Cahaya yang Hilang (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 August 2015

Gerbong adalah rumahku. Penumpang adalah langgananku. Tukang asongan, pengamen dan penjaga adalah teman karibku. Suara peraduan antara roda besi kereta dan rel mengawali harapan hidupku hari ini. Entah sampai kapan harapan ini akan terus berlanjut. Tapi aku yakin rel dan gerbong-gerbong ini tidak akan kecewa kalau aku dapat meninggalkan mereka untuk masa depan yang lebih baik lagi.

Setiap pagi aku dan teman-teman sudah bangun dan menunggu kedatangan malaikat rezeki. Yah, bagi kami gerbong-gerbong ini diutus Tuhan untuk memberikan rezeki pada kami. Dari gerbong ke gerbong aku andalkan sebuah sandal jepit ini untuk menyapu sampah-sampah yang berserakan di lantai gerbong. Mulai dari sampah plastik jajanan sampai dedaunan bekas lontong dan banyak jenis sampah lainnya yang setiap hari aku sapu dengan sandal ini.

Suatu ketika aku melihat dua anak kecil berseragam sekolah di tempat duduk pojokan belakang pintu gerbong yang tengah bercanda dan sesekali mereka tertawa. Mereka dikawal oleh mamahnya yang cantik-cantik. Aku jadi teringat pada kisah sahabatku. Dan bagiku dia adalah teman sejatiku. Bagaimana tidak sejati karena kami setiap hari bekerjasama untuk menyambung hidup dan mengejar cita-cita.

Setiap mengingat dia aku selalu merasa sedih dan serasa enggan melanjutkan drama hidup ini. Tapi satu kata darinyalah yang selalu membuat aku semangat lagi untuk melanjutkan dan mengejar cita-cita. Melihat kedua anak tadi aku teringat pada cita-cita kami antara aku dan Boni. Yah, nama sahabatku itu Bony. Cita-cita kami ingin menjadi orang yang sukses dan bisa bekerja di sebuah gedung yang tinggi dan dalam ruangan ber ac. Namun sebuah tragedi maut yang telah memisahkan kami untuk bersama-sama menggapai cita-cita.

Setiap pukul 07.00 Boni selalu membeli koran untuk dibaca bersama-sama di pojok peron atau di gerbong kereta tua yang sudah tidak difungsikan lagi. Dengan rajinnya Boni membeli koran sampai-sampai koran itu menumpuk dan selalu kami jual kembali ke tukang plastik dan koran. Meskipun tidak seberapa uang yang kami dapat dari hasil menjual koran itu, bagi kami itu sudah cukup untuk membeli sebungkus nasi di warteg Mak Enok. Warteg Mak Enok adalah langganan kami setiap hari. Beliau bagi kami sudah seperti Ibu kami, karena beliau paham betul dengan nasib kami.

Tepat pukul 09.00 wib kereta ekonomi datang dan singgah di stasiun parung panjang untuk mengangkut para penumpang yang ingin pergi menuju ke Jakarta kota. Di kereta inilah kami mendapat rezeki untuk kelangsungan hidup kami berdua dan orang-orang yang seperti kami. Boni memang selalu semangat dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Pernah suatu ketika dia sedang pusing kepala karena dia mempunyai penyakit migren sehingga sering mengalami pusing sebelah di kepalanya. Tapi dia tetap menyapu dari gerbong ke gerbong sambil berkata, “assalamualaikum Pak, Bu, Om, Tante, Kak, semoga hari ini kita menjadi orang yang paling bersyukur” sambil mengasongkan sebuah pelastik bekas permen relaxa kosong berharap para penumpang ada yang berbaik hati untuk sedikit berbagi kepada kami sebagai si sapu-sapu kereta.

Boni tidak pernah mengatakan “pak minta uang” atau memelas sambil berkata “beri kami recehannya pak, bu untuk makan”. Tapi Boni selalu berkata yang positif yaitu mendoakan para penumpang agar menjadi orang yang selalu bersyukur setiap hari. Karena bagi Boni setiap orang berbeda nasib dan tidak semua bisa hidup bahagia. Maka Boni ingin selalu merasa bersyukur dan ingin mengajak para penumpang kereta untuk ikut bersyukur.

Meski kami anak sapu kereta tetapi kami tidak ingin salat lima waktu tertinggal. Maka kami selalu membawa kain sarung dan baju koko untuk salat lima waktu. Tidak seperti kebiasaan teman-teman kami yang jarang salat, mungkin ada yang tidak tahu bagaimana salat atau mereka sudah tidak butuh salat yang tidak menghasilkan uang apalagi mengenyangkan perut.

Boni selalu meyakinkanku bahwa salat itu penting bagi kita. Karena yang dia yakini dan selalu mengajarkan kepada aku bahwa Allah tidak butuh salat kita akan tetapi kitalah yang butuh salat. Pokoknya Boni cukup banyak mengetahui tentang arti salat dan manfaatnya. Wajar Boni tahu banyak wawasan karena setiap hari dia selalu membaca buku dan bahkan mempunyai target satu hari 50 lembar apapun bukunya.

Akhirnya aku pun terbawa dengan kebiasaan Boni yang hobi membaca. Terkadang sambil menunggu gerbong pembawa rezeki datang kami berdiskusi dan saling berdebat tentang suatu hal yang telah kami dapat dari membaca. Seperti layaknya para cendikiawan atau para ahli yang selalu berdebat di televisi, seminar atau symposium keilmuan. Boni pernah mengatakan ke aku bahwa jika dia sudah punya uang yang cukup ingin melanjutkan sekolahnya SMP Negeri. Kebetulan ada yang geratis di sekitar stasiun yang setiap hari kita tempati.

Satu hari ini aku tidak melihat Boni. Entah kemana dia menghilang. Setelah salat subuh itu Boni sudah tidak terlihat di musala yang biasa kami salat berjamaah. Aku pun akhirnya bertanya ke Mak Enok di pojok stasiun ini.

“Mak lihat si Boni gak?”
“gak lihat jo emak mah”
“oh, ya dah makasih ya mak?”
“ia jo, oh ia ni sarapan dulu?”
“ia mak ntar ajah bareng Boni”

Langit yang hitam mendung sebentar lagi menangis. Burung-burung beterbangan mencari tempat peraduan. Para pedagang panik kawatir dagangan tidak habis. Karena seringkali para pedagang mengalami kerugian jika turun hujan. Ditambah lagi peraturan sekarang bahwa para pedagang tidak boleh berdagang di sekitar peron tetapi hanya boleh di pojokan stasiun yang jauh dari keramaian penumpang. Itu pun sebentar lagi akan disterilkan oleh pihak PT KAI.

Sepertinya itu Boni yang memakai kaos biru. Aku pun berlari mengejarnya. Namun Boni melangkah semakin cepat seakan dia tahu kalau aku mengejarnya. Entah kenapa Boni seperti yang menghindar dari aku. Perlahan aku buntuti dari belakang. Dia mengarah ke pojokan stasiun itu. Aku semakin bertanya-tanya dalam hati “mau kemana yah Boni, kenapa harus menghindar dari aku?”

Semakin dekat jarak dengan dia aku semakin penasaran. Ternyata dia belok ke arah kanan, aku sempat kehilangan jejak, aku pun berlari untuk mencari jejaknya. Di belokan itu aku mengintip dengan pelan-pelan mataku awas melihat dia. Ternyata Boni sedang berdiri di samping jendela kelas sekolahan SMP Negeri. Boni membuka tas plastik hitamnya yang biasa dipake untuk nyapu dan dikeluarkan sebuah buku dengan pulpen.

Sudah hampir setengah jam dia berdiri sampai aku pegel mengintip. Entah apa yang Boni tulis tapi dia terlihat sangat serius dan fokus layaknya anak sekolah yang sedang memerhatikan sebuah pelajaran yang sedang diterangkan guru di depan para siswa. Setelah 40 menit akhirnya Boni pergi. Aku pun menengok jendela kelas itu. Ternyata Boni mengikuti pelajaran bahasa indonesia anak kelas VIII.

Boni datang menghampiriku di ujung peron stasiun.

“jo, aku cariin kamana ajah kamu? kok di bascamp gak ada.”
“Bukannya kebalik, kamu yang sudah menghilang dari semenjak subuh?”

Aku pun tidak ingin menanyakan kepada Boni tentang kelakuannya tadi di sekolah itu. Karena aku masih penasaran kenapa dia bisa menghilang semenjak subuh. Berarti dia tidak hanya ke sekolah itu saja. Pasti ada kegiatan lain yang sudah dia kerjakan. Maka dari itu aku ingin menyelidikinya besok hari.

Pagi yang aku tunggu pun datang, hati yang masih dirundung penasaran ingin mengetahui kegiatan Boni yang semakin mencurigakan. Ternyata benar Boni sudah bangun dan ingin beranjak pergi dengan senyap tanpa ingin diketahui aku. Ternyata dia pergi ke sebuah distributor koran dan pergi untuk menjajakan koran kepada langganan perumahan yang ada di balik stasiun. Sungguh Boni serius sekali dia bekerja untuk mengumpulkan uang agar dia bisa melanjutkan sekolah lagi. Aku pun memergokinya di persimpangan jalan perum.

“Bon, ternyata kamu sudah mencari rezeki, ajak-ajak dong?”
“oh iya jo sory, sebenarnya aku tidak enak membangunkanmu pagi-pagi. Kamu terlihat pulas tidurnya. Jadi aku merasa ragu untuk mengajak kamu ikut ngasong koran di pagi buta”
“Aku justru senang bon kalau kamu ajak untuk bekerja lebih keras lagi seperti kamu”
“Iya jo maaf, kalau begitu mulai besok ikut aku yah jo? Terus terang jo, kita harus berjuang untuk menjadi orang yang sukses. Karena aku pernah membaca buku bahwa kesuksesan itu hak milik setiap orang. Tergantung kita mau usaha atau enggak untuk memilikinya. Man jadda wajada, jika ada kemauan pasti di situ ada jalan begitu kata pepatah jo”
“Okelah bon, aku siap!! Besok kita beraksi untuk berjuang dan berusaha menggapai kesuksesan hak milik itu”
“hahaha,” Boni tertawa melihat aku yang penuh semangat.

Kemudian kami pun berlari untuk menjadi anak sapu di kereta yang sudah menjemput. Kereta itu ibarat gerbong khusus yang dikirim Tuhan untuk memberi rizki bagi orang-orang seperti kami. Kalau menurut pak ustad waktu ceramah, “makhluk yang paling jelata pun sudah ditanggung rezekinya oleh Allah” Apalagi kami sebagai manusia yang katanya makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, mana mungkin Allah tidak akan memberikan rezeki pada kami.

Aku dan Boni selalu optimis menatap masa depan yang cerah meski harus meneropongnya lewat gerbong-gerbong ini. Tentunya kami ingin selalu mencoba untuk bersyukur agar Allah menambahkan nikmatnya dan kami juga takut Allah akan murka kalau nikmat yang indah dan tak terhargakan ini untuk dikeluhkan apalagi dilupakan. Naudzubillah.

“Aduh bon, kamu duluan pergi yah! Tas kecilku ketinggalan di bascamp.” Aku pun cepat berlari mengambil tasku ke tempat biasa kami tidur.

Tiba-tiba cahaya langit hilang seakan ditelan naga, cuaca mendung, kebisingan menjadi kesunyian, aku sangat heran sekaligus penasaran ratusan orang-orang berkerubung berkumpul entah apa yang ditonton dan diperbincangkan.

Dengan kaki telanjang aku berlari menapaki rel kereta yang berbatu kerikil masuk dan menerobos kerumunan bapak-bapak berbadan besar itu, terlihat seorang anak kecil dengan tubuh yang hancur, usus berserakan, kepala yang tak berupa, darah yang menggenang, aku sungguh tidak bisa menceritakan semua gambaran kondisi korban ketabrak kereta ini. Tapi terlihat sebuah tas kecil yang tidak asing dan aku kenal.

Sepertinya ini tas Boni. Aku perhatikan dan aku selidiki ternyata benar ini asli tas Boni. Tubuhku langsung merinding lemah tak berdaya, aku terkulai jatuh di peron, orang-orang mengerubungiku. Berlinangan air mata jatuh dan membasahi pipiku.

Seketika peron-peron itu tidak terlihat, yang terlihat hanya gelap gulita, hanya pikiranku yang bisa meraba dan bertanya, “mengapa hal ini harus terjadi pada sahabatku yang paling baik sedunia? kenapa semangat hidupnya harus dicabut oleh maut? apakah Tuhan tidak sudi kalau anak seperti kami ingin hidup bahagia?” Pikiranku semakin kalut dan semakin benci dengan keputusan Tuhan yang membuat nasib sahabatku hancur luluh lantak.

Dua orang laki-laki berbadan besar menggotongku ke kantor PT KAI di samping peron yang tidak jauh jaraknya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Totong Ma’ruf
Blog: http://marufayong.blogspot.com

Cerpen Cahaya yang Hilang (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat, Dulu atau Sekarang

Oleh:
PROLOG Persahabatan… Kata-kata yang biasa ku dengar namun apa jadi nya jika yang di sebut sahabat itu adalah seperti ini… Pernah dengar kata pengkhianatan… memang sakit rasanya namun inilah

A Gift

Oleh:
Friendship is everything But love is a gift Bandung, Februari 2001 Sore itu cuaca tidak cerah mengingat saat ini mendung gelap menggantung, menyembunyikan matahari yang seharusnya masih berdiri gagah

I Really Love You

Oleh:
Ingin kuakhiri semua ini, namun aku hanya bisa menatap senyumannya yang selalu terpancar di wajahnya… “Hai” seseorang telah mengagetkanku dari lamunan. “ada apa? Kamu membuat aku terkejut” “kamu liat

Karena Dia

Oleh:
Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Dia mendrible bola oranye itu menuju ring. Tak lama setelah itu, dia menghampiriku meminta sebotol air mineral yang kubawa memang untukknya. Dia memang tidak

You Are My Star (Part 1)

Oleh:
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Hujan yang turun sejak siang tadi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dengan ditemani secangkir coklat panas kesukaanku, teropong dan selimut hangat, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *