Butiran Dandelion

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 31 May 2017

“Faizal, bunganya sudah Ibu siapkan di meja!”
“Iya! Makasih, Bu!” segera pemuda itu melangkahkan kakinya dengan cepat ke luar kamar, lengannya menyambar sebuket bunga berkelopak mungil warna kuning cerah dan juga seputih salju.
“Aku berangkat!” sahutnya lagi sebelum keluar dari rumah. Hari masih dingin kala itu. Mentari masih enggan menampakkan dirinya, menyebabkan kabut-kabut tipis khas musim hujan tercipta.
Dirapatkannya jaket yang dipakainya seiring semakin cepatnya dia melangkahkan kaki-kakinya. Dinginnya angin yang menusuk tulang tak dihiraukan pemuda dengan netra coklat tua jernih itu untuk sampai pada destinasi si pemuda.

Dia hanyalah seorang pemuda biasa yang sedang menempuh pendidikan tahun ke-3 di salah satu SMA Negeri favorit di kotanya. Namanya Faizal Putra, 17 tahun. Putra semata wayang dari sebuah keluarga yang cukup berada.
Namun, cerita ini bukanlah kisahnya. Ini adalah sepenggal kisah tentang hidup seorang gadis manis dengan mental setegar dandelion. Gadis dengan senyum secerah mentari yang tak penah menitikkan hujan. Ini adalah kisah seorang Annisa Putri.

11 tahun yang lalu, di sebuah kota terpencil yang dipisahkan oleh sebuah aliran sungai lebar dengan kota-kota lainnya, terjadi sebuah peristiwa yang merengut nyawa orang-orang polos tak bersalah. Tindak liar manusia yang menyebabkan alam indah ini rusak terbayarkan sudah malam itu.

Langit sama sekali tidak bersahabat waktu itu. Mengguyurkan tetes kehidupan dalam jumlah besar dari cakrawala yang hanya membawa petaka bagi kota itu tanpa belas kasih. Badai besar yang menyebabkan longsor dahsyat pada bukit gundul akibat kelakuan manusia tak bermoral.
Badai, longsor, dan jangan lupakan banjir akibat luapan sungai pembatas kota. Jika ketiga hal itu disatukan, apa yang akan terjadi selain petaka?
Dan dia, gadis mungil yang tak tahu apa-apa harus menjadi korban atas petaka itu.

Annisa Putri masihlah seorang gadis kecil berumur 7 tahun waktu petaka itu terjadi. Beruntung dia dapat selamat dari musibah itu. Walau petaka itu telah meminta tumbal orang yang teramat dikasihinya sebagai balas —siapa lagi jika bukan kedua orangtuanya?
Dan gadis itu hanya dapat meraung pada langit monokrom yang masih menangis dan meneriakkan angin. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa kepedihan yang begitu sangat di relung hatinya.

Budaya oknum tak berhati, yang merusak lingkungan demi prioritas pribadi, mengakibatkan gadis polos itu hancur, bagai kertas putih yang dicoret dengan cat kelabu. Sedangkan mereka hidup dalam kelimpahan di atas penderitaan si gadis. Ironis sekali.

Sebagai salah satu korban yang selamat dari tragedi itu, si gadis mungil kini itu tinggal bersama dengan kerabatnya. Hanya hingga pemukiman tempatnya hidup dulu kembali dibangun. Nah, jangan harap pemerintah akan dengan berbaik hati membangunnya seperti semula.

Dan memang benar, pemukiman itu sudah dibangun kembali. Dengan muka 180 derajat terbalik dari semula. Namun apa yang bisa dilakukan rakyat biasa? Budaya uanglah segalanya sudah menjadi aturan umum. Mereka yang beruang dapat melakukan apapun dan mendapatkan apapun dalam kejapan mata.

Setahun setelah peristiwa itu, Annisa akan kembali ke tempat tinggalnya dulu.
“Kenapa kau mau kembali?” seorang anak laki-laki yang berumur kisaran 7 tahun bertanya pada gadis di hadapannya. “Tidakkah kau bisa tinggal di sini lebih lama?”
Dan gadis munggil itu hanya menampilkan kurva di muka. “Aku ingin mengenang memori tentang Ayah dan Bunda yang tertinggal di sana, Faizal,” ucap anak bernama Annisa itu.
“Bukan karena kau tahu bahwa papa dan mama tidak menyukaimu?” Faizal bertanya. Anak itu tidak menyangkal fakta bahwa orangtuanya memang tidak menyukai gadis itu. Orangtuanya keduanya memang pernah terlibat konflik, walau tali persaudaraan telah disandang oleh mereka.
Annisa menggeleng pelan, “Paman dan Bibi sudah sangat baik dengan memberiku tumpangan dan mereka juga yang akan membiayai kehidupanku di sana.”
Dan gadis itu berbalik setelah menyunggingkan lagi senyum secerah mentari.
Sedang si lelaki hanya dapat melihat punggung rapuh si gadis yang perlahan menjauh, tanpa bisa berbuat apapun. Atensinya bahkan tak menangkap hujan yang turun di pelupuk si gadis.

Beberapa tahun berlalu setelah itu, Annisa telah tumbuh menjadi remaja tegar yang tak mudah putus asa. Pernah sekali Faizal pergi mengunjunginya. Di tempat yang sama dengan peristiwa beberapa tahun silam terjadi. Di depan rumah sederhana —yang dalam kasus ini, amat sangat sederhana— yang terdapat di pelosok terjauh pemukiman.
‘Apa ini bahkan bisa disebut ‘rumah’?’ batin Faizal. Kini pemuda yang berumur 14 tahun itu tengah berdiri di depan sebuah pintu gubuk sederhana yang tampak tua.

Tak lama berselang, Annisa menyambutnya dengan senyum mentarinya seperti dulu.
“Apa yang kau lakukan di sini, Faizal?” Gadis 15 tahun itu mempersilahkannya masuk. “Maaf, di sini semuanya sederhana.”
“Bagaimana kabar Paman dan Bibi?” Annisa memulai konversasi mereka setelah menghidangkan secangkir teh pada Faizal.
“Mereka baik.” Faizal menyeruput tehnya pelan. “Kau masih tidak mau tinggal bersama dengan kami?”
Annisa hanya tersenyum, “Tidak, terima kasih. Aku merasa cukup nyaman di sini.”
“Di sini?!” Faizal berdiri dengan cepat, menyebabkan kursi yang didudukinya berderit. “Kau merasa nyaman di tempat terbelakang di mana hanya ada proyek penambangan liar dan sungai yang tercemar oleh limbah industri seperti ini, Ann?!”
Annisa hanya menanggapinya dengan senyuman dan manik bulat coklat tua jernihnya yang memandang lurus pada iris Faizal yang serupa.
Dan Faizal tertegun. Tak seperti dulu, atensinya kini menangkap sorot pedih dari netra indah di hadapannya itu.
“Mau bagaimana lagi, ‘kan? Rakyat biasa tidak akan bisa menentang pemerintah. Semuanya sudah dipengaruhi oleh uang. Walau ironis, itulah realita masa kini, Faizal. Itulah budaya yang dianut mayoritas golongan. Tanpa tumpukan kertas bergambarkan pahlawan itu, kau bukanlah apa-apa.”

Dua tahun setelah itu, mereka bertemu kembali. Di tempat yang berdeba, di lingkungan yang berbeda, pada suasana yang berbeda.
Seorang gadis manis dengan helaian hitam pendek tengah memandang dandelion kesukaannya dari jendela ruang medis. Hembusan angin semilir khas fajar yang baru menyingsing memasuki ruang beraroma antibiotik itu, meniupkan mahkota dari bunga itu mengudara di ruang itu.
Annisa memandangnya lembut, hingga telinganya menangkap suara derit pintu terbuka, menampakkan Faizal yang mengunjunginya dengan sebuket bunga kesayangannya di genggamannya.

“Untukmu,” ucapnya singkat setelah duduk di kursi samping kasur si gadis.
“Terima kasih,” Annisa tampak senang mendapat bunga itu.
“Hei, Faizal.” Panggil gadis itu pada si pemuda.
“Hmm?” sedangkan si pemuda bersurai gelap itu menanggapinya dengan gumaman.
“Aku ingin menjadi seperti dandelion.” Ucap Annisa sambil terus memandang bunga itu lekat. “Yang terus berusaha untuk bertahan hidup walau sudah ditiup oleh angin tak tentu arah. Mengudara dalam ketidakpastian, tegar menghadapi berbagai halangan, hingga menemukan tempat yang tepat untuk dapat hidup.”
Dan Faizal hanya tersenyum. Direngkuhnya Annisa dalam dekapannya, “Jika itu kau, kuyakin kau pasti bisa. Buktinya, sudah bertahun-tahun kau bertahan hidup di tempat tak layak itu. Dan kau masih bertahan hidup, bagai dandelion yang kerap kau puja.”
Annisa terkekeh pelan. “Terima kasih.”

Setahun setelahnya, keadaan Annisa terus menurun. Akibat dari zat-zat kimia dari limbah industri yang mencemari sungai, juga dari penambangan liar di lingkungannya tinggal. Kini, kimia-kimia itu telah ada dalam tubuh si gadis, membiarkan kertas putih itu kembali tercemar.
Faizal duduk di samping kasur di mana seorang gadis bersurai kelam pendek terbaring tak sadarkan diri. Infus di tangan kiri si gadis membuat hati Faizal terasa terenyuh.
Faizal memalingkan pandangan pada jendela terbuka yang ada pada ruang penuh aroma antibiotik itu. Tersaji pemandangan hamparan bunga dandelion bermahkotakan mentari dan salju yang amat disukai Annisa.
Faizal kembali menatap gadis itu. Pucat menghias wajahnya, dengan alat bantu pernapasan serta alat medis lainnya yang tertempel di tubuh ringkih itu untuk membuatnya bertahan hidup. Sesak menghinggapi dadanya.

“Andai kau tetap tinggal bersama kami, kau tidak akan harus diopname karena kimia yang memasuki tubuhmu, Annisa.”
Dan setetes likuid asin jatuh membasahi sprei putih kasur rumah sakit itu.

Dan sekarang, di sinilah Faizal. Berdiri kukuh di bawah tirai tangis angkasa monokrom. Rintik menghujaninya di depan batu nisan bertuliskan nama gadis yang dikasihinya.
“Kau sudah cukup berjuang.” Pemuda itu meletakkan sebuket bunga kesukaan si gadis, dandelion, tepat di depan nisan itu. “Teruslah mengudara laksana dandelion yang tertiup angin. Semoga kau bahagia di sana, Annisa.”
Kemudian dia bangkit, meninggalkan makam di mana seorang gadis 18 tahun terlelap pulas.

Cerpen Karangan: Kuroyuki Alice
Facebook: http://facebook.com/kuroyuki.alice
Kuroyuki Alice A.K.A. Cindy Claresta Rendyna, 14 tahun. Salam kenal.

Cerpen Butiran Dandelion merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fly High (Part 1)

Oleh:
Bagi sebagian orang, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Begitu pula saat mereka mempunyai pengalaman yang pahit misalnya dibully. Mereka enggak akan menginjakkan kaki di sana. Ingin lari sekencang-kencangnya. Terbang

Aku Ingin Melihat Bintang

Oleh:
Sinar bintang penuh makna melambai-lambai ke arah mata seorang gadis yang duduk di atas jendela sambil memegang buku diarynya. “Tok… tok… tok.. Desty cepat tidur nak sudah waktunya untuk

Terima Kasih 10 Tahun Lalu

Oleh:
Langit mulai berubah warna, matahari perlahan mulai tenggelam dalam peluk awan. Sekiranya ia datang jauh lebih cepat layaknya ia saat pertama kali mendapat tugas dari perusahaan tempat ia sekarang

Can I Singing Again?

Oleh:
Nina dan Ana, adalah sepasang sahabat sejati. Mereka tinggal di satu perumahan dan kompleks yang sama. Perumahan Anggrek di Kompleks D. Mereka juga mempunyai suara yang amat merdu. Kebetulan,

Tasya My Best Friend

Oleh:
Hujan turun dengan deras, rasanya tak ada yang menyapaku dari luar sana, sepi banget “marsya kamu sudah mandi sayang” kata mama memangilku “udah ma” jawabku sedikit berteriak. Pagi pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *