Bunga Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 September 2013

Seikat bunga mawar, banyak orang berfikir tentang keindahan bukan tentang perjuangannya. Adakalanya benar, tetapi tidak dengan gadis yang bernama Melati. Namanya Melati, seorang gadis tanggung dan dewasa untuk seumuran dia. Gadis berambut panjang terurai dan kulit agak menghitam. Seorang gadis yang menjadi korban tipu daya mawar atau bisa dibilang gadis yang melawan ganasnya kehidupan perkotaan dengan kuncup demi kuncup mawar.

“kamu harus bekerja, Melati” ujar lelaki berjanggut tebal dengan muka merah padam.
“tapi, Melati masih SMA dan dia harus preapare untuk UN yang diadakan sebentar lagi, Melati pasti sibuk sana sini pak” bela perempuan di sisi Melati.
“jangan kau manjakan anakmu yang satu ini”.
Memang dengan ibunyalah Melati hidup. Sifat bapaknya yang keras dan sedikit arogan membuat kedekatan Melati dengan ibunya seperti tak terpisahkan. Kalau bisa di misalkan kedekatan mereka seperti bunga dengan kumbangnya, saling mempunyai kelebihan, bermanfaat, dan saling membutuhkan. Menurut Melati ibunya tempat curhatnya, tempat mengadu, guru private, koki, tempat manja, pokoknya segalanya adalah ibunya.
“pendidikan itu penting, pak”
“lagipula aku takut tak mampu membagi waktu” ujar Melati.
“tidak ada alasan lain”, “Melati bekerja atau mati kelaparan”
“kita musyawarahkan bersama pak, tidak asal ucap dan kecewa di akhir jalan pak, aku tak mau pak”
“TIDAK” sebuah kata yang langsung membungkam detak jantung dan hela nafas seisi ruangan.
“pak” gumam Ibu lirih.
“bapak egois” bentak Melati yang tak lagi mampu menahan emosinya yang meluap luap dan pergi meninggalkan suasana yang bisa dibilang penuh tensi tinggi itu dengan sejuta sedih yang harus dipikulnya sendirian.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, seorang Melati yang cerdas dalam bidang akademik pun kini tinggallah bayang masa lampau. seorang Melati yang menjadi kebanggan sekolah pun kini tinggallah kenangan yang menjadi pecut Melati dalam melakoni kehidupannya yang masih panjang, mungkin ini hanya sebuah kerikil di antara karang yang siap menyatroni kehidupannya di masa yang akan datang, itulah yang selalu ada di benaknya.

Kehidupannya berubah 180 derajat, yang dulu digandrungi bahkan dicari kesana kemari, kini Melati tak ayal seperti bunga layu yang teronggok di tepi jalan yang berdebu dan dekil. Prestasi akademiknya melorot jauh seiring beban menjadi seorang pelajar yang harus dibarenginya dengan lakon sebagai penerus nafas keluarga.

“bunganya pak, buk, bunganya masih segar” Melati mencoba menawarkan setangkai demi setangkai mawar di antara jutaan lalu lalang manusia.
Entah mengapa Melati memilih profesi ini. profesi yang bisa dibilang SANGAT tidak menguntungkan. Tetapi menurutnya, bunga mawar adalah perwujudan dari dirinya, lebih tepatnya perjalanan hidupnya. Sebuah harapan yang dilalui dengan perjuangan keras untuk melalui duri-duri tajam di tangkai untuk menuju pengharapan di helai kelopak mawar.
“tolong bunganya bu dibeli, masih segar juga bunganya” Melati mencoba menawarkan bunganya ke ibu muda yang lewat di depan matanya.
“bunga segar?, bunga jelek begini dibilang segar, hahahaha” ledek ibu muda tersebut.
“tapi ini bener masih segar bu, lagian saya baru saja ngambil di toko bunga bu” .
“dasar anak bodoh, cantik cantik dungu”
“mending aku beli di toko bunganya langsung, daripada beli di kamu, bunga sama penjualnya sama-sama buluknya” ibu muda tersebut pergi meninggalkan Melati yang masih tercengang dengan ucapan ibu muda tadi.
“Ya Tuhan” gumam Melati lirih di antara tetes air matanya yang deras mengalir.
Tubuhnya tak mampu lagi menopang badannya yang terus melemas. Ratapan tak henti hentinya mengalir dari mulut Melati.

Cerpen Karangan: Moh. Izzurrohman
Facebook: Izzur Zam Zami Chilluerge

Cerpen Bunga Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Makassar

Oleh:
Aku mungkin telah mengubah hidupnya. Aku mungkin telah membuatnya menjadi seseorang yang tidak pernah aku inginkan. Bandung, Jakarta, dan Medan. Semua tempat sudah kami kunjungi tetapi sama sekali tidak

Kabut Hitam Di Ujung Senja

Oleh:
Syahdu.. Sang surya emas tersenyum menjemput pagi.. Menghantarku di pagi sunyi.. Angan ingin membawaku mengembara, menjauhi sunyi.. Aku lengkap namun sendiri.. Kasihku hanya bayangan.. Sepi, kamu ada namun tiada..

Lentera

Oleh:
Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang

Gadis Renta

Oleh:
Tak terasa, ternyata sudah satu pekan aku berbaring di tempat tidur ini. Kaku, sakit, ngilu. Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi padaku? apa ini pertanda? tapi kapan waktunya? cepat

Putri dan Putra

Oleh:
Hujan turun dengan lebatnya, suasana dingin tapi menyejukkan. Aku dan keluarga sedang berkumpul menonton televisi. Kebersamaan yang selalu aku rindukan setiap sudah berada di kos. Orangtuaku bekerja sebagai karyawan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *