Bulan


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 13 November 2012

“Bisakah kau mengerti?”katamu diantara ombak yang berdebur.
Aku tak menjawab.Mataku malah sibuk mengamati ombak yang berkejaran.Sesekali airnya menjilati kakiku.Meninggalkan buih-buih di ujung jariku.
“Ini akan sulit untukmu juga untukku!Jadi lepaskan saja!Akan lebih baik jika kau melepas semuanya.”
Aku masih tak menjawab.Kamu benar ini memang terlallu sulit untukku.Dan melepaskan jauh lebih sulit lagi.
“Sampai kapan kau akan hidup seperti ini?”
Aku tak menjawab lagi.Mungkin karena aku memang tak punya jawaban.Jawaban yang akhirnya hanya membuatku semakin terluka.
“Bulan!”panggilnya setengah berteriak.
Kali ini kualihkan pandanganku.Kutatap matamu tajam.Seolah berkata pergi dan jangan menggangguku!
“Iya,aku mengerti.”Kau melunak.
“Ayo pulang!”lanjutnya.
Aku tetap tak menjawab.Hanya segera bangkit dan menyapu rokku dari pasir yang menempel.Dengan tergesa mendahuluimu masuk mobil.
Aku lebih suka memanggilmu dengan Kamu.Bukan Ayah.Papa.Abi.Bapak.Atau apa pun yang seharusnya.Bagiku akan lebih baik jika aku mengenalmu sebagai Kamu bukan Ayah.Aku tak bisa menjadikanmu seperti yang Mama mau.

Mobil berhenti.Kulihat mama menyambut.
“Kalian sudah pulang!”katanya sok manis.
“Iyaa,”katamu tersenyum.
Aku melengos.Tak menjawab.Aku muak.Aku benci.
“Bulan,kenapa tak sopan begitu?”
Aku tak peduli.terus saja melangkah tanpa berkata apapun.
“Memangnya kau bisu dan tuli?”teriak Mama.
Kurasakan amarah memuncak sampai kepalaku.
“Bulan!”teriaknya lagi.
Aku menoleh.”Bulan sudah mati!”balasku akhirnya.
Kau dan Mama tertenggun.Tak percaya dengan apa yang di dengar.
“Biarkan Bulan mati!”
Tak ada jawaban.Kau dan Mama hanya saling pandang.

Blamm….

Ku banting pintu sebelum akhirnya kuhempaskan tubuhku dengan kasar ke kasur.Ku dengar Mama berteriak dari balik pintu.Namun,sungguh aku tak peduli.Sama seperti ia tak peduli perasaanku.Tak pernahkah ia sadari kerusakan yang telah ia buat padaku?Tak pernahkah ia mengerti betapa hancurnya hatiku?Tak pernahkah ia renungkan betapa sakit dan kecewanya aku?Tak pernahkah ia pahami luka yang harus ku balut?
Begitu butakah cinta?Begitu besarkah cintanya?Hingga ia menanggalkan nalurinya sebagai Ibu yang membesarkanku selama 23tahun.Kenapa ia begitu egois?Aku bahkan sudah tak lagi menemukan sosok Ibu darinya.

Aku menangis.Papa aku kangen.Bisakah papa memelukku?Aku merasa dingin dan kesepian.Aku merasa mati akan jauh lebih baik untukku.Tuhan,ampuni aku karena berfikir sepicik itu.Namun aku merasa duniaku sudah kelam dan hancur.
Segera kubangkit meraih koper.Kumasukkan pakaian sekenanya.Teburu kuraih paspor dari dalam laci,hingga membuat seluruh isinya tercecer ke lantai.Kutambahkan buku tabungan.Diary.Dompet.Juga beberapa foto kenangan bersama Papa.Namun tak satu pun yang menyertakan Mama di dalamnya.Aku ingin membuangnya.Melupakannya.Jika ia bisa begitu egois,kenapa aku tidak?
Aku juga berhak hidup.Dan aku akan mati dengan perlahan jika tetap disini.

Bergegas kulangkahkan kakiku meraih kunci lalu masuk ke mobil.Aku tak bisa hidup begini.Ini bukan telenovela.Dimana aku akan baik-baik saja saat orang yang ku damba lebih memilih menikahi Mamaku.Aku manusia biasa.Punya hati dan rasa.Dan aku terluka.

————————–

Senja memerah diufuk barat saat kulangkahkan kakiku menembus gerimis.Kutekan bel di samping kanan.Seorang wanita paruh baya tergopoh menghampiri gerbang.Cekatan ia membuka grendel lalu membukuk mempersilahkanku masuk.Dia tersenyum.Senyum hangat dan khas dengan aroma kasih sayang.
“Terimakasih,Mbok?”
Dia kembali tersenyum sambil meraih koper di sampingku.
“Aku bisa sendiri,”tolakku.
Wanita yang kukenal dengan nama Mbok Minah hanya mengangguk mengerti.
“Apa nona akan tinggal untuk waktu yang lama?”tanyanya hati-hati.Mungkin karena koper yang kubawa.
“Tidak,aku hanya mampir.”
Mbok Minah kembali mengangguk.”Nona makan disini?”
Aku terdiam sejenak.Menimbang-nimbang.Kulihat jam sudah menunjuk angka enam.Benar.Sebentar lagi makan malam.
“Aku mau mie goreng telur special.”Bik Minah sekali lagi hanya mengangguk.Sebelum berlalu menuju dapur.

Kuhempaskan tubuhku ke sofa.Kupejamkan mata.Masih ada satu jam lagi sebelum makan malam.Aku ingin sejenak menghempaskan penat yang menyerangku setelah menyetir sendirian menepuh jarak ratusan kilometer untuk sampai disini.Ke suatu tempat yang tak kan pernah Mama pikirkan.Atau mungkin tak ingin Mama ketahui.

“Kalau mo tidur di kamar,jangan disofa!”suara bariton mengagetkanku.Hingga membuatku nyaris terjatuh.Maklumlah aku sudah setengah sadar.
Aku mendengus kesal.
“Kamu minggat ya?”lanjutnya sambil menendang pelan koperku.Ia mengambil posisi di sampingku yang masih linglung.
“Kapan kakak pulang?”kataku setelah mendapatkan kembali kesadaranku.
“Dua hari yang lalu!”
“Iyaa?Aku gak tahu.”
Dengan seenaknya kuletakkan kepalaku di pangkuannya.Kakak mengelus rambutku lembut.
“Pertanyaan Kakak belum dijawab lo!”
Aku mendongkak,”Yang mana?”
“Kamu minggat?”
Aku nyengir.
“Bodoh!”Kakak menyentil dahiku.
Aku kembali nyengir sambil mengosok dahiku bekas sentilannya.
“Kau ini sudah 23tahun.Sudah Sarjana.Sudah bekerja malah.Kenapa masih pake minggat segala.Kayak ABG aja!”
Aku terdiam.Aku malas membahasnya.
“Bulan,kenapa diam?”
Aku menggeleng.
“Tante mau kawin lagi ya?”tebaknya.
Aku mendelik.Darimana Kakak tahu?Aku tak pernah cerita apapun.Tak mungkin Mama yang cerita.Mama tak pernah bicara apapun.Dia hanya diam Baginya kakak tak pernah ada.Pun saat kakak masih tinggal bersama kami setelah Ibu kandungnya meninggal.Aku bisa mengerti perasaannya saat itu.Kakak adalah putra Papa dari istri pertama Papa.Mama tak pernah tahu sebelumnya.Jadi wajar bila Mama tak bisa menerima.Wajar bila Mama merasa dibohongi.Dan karena itu kakak lebih suka memanggil Mama dengan sebutan Tante.

“Malah melamun?”
Aku tersenyum getir.Kembali kupejamkan mataku.kakak masih mengelus rambutku.
“Kenapa kau seperti ini,Lan?Tak ada salahnya tante menikah lagi.Tante masih muda.Baru 43 tahun.”
“Ya,memang tak ada salahnya!”kataku berguman.Nyaris tak terdengar.
“Kalau begitu besok kakak kantar pulang.Sekarang menginap saja disini!”
Aku menggeleng.Airmataku menetes menerobos celana pendeknya.Kakak tersentak.Lalu membangunkanku dari pangkuannya.Aku hanya bisa menunduk menyembunyikn tangisku.Kakak meraih wajahku.
“Ada apa?Kenapa menangis?”
“Aku lelah,Kak!”jawabku terisak.
“Bulan!”
Aku berhambur ke pelukannya.Kakak tak bereaksi,hanya mebiarkanku menumpahkan seluruh tangisku di dadanya.Aku suka kakak.Sangat suka.Aku merasakan kehangatan dan kelembutan Papa saat bersamanya.Namun aku tak bisa leluasa menemuinya karena aku tahu Mama tak menyukainya.Namun kini hanya dialah tempat yang bisa kutuju.Seseorang yang mengerti aku,lebih dari Mama atau siapa pun.

“Sebaiknya kau tidur.Besok baru cerita!”katanya saat tangisku mulai reda.
Aku mengangguk.
“Makananmu biar diantar Bik Minah ke kamar.Tapi kamu harus janji memakannya!”
Sekali lagi aku mengantuk.Gontai kulangkahkan kakiku.Aku tahu kakak pasti mengerti aku.Karena itulah aku kabur kesini.

———————————-
“Sudah bangun?”
Kupicingkan mata.Sinar matahari menerobos masuk melalui tirai yang baru saja Kakak singkap.Kutarik selimutku.
“Kok tidur lagi?”katanya lalu menaruh kompresan di wajahku.
“Uh…dingin…!”aku tersentak.
Kakak terkekeh.”Kompres matamu!Tuh dah bengkak mirip mata panda.”
Aku menuruti perintahnya.
“Mau sarapan apa?”lanjutnya.
Aku menggeleng.Nafsu makanku hilang.Bahkan mie goreng telur semalam masih utuh tak tersentuh di meja.
“Kalo gitu kita makan diluar.”
“Aku malas,Kak.”
“Kita jalan-jalan!”
“Memangnya kakak gak kerja?”elakku mencari alasan.
“Kakak ini Bos.Jadi gak ada masalah jika bolos kerja.”
“Huuhhhh….,”gerutuku.
Kakak terkekeh lagi sebelum akhirnya menarik selimutku dan memaksaku mandi.Mau tak mau aku menurut saja.
“Kita mau kemana?”
“Kemana saja!”jawabnya enteng sembari menyalakan mobil.
“Bulan,mo kemana?”
“Tidur!”
Kakak tersenyum tipis menanggapinya.

Angin memainkan ujung poniku yang terjuntai lurus ke bawah nyaris menyentuh mata saat kuturunkan kaca.Lantunan suara Christina Aguilera mengalun lembut.seirama dengan kepala mungil di pojok kiri dashboard yang mengangguk-ngangguk riang.Sudah satu jam lebih mobil melaju.Tapi tak ada tanda Kakak ingin berhenti.Pusat perbelanjaan sudah lewat.Pantai.Pusat Hiburan.Bahkan padatnya jalan tol pun sudah tertembus.

“Kita mau kemana?”kataku tak sabar.
“Sebentar lagi juga sampai.”

Kakak membelokkan kemudi ke kanan.Menembus jalanan yang belum teraspal sempurna.Terus melaju perlahan.Jalananpun berubah menyempit dengan banyak kelokan dipenuhi debu dan kerikil.Kunaikkan kaca.Mencegah debu dan kerikil menerobos masuk.Semakin jauh semakin hancur pula jalannya.Belum lagi tumpukan sampah yang berserakan mengeluarkan aroma pengap dan busuk.Baunya menyengat hidung.Membuat perutku mual.

“Kita sudah sampai,”Kakak menepikan mobil.Namun tak mematikan mobil,membiarkan AC tetap menyala.

Aku melongo.Mataku jelalatan kesana kemari.Di ujung jalan kutemukan beberapa bocah dengan ceria berlarian tanpa alas kaki.Sesekali mereka tergelak sambil memunguti gelas atau botol plastik yang tercecer.Mereka kumuh,kotor,dan dekil.Di sudut lain kutemukan gadis kecil sedang menenteng ranjang berisi aneka permen,tisu,makanan ringan,juga beberapa minuman kemasan.Sepetinya dia pedagang asongan.Adalagi seorang ibu yang sedang asyik menyusui bayinya di emperan rumah dengan dandanan lusuh gak ketulungan.Atau bapak paruh baya yang berjalan tertatih-tatih mengusir lalat-lalat nakal yang hinggap di atas krupuk yang dijemurnya.Belum lagi seorang nenek renta yang terlihat sibuk membuat keset dengan mesin jahit yang tak kalah tua darinya.Hatiku miris melihatnya.

Kupalingkan pandanganku pada kakak yang sepertinya juga sibuk mengamati mereka.

“Lihatlah mereka!Betapa menyedihkannya hidup mereka!Betapa sulit hidup yang mereka jalani,”sejenak kakak menghentikan ucapannya.Memberiku ruang untuk berfikir.
Aku mengernyitkan dahi.Tak mengerti yang kakak maksud.
“Tapi mereka tetap bisa bahagia!”
Kembali kuamati mereka.Benar tak ada guratan duka.Mereka masih tersenyum.Masih hidup.
“Iyaa,”
Kakak menatapku lekat sembari menggenggam tanganku.
“Kenapa kita selalu saja merasa begitu malang,tanpa pernah menyadari karunia Tuhan telah kita nikmati setiap hari!Kita adalah orang yang beruntung.Pernahkah kau berfikir tentang itu?”
Aku tak menjawab.Aku mulai mengerti apa yang sesungguhnya ingin Kakak tunjukkan padaku.
“Lepaskan sesuatu yang tak bisa kau miliki!Jika terus memaksa untuk meraihnya,itu hanya akan membuatmu semakin terkluka.”
Aku menggeleng.
“Pasti sulit.Namun percayalah Tuhan sedang menciptakan skenario terbaik untukmu!”
“Aku tak bisa?”
Kakak menatapku penuh selidik.Seolah sedang menuntut jawaban.
“Jangan paksa aku,Kak!”
Kakak tersenyum.”Tidak apa jika tak mau cerita!Kita pulang saja!Apa kau tidak lapar?”
Aku kembali menggeleng untuk yang kesekian kalinya.Kupejamkan mata rapat sembari kuturunkan sandaran kursi hingga posisiku setengah terbaring.
“Apakah terlalu berat untukmu?”
Kuambil nafas dalam.Tak menjawab.
“Jika memang terlalu berat kenapa tak membaginya denganku?”
“Aku takut,Kak!”
“Takut kakak tak bisa mengerti sama seperti yang lain?”
Aku menggeleng lagi.”Bukan?”
“Aku takut kakak akan membenciku jika aku cerita.”
“Apa kakak terlihat seperti itu?”
Aku tersenyum tipis.”Kuharap kakak tak begitu!”

Kami terdiam.Perlahan mobil melaju menembus ulang jalan kecil rusak,berkerikil kecil nan tajam,penuh sampah disana-sini,berdebu dan berkelok-kelok menuju jalan raya.
“Kakak ingat Gusti?”kataku memecah hening.
Keningnya mengkerut.Mengisyaratkan dia sedang berfikir.
“Dosenku waktu kuliah dulu!”lanjutku membantu.
“Ooo….dosen muda itu.Iyaa kakak ingat.Kenapa dengannya?Bukannya kalian sudah putus?”
“Mama ingin menikahinya…”

Sreet….
Kakak menginjak rem tergesa.Membuat mobil sedikit terpelanting sebelum akhirnya tergelincir dari jalan lalu berhenti.Dari kemudi mengembang balon mencegah tubuh Kakak menyentuh dashboard.
“Maaf,kakak gak sengaja!”ucapnya buru-buru.
Aku hanya mengangguk.Sejenak kakak terdiam.Namun matanya menerawang.Jauh dan kosong.Lalu berbalik menatapku dengan pandangan yang tak bisa kumengerti.
“Bulan?”panggilnya setengah bertanya.
“Bagaimana menurut kakak?”
Kakak tak bersuara.Ia tetap memandangku dengan pandangan yang sama.
“Karena aku tak tahu harus bagaimana,”lanjutku.
Aku menunduk.Menghalau perih yang menyeruak serasa menyesakkan dadaku.
“Apa kau bisa bertahan?”tatapanya dipenuhi kekhawatiran.
Aku menggeleng”Entahlah!”

Kakak meraihku dalam peluknya.”Tak apa.Ada kakak bersamamu!”
Aku tak bisa menahan airmataku.Namun entah mengapa aku merasa begitu lega bisa mengatakannya.Menyimpannya sendiri membuatku nyaris mati karena sesak.

——————————–
“Kau baik-baik saja!”kata kakak menggenggam tanganku memasuki ruangan resepsi.
Aku hanya mengangguk sembari terseyum tipis.
“Seharusnya kita tak datang kesini!”
Sekali lagi aku tesenyum.
“Tidak,Kak!Ada disini adalah pilihan terbaik.Jika tidak,mungkin aku akan menyesal seumur hidup.”
Kakak menatapku haru berbalut kekhawatiran.
“Tapi ini terlalu sulit!”
“Aku tak akan pernah tahu jika tak pernah mencoba mengetahuinya.”
“Kau dewasa dengan begitu cepat.Itu membuat kakak khawatir!”kakak mengelus pipiku lembut.
“Menyerah tak berarti lemah.Kamu cukup kuat melepaskannya.Kamu mungkin menangis,tapi itu agar hatimu tak terus terluka,”lanjutnya.
Aku menggangguk.”Aku masih punya kakak!”
“Benar,aku milikmu seutuhnya!”
“Bisakah aku memeluk kakak?Aku butuh mengisi bateraiku sebelum berperang.”
Kakak tak menjawab.Hanya membuka kedua lengannya.Isyarat agar aku bersandar di dadanya.Aku tak peduli dengan pandangan penuh tanya para undangan.Dia kakakku.Ada yang keberatan tentang itu?

Kulangkahkan kakiku.Tak ada keraguan.Kakak mengapit lenganku.Seolah berjaga kalau-kalau aku tak mampu bertahan atau pingsan.
“Kakak menyayangimu!”bisiknya di telingaku.
“Aku tahu!”balasku.

Kami berdua tersenyum.Aku tak gentar untuk terus maju.Benar ada luka di hatiku.Benar aku belum bisa kembali ke rumah.Benar aku belum bisa hadir diantara kamu dan mama.Benar aku menangis.Benar aku butuh lebih banyak waktu untuk menerima.Tapi yang pasti aku akan bertahan dengan pilihanku.Menyerah adalah keputusan terbaik untukku.

Aku ingat kata-kata yang sering Papa ucapkan saat aku berhambur ke pelukannya dan menangis.

“Tak ada yang dapat merubah masa lalu,tapi kamu bisa merusak masa depan dengan menangisi masa lalu dan merisaukan masa depan.Ambillah pelajaran dari masa lalu,tinggalkan sisanya.Jangan biarkan belenggu kesedihan menutup jalanmu menuju masa depan!”

Dulu aku tak begitu mengerti apa yang papa maksud.Tapi kini aku sedang bertarung untuk mewujudkannya.
Karena kuyakin ketika hidup memberi kata TIDAK atas apa yang kuinginkan,Tuhan selalu memberi kata YA atas apa yang aku butuhkan.

Tuhan mengirimnya dalam bentuk kakakku.

Cerpen Karangan: Echae E.S
Email: echaencute[-at-]yahoo.co.id
Facebook: echae n’cute

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Kehidupan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply