buku temanku yang tertinggal itu masih kudekap. Aneh, sepertinya aku terikat batin dengan buku ini, atau lebih tepatnya dengan buku yang judulnya sama dengan yang sedang kudekap. Aku bangkit, menuju ke meja, kuraih HP yang kutaruh di atas meja itu. Kucari nama, kupencet tombol call. Yah, aku menelfon ibu, aku minta tolong ibu untuk melihat di almari kamarku, di laci rak tengah, di bawah pakaian agak resmiku. Aku punya kebiasaan memilah dan menempatkan pada tempat berbeda untuk pakaianku. Untuk yang harian sendiri, yang resmi sendiri, yang santai sendiri dan untuk pakaian tidur juga sendiri. Ibu kebetulan sedang di rumah dan kersa mencarikannya. Aku gelisah, harap-harap cemas. Tiba-tiba aku takut kehilagan buku itu. Aku takut buku itu tidak ibu temukan.

Kembali aku berbaring sambil menunggu 15 menit, itu waktu yang kusampaikan ke ibu. Tiba-tiba aku ingat, ingat dengan seseorang. Seseorang yang sekitar dua bulan yang lalu – setelah sekian waktu tak saling lihat – berjumpa atau boleh aku jumpai. Meski perjumpaan itu hanya sepintas dan tidak terlontar satu kata dari kami, hanya tangan kami yang saling jabat. Hanya senyuman kami saling terlontar. Aku sepanjang satu jam selalu mencoba mengamatinya, karena kami berhadapan, meski kadang sembunyi aku tahu dia juga sering mengarahkan padangan ke aku, karena kerap sepanjang waktu itu, beberapa kali pandangan kami saling bertemu.

Lamunanku melambung, berkelana entah ke negeri mana. Sekalian kudengar musik mp3 dari sebelah rumah, lagu melankolis dari Katon Bagaskara “Cinta Selembut Awan”. Tetangga sebelah itu agak aneh, anak ABG namun suka lagu-lagu lama, lagu-lagu romantis yang semestinya tidak disukai anak-anak remaja jaman sekarang. Atau memang disengaja olehNya, untuk sekaligus menambah dan menjadi ornamen keadaanku sekarang ini? Gigitan nyamuk menyadarkanku, aku kaget. Kutengok HP, ada 2 sms. Aku buka, dari ibu ternyata. Sebuah kabar, bahwa bukunya masih. Teriak tertahan aku membaca sms dari ibuku. Segera kuminta besok ibu atau bapak mengirimkannya ke aku dengan paket express biar segera sampai di tanganku.

Buku temanku yang tertinggal itu kuraih. Aku mulai membuka halaman demi halaman, bab demi bab. Tidak aku baca memang, hanya kubuka dan kubuka. Mata dan tanganku di buku temanku yang tertinggal ini, namun pikiran dan anganku melanglang buana. Meniti jalan mimpi.

Hari-hari setelah itu kulalui dengan harap yang membubung tinggi, buku itu segera sampai di tanganku. Memang aneh, di tanganku ada buku temanku yang tertinggal. Judulnya sama, warnanya sama, edisinya setelah aku cek juga sama. Namun aneh, bukan buku itu yang menarik perhatianku. Buku milikuku itu yang menarik minatku. Ku menghitung hari. Setelah tiga hari kuterima buku itu. Seperi anak kecil, sesampai di rumah sepulang kerja, kubergegas ke kamar, kubuka bungkusan buku itu, kusobek biar cepat terbuka dan akhirnya kupegang kembali buku yang telah lama kuabaikan. Dengan memegang buku ini, seolah ingatanku akan peristiwa lampau tertampak lagi.

Aku sadar, mungkin aku dulu salah menanggapi sesuatu. Salah membaca bahasa dari seseorang yang ternyata sangat menaruh perhatianku, sampai saat ini. Aku salah, karena aku hanya mengikuti emosiku, tanpa pernah menggunakan nalar logisku untuk memikirkannya. Dalam hal ini, aku tidak akan menyalahkan siapapun, selain aku. Dengan kuakui kesalahanku, aku berharap akan ada langkah jelas di hari-hari yang akan kujelang. Terkadang muncul niatan untuk merampasnya. Namun akal sehatku berteriak, aku lunglai. Wajah polos ibu dan dua bocah kecil nan mengagumkan itu menyadarkan keegoisanku.

Tanpa sepengetauan siapapun, kerap aku buka-buka account FB, dan kulihat wajah-wajah imut menggemaskan dari dua bocah kecil itu. Manis dan cakep keduanya. Sering alam bawah sadarku menggodaku, seandainya dahulu tak salah aku mengambil pilihan, mungkin dua bocah imut ini menjadi bagian dari hidupku. Mungkin, aku akan menjadi ibu dari anak-anak itu. Namun, semua hanyalah mimpi, hanyalah lembara-lembaran kenangan. Aku mesti menepiskanya.

Cerpen Karangan: Doni Setyawan
Facebook: paramitha semesta

Cerpen Buku Yang Tertinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 Hari Mengenal Cinta

Oleh:
Perkenalkan namaku dila, umurku baru 17 tahun dan baru lulus SMA tahun ini, Sekarang aku masuk di universitas swasta di kotaku. Tapi kita gak bahas itu hehe langsung saja

Tak Mau Lagi

Oleh:
Sakit… sakit dan sakit!!! Perih hati tergores sembilu tajam. Mati rasa ini. Ku ingin tenggelamkan segala cerita cinta dengannya di Samudera Pasifik. Ku banting hati dan segala janji manisnya

Putri Semata Wayang

Oleh:
Pada suatu pagi yang cukup cerah, seperti biasa aku harus menjalankan kewajibanku sebagai ayah. Aku adalah seorang pemulung, yang memliki kondisi tidak seperti orang normal lainnya. Kakiku pincang akibat

Demam Pembawa Cinta

Oleh:
Demam tinggi datang menghampiriku lagi. Mama-papaku panik melihat keadaanku. “Bintang, kamu tidak apa-apa?” tanya papa. Aku hanya tarik selimut menutupi mukaku. Papa meraba keningku. Dan bukan main suhu panas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Buku Yang Tertinggal”

  1. Ini cerita yang sangat penuh dengan magna yang tersirat di balik kenangan si tokoh. Tidak cukup hanya sekali membacanya.

    🙂

  2. OF says:

    G00d stories.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *