Baca Juga Cerpen Lain’nya:

Dinda – makam dan kenangan

tanah merah basah… kuresapi rinai hujan yg perlahan mulai meluap dari daratan bumi.. sementara Aku masih bertahan di tempatku berpijak sejak sejam yang lalu.. Nenek Aida, “Kepada-Nyalah kita semua akan kembali”...

Kado Untuk Mama

Selimutku sedikit terbuka pagi itu, perlahan udara dingin nan menusuk menyentuh pori-pori kulit kakiku. Jelas, aku memilih tidur lagi pagi itu. Jam dinding pun samar-samar ku lihat masih pukul 03.00. Namun dari luar sana,...

Setetes Embun di Pagi Hari

Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, tak akan aku tukarkan penderitaan ini dengan sukacita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku...

Secercah Harapanku

“kamu ingat, 13 tahun yang lalu tepat nya saat kamu berusia 4 tahun, waktu itu kamu menangis dan terus menangis karena sakit, dan dokter bilang di otak kamu ada gejala kanker. Pada waktu itu usia ku baru 8 tahun tapi aku...

Pudarnya Kejujuranmu

Hari terakhir Ujian Nasional (UN). Huda kembali diminta “mencoret-coret” lembaran soal sembari mengawasi siswa kelas VI yang tengah melaksanakan Ujian Nasional di Sekolah Dasar tempatnya mengabdi. Tak ada prasangka dan...

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga…?”

"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?

Leave a Reply