Bus Kota Warna Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 September 2021

Aku menaiki tangga pintu keluar stasiun bawah tanah Kota London yang padat. Di ujung pintu keluar lantas aku memesan burger isi daging panggang khas masakan India. Setelah membayar, aku mendapatkan roti isi daging sapi panggang pesananku.

Sarapan di kota-kota Eropa tidaklah sama dengan sarapan waktu ada di Indonesia, negara asalku. Kalau tidak sarapan dengan bubur sereal atau roti selai, aku sarapan dengan sepotong roti burger. Untuk halal tidaknya makanan yang layak kumakan, maka aku akan mencari penjual roti yang berasal dari Pakistan atau India yang beragama Muslim. Apalagi di kota ini banyak imigran India yang telah membentuk koloni sejak zaman penjajahan dulu. Tidak susah untuk menemukan imigran baik laki-laki maupun perempuan yang berwajah India atau Pakistan.

Pagi ini udara lumayan dingin meski tidak seekstrim kemarin. Langit masih terlihat mendung. Matahari pagi sama sekali tidak menampakkan tanda-tandanya hendak muncul. Butiran salju melayang-layang dari petala langit. Menyepuh atap-atap bangunan, kastil, lapangan, taman, istana kerajaan Ratu Inggris, dan jalanan kota. Semuanya memutih bak jubah ihram orang-orang suci. Dengan mencomot sepotong roti daging sapi, aku menyusuri jalanan kota. Untung aku mengenakan palto standard khas Eropa sehingga aku tidak merasa kedinginan. Pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan membeku dalam meranggas kedinginan. Tampak para petugas taman membersihkan gumpalan salju di jalan.

Tujuanku ke sini bukan untuk melancong, juga bukan kuliah. Melainkan menulis tapak tilas seorang bocah perempuan asal Indonesia yang berhasil sukses menaklukkan Kota London. Setelah berjalan sepanjang satu kilo meter, aku berhenti di sebuah halte bus khas Kota London. Para pelancong terlihat berjubel di halte menunggu bus datang.

Meski dalam kondisi musim dingin, Kota London sama sekali tidak menghilangkan pesona sihirnya. Para pelancong yang datang dari pelbagai negara Eropa lainnya masih mengunjungi kotanya Ratu Elizabeth ini. Tidak hanya berswafoto di tepi sungainya yang elok. Atau mengunjungi museum istana kerajaan. Tapi mereka juga memadati Museum Madam Tussaud yang terkenal sebagai tempat patung lilin para kesohor dunia. Di antara mereka tampak para pengamen jalanan duduk di tepi jalan sambil memainkan keterampilan yang mereka miliki. Lantas uang logam dan kertas dari para penderma memenuhi topi mereka. Seandainya Jakarta seperti London. Ah, rasanya tidak mungkin atau memerlukan berabad-abad tahun untuk mengubah imaje Kota Jakarta hingga seperti Kota London.

Dalam beberapa menit kemudian, sebuah bus warna merah khas Kota London datang. Pintu otomatis yang menggunakan tenaga hidrolik membuka dan aku masuk. Aku sengaja duduk di bangku yang tepat dengan kursi sopir. Setelah para penumpang masuk semua, sopir itu menutup kembali pintu lalu menginjak gas. Bus pun mulai melenggang dengan anggun menyusuri jalanan kota yang berjubah salju. Saat itu aku mengeluarkan sebuah buku diary dan sebuah pulpen.

Pulau misterius (disebut misterius karena bisa mengapung sendiri dan akhirnya terpisah dari pulau induk) itu masih tersaput kabut. Para nelayan tengah sibuk di pesisir. Ada yang yang baru pulang dari melaut. Ada yang menaikkan ikan-ikan hasil tangkapan ke daratan. Ada pula yang menjahit jala yang sobek diterkam ikan besar. Namun, ketenangan di pulau itu tiba-tiba tercerai-berai ketika salah seorang anak muda menjerit-jerit seraya menunjuk ke arah kepulan asap dengan jari tangannya. Dia berlari dari ujung dermaga menuju ke tengah pemukiman.

Dia belum lahir ketika Ayahnya memutuskan untuk menetap di pulau itu. Dulu, ayahnya bekerja sebagai nakhoda kapal barang-barang kebutuhan seorang saudagar Eropa. Tiap bulan Ayahnya selalu mengantarkan barang ke pulau ini. Tapi Ayahnya kemudian memutuskan untuk berhenti dari tauke itu setelah dirinya dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Dia dituduh melakukan penggelapan uang dari hasil dagangan. Lalu, dengan uang hasil tabungan yang dimilikinya, Ayahnya membeli sebuah kapal ikan yang lumayan besar. Keputusannya pun membuahkan hasil. Dia untung besar dan sukses sebagai nelayan ikan. Untuk melengkapi kapalnya, Ayahnya merekrut anak-anak muda pulau ini untuk dijadikan ABK.

Setelah lama bekerja sebagai pemilik kapal ikan, Akhirnya Ayahnya membeli sepetak tanah dan membangun rumah di atasnya. Seperti halnya di pemukiman nelayan manapun, rumah Ayahnya terbuat dari kayu papan. Rumah jadi, Ayahnya mengajak Ibunya untuk tinggal di pulau itu. Sampai Ibunya mengandung dirinya. Buah cintanya dengan Ayahnya. Setiap pulang dari melaut (selama berbulan-bulan) Ayahnya selalu membelai dan menciumi perut Ibunya. Mengajarkannya nasihat-nasihat indah dari Al-Qur’an.

Namun kebahagiaan itu sirna dari wajah Ayahnya ketika Ibunya terjatuh di kamar mandi saat hendak mencuci piring. Ibunya mengalami pendarahan. Saking dari banyaknya darah yang keluar, Ibunya meninggal dunia saat dirinya dilahirkan. Dia besar bersama Ayahnya. Saat usianya menginjak 2 tahun, Ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan berdarah Madura. Orang Pulau Gili. Dia diasuh oleh Ibu tirinya dengan penuh kasih sayang layaknya anaknya sendiri. Meskipun Ayahnya sedang pergi melaut, Ibu tirinya malah tidur berdua dengannya sambil bercerita tentang seorang putri yang berasal dari keluarga kerajaan namun hidupnya miskin ketika tertukar oleh putri keluarga miskin. Melihat putrinya begitu menyayangi istri barunya, begitu juga sebaliknya, Ayahnya tidak terlalu was-was.

Tapi, musibah itu datang dengan tiba-tiba mengubah semuanya. Tersiar kabar dari ABK yang lain, kapal ikan Ayahnya tenggelam di perairan Laut Jawa. Semua tewas tak tersisa. Dan sejak itu perangai Ibu tirinya berubah seratus delapan puluh derajat. Apalagi saat itu, Ibu tirinya sedang habis melahirkan anaknya. Adiknya.

Tiap hari, sejak pagi hingga petang, anak perempuan itu berdiri di ujung dermaga menunggu Ayahnya pulang dengan melambaikan tangan. Tiap dia berdiri di ujung dermaga, dia berharap dapat melihat pucuk tiang kapal berbendera merah putih berkibar-kibar diterpa angin laut. Namun Ayahnya tak kunjung datang. Kapal Ayahnya tak kunjung berlabuh. Kebahagiaan dan keceriaan yang pernah mampir dalam hidupnya kini sudah meredup. Dia yang dulunya periang dan ceria menjelma menjadi sosok gadis kecil yang pemurung.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, gadis itu bekerja dengan mencari kerang dan kepiting. Lalu, hasil tangkapannya itu dijualnya pada pengunjung pulau itu. Meski kini dirinya telah kehilangan Ayahnya, tapi dirinya telah dididik untuk menjadi anak yang tegar seperti bebatuan karang. Yang tidak tergerus oleh ombak, tidak hanyut oleh lautan.

Usianya 15 tahun ketika rumah kayu itu dilalap si Jago Merah. Semuanya hangus terbakar. Termasuk Ibu tirinya yang tewas mengenaskan. Saat itu dirinya tengah berada di pesisir laut sedang mencari kerang dan kepiting bersama adiknya. Sejak itu dia resmi menyandang sebagai yatim piatu yang hidup sebatang kara berdua bersama adiknya tercinta. Setelah tragedi kebakaran itu, dia ambil sebagai anak oleh seorang tauke kaya.

Selama menjadi anak angkat tauke kaya itu, dia belajar cara mengemudikan mobil. Saat itu masih ada mobil Chevrolet. Sopir pribadi tauke yang berasal dari Jawa itu mengajari dirinya cara menyetir mobil di sebuah lapangan. Dia diajari sampai benar-benar mahir. Sehingga kalau tauke itu menyuruh sopirnya mengantarkan barang ke kota, gadis belia itu ikut dan gantian menyopiri mobil tersebut. Bagi dirinya, sama sekali tidak ada salahnya seorang anak perempuan berlatih menyetir mobil. Siapa tahu kelak ada gunanya. Di rumah tauke itu, dia dan adiknya tidak hanya dijadikan sebagai anak angkat, tapi dia juga diberi pendidikan. Dia disekolahkan di salah satu SR.

Suatu malam, ketika dirinya sudah beranjak usia 17, tauke itu memanggilnya. Dia diajaknya berbicara hanya empat mata. Berdua di balkon rumah—malam itu seluruh keluarga tauke sudah tertidur pulas—tauke menceritakan sesuatu yang selama ini dirahasiakannya. Kepada gadis itu, tauke mengatakan bahwa dirinya dulu pernah melakukan kesalahan terhadap Ayah gadis tersebut. Dialah yang bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal barang yang telah menewaskan Ayahnya. Seandainya tauke itu tidak mempercayai semua yang dikatakan oleh anak buahnya yang licik, tentu saja dia tidak tidak akan membiarkan kapalnya karam di perairan selat Madura. Dan tentu saja gadis itu tidak akan kehilangan Ayah yang dicintainya. Tentu saja gadis itu tidak menjadi yatim. Dia sudah merampas seluruh kebahagiaannya.

Seandainya Ayahnya masih hidup, tidak mungkin nasib hidupnya berubah. Jika waktu dapat diputar kembali, dan oh tidak mungkin dirinya mencari kerang dan kepiting di laut; oh dirinya tidak mungkin menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Ibu tirinya; oh tidak mungkin rumahnya akan terbakar; oh dirinya tidak mungkin berdiri di ujung dermaga menunggu Ayahnya pulang. Gadis itu menangis.

Usianya menginjak 20 tahun saat untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Kota London. Untuk menebus rasa bersalahnya, Ayah angkatnya itu—yang teramat mempercayai Ayahnya sebagai anak buah paling jujur dan disiplin selama bekerja padanya—mengajari dirinya cara berbisnis. Meski dirinya hanya lulusan SR, tapi dirinya tidak bisa diremehkan begitu saja oleh orang yang pendidikannya jauh lebih tinggi darinya.

Semula dia berjualan burger daging asap milik pengusaha keluarga India. Lalu dia juga merangkap sebagai penjual tiket resmi pertandingan sepak bola Eropa. Hingga pada akhirnya dia melamar di sebuah perusahaan oto bus merah tingkat dua. Tapi dia tidak serta merta langsung menjadi sopir. Dulu dia diterima di bagian cleaning service. Setelah lama di bagian tukang bersih-bersih bus, dia ikut tes uji sopir dan dia lolos. Setelah mendapat lisensi mengemudi, dia pun naik pangkat sebagai sopir bus merah tingkat dua Kota London.

Dari kisah itu, aku mendapatkan sebuah pelajaran yang dapat kupetik. Sebuah ketegaran dan ketekunan. Tidak mudah bagi seorang bocah semuda Bu Marni dalam menjalani hidup seorang diri tanpa seorang Ayah dan Ibu yang teramat sangat menyayanginya. Tapi dia berhasil menaklukkan dunia. Seorang bocah dari pulau terpencil dan terkecil di ujung pulau itu berhasil berkeliling daratan Eropa. Bahkan dia memiliki saham perusahaan kapal pesiar dunia yang tidak kecil.
Bus merah tingkat dua itu melaju dengan anggun. Menyusuri jalanan kota London yang berjubah salju. Sementara langit tersaput mendung kelabu seperti kehidupan masa kecil Bu Marni yang tak seindah kota-kota di musim dingin. Meski onak dan duri merintangi nasib hidupnya, dia terus melangkah menantang dunia seperti bus merah yang disopirinya membelah Kota London.

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Facebook: @khairulazzamelmaliky

Kota Angin Timur, 2021
Novelis. Karyanya yang sudah terbit antara
lain: Sang Kiai, Metamorfosa, Sang Nabi (2021).
Aku, Kasih dan Kisah, Jalan Setapak Menuju Fitrah,
Aku, dan Kata Selesai (Kumpulan cerpen, 2021).
Buku kumpulan cerpen yang akan terbit:
Bus Kota Warna Merah, Babi-Babi Berburu Emas,
Dan Orang-Orang Tangguh.
Dan 30 novel di Kwikku.com.
Fb: @khairulazzamelmaliky

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 9 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Bus Kota Warna Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manusia ke Tiga

Oleh:
Jikalau kau memandang seseorang di jalanan kota sana, mungkin kau akan sadar tuk sekedar bertanya, “dari mana asal nya!” Haruskah ku sebut apa, tentunya ialah jelmaan manusia. Dandanannya sunggu

Si Penjaga Makam

Oleh:
Hamja Mardiayana Daeng Tahir, atau orang-orang kampung memanggilnya Daeng Tahir, seorang penjaga makam yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk “Orang-orang,” yang sudah tiada. Ia dengan senantiasa membersihkan makam dari

Dalam Tangismu Kutemukan Kebahagiaan

Oleh:
Matahari yang sejak pagi menampakkan cahayanya, merangkak perlahan untuk memberikan cahaya kasihnya menuju belahan bumi yang lain. Seiring merangkaknya sang surya sayup-sayup terdengarlah suara kepak burung-burung menuju keperaduannya di

Mantan Napi Berhati Malaikat

Oleh:
Pagi yang indah, di sebuah dataran pegunungan diselimuti embun pagi yang menyejukan hati. Keindahan alam yang luar biasa menandakan kuasa Sang pencipta, burung-burung bernyanyi menghiasi suasana di pagi hari.

Balapan

Oleh:
Setiap jumat, sepulang sekolah, aku selalu berjalan menuju taman yang sama dan bertemu seorang paman tua. Kami tak pernah bertukar nama hanya duduk di kursi yang sama dan bermain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *