Bunga yang Layu Sore itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 July 2019

Matahari menunjukkan senyumannya, awan-awan putih seakan menjadi perhiasan langit biru yang membentang bagai gulungan kertas polos. Benar-benar hari yang cerah. Cocok untuk menghabiskan waktu Minggu di luar bersama keluarga, teman, kerabat, dan sejenisnya.

Sayangnya, hatiku tak seirama. Sayangnya juga, aku tidak bisa menikmati hari ini. Hari ini bukanlah hari yang cerah bagiku. Hari ini adalah …

Aku menatap sendu tubuh ibu yang terbujur kaku. Memori-memori tentangnya bermunculan tanpa bisa kucegah. Aku ingat semuanya. Aku ingat betul wajah cantiknya ketika tersenyum. Aku ingat suaranya yang lembut ketika menasihatiku. Aku ingat, aku ingat, aku i—

“HUWAAA!!!” Isakan yang dari tadi kutahan kini meluncur bebas. Mengingat kenangan bahagia bersama ibu membuatku menyesal. Seharusnya aku tidak memikirkan hal yang membuat diriku semakin terpukul.

Para penggali kuburan mulai mempersiapkan cangkulnya. Perlahan tetapi pasti, mereka mengembalikan tanah galian ke liang lahad. Aku berjalan menjauhi area pemakaman karena tidak kuat melihat prosesnya. Mungkin terkesan berlebihan, tetapi sungguh, aku tidak melebih-lebihkan.

“Eh!” Aku hampir saja terjatuh karena tersandung kerikil berukuran sedang. Kejadian ini membuat diriku menghentikan tangis, namun satu detik kemudian aku melanjutkannya.

Aku berjalan menuju tempat mobil kakak di parkirkan. Ketika aku melewati gang, orang-orang yang ingin berziarah menatapku beberapa saat, dan aku malu karenanya! Pasti wajahku sekarang sangat kacau! Lantas aku duduk di sebuah batu besar, berniat menghapus air mata dan merapikan kerudung.

“Woi!” Sebuah suara yang tidak asing tertangkap indra pendengaranku. Acara merapikan kerudungku belum selesai, jadi aku memutuskan mengabaikannya.
“Kamu, lho! Ayo kesana!” Masih dengan suara yang sama, tetapi bedanya suara itu terdengar semakin dekat.

Aku berdiri. “Kak,” panggilku.
“Apa?”
“Mengapa … harus ada kematian?”
Kakak tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir.
“Mengapa harus ada perpisahan di setiap pertemuan?”

Kakak menatapku lekat. “Kamu tahu,” katanya, “di dunia fana ini tak ada yang abadi. Di tiap momen yang terjadi, bisa jadi momen yang terakhir bagi kita.
“Kamu tak akan pernah lebih muda dari sekarang. Kita tak akan pernah mengalami masa ini lagi. Semua momen yang memiliki akhir itu patut kita syukuri …

“Karena …,” -kakak menggenggam tanganku- “setiap momen yang memiliki akhir itu … lebih bermakna …”

Aku terbengong. Ucapan kakak barusan … ada benarnya -eh tidak, memang benar.

“Ayo!” Kakak menarik lengan bajuku.
Aku tersenyum kecut. Aku harus mengikhlaskan kematian ibu.
Merasa risih dengan tarikannya, aku berkata, “Kak, udah ah, lepas!”

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Barangkali juga itulah mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua.

Ibu, meskipun kau sangat menyebalkan, aku tetap menyayangimu. Semoga kau tenang di sisi Tuhan. Amin.

Cerpen Karangan: Manulamarmar
Blog / Facebook: Manula Marianna

Cerpen Bunga yang Layu Sore itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Pena Berbicara

Oleh:
Bibir manis itu tidak lagi untuk berkata, di sudut kamar tanpa cahaya dia duduk termenung dengan meneteskan air mata. Entah apa yang ia rasakan? Entah apa yang ia pikirkan?

Bintang dan Bulan

Oleh:
“Bintang, bangunn!! Hari ini kamu akan bersekolah di tempat baru mu. Carilah teman yang baik” ujar mama sembari memberikan sarapan kepadaku. Nama ku bintang aliendra salsabilla, sekarang aku duduk

Khayalan Masa Tua

Oleh:
Di kesunyiaan malam yang pekat tanpa bintang, tiba tiba secercah cahaya lewat di pandangan mata yang kini mulai menua. “ini masa laluku, ketika aku masih menjadi pemuda yang tangguh

Sono Ame no Hi

Oleh:
Hari ini hujan rintik-rintik. Suasana suram masih menyelimuti langit Februari. Jendela kaca di kamar rumah sakit nomor 107 ini berembun karena hujan dan juga hawa dingin di luar sana.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *